Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
46. Wisuda Kirana


__ADS_3

Sampai di rumah Bryan, kedua orang tua Kirana tampak takjub. Dodi satpam rumah Bryan menyapa hormat pada orang tua Kirana.


Ibu Kamina nampak tak berkedip hingga masuk ke dalam rumah menantunya. Sedangkan pak Darno memang mengagumi juga rumah besar nan mewah itu, namun dia bersikap biasa saja.


"Mari bu, silakan ke kamar tamu saja. Ibu sama ayah beristirahat dulu." kata Bryan membawa tas mertuanya.


"Ayo bu, kita ke kamar untuk istirahat." kata Kirana mengajak ibu dan ayahnya.


Kedua orang tua itu masih saja mengagumi rumah Bryan, Kirana hanya tersenyum menanggapi ucapan ibunya.


"Kirana, beruntung sekali kamu menikah dengan nak Bryan, rumahnya besar, dia tampan dan juga kaya sekali. Lihatlah rumahnya ini, ibu takjub sekali lho baru lihat dari depan. Dan di dalamnya lebih menakjubkan lagi. Ck ck ck. Juragan Samin sih ngga ada apa-apanya Kirana. Rumahnya ngga sebesar ini dan sebagus ini, ya walaupun memang besar." kata ibu Kamina.


"Sudah bu, jangan membandingkan harta orang lain. Tidak baik seperti itu." kata suaminya.


"Lha, dulu yang membanggakan juragan Samin itu siapa? Ayah kan dulu bangga sekali dengan juragan Samin, sampai rela anaknya mau di nikahkan dengan anak juragan Samin yang menurut ibu itu plinpaln, tidak berpendirian. Apa lagi itu bapaknya, dia juga mata keranjang. Sudah punya istri empat masih saja mau melirik Kirana." kata ibu Kamina lagi memojokkan suaminya.


Pak Darno hanya diam saja, dia juga sebenarnya tidak rela. Namun saat itu terdesak karena juragan Samin meminta anaknya untuk Doni. Jadi dia berubah jadi penjilat karena utang-utangnya itu. Beruntung utang-utang itu segera di bayar oleh Bryan.


Tapi bukankah sama saja?


"Oh ya Ki, apa kamu sudah bertemu dengan mertuamu?" tanya ibunya.


"Belum bu, mama mertuaku ada di luar negeri. Beliau belum bisa pulang ke sini." jawab Kirana.


Dia merasa tidak enak karena memang belum pernah bertemu dengan mertuanya. Pernikahan mendadak seperti tidak di akui oleh mertuanya. Tapi, apakah memang akan seperti itu?


Entahlah, Kirana tidak tahu. Bryan berjanji akan menghubungi kedua orang tuanya dan memperkenalkan dirinya sebagai istrinya nanti malam.


"Pasti dia kaya banget ya Ki, tinggalnya di luar negeri." kata ibu Kamina.


Kirana tersenyum, saat ini dia tidak ingin membahas mertuanya. Karena belum tahu seperti apa kedua mertuanya itu.


_


Hari wisuda Kirana sudah tiba, kini persiapan untuk pergi ke sebuah hotel di mana acara wisuda itu berlangsung. Kirana dan Bryan serta anak dan kedua orang tuanya ikut serta.


Mereka ikut mengantar Kirana, tapi Bryan hanya mengantar Kirana sampai hotel tempat acara wisuda, karena dia harus meeting dengan klien yang lama ingin sekali di jumpainya.


"Sayang, maaf ya aku ngga bisa menunggu kamu di dalam dan ikut proses wisuda. Aku harus meeting dengan klien dari China." kata Bryan ketika mereka belum turun dari dalam mobil.


"Penting ya mas?" tanya Kirana kecewa.


"Iya sayang, sudah empat bulan lalu aku ingin ketemu dengan dia, mister Cheng. Morgan malah memberitahu mendadak, jadi sekarang aku ngga bisa menemani kamu di wisuda." kata bryan dengan nada kecewa juga.


Kirana menghela nafas panjang, dia pun tersenyum lalu mengecup pipi suaminya itu. Bryan tersenyum senang, dia juga membalas mencium pipi istrinya.

__ADS_1


"Ngga apa-apa mas. Tapi kalau sudah selesai meeting pasti ke sini lagi kan?" tanya Kirana


"Tentu sayang, aku akan langsung kemari lenemuimu. Mudah-mudahan meetingnya ngga lama kok, karena mister Cheng juga dia sibuk. Mungkin nanti setelah bertemu dan membicarakan yang pokoknya saja, dia akan langsung terbang lagi ke China. Dan nanti di teruskan oleh asistennya." kata Bryan.


