Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
68. Mengintimidasi Orang Yang Salah


__ADS_3

Pagi ini Kirana sangat malas untuk bangun pagi, setelah sholat subuh. Dia tidur lagi, berbaring dengan menyelimuti dirinya kembali. Membuat Bryan heran kenapa dengan istrinya itu. Bryan mendekat, dia duduk di samping Kirana yang masih menyeimuti diri.


"Sayang, kamu kenapa? Ngga biasanya langsung tidur lagi setelah mandi. Apa kamu sakit?" tanya Bryan menempelkan tangannya ke kening iatrinya.


Tidak panas, tapi kenapa istrinya itu tidur lagi.


"Aku hanya malas turun ke bawah, malas sarapan juga." jawab Kirana masih dengan tetap posisinya.


"Kalau merasa tidak enak badan, lebih baik periksa ke dokter aja. Jangan di biarkan sakit tambah parah.


"Ngga kok mas, aku hanya malas turun ke bawah. Dan hari ini aku ngga nganter Missel ke sekolah ya, mas." kata Kirana.


"Ya udah ngga apa-apa, biar nanti supir aja yang antar. Nanti sekalian di tungguin di sana sampai pulang." kata Bryan.


Dia lalu mencium pipi dan kening istrinya dengan lembut.


"Aku langsung berangkat aja sayang, kamu ngga sudah antar aku lagi. Dan nanti aku bilang ke Mimin sarapannya di bawa ke kamar aja."


"Iya mas, terima kasih ya. Dan maaf ngga antar kamu ke depan." kata Kirana.


Dia merubah posisinya menjadi terlentang menghadap Bryan. Bryan tersenyum, dia lalu mencium bibir istrinya.


"Ya sudah, aku berangkat aja. Nanti sarapan di kantor dengan Morgan. Karena hari ini aku harus berangkat cepat."


"Ya mas, hati-hati di jalan."


"Ya, kamu jaga diri di rumah. Kalau ada apa-apa, hubungi aku ya."


"Iya."


Sekali lagu Bryan mencium bibir istrinya lalu dia pun beranjak dari duduknya dan melambaikan tangannya pada Kirana. Kirana membalas lambaian tangan suaminya sambil tersenyum manis padanya. Lalu dia berganti posisi, perutnya terasa begah dan agak mual.


Bryan turun dari tangga, dia menuju dapur untuk memberitahu Mimin, kalau Kirana tidak bisa turun ke bawah dan di bawakan sarapan ke atas.


"Min, tolong nanti bawakan sarapan ke atas ya. Kirana tidak bisa ikut sarapan di meja makan." kata Bryan.


"Kenapa tuan? Apa nyonya sakit?" tanya Mimin.

__ADS_1


"Katanya sih tidak, dia hanya malas turun ke bawah.Tolong siapkan juga bekal buat Missel."


"Iya tuan."


Setelah berkata seperti itu, Bryan pun pergi langsung keluar. Tapi sebelumnya dia menemui anaknya di meja makan.


"Papi berangkat dulu sayang, nanti berangkatnya sama mang Udin aja ya sendirian. Nanti mang Udin tunggu Missel di sekolah." kata Bryan.


"Memang mami ngga mengantar Missel ke sekolah pi?" tanya Missel.


"Mami sedang tidak enak badan sayang, mungkin besok bisa antar Missel lagi ke sekolah." kata Bryan.


"Ya udah deh. Jadi Missel cuma sama mang Udin aja?"


"Iya, kalau oma Missel mau nganter juga ngga masalah."


"Aku tidak mau, aku ada urusan dengan teman." kata oma Ranti dengan ketus.


"Missel juga ngga mau di antar sama oma." kata Missel membuat oma Ranti jadi kesal.


Bryan tersenyum tipis, dia lalu mencium kening anaknya lalu pergi keluar untuk segera berangkat ke kantor.


_


"Dia tidak turun juga, baiklah hari ini aku sabar. Besok aku akan jalankan rencana, tidak sabar rasanya untuk memberi pelajaran pada gadis tidak tahu diri itu. Mentang-mentang Bryan menyayanginya, dia seenaknya saja." gumam oma Ranti.


Mimin naik tangga untuk memberikan sarapan pada Kirana, dia sudah naik ke atas. Lalu oma Ranti ikut naik ke atas mengikuti Mimin dari belakang dan masuk ke dalam kamar Bryan.


"Nyonya, ini sarapannya. Mimin masuk ya?" teriak Mimin di depan pintu kamar Kirana.


"Yaa, masuk saja mbak Mimin." sahut Kirana masih di pembaringannya.


