
Malam ini Bryan gelisah, dia duduk di ruang tamu menemani mertuanya catur. Jika di tinggalkan nanti akan marah dan bisa di tambah lagi hukumannya. Yang dia takutkan tidak bisa bercinta dengan Kirana, karena sekarang saja sudah larut malam.
Apa lagi dia juga lelah, tapi mertuanya tidak mau tahu dengan keadaannya sekarang. Jika tadi bertempur dulu dengan Kirana, begadang sampai pagi pun dia lakoni. Tapi, dia belum menyentuh istrinya sejak datang itu.
"Kamu kenapa gelisah begitu?" tanya pak Darno memindahkan pion catur ke kotak milik Bryan dan memakan pion lain.
"Emm, saya ngantuk yah. Besok kan mau ke sawah, jadi saya butuh istirahat untuk mengumpulkan tenaga." jawab Bryan.
Benar juga sih, namun rupanya pak Darno tidak peduli. Dia terus bermain catur dan menyuruh Bryan bermain lagi, sampai Bryan agak kesal juga.
"Yah, apa ngga kasihan sama saya? Kan saya capek tadi pagi menyetir mobil, terus ngobrol sampai sore. Lha sekarang masih main catur, saya capek yah, butuh istirahat." kata Bryan lagi.
"Katanya kuat besok mencangkul, masa main catur saja kamu nyerah?"
"Ya tapi kan kalau catur itu butuh konsentrasi, saat ini saya lelah dan capek. Butuh istirahat, kalau sudah istirahat cukup. Mau mencangkul setengah hektar juga sanggup yah." kata Bryan.
Dan yang dia maksud istirahat adalah tidur dan bermain kuda-kudaan dengan Kirana.
Pak Darno berdecak kesal, dia lalu menghentikan main caturnya.
"Ya sudah sana istitahat saja, ayah senang kok main catur ada temannya. Biasanya main catur sendirian." kata pak Darno.
Bryan tertegun, dia menatap mertuanya. Ada raut wajah kecewa di sana.
"Ya sudah, saya temani sekali lagi deh yah." kata Bryan agar mertuanya tidak merasa kecewa.
"Ngga usah, kamu kan capek." kata pak Darno ketus.
"Ngga apa-apa yah, asal benar satu kali main aja saya masih bisa kok." ucap Bryan lagi.
Pak Darno menatap menantunya, terlihat memang di wajah Bryan kelelahan. Namun, dia merapikan lagi papan caturnya untuk bermain satu kali lagi. Bryan pun bersabar menemani mertuanya main catur, berharap tidak menambah satu permainan lagi karena dia benar-benar lelah dan mengantuk.
Lama mereka main catur satu kali permainan, membuat Bryan kesal juga. Sudah satu jam dia menunggu permainan catur itu selesai, tapi tidak selesai-selesai.
Akhirnya, dia mengumpankan bidak catur satu persatu untuk di makan bidak catur mertuanya. Membiarkan mertuanya menang main catur kali ini.
"Waaah, ternyata kamu kalah main catur sama saya. Huh, badan aja besar. Main catur kalah sama orang tua ini." kata pak Darno meledek Bryan.
Bryan hanya bisa tersenyum kecil, dia sengaja memalukan itu agar dia bisa terbebas dari ayah mertuanya.
"Sudah kan yah? Saya kalah main catur, saya mau istirahat." kata Bryan.
"Baik, tapi besok malam kamu harus temani ayah main catur lagi."kata pak Darno.
__ADS_1
Bryan menelan ludahnya, bisa dia banyangkan besok main catur dengan ayah mertuanya lagi. Tapi yang penting, malam ini dia bebas dari ayah mertuanya.
"Lihat besok aja yah. Kalau saya kelelahan karena mencangkul di sawah, berarti besok tidak bisa menemani ayah main catur." kata Bryan.
Bukannya diam, tapi pak Darno malah mencibir menantunya.
"Tadi siang lupa ya menantangku kuat mencangkul di sawah berapa luas tanahnya?" cibir pak Darno.D
Dan Bryan pun seperti di sindir oleh pak Darno. Namun dia tidak peduli, yang penting dia masuk ke dalam kamarnya.
"Saya masuk ke kamar dulu yah, mau istirahat." kata Bryan pada mertuanya.
Pak Darno pun diam saja, dia tidak menanggapi ucapan Bryan. Bryan pergi meninggalkan pak Darno yang sedang merapikan papan catur dan bidak-bidaknya.
_
"Sayang bangun." ucap Bryan di telinga Kirana.