"Ya sudah, ngga apa-apa. Aku keluar dulu deh, takut ketinggalan. Cup."


"Maaf ya sayang, aku ngga bisa menemani kamu."


"Iya, ngga apa-apa mas."


Kirana lalu turun dari mobil Bryan, namun di cegah oleh suaminya.


"Kenapa?"


Bryan mencium bibir Kirana sebentar dan tersenyum manis padanya.


"Semoga sukes acaranya ya sayang."


"Iya mas."


Kirana keluar dari mobil Bryan dan melambaikan tangannya pada suaminya itu. Lalu masuk ke dalam gedung hotel untuk acara wisudanya.


_


"Sama-sama tuan Bryan, maaf saya baru bisa menemui anda hari ini. Padahal anda meminta sudah empat bulan lalu ya."


"Haha, tidak masalah mister Cheng. Bagi saya anda mau bekerja sama dengan saya itu sangat luar biasa."


"Haha, anda bisa saja. Oh ya, nanti untuk berkas kerja sama nanti biar asisten saya saja yang menanganinya. Dan saat ini saya harus kembali lagi ke China untuk urusan keluarga." kata mister Cheng.


"Ya mister Cheng, tidak masalah. Maaf merepotkan anda." kata Bryan.


Mister Cheng dan Bryan bersalaman dan keduanya pun berpisah. Kini mister Cheng keluar dari ruang kantor Bryan di antar oleh Morgan.


Bryan bersiap untuk kembali ke hotel tempat wisuda Kirana. Dia melirik jam di tangannya, sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Masih ada waktu untuk menghadiri acara wisuda istrinya, dan kebetulan hotel tempat acara itu punya rekan bisnisnya.


Tiba-tiba ponsel Bryan berdering, di ambilnya ponsel tersebut dan melihat siapa yang menelepon.


Mama


"Halo ma, ada apa?" tanya Bryan ketika telepon di angkat.


"Halo Bryan, maaf mama belum bisa pulang minggu ini. Katakan oada istrimu mama belum bisa pulang, mungkin bulan depan." kata mamanya.


"Ngga apa-apa ma, Kirana juga tidak masalah kok. Bagaimana dengan papa, ma? Apa kesehatan papa semakin baik?"

__ADS_1


"Ya, sudah lebih baik. Makanya mama belum bisa pulang, kata dokter lambungnya harus di jaga jangan makan sembarangan. Takutnya mama pulang ke Indonesia papamu tidak menjaga pola makannya."


"Oh, ya. Semoga sehat terus. Kalau bulan depan mama ngga juga datang, nanti aku sama Kirana dan Missel yang kesana, Kirana ingin bertemu dengan mertuanya. Biar bagaimana pun dia seorang perempuan dan istri dari suaminya yang tidak ada kedua orang tuanya yang jauh, setidaknya kami yang menemui mama dan papa di sana." kata Bryan.


"Iya sayang, terserah kamu. Tapi memang bulan depan mama mau pulang ke Indonesia."


"Ya ma, mudah-mudahan papa sehat terus ya."


"Iya, oh ya. Hari ini wisuda istrimu?"


"Iya, ini aku mau siap ke tempat wisuda Kirana. Tadi tidak bisa ikut acara dari awal karena ada klien dari China yang ngga bisa aku abaikan ma."


"Oh, ya sudah. Mama tutup teleponnya ya, semoga suskes untuk istrimu dan kerja samanya. Salam untuk istrimu." kata mamanya Bryan.


"Iya ma, nanti aku sampaikan sama Kirana."


Klik


Sambungan telepon terputus, kini Bryan bersiap untuk pergi ke gedung hotel di mana wisuda istrinya itu.


Morgan masuk ke dalam kantor Bryan, dia melihat bosnya bersiap untuk pergi.


"Mau kemana bos?"


"Ke gedung hotel tempat wisuda istriku. Kamu si kantor dulu ya, nanti siang aku kembali lagi."


"Yakin kembali lagi bos?".


"Ya, karena sekarang ada mertuaku di rumah. Aku ngga bebas eksekusi Kirana lama-lama dan sering-sering, lebih baik aku kerja di kantor." kata Bryan.


"Duh, kasihan amat ya." kata Morgan.


"Udah jangan meledek terus, aku pergi. Jangan keluyuran!"


"Dih, memang aku kuntilanak keluyuran terus."


Bryan pun keluar dari kantornya, dia bergegas pergi agar bisa menghadiri dan melihat acara prosesi wisuda istrinya.


_


_


_


*******************

__ADS_1


__ADS_2