Kirana benar-benar malas sekali turun dari ranjang empuknya. Di tariknya selimut lagi, dia melihat ke arah pintu Mimin masuk membawa nampan berisi sarapan untuknya dan tak lama di belakang Mimin oma Ranti ikut masuk. Kirana kesal sekali melihat oma Ranti yang ikut masuk ke kamarnya, moodnya berbalii jadi tidak berselera makan. Yang tadinya melihat Mimin membawa makanan, kini dia hilang selera makannya.


Namun begitu dia diam saja, hanya melihat Mimin meletakkan nampan di meja dekat ranjang. Sedangkan oma Ranti berdiri dan menatap Kirana dengan tangan bersedekap keduanya.


"Heh, jadi kamu sedang malas-malasan di kamar?" tanya oma Ranti.

__ADS_1


Mimin menoleh ke belakang, dia juga kaget oma Ranti ikut masuk ke dalam kamar Kirana. Dia menatap Kirana yang menatap datar pada mertua Bryan itu. Malas sekali kelihatannya Kirana meladeni orang tua itu.


"Kamu semakin berani denganku ya, semenjak menantuku itu menikah denganmu. Apa kamu pikir Bryan menyayangimu, akhirnya aku akan berbalik simpati padamu?" kata oma Ranti.


"Maaf ya oma, aku sebenarnya respek sama oma. Oma adalah omanya Missel, jadi aku menghargai neneknya Missel dan juga sebagai orang tua. Tapi kenapa oma selalu bicara ketus denganku? Apa salahku? Dan apa yang oma inginkan pada suamiku?" tanya Kirana dengan tepat sasaran pada intinya.


Oma Ranti diam, dia mencibir lalu tersenyum sinis. Dia menatap tajam pada Kirana, sedangkan Mimin melihat itu hanya diam saja. Dia takjub bisa melawan oma Ranti, dia pikir Kirana itu penurut dan bisa di gertak oleh oma Ranti. Tapi ternyata, gadis kampung yang berpenampilan sederhana ketika pertama datang ke rumah majikannya itu. Ternyata adalah gadis pemberani.


"Kamu lakukan sesuka hatimu di rumah ini. Dan ingat ini rumah menantuku, jika Bryan sudah tidak menginginkanmu lagi bisa jadi kamu akan di usir dari rumah ini. Seperti anjing buluk yang terabaikan begitu saja. Menyedihkan." kata oma Ranti seperti mengintimidasi Kirana.


Tapi bukan Kirana namanya kalau takut di gertak oleh oma Ranti. Jika dia merasa benar, maka akan melawannya. Toh apa salah dia sehingga di musuhi, lagi pula Bryan juga tidak suka pada mertua ganjennya itu.


"Oke, aku tahu sekarang kenapa oma membenciku. Aku tahu kenapa oma selalu berdandan rapi dan selalu terlihat cantik di depan suamiku. Ya, oma suka kan dengan suamiku? Silakan saja ambil jika suamiku mau dengan oma. Tapi di pikir-pikir kok ada mertua suka sama menantunya sendiri? Apa itu masuk akal?" kata Kirana.


"Heh gadis kampung! Jangan mentang-mentang kamu jadi nyonya di sini, kamu semakin berani padaku? Awas kamu ya, akan aku balas nanti setelah ini. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan." kata oma Ranti mengancam Kirana.


Dan Mimin yang menyaksikan itu pun kaget, dia tidak menyangka Kirana membalas perkataan pedas oma Ranti, sedangkan oma Ranti sendiri mengancam Kirana. Itu tidak boleh di biarkan. Dia akan melaporkan itu pada Bryan, pikir Mimin.


Oma Ranti keluar dengan perasaan kesal bukan main, dia akan masuk ke kamarnya dan menelepon Laudya. Dan Mimin masih di kamar kirana, dia menatap majikannya itu dengan bangga kalau Kirana bisa melawan oma Ranti.


"Nyonya hebat bisa melawan oma Ranti." kata Mimin.


"Aku sebenarnya tidak mau berkata seperti itu, tapi lama-lama oma kok semakin membuatku kesal. Dia memang menyukai mas Bryan." kata Kirana.


"Kan Mimin sudah bilang dulu, kalau oma Ranti itu suka sama tuan Bryan. Jadi nyonya harus pertahankan kalau nyonya itu benar." kata Mimin.


Kirana hanya tersenyum saja, dia lalu membaringkan kembali tubuhnya dan menarik selimutnya lagi.


"Apa nyonya sedang hamil?"


"Eh?"


_



Promo lagi nih kaka, yuk mampir kemari...😊❤️

__ADS_1


****************


__ADS_2