Kirana menggeliat, dia membuka perlahan matanya. Menatap samar ke depan, dia melihat wajah suaminya yang hanya berjarak lima senti meter dengan senyumnya mengembang.
"Ada apa mas?" tanya Kirana dengan suara seraknya.
Bryan mencium bibir istrinya itu dengan lembut, di cium lebih dalam dan menuntut. Sejak kedatangannya siang tadi dia benar-benar ingin menyentuh Kirana. Dan saatnya malam ini dia bebas melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Sementara Bryan sedang mencumbu Kirana, mereka sekarang sudah ingin merasakan kehangatan masing-masing. Tangan Bryan sudah menjalar kemana-mana, hingga ke bawah membuat Kirana melenguh tertahan karena geli nikmat buaian suaminya.
Bryan sendiri sebenarnya sudah tidak tahan ingin menancapkan pusakanya, namun dia tahan karena ingin melihat wajah istrinya yang sedang menikmati sentuhan tangannya.
"Ueuh, maaas. Sudah ih, jangan main-main terus." ucap Kirana seakan tidak sabar juga dengan Bryan.
"Udah ngga sabar ya sayang, cup." kata Bryan.
Dia menciumi beberapa kali bibir dan leher Kirana, sampai dia menghisap bagian ****** Kirana, dan Kirana pun menggeliat gelisah. Bryan senang, dia lalu menghentikannya dan bersiap untuk menancapkan senjatanya yanh sejak tadi sudah berdiri tegang.
"Mami .... !" teriak Missel di luar kamar
Namun, baru mau masukkannya. Suara Missel membuat Kirana panik, dia mendorong suaminya dan segera dia memakai baju yang sempat terlepas. Bryan pun kaget, dia kesal sekali kenapa Missel bangun dan memanggil Kirana.
"Sayang, mau kemana?" tanya Bryan.
"Itu, Missel kasihan di luar sendirian mas. Cari aku." jawab Kirana setelah baju tidurnya sudah rapi.
Bryan mendengus kesal, di tatapnya senjatanya yang sudah teganh dari tadi. Dia benar-benar kesal, sejak siang tadi ada saja gangguannya.
__ADS_1
Bryan pun duduk di ranjang, memakai kembali celana kolor berwarna hijau itu. Menatap ke pintu kamar dan terlihat Kirana mengajak Missel masuk ke kamarnya.
"Missel tidur dengan mami di sini ya?" tanya Missel.
"Iya sayang. Sini naik sama mami." kata Kirana.
Sedangkan Bryan masih bermuka masama, niatnya mau bercinta dengan istrinya kini gagal karena anaknya bangun. Dia menatap Kirana, tangannya memegang senjatanya yang masih tegang.
"Sayang, ini gimana?" kata Bryan menunjukkan senjatanya pada Kirana.
Kirana tersenyum tipis, dia juga bingung mau di apakan itu milik Bryan biar tidak tegang terus. Bryan berpikir terus wajah gairahnya masih terlihat jelas, mau menyentuh istrinya tapi tidak bisa. Akhirnya rasa kesal dan rasa sakit kini menjalar ke kepalanya.
"Mami Missel, ayo dong kasih solusi." bisik Bryan berbsring di belakang Kirana.
Bagian bawahnya dia dekatkan agar menempel pada Kirana.
"Mas, ngga enak. Nanti di lihat Missel ini gimana, duh itu jangan di deketin mas." kata Kirana.
Tubuhnya menghindar sedikit dari Bryan, membuat Missel pun terusik.
"Mi, mami kenapa ini mundur-mundur terus? Missel mau jatuh." kata Missel karena tubuhnya miring hampir di tepi ranjang.
"Eh, ngga sayang. Ini ada kecoa mau masuk ke mami, jadi mami kakinya mundur." kata Kirana menarik tubuh Missel yang sudah di tepi ranjang.
Kirana munduΕ, namun tertaham oleh Bryan yang belum geser ke samping. Dia diam saja, rasa kesalnya karena gagal membuat ingin saja menerkam istrinya.
"Mas, geser ke samping dong, aku ngga bisa gerak ini."
"Tapi ini gimana menenangkan juniorku sayang?"
"Besok lagi mas, kan ngga bisa ada anakmu. Cup." kata Kirana mengecup bibir suaminya dari samping agar Bryan tenang dan bersabar.
Bryan mendengus kasar, dia bangkit dari tidurnya lalu keluar kamar. Entah mau bagaimana cara menenangkan juniornya di luar kamar.
_
Promo ngga berhenti2 ya kaka, buat yang penasaran boleh nih mampir kesini...ππ
_
_
__ADS_1
***************