
Pagi hari Kirana bersiap untuk pergi ke kampung entah sampai kapan, dia harus menuruti kemauan ayahnya lebih dulu. Setelah amarah ayahnya reda, dia akan membicarakannya lagi. Syukur-syukur nanti di kampung cuma dua hari atau tiga hari, tidak seperti apa yang di katakannya satu bulan.
Bryan melihat istrinya bersiap hanya bisa menatap sedih, dia bersedih tidak bisa tidur lagi dengan istrinya, tidak bisa bercinta setiap malam dengan Kirana. Dan tentu saja dia bingung nanti Missel bertanya kenapa Kirana pergi ke kampung lagi.
Kirana tahu suaminya itu sedih sekali, dia pun mendekat dan duduk di samping Bryan.
"Mas, jangan sedih begitu. Ngga akan lama kok, percaya sama aku." kata Kirana menenangkan suaminya.
"Ya kan tetap saja sayang, berpisah lebih dari satu hari. Gimana dengan juniorku nanti? Ngga punya sarang untuk memuntahkan laharnya." kata Bryan nyeleneh.
Kirana bangkit dari duduknya, dia kira suaminya sedih karena berpisah dengannya dan akan merasa rindu. Tapi hal intim yang dia pikirkan.
Akhirnya Kirana meneruskan kegiatan tadi yang tertunda. Tidak mempedulikan apa kata suaminya.
"Sayang, memang kamu kuat tidak melakukan itu sehari denganku?" tanya Bryan mendekat pada istrinya.
"Ish, mas. Kamu itu, aku pikir kamu sedih karena apa. Tapi malah itu yang kamu pikirkan." kata Kirana kesal.
"Heheh, ya kan memang benar. Kerjaku nanti ngga konsentrasi karena nanti ngga ada vitamin lagi dari kamu." kata Bryan lagi.
Selain suaminya itu konyol, hal tak terduga dari Bryan bagi Kirana adalah manja. Di balik tubuhnya yang kekah dan kuat, seksi dan perut sikspek itu ada hal yang tak terduga. Lucu sebenarnya, tapi memang wajah tampannya tidak pernah bisa membosankan jika di lihat terus.
Itu juga nanti yang membuat Kirana kangen nantinya. Bryan terus mengikuti istrinya kemana perginya, membuat Kirana merasa risih.
"Kenapa kamu ikutin aku terus sih mas?" tanya Kirana.
"Kan aku nanti jauh dari kamu sayang, mana bisa aku jauh." kata Bryan.
"Tapi ngga harus ikuti aku terus, aku ke WC juga ikut?" tanya Kirana.
Kebetulan perutnya mulas ingin buang air besar. Dan Bryan terdiam, dia kemudian balik lagi ke ranjangnya. Hari ini dia benar-benar tidak bisa pergi ke kantor dengan cepat. Dan lupa dengan meeting pagi dengan karyawan di kantor.
Sampai Morgan meneleponnya berkali-kali, pikirannya kacau. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Bos, ngga bisa datang lebih pagi?" tanya Morgan di telepon.
__ADS_1
"Ngga bisa! Istriku mau pergi, udah kamu urus tuh karyawan sebentar." kata Bryan.
"Lha, si bos. Kenapa jadi sensi begitu? Ada apa bos? Si nyonya ngga kasih jatah tadi malam?"
"Kirana mau pulang ke kampungnya, aku di tinggalin sama dia."
"Ck ck ck, lagian kenapa mesti bertengkar sih? Bos tuh ada-ada aja sih."
"Siapa yang bertengkar, aku di hukum sama mertuaku. Sudah, jangan tanya terus. Bilang sama karyawan semuanya kalau meeting hari ini batal!"
Klik
Sambungan telepon di putus sepihak oleh Bryan, rasa kesal dan sedih harus berpisah dengan istrinya entah berapa hari atau berapa minggu.
_
Kini mobil Bryan sampai di depan stasiun kereta api, dia masih tidak rela harus berpisah dengan istrinya. Melirik ke arah kedua mertuanya yang duduk tenang di belakang, menatap jalanan kereta yang panjang itu.
