
Lama Kirana mandi, dia membuang rasa kesalnya dengan cara mandi. Ingin dia mengadu pada suaminya tentang kelakuan mertuanya padanya. Tapi, sebagai istri yang tidak mudah di tindas. Dia ingin menanganinya sendiri lebih dulu, baru setelah tindakannya melebihi batas, Kirana akan mengadukannya pada suaminya.
"Heh, mertua posesif. Apa haknya di rumah ini? Dan kenapa dia sangat berani sekali masuk ke kamar suamiku tanpa permisi?" gumam Kirana yang sedang berendam di bak mandi.
Sudah satu jam dia mandi, belum juga selesai. Rasa kesalnya belum hilang, namun kini dia mencoba untuk menenangkan hatinya.Dia taburkan aroma terapi di bak mandi agar suasana hatinya lebih tenang.
Sedangkan di bawah, di meja makan Bryan makan dengan tenang. Dia tidak menunggu istrinya turun, dia tahu Kirana sedang tidak baik-baik saja hatinya. Makanya dia biarkan tidak turun ke bawah untuk makan malam bersama.
"Apa istrimu tidak makan malam dengan kita?" tanya nyonya Ranti mulai mencari kesalahan Kirana.
"Biarkan saja, mungkin dia masih lelah." kata Bryan dengan santai.
"Tapi dia tidak menghormatiku. Aku sudah susah payah masak agar dia juga mau makan makananku. Lihatlah, cumi asam manis pedas aku buatkan untuknya." kata nyonya Ranti.
Mimin dan Nur yang berada tidak jauh dari meja makan hanya mencibir saja.
"Siapa yang memasak? Oma itu hanya memberinya garam saja, dan cumi itu asin banget." kata Mimin.
"Apa kamu mencicipinya?" tanya Nur.
"Ketika oma Ranti pergi ke kamar tuan Bryan, aku sempat mencicipinya. Dan rasanya asin banget, rupanya oma Ranti sengaja menuangkan garam banyak di masakan cumi itu untuk nyonya Kiran." kata Mimin lagi.
"Waah, jahat banget ya. Kenapa oma seperti itu?" tanya Nur.
"Dia tidak suka sama nyonya Kiran karena menikah dengan tuan Bryan." jawab Mimin lagi.
"Mimin! Apa yang kalian bicarakan?" tanya nyonya Ranti menatap tajam pada Mimin.
Sayup-sayup pembicaraan Mimin dengan Nur terdengar oleh nyonya Ranti. Dan tentu saja Bryan juga mendengarnya, tapi dia diam saja dengan tenang.
Dia bukannya tidak tahu kalau Kirana tidia di sukai mertuanya itu. Namun dia yakin istrinya itu bisa mengatasinya, jadi dia hanya memantau keadaan di rumah saja. Dia akan memasang cctv di setiap sudut di mana akan mengetahui apa yang di lakukan oleh mertuanya pada istrinya.
"Pi, kok mami lama turunnya?" tanya Missel.
"Mungkin mami sedang mandi sayang, jadi lama. Missel cepat di makan nasinya." kata Bryan.
"Tapi aku pengen di suapi sama mami." jawab Missel.
"Ya udah, nanti papi bawa makanan aja ke dalam kamar untuk mami. Nanti Missel makan di kamar papi dengan mami." jawab Bryan.
__ADS_1
"Asyiik!
"Lho, kok makan di kamar? Di sini aja sayang sama oma, biar nanti oma yang suapi Missek. Sini piringnya." kata nyonya Ranti.
"Ngga oma, aku mau di suapi mami Kiran aja." jawab Missel.
"Sama aja Missel, kenapa kamu tidak mau sama oma?!" tanya nyonya Ranti sedikit membentak pada Missel karena kesal.
"Mama."
Bryan memanggil mertuanya dan menatapnya datar, lalu mengambil piring Missel di bawa ke kamar.
"Mimin, siapkan makanan untuk istriku ke kamar, dan jangan di kasih cumi pedas itu." ucap Bryan pada Mimin.
"Baik tuan."
Mimin pun melaksanakan perintah manjkannya, sedangkan nyonya Ranti mendengus kesal. Dia melihat Mimin yang sedang menyiapkan makanan untuk Kirana.
_
"Sayang, pulang dari sekolah Missel ke kantorku aja ya." kata Bryan.
"Aku tahu kamu tidak menyukai omanya Missel kan?" tanya Bryan.
"Awalnya sih aku biasa aja, tapi kok lama-lama suka neyeblin sih mas."
"Apa yang kamu lakukan pada omanya Missel?"
"Ngga ada, hanya jika beliau berkata kurang baik padaku ya aku balas aja sih. Maaf ya kalau aku suka melawan mama mertuamu." kata Kirana merasa bersalah.
"Itu terserah kamu sayang, jika kamu merasa di perlakukan kurang baik ya berikan apa yang pantas untuknya."
"Jadi kamu tidak marah?"
"Kenapa harus marah? Jika istriku di perlakukan tidak baik dan di tindas, aku yang akan bertindak sendiri. Tapi kulihat kamu sepertinya suka melawan juga ya, cup."
"Aku tahu batasanku, tapi kalau oma Ranti melebihi batas ya aku lawan. Tapi hanya sebatas mengatakan kata-kata saja, kok. Aku tahu siapa aku mas. Maaf kalau aku terlalu banyak melawan, aku sebenarnya ngga mau. Tapi oma Ranti suka keterlaluan." ucap Kirana dengan wajah lucu.
Membuat Bryan gemas dengan wajah istrinya. Dia mencium berkali-kali bibir istrinya, rasanya dia jadi engga pergi ke kantor.
__ADS_1
"Udah mas, ih. Sana pergi kerja."
"Aku gemas sama kamu, apa aku ngga usah ke kantor aja ya. Dan kamu jangan mengantar Missel, biar mbak Nur aja yang ngantar." kata Bryan melihat istrinya semakin tembem pipinya.
"Ish, jangan gitu. Udah sana berangkat kerja." ucap Kirana.
"Iya sayang, ya udah ayo turun ke bawah. Missel juga sudah menunggu di bawah." kata Bryan.
Kirana pun ikut turun ke bawah dengan suaminya. Dia juga sudah bersiap untuk mengantar Missel ke sekolah, dan sesuai permintaan suaminya dia akan ke kantor suaminya sepulang dari sekolah Missel.
Sampai di bawah, Missel menunggu papinya, dia sudah siap dengan baju seragam sekolahnya dengan rapi.
"Pi, sekolahnya di antar oma. Ngga sama mami lagi sekarang." kata Missel.
Nyonya Ranti pun mendekat, dia tersenyum semanis mungkin pada Bryan yang melihat ke arahnya.
Berpenampilan sebagai perempuan dewasa, memakai rok pendek dan juga baju lengan menjuntai berwarna putih serta transparan. Dia berjalan dengan pelan seanggun mungkin.
Kirana menatap nyonya Ranti yang cantik itu dengan baju seperti perempuan muda dan energik. Dia melirik ke arah suaminya, apakah suaminya itu terpukau. Tapi dia pun lega, karena suaminya hanya melihat oma Missel itu biasa saja.
"Mama yang akan mengantar Missel ke sekolah mulai saat ini." kata nyonya Ranti mengibaskan rambutnya yang sengaja di gerai.
Dalam pandangan Kirana, nyonya Ranti itu seperti perempuan penggoda. Namun sayang, dia tidak tahu umur. Dan Bryan sendiri biasa saja.
"Hemm, baiklah. Sepertinya tugasku berkurang satu. Mas, aku antar sampai depan aja ya." kata Kirana dengan senyum mengembang.
Bryan justru kesal, kenapa jadi seperti itu. Namun, dia diam saja. Lebih baik dia mengikuti apa yang di lakukan mertuanha itu.
"Baiklah sayang, tapi jangan lupa ya nanti siang. Pokoknya aku tunggu di kantor." kata Bryan menekankan pada istrinya untuk tetap datang meski tidak mengantar Missel sekolah.
Dia justru punya pikiran lain nantinya jika Kirana datang sendiri ke kantor tanpa Missel.
Mereka berempat melangkah keluar dan menuju mobil Bryan, Bryan berpikir lebih baik dia akan membeli mobil untuk mengantar jemput Kirana dan Missel ke sekolah nanti. Jika dalam sebulan saja mertuanya itu mengantar Missel ke sekolah, dia akan kesal sekali. Karena harus satu mobil dengan omanya Missel itu setiap pagi. Bryan tidak mau itu terus berlangsung.
_
_
_
__ADS_1
********************