
"Selamat siang?"
"Ya, siapa ya ini?" tanya pak Darno.
"Saya dari pihak ppat, mau memberi surat tanah pada pak Darno. Apa benar ini rumah pak Darno?" tanya petugas itu.
"Iya, itu saya sendiri. Ada apa ya pak?" tanya pak Darno.
Lalu petugas ppat itu pun menjelaskan sambil menunjuk surat tanah yang atas nama dirinya.
Pak Darno pun heran, kenapa petugas ppat itu memberikan surat tanah padanya. Dari mana surat tanah itu dan siapa yang memberikannya? Apakah juragan Samin?
Ah, tidak mungkin. Begitu pikir pak Darno.
"Oh ya pak, benar ini surat tanah atas nama saya?" tanya pak Darno penasaran.
"Iya pak benar, lihat saja namanya." jawab petugas itu.
Pak Darno pun melihat surat itu sekali lagi, dia tidak percaya itu.
"Siapa ya yang memberikan surat tanah itu pada saya." tanya pak Darno lagi.
"Saya tidak tahu pak, yang saya lakukan adalah mengurus surat tanah agar sah di mata hukum. Dan bapak berhak mengelola tanah yang tertera di surat itu."
"Ya sudah, terima kasih ya. Nanti saya cari tahu sendiri."
"Baik pak. Kalau begitu, saya permisi."
"Ya."
Petugas itu pun pergi dari rumah pak Darno, pak Darno sendiri bingung, dari siapa surat tanah itu dengan atas namanya.
Ibu Kamina mengampiri suaminya yang sedang bingung sambil memegang surat tanah.
"Yah, ada apa? Dan apa itu?" tanya ibu Kamina.
"Surat tanah bu." jawab pak Darno.
Ibu Kamina mengambil surat tanah dari tangan suaminya, dia membuka surat itu yang seperti lembaran buku besar. Di bukanya satu persatu surat tersebut, di bacanya pelan. Dan memang di sana tertera nama suaminya, dia pun terkejut dengan luas tanah yang tertera di sana.
"Yah, ayah tahu berapa luas tanah di surat ini?" tanya ibu Kamina berbinar.
"Ngga bu, memang berapa luasnya?" tanya pak Darno tidak bersemangat.
"Tanahnya luas banget yah, kita bisa bikin rumah kontrakan. Juga bisa buat meggarap sawah." jawab ibu Kamina masih dengan antusiasnya.
__ADS_1
"Iya berapa? Kok ngomongnya begitu saja." ucap pak Darno penasaran.
"Satu hektar yah, itu kan seribu meter. Kita bisa bikin kontrakan atau menggarap sawah, atau menyewakan tanah kita pada penduduk sini. Waaah, kita bisa kaya lho yah." kata ibu Kamina.
Pak Darno pun terkejut, dia merebut surat tanah dari tangan istrinya, dia tidak percaya. Lalu dia pun membaca surat tanah tersebut, dan benar saja di sana tertera luas tanah seluas satu hektar.
"Waaah, benar bu. Ini luasnya satu hektar, kita bisa kaya." kata pak Darno.
"Tapi, dari siapa ya yah? Kok ada orang yang memberi tanah seluas itu? Apa ngga sayang uangnya membeli tanah lalu di berikan pada kita?" tanya pak Darno penasaran siapa orangnya.
"Kalau juragan Samin tidak mungkin memberikan cuma-cuma, pasti dia ada maunya. Kalau pun Kirana menikah dengan si Doni itu, tidak mungkin memberikan tanah seluas itu." kata ibu Kamina.
"Apa jangan-jangan suaminya Kirana ya?" tanya pak Darno.
"Masuk akal pak, dia kan kaya. Lha mas kawin buat Kirana saja seratus juta. Dan ayah juga di kasih uang seratus juta juga. Sampai ayah bingung mau di gunakan untuk apa uang sebanyak itu." kata ibu Kamina.
"Tapi sekarang ayah tidak bingung lagi uangnya di pakai untuk apa, ayah akan beli bibit padi juga nanti sisanya kita berkebun buah. Kan ada lahan satu hektar, nanti kita pekerjakan tetangga saja. Pak Manto dan pak Duki, mereka siap lho kalau di suruh menggarap kebun kita nanti." kata pak Darno lagi.
