Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
61. Bukan Istri Sinetron


__ADS_3

Kirana pergi ke kamarnya, entah kenapa hari ini sangat melelahkan. Padahal hanya mengantarkan Missel seperti biasa dan duduk-duduk saja di sekolah Missel.


"Huh! Kenapa aku lelah sekali ya hari ini. Tidur sebentar sepertinya bisa memulihkan tenaga nantinya." ucap Kirana.


Dia lalu mencuci kakinya dan mengganti baju, niatnya mau tidur siang. Di baringkan tubuhnya yang merasa lelah.


"Aaah, rasanya enak banget di kasur empuk ini. Kenapa baru aku rasakan ya? Uuh, apa lagi kalau mas Bryan ada di sampingku dan memelukku. Hihihi ..." ucap Kirana sambil memeluk bantal guling membayangkan suaminya memeluknya sekarang.


Baru beberapa menit Kirana memejamkan matanya, selimutnya di tarik oleh seseorang yang menatapnya tajam. Kirana kaget, dia pun membuka matanya dan melihat nyonya Ranti berdiri dengan wajah kesal padanya.


"Enak ya kamu tidur siang-siang di kamar ini." kata nyonya Ranti sambil bersedekap.


"Ini juga kamarku oma, aku istrinya mas Bryan. Apa salahnya aku tidur di kamarku?" tanya Kirana heran.


"Salah, kamu salah. Seharusnya yang jadi istrinya Bryan itu aa ...." ucapan nyonya Ranti terputus.


Dia tidak enak jika harus mengatakan langsung kalau dia juga menginginkan jadi istri Bryan. Tapi dia tidak bisa berkata langsung, karena Bryan itu menantunya. Wajah nyonya Ranti memerah menahan kesal.


"Apa oma? Siapa yang pantas jadi istrinya mas Bryan? Oma?" tanya Kirana.


"Kamu?! Kamu itu masih kecil, jangan suka melawan orang tua. Kualat kamu nanti melawan orang tua!" teriak nyonya Ranti pada Kirana.


Kirana tersenyum sinis, dalam hati dia mengatakan kalau oma Ranti tidak tahu diri. Sudah tua, bahkan tidak tahu malu.


"Saya tidak melawan orang tua oma, tapi bukankah oma masuk ke kamar orang tanpa izin dan langsung masuk itu orang yang lancang?"


"Kirana!" teriak nyonya Ranti.


Dia benar-benar marah sekali dengan Kirana, matanya menatap tajam. Nafasnya memburu, namun sekarang dia mengatur pernafasannya agar tidak sesak.


"Baiklah, kamu boleh sesuka hatimu di rumah ini. Tapi ingat ya, ada cucuku di sini. Jika sampai cucuku terjadi apa-apa dan malah tidak menyukaimu, kamu harus pergi." kata nyonya Ranti.


Rupanya rasa cemburu yang sangat dalam pada Kirana, dia sampai berani masuk ke dalam kamar Bryan bahkan mengancam Kirana, istri Bryan.


Namun Kirana hanya diam saja, dia tersenyum tipis. Nyonya Ranti pun keluar, hatinya benar-benar marah dan menyesali kenapa dia bertindak kasar terlalu cepat pada Kirana.


"Seharusnya aku tadi tidak begitu, bagaimana kalau dia mengadu pada Bryan?" ucapnya sambil keluar dari kamar Bryan.


"Huh, aku pikir orang tua itu ramah. Ternyata seperti nenek lampir, dan kenapa dia sampai marah begitu? Apakah benar dia cemburu padaku, karena menikah dengan mas Bryan? Aneh." ucap Kirana.


Dia lalu kembali membaringkan tubuhnya, rasa lelah itu telah hilang. Namun berganti dengan rasa penasaran kenapa nyonya Ranti begitu terobsesi dengan suaminya.


Kirana ingat ucapan Mimin, bahwa omanya Missel itu menyukai suaminya.


"Jika dalam sinetron ikan terbang, istri tidak di restui akan selalu tertindas. Maka, aku akan melawan dengan caraku. Aku bukan istri bodoh dan bisa di tindas, aku percaya mas Bryan itu akan selalu mendengarkanku." kata Kirana.

__ADS_1


Dia tidak habis pikir dengan mertua pertama suaminya, namun begitu dia siap untuk menghadapi apa yang akan di lakukan oleh nyonya Ranti. Kini Kirana pun mulai mengantuk, dia memejamkan matanya lalu tertidur dengan pulas.


_


"Sayang, bangun. Sudah malam ini, cup, cup, cup." bisik Bryan depan wajah Kirana dan terus menerus mencium bibirnya.


Kirana pun menggeliat, tangan ke atas namun di tahan oleh suaminya. Matanya terbuka dan melihat wajah Bryan begitu dekat padanya.


"Mas, sudah pulang?" tanya Kirana.


"Sudah, sejak satu jam lalu. Kamu tidur nyenyak banget ya?" kata Bryan kembali mencium bibir Kirana.


"Iiih, udah sih. Bau, aku kan baru bangun tidur."


"Tapi kamu tetap wangi sayang, meski bangun tidur. cup."


"Oh ya mas, udah ketemu oma Ranti?" tanya Kirana, kini dia duduk bersandar di kepala dipannya.


"Hemm, ya. Aku juga ngobrol sