Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
87. Seperti Psikopat


__ADS_3

Danisa berjalan dengan santai, malam ini dia ingin membeli barang yang sudah habis di kamarnya, juga pembalutnya sudah habis. Jadi dia sekalian mau pergi ke minimarket terdekat saja, hanya berjalan kaki karena jarak kontrakannya dengan minirmarket tidak jauh.


Hanya lima ratus meter saja. Danisa berjalan santai, dia masuk ke dalam minimarket, memilih barang-barang yang dia butuhkan. Beberapa cemilan, sabun mandi dan juga pembalut. Tak lupa dia membeli es krim untuk makan di jalan. Setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan, Danisa pun pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya.


Dia membuka es krim dan memakannya langsung. Dua es krim dia beli satu untuk di kamarnya. Setelah selesai membayar belanjaannya, dia lalu keluar dari minimarket untuk membeli nasi goreng karena dia lapar belum makan malam. Dia malas memasak malam ini.


Danisa terus berjalan menuju pedagang nasi goreng yang tidak jauh dari minimarket tadi. Ada seseorang dari seberang memperhatikan kemana Danisa pergi. Dia menunggu di dalam mobil, sejak tadi dia menunggu. Mencari waktu aman untuk menghampiri Danisa, ya. Dia adalah Bruno.


Sejak kemarin dia mencari kontrakan Danisa, karena kontrakan yang dulu dia sambangi sudah tidak ada. Dan ternyata dia bertemu di jalan dan sedang belanja di minimarket.


Lama Danisa menunggu nasi goreng di buat oleh pedagangnya, karena ada beberapa orang juga membeli nasi goreng. Danisa menunggu dengan santai, dia memainkan ponselnya. Ada beberapa pesan dari Kirana dan bercerita kalau dia sekarang tidak bisa kemana-mana karena perutnya semakin besar.


Danisa senang, Kirana sekarang hidupnya bahagia dengan Bryan. Apa lagi akan melahirkan anak kembar laki-laki. Sangat menyenangkan membayangkan Kirana punya bayi kembar dan betapa merepotkannya bayi-bayi itu jika sudah mulai besar.


"Aaah, bahagianya Kirana. Sudah menikah, kuliah lulus dan sekarang mau punya anak dari suami dudanya itu. Aku juga ingin menikah dan punya anak seperti Kirana." gumam Danisa.


Dia tersenyum sendiri melihat Kirana mengirimkan foto USGnya ke ponsel Danisa. Dia meraba foto di ponsel itu, ada rasa menyesal kenapa dia dulu hidup bebas dan berpacaran dengan begitu liar. Bercinta dengan Bruno hampir setiap ketemu. Danisa menghela nafas panjang, rasa seselnya kini dia rasakan di barengi dengan pesimis adakah yang mau padanya yang sudah tidak perawan lagi?


"Neng, ini nasi gorengnya." kata pedagang membuyarkan lamunan Danisa.


"Oh ya bang, berapa nasi gorengnya?" tanya Danisa.


"Dua puluh ribu aja neng." jawab pedagang itu.


Dia mengeluarkan uang dua puluh ribuan di dompetnya dan menyerahkannya pada pedagang nasi goreng.


"Ini bang uangnya."

__ADS_1


"Iya neng, terima kasih."


Danisa pun pergi, dia berjalan pulang. Hari sudah pukul delapan malam, Danisa berjalan cepat karena perutnya juga sudah keroncongan. Mobil yang di bawa Bruno pun mengikuti Danisa, dia akan mencegah Danisa di tempat yang sepi.


Terlihat Danisa menerima telepon dari seseorang, dia tersenyum dan bicara di telepon. Berbicara sedikit formal dan kadang tertawa. Bruno memperhatikan apa yang di lakukan oleh Danisa itu, dia kesal karena mungkin Bruno berpikir Danisa sudah punya pacar baru.


"Kurang ajar, dia ternyata sudah punya pacar baru? Lihatlah, dia menelepon dengan senangnya." ucap Bruno.


Tanpa pikir panjang, Bruno keluar dari dalam mobilnya. Berjalan cepat dan segera menyusul Danisa lalu menarik tangannya. Danisa kaget, dia menoleh dan terlihat Bruno menatapnya tajam dan menarik tangannya.


"Bruno, sedang apa kamu hah?!" teriak Danisa.