"Tapi ibu mau memastikan dulu, benar tidak suaminya Kirana itu memberikan tanah satu hektar pada kita." kata istrinya.
Ibu Kirana pun mengambil ponselnya dan menghubungi anaknya Kirana.
Tuuut
Sambungan telepon terhubung, tapi belum di jawab oleh Kirana. Ibu Kamina menunggu, dia tidak sabar ingin bertanya pada Kirana.
Tuuut
"Wa alaikum salam, Kiran. Kamu sehat-sehat di sana?" tanya ibu Kamina.
"Alhamdulillah bu, bagaimana dengan ayah dan ibu di sana?" tanya Kirana.
"Ayah sama ibu baik semua, emm bagaimana suamimu? Apa dia baik sama kamu?"
"Ya bu, mas Bryan baik banget kok. Ibu jangan khawatir."
"Ooh, baguslah. Memang dia harus baik sama kamu."
"Bu, jangan kebanyakan basa basi. Cepat tanyakan sama Kirana tentang surat tanah itu!" teriak pak Darno pada istrinya tidak sabar.
"Sabar yah, kan ibu juga pengen ngobrol sama anak sendiri. Lagi pula sekarang dia nanti jarang pulang kok." kata ibu Kamina.
"Ya, tapi bisa nanti lagi. Ayah penasaran dengan surat tanah itu."
"Iya, iya. Ngga sabar banget sih ayah." gerutu istrinya.
__ADS_1
"Ada apa bu? Ayah marah kenapa?"
"Itu, tadi ada petugas dari ppat ke rumah menyerahkan surat tanah. Ayahmu bingung dari siapa surat tanah itu, ibu pikir itu dari suamimu. Benar tidak suamimu memberikan surat tanah itu sama ayah?"
"Oh, kurang tahu bu. Nanti Kiran tanyakan sama mas Bryan."
"Sekarang saja Kiran, ayah ngga sabar."
"*Tapi mas Bryan ada di kamar mandi bu, sedang mandi. Tunggu sebentar ya."
"Ada apa sayang*?" tanya Bryan di seberang sana terdengar oleh ibu Kamina.
Ibu Kamina kaget dengan sebutan suami Kirana memanggil anaknya. Begitu mesra dan sayang sekali terdengar. Dia pun tersenyum sendiri.
"*Oh, itu mas. Ayah penasaran tadi ada petugas ppat ke rumah ayah dan menyerahkan surat tanah. Memang kamu membeli tanah buat ayah?"
"Oh itu, iya. Waktu sebelum nikah aku meminta pekerja untuk mencari lahan satu hektar dan membelinya di sekitar kampung ayah. Jadi surat tanahnya sudah di terima?"
"Iya, mungkin baru tadi. Buat apa kasih lahan seluas itu?"
"Supaya ayah tidak bekerja lagi sama juragan Samin."
"Uuh, menantu idaman banget sih kamu."
"Hehehe, iya dong. Cup."
"Eh*?"
Klik
Sambungan telepon pun terputus dari Kiran. Rupanya Bryan sedang melakukan sesuatu pada Kirana. Ibu Kamina pun hanya tersenyum saja, dia merasa bahagia anaknya begitu senang menikah dengan Bryan meski mendadak dan hamil lebih dulu.
Dan kebohongan Bryan belum di ketahui oleh ayah dan ibu Kirana. Entah bagaimana reaksi pak Darno jika tahu Bryan menikahi anaknya dengan kebohongan.
"Bagaimana bu? Kirana jawab apa?" tanya pak Darno.
"Katanya iya yah, suaminya dulu membeli lahan sebesar satu hektar itu sewaktu dia belum menikah dengan Kirana. Tapi kapan ya? Kan kalau membuat surat tanah itu harus ada tanda tangan kita lho yah."
"Mungkin yang beli suami Kirana, tapi atas nama kita bu. Ya sudah ngga masalah, sekarang ayah lega. Berarti benar surat tanah itu milik kita ya." kata pak Darno.
"Iya."
_
_
__ADS_1
_
**************