Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
69. Belum Terjadi


__ADS_3

Oma Ranti terus berpikir bagaimana Kirana bisa di rumah dan Mimin serta Nur tidak ada di rumah agar rencana dia bisa berjalan lancar. Dia ingin memberi pelajaran pada Kirana, dengan cara membuatnya menyerah dan kalau bisa dia pergi dari rumah Bryan.


Memang jahat sekali, tapi oma Ranti seperti itu karena obsesinya yang besar pada Bryan.


"Halo, Laudya. Kamu sudah berangkat ke sini?" tanya oma Ranti.


"Iya, aku lagi di jalan. Bagaimana keadaan di rumah? Apakah sudah sepi?"


"Masih ada pembantu, tapi tenang saja. Nanti aku urus pembantu itu, kamu cepatlah datang."


"Iya, ini sebentar lagi sampai rumah Bryan."


"Baiklah, aku tunggu di depan rumah."


Klik!


Setelah menelepon Laudya untuk menjalankan rencana membuat Kirana pergi dari rumah Bryan, oma Ranti pun keluar rumah menunggu Laudya datang. Tak berapa lama mobil Laudya memasuki pintu gerbang dan berhenti di halaman rumah Bryan. Oma Ranti dengan senang hati menyambut Laudya, lalu menyuruhnya masuk ke dalam dan berbincang tentang rencana mereka.


"Bagaimana, apakah semua pembantu sudah keluar?" tanya Laudya.


"Belum, tapi mereka nanti akan saya tutup mulut." jawab oma Ranti.


"Terus, gadis kampungan itu di mana? Apa belum datang, mobilnya tidak ada." kata Laudya lagi.


"Dia ada di kamarnya, sejak pagi belum turun ke bawah. Katanya sih dia lagi malas turun, entahlah. Gadis itu saja beralasan."


"Aah, agak susah ya kalau di kamar. Apakah Bryan memasang cctv?" tanya Laudya.


"Saya tidak tahu, tapi sepertinya dia tidak memasangnya."


"Sebentar, saya mau melihat setiap sudut rumah ini. Oma juga harus mencari di setiap barang yang terlihat tersembunyi, biar nanti kita ambil. Baru setelah semua kita ambil, kita langsung masuk ke dalam kamar Bryan menyeret gadis itu keluar." kata Laudya.


"Aaah, itu terlalu kasar. Kalau nanti Bryan tahu, celaka kita."


"Tapi aku sudah sangat kesal sama gadis kampung itu. Dia benar-benar membuatku tidak sabar untuk mendapatkan Bryan dengan cara apa pun." kata Laudya dengan wajah masam.


"Enak saja, kamu mau menjebak Bryan untukmu? Apa kamu akan menjebak menantu kesayanganku itu untuk tidur denganmu? Jangan mimpi!" kata oma Ranti ketus.


Dia mulai kesal kenapa Laudya tidak bisa di ajak kerja sama dan mau menang sendiri. Terlalu berbahaya Laudya itu, pikir oma Ranti. Tapi dia sudah terlanjur membawa gadis itu, meski pun Laudya sering datang ketika ada Bryan. Namun, oma Ranti juga harus mencegah perbuatan brutal Laudya nantinya.

__ADS_1


"Sekarang, ayo kita cari cctv sekitar rumah ini." kata Laudya.


Oma Ranti pun menurut, mereka berdua mencari setiap sudut rumah dan barang yang tersembunyi. Mimin dan Nur melihat keduanya merasa aneh, kenapa dua orang yang selalu menggoda Bryan ada di rumah ini saat tuan mereka tidak ada.


"Mau apa mereka Min?" tanya Nur.


"Saya tidak tahu mbak. Tapi ini memcurigakan, kenapa mereka ada di rumah saat tuan Bryan tidak ada di rumah. Dan nyonya Kirana ada di dalam kamar." jawab Mimin.


"Iya, sepertinya mereka mempunyai rencana jahat sama nyonya Kirana." kata Nur.


"Ayo kita ke kamar nyonya Kiran." kata Mimin.


Mereka lalu menuju tangga dan hendak memberitahu Kirana agar mengunci kamarnya. Namun, oma Ranti menarik tangan keduanya dan mendorongnya ke belakang. Mimin dan Nur kaget, mereka melihat oma Ranti menatapnya tajam.


