
Bryan membelikan mobil untuk Kirana dan juga dia menyuruh Dodi mencari supir pribadi untuk istrinya itu. Dia menyuruh Dodi mencari supir yang lebih tua darinya, bahkan dia juga meminta jangan mencari supir yang terlalu genit pada istrinya nanti.
"Tuan, saya ada teman bisa jadi supir pribadi nyonya Kirana. Tapi umurnya masih empat puluhan ke atas, apa itu masuk kriteria tuan?" tanya Dodi pada Bryan.
"Empat puluhan ya, itu masih muda. Coba cari yang sudah agak tua sekitar empat puluh lima lebih gitu, atau lima puluhan." kata Bryan.
"Tapi teman saya ini di percaya tidak akan melirik nyonya tuan. Dia juga sudah punya istri dan anak, dia sedang mencari pekerjaan. Dan kebetulan tuan mencari supir, akan saya tawarkan padanya. Bagaimana tuan?"
"Huh, kamu bisa menjamin dia tidak akan menggoda istriku?" tanya Bryan.
Dodi menghela nafas panjang, dia bingung. Sebenarnya temannya itu tidak macam-macam, dia keluar dari pekerjaannya sebagai supir bus angkutan umum antar kota membuat dia keluar. Karena istrinya meminta untuk berhenti, mencari pekerjaan di sekitar tempat tinggalnya dan bisa pulang ke rumah setiap hari.
"Saya jamin tuan, dia bisa menjaga dirinya tidak akan menggoda nyonya Kirana." kata Dodi.
Dia heran, kenapa tuan Bryan begitu posesif pada istrinya. Namun, dia diam saja tanpa bicara. Memang kalau sedang jatuh cinta pasti posesif bawaannya.
"Baiklah, kamu bawa dia kemari sore ini. Sebelum saya pulang kantor dia sudah ada di rumah. Kalau saya cocok, besok bisa langsung kerja." kata Bryan.
"Iya tuan, saat ini juga saya telepon dia suruh datang ke rumah ini." kata Dodi.
"Hemm."
Bryan lalu masuk lagi ke dalam rumahnya, dia akan ke kantor hari Sabtu ini. Mestinya hari ini santai di rumah, tapi ada mertuanya yang seperyi hantu selalu saja ada di mana dia berada. Hari Minggu kemarin saja ,bryan santai di rumah. Inginnya dia bersantai dan ingin bermesraan dengan istrinya, atau mengerjakan pekerjaan yang dia bawa pulang. Tapi malah setiap setengah jam sekali mertuanya masuk ke dalam ruang kerjanya.
Ada saja alasannya masuk ke dalam ruang kerjanya, hal membicarakan Missel atau istrinya. Atau menawarkan minuman atau cemilan. Dan selalu bertanya hal yang tidak penting, membuat Bryan kesal. Dan jika pekerjaan dia bawa pulang, dia menerjakannya di kamarnya.
"Mending di temani istri di kamar dan pintu langsung di kunci. Karena pasti ada saja alasan masuk juga ke kamarnya. Mertua yang benar-benar menyebalkan bagi Bryan.
_
Minggu ini mobil yang di pesan Bryan datang, mobil fortuner yang lumayan mewah. Mobil doa beli untuk istrinya itu agar tidak di jemput Morgan jika pulang sekolah. Tugas Morgan memang multifungsi, dia bisa mengantarkan istri majikannya atau menjemputnya. Dan sekarang Kirana akan mempunyai mobil baru.
Alasannya sudah jelas, Bryan tidak mau lagi satu mobil dengan mertuanya. Nantinya dalam dua minggu ke depan yang mengantar Missel ke sekolah itu nyonya Ranti, dan mobil itu yang akan mengantarnya ke sekolah dengan omanya Missel.
"Mas nunggu apa?" tanya Kirana.
"Pesanan sayang, katanya sebentar lagi datang ke rumah." jawab Bryan yang sedang duduk di gazebo depan dengan istrinya di siang hari.
__ADS_1
Karena Missel sedang tidur siang dan kebetulan nyonya Ranti sedang ada pertemuan dengan teman-teman sosialitanya. Tak berapa lama, satu mobil besar berhenti di depan pintu gerbang membawa mobil fortuner berwarna hitam metalik. Kirana heran, apa suaminya itu membeli mobil?
"Mas, kamu beli mobil?" tanya Kirana.
"Iya, buat kamu sayang." jawab Bryan mendekap Kirana dari samping.
"Lho, buat apa? Aku kan ngga kemana-mana. Paling ke sekolah Missel aja kalau pergi, atau ke mall jika Missel minta pergi ke sana. Bisa naik taksi mas." kata Kirana.