Sambungan telepon belum terputus, di seberang sana ternyata Daniel yang menghubungi Danisa. Dia juga kaget, namun dia tidak memutus teleponnya.


"Hahaha, kamu akhirnya aku temukan. Kamu tidak bisa memutuskan aku sayang, sebelum kamu memutuskan aku, kamu harus bercinta denganku. Lalu aku akan buang kamu seperti sampah!" kata Bruno dengan kasarnya.


Membuat Danisa kaget, dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Bruno. Belanjaan yang tadi di beli terlempang begitu saja, Danisa sengaja tidak menutup teleponnya agar Daniel tahu dan segera menolongnya. Dia genggam erat ponselnya.


Danisa diam, dia berusaha berpikir untuk tenang. Dia pun masuk ke dalam mobil tanpa melawan, dia ingin tahu kemana Bruno membawanya. Rasa lapar sejak tadi dia rasakan kini hilang dengan ketakutannya karena Bruno seperti psikopat.


Bruno tersenyum puas, dia melajukan mobilnya menuju rumahnya. Setiap sisi kanan kiri Danisa perhatikan jalannya, lalu dia pun mengingat itu adalah jalan menuju rumah Bruno.


Danisa mematikan ponselnya lalu mengetik sesuatu pada Daniel, meminta pertolongan padanya. Dia juga memberitahu kemana Bruno membawanya. Satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah Bruno. Itu artinya, jika Daniel ada di rumahnya akan segera datang ke rumah Bruno.


Bruno memaksa keluar Danisa, dia menarik terus Danisa untuk masuk ke dalam rumahnya. Sesuatu sudah dia siapkan, satpam rumah juga sudah dia pulangkan. Danisa kembali takut, ternyata Bruno memang seperti psikopat.


"Kamu psikopat, Bruno. Memaksaku untuk mrlayanimu? Cuih! Menjijikkan." kata Danisa.

__ADS_1


Bruno tertawa lepas dan keras. Dia menatap Danisa tajam lalu tersenyum sinis.


"Aku tidak pernah di putus oleh seorang perempuan! Aku yang seharusnya memutuskan kamu, bukan kamu memutuskan aku Danisa!" suara Bruno menggelegar.


Para pembantu Bruno di dalam tidak berani keluar karena mereka di ancam. Danisa ketakutan, Bruno pun naik ke atas dan terus menarik Danisa naik. Danisa terus berdoa semoga Daniel datang tepat waktu,dia benar-benar takut sekali Bruno akan mencelakainya setelah dia melampiaskan birahinya pada Danisa.


Danisa di dorong masuk ke dalam kamar Bruno, lalu Bruno pun mengunci kamarnya agar teriakan Danisa tidak terdengar. Dia mendorong Danisa ke ranjangnya dan dengan cepat dia merobek baju Danisa dengan kasar. Tentu saja baju Danisa bagian atas terbuka, dia menutupi dengan kedua tangannya.


"Bruno, kenapa kamu jadi brutal seperti ini?!" teriak Danisa.


"Aku tidak peduli, aku marah sama kamu dan juga laki-laki yang dulu memukulku!" kata Bruno.


"Tapi itu salahmu! Jika kamu tidak menghianatiku, tidak akan seperti itu jadinya. Sadarlah Bruno, ini tidak benar. Kamu akan masuk penjara nantinya."


"Aku tidak peduli! Bagiku membuatmu seperti sampah adalah tujuanku!"


Danisa tidak habis pikir, kenapa Bruno seperti itu? Dia baru tahu kalau Bruno itu seperti psikopat dan emosinya tidak terkontrol jika sedang marah. Bruno pun merangkak naik ke ranjang, Danisa mundur ke belakang dan mentok ke bagian kepala ranjang. Bruno tertawa senang, dia lalu melepas bajunya satu persatu. Sampai tersisa kain segitiga pengamannya.


Danisa ketakutan, dia menangis. Berusaha menghindar dari serangan Bruno yang sedang kalap. Bruno lalu menarik tangan Danisa, dia mencoba menahan dan mau mengikat tangan Danisa. Danisa berteriak kencang meminta tolong, tapi Bruno tertawa kencang.


"Tidak ada yang bisa menolongmu, Danisa." kata Bruno.


Brug! Brug!


_


_

__ADS_1


_


******************


__ADS_2