"Jangan coba-coba kalian naik ke tangga dan memberitahu siapa pun!" ancam oma Ranti.


"Oma, apa yang akan oma lakukan? Oma berani berbuat tidak baik di rumah tuan Bryan?" tanya Mimin.


"Kenapa tidak, aku tidak peduli kalian memberitahu Bryan. Awas kalian, jika bicara apa pun maka aku akan memecat kalian dari rumah ini." kata oma Ranti mengancam lagi.


Mimin dan Nur saling pandang, merasa aneh dengan ucapan oma Ranti itu. Siapa yang punya rumah siapa yang mengancam. Bukannya tidak takut, tapi merasa aneh saja dengan sikap oma Ranti yang sok berkuasa, seolah dia yang jadi nyonya rumah.


Buk! Buk!


Tengkuk Mimin dan Nur di pukul dari belakang oleh Laudya dengan keras. Dia tidak sabar dan malas meladeni dua pembantu Bryan itu.


"Terlalu lama meladeni mereka berdua. Ayo kita ke atas, aku tidak menemukan cctv di mana pun. mungkin Bryan lupa kalau rumah sebesar ini seharusnya di pasang cctv." kata Laudya.


Dia pun naik tangga di ikuti oleh oma Ranti. Mereka terus melangkah dengan cepat dan langsung menarik handle pintu, namun ternyata terkunci.


Tok tok tok


"Kirana, bukalah pintunya." kata oma Ranti dengan pelan.


Namun Kirana tidak memyahuti, pintu terus di ketuk dengan keras.


"Apa dia tidur?"


"Mungkin saja. Coba saja cari kunci cadangan, biasanya ada kunci cadangan setiap pintu." kata Laudya.

__ADS_1


"Benar juga, baiklah aku akan mencari kunci cadangan."


Oma Ranti pun turun ke bawah, dia dengan cepat akan mencari kunci cadangan dan membuka pintu kamar Bryan. Tak berapa lama, oma Ranti naik ke tangga lagi. Dia menemukan kunci cadangan itu di laci dapur, dia pernah meminta kunci cadangan gudang belakang.


Jadi, semua kunci cadangan di jadikan satu. Oma Ranti membawa semua kunci itu dan akan di coba satu persatu.


"Ini, cari dan coba satu persatu kuncinya. Karena aku tidak tahu kuncinya yang mana." kata oma Ranti menyerahkan kunci itu.


Laudya pun mengambil kunci itu dan mencobanya satu persatu. Sudah tujuh kali kunci di coba, ternyata tidak ada yang cocok. Laudya pun kesal, dia menatap oma Ranti dan berkata, " Mana kuncinya? Ini kuncinya salah semua!"


Oma Ranti bingung, dia lalu kembali ke dapur dan mencari lagi kunci kamar Bryan.


"Di mana kunci kamar itu ya?" gumam oma Ranti sambil mencari lagi kunci kamar Bryan.


Laudya pun masuk ke dapur, dia mencari sesuatu untuk membuka paksa pintu kamar Bryan. Entah apa yang di pikirkan Laudya dengan rumah Bryan yang mau dia rusak, pikirannya kalap ingin menganiaya Kirana. Dia lalu menemukan sebuah kapak kecil, senyumnya mengembang lalu pergi lagi menuju kamar Bryan dan akan mendobrak pintu itu.


"Laudya, apa yang akan kamj lakukan?"


"Aku akan memukul pintu ini dengan kapak." jawab Laudya.


"Kamu sudah gila ya? Jangan merusak rumah ini!"


"Memang kenapa?!"


"Bryan akan marah jika tahu pintu kamarnya di rusak."


"Aku tidak peduli, yang aku inginkan gadis itu keluar dari kamar ini dan aku ingin menariknya keluar dari rumah ini." teriak Laudya masih dengan pikiran kalap.


Dia ingin mengayunkan kapak itu ke arah pintu, namun pintu itu pun terbuka. Kirana berdiri dengan malas di depan pintu dan menatap satu persatu Laudya dan oma Ranti yang sedang berseteru di depan kamarnya.


"Sedang apa kalian di depan kamarku?"


_


_


_


*******************

__ADS_1


__ADS_2