Belum memberitahu kalau mereka sudah sampai di depan stasiun kereta. Kirana melirik ke arah suaminya yang masih diam membisu. Menarik nafas panjang dan memegang tangan suaminya dengan lembut.
Membuat Kirana ingin mencium bibir yang tersungging itu dengan indah, namun sayang dia tidak bisa melakukannya karena di belakang ada kedua mertuanya.
"Ya, besok aku menyusul kamu. Pokoknya aku akan menyusul kamu." kata Bryan tidak peduli dengan tatapan tajam pak Darno.
"Kerja yang benar, susun kata-kata untuk meminta Kirana lagi sama saya. Di tinggal begitu saja cengeng." kata pak Darno sinis dan tajam.
Tangan Bryan mengepal keras, Kirana merasakan kepalan tangan suaminya. Namun dia mengelus lengan suaminya agar sabar dengan ucapan ayahnya itu.
"Sudah sampai bu, ayah. Ayo kita turun." kata Kirana.
Dia menatap suaminya yang masih diam, sedangkan pak Darno dan ibu Kamina keluar dari mobil dan mengambil tas mereka di bagasi belakang.
Bryan menggunakan kesempatan mereka berdua di dalam mobil untuk mencium bibir istrinya, ******* dan memperdalam ciumannya pada Kirana. Kirana kaget dengan aksi suaminya itu, dia pun membalasnya dengan lembut. Lama mereka berciuman, ciuman perpisahan sementara. Hingga ketukan dari luar menyudahi ciuman mereka.
Bryan mengelap bibir Kirana dan kembali mengecupnya.
__ADS_1
"Besok aku menyusulmu, aku tidak peduli ayah akan marah padaku." kata Bryan dengan penuh kebulatan hati.
"Terserah kamu, ayo kita keluar."
Kirana keluar dari mobil di susul Bryan, mereka menuju tempat penjualan tiket. Setelah memesan tiket, kini Kirana menyalami tangan suaminya dan memeluknya erat. Lalu Bryan menyalami tangan kedua mertuanya, meski kesal tapi Bryan punya tata krama yang harus dia jaga pada orang yang lebih tua.
"Aku pergi dulu mas, jaga diri kamu ya dan Missel. Jangan lupa makan teratur." kata Kirana memberi pesan pada suaminya.
"iya sayang, jangan khawatir. Aku bisa jaga diri dan Missel sudah ada Nur kok." kata Bryan.
Minggu lalu dia meminta Mimin mencari satu orang lagi untuk membantunya mengurus rumahnya, juga satu orang supir. Biar jika Bryan berangkat terburu-buru, bisa ada mobil satu lagi untuk mengantar Kirana ke sekolah Missel.
Dan, sekarang Kirana tidak ada. Jadi tugas Mimin yang menjaga Missel jadinya, Kirana juga sudah memberitahu Mimin apa yang harus di lakukan oleh Mimin pada Missel. Meski pun Mimin lebih dulu tahu tentang Missel.
"Nak Bryan jaga diri ya, nanti ibu bicarakan sama ayah tentang Kirana ini. Jangan khawatir ya, ibu akan jaga istrimu." kata ibu Kamina pada Bryan.
Bryan tersenyum kecil, dia lebih respek pada ibu mertuanya di bandingkan dengan pak Darno. Mungkin karena sama-sama laki-laki, jadi lebih mengutamakan gengsi.
Kirana, ibu Kaminya dan juga pak darno memasuki peron, mereka segera masuk karena lima menit lagi kereta yang akan mereka tumpangi akan segera tiba.
Kirana melambaikan tangan pada suaminya, lalu membuat kecupan kissbay pada Bryan. Bryan membalas lambaian tangan istrinya dan kecupan kisbay.
Setelah kereta memasuki stasiun, Kirana dan kedua orang tuanya bersiap untuk masuk ke dalam gerbong kereta, sekali lagi Kirana menoleh ke arah Bryan dan melambaikan tangan sambil tersenyum sedih.
Lalu dia masuk ke dalam gerbong kereta dan mencari tempat duduk sesuai karcis.
_
Yuk mari di intip dan di baca novel punya othor ini ya..😊😊
_
_
__ADS_1
*****************