"Ngga apa-apa sayang, aku memang mau membelikanmu mobil. Dan tapi maaf ya, untuk saat ini nanti biar mama aja yang antar Missel ke sekolah. Beliau kekeh ingin mengantar Missel ke sekola, jadi aku belikan mobil itu untuk bolak balik ke sekolah." kata Bryan.
"Maksudnya biar kamu tidak satu mobil dengan oma Ranti?" tanya Kirana.
"Tepat sekali, biar dua minggu ini mama dan Missel naik mobil terpisah di mobil itu. Dan nantinya juga kamu juga seperti itu, ngga apa-apa kan?" tanya Bryan.
"Ngga apa-apa mas, itu terserah kamu."
"Oke, aku ke depan dulu ya. Mau mengurus kelengkapan mobil, biar bisa langsung di proses nantinya."
"iya mas."
_
Pagi hari, sang supir baru pun sudah datang. Dia memunggu di depan dengan Dodi, bersiap untuk melakukan tugas barunya. Sedangkan nyonya Ranti belum tahu kalau Bryan membeli mobil baru, karena kemarin omanya Missel itu pulang malam dan mobi baru itu sudah masudk garasi.
"Pi, Missel nanti naik mobil baru ya berangkat sekolahnya?" tanya Missel ketika mereka semua sedang sarapan pagi.
"Iya sayang, nanti berangkat dengan oma. Kan biar berangkat ngga terburu-buru juga kan." jawab Bryan.
Kirana hanya diam saja, dia masih tenang dengan makan sarapannya. Sedangkan nyonya Ranti kaget, dia tidak tahu kalau menantunya itu membeli mobil baru.
"Kamu beli mobil baru lagi?" tanya nyonya Ranti.
"Iya, biar Missel lebih cepat berangkat sekolahnya karena sudah pakai mobil sendiri. Supirnya juga sudah ada tuh di depan untuk mengantarkan Missel ke sekolah." jawab Bryan dengan tenang.
"Tapi buat apa? Kan naik mobil kamu saja sudah cukup. Kenapa harus beli mobil baru?" tanya nyonya Ranti tidak terima jika harus mengantar ke sekolah Missel dengan mobil lain.
"Itu sebenarnya mobil untuk istriku yang mengantar Missel ke sekolah. Berhubung mama yang mengantar, jadi nanti mama yang akan mengantar Missel pakai mobil baru itu." jawab Bryan membuat nyonya Ranti semakin kaget.
__ADS_1
"Apa? Mobil baru itu untuk istrimu?"
"Ya, untuk Kirana. Tapi mama dan Missel yang memakai lebih dulu, Kirana tidak masalah dengan itu."
"Bryan, kamu sekarang pilih kasih. Dulu Risa tidak pernah kamu kasih mobil, dan sekarang kamu belikan dia mobil?" tanya nyonya Ranti menunjuk tangannya ke arah Kirana.
Dia meradang, kenapa sekarang yang menuai hasil kekayaan Bryan itu adalah Kirana. Benar-benar marah pada Bryan, terutama Kirana. Matanya menatap tajam ke arah Kirana.
"Dulu Risa itu belum bisa kemana-mana, dan lagi aku pernah kok membeli mobil untuk Risa. Tapi entah kemana mobil itu, apa dia jual atau dia simpan di rumah maka di kota." kata Bryan lagi.
Membuat nyonya Ranti diam seketika. Namun, dia benar-benar panas. Kirana di belikan mobil mewah, sedangkan dulu memang Risa almarhum anaknya di belikan mobil yang murah.
Tiba-tiba moodnya rusak untuk kedua kalinya, dia harus pisah mobil dengan Bryan dan sekarang harus mengetahui kalau mobil itu untuk istrinya yang sekarang?
Ini tidak bisa di biarkan, pikir nyonya Ranti.
"Mama tidak mau mengantar Missel ke sekolah kalau begitu. Buat apa memakai mobil baru, tapi itu bukan mobil sendiri. Memang mama tidak bisa naik taksi." kata nyonya Ranti dengan angkuh.
"Kalau begitu, biar Kirana yang mengantar Missel ke sekolah hari ini dengan mobil baru itu." kata Bryan tegas.
"Ck, terlalu memanjakan istrimu. Bisa besar kepala dia, dan akhirnya berani melawan orang tua."
"Oma merasa sudah tua? Kenapa cara berpakaiannya masih seperti wanita dewasa ya."
"Kamu?!"
_
Mampir yuk kaka, menarik lho ya...😊😊
_
_
****************
__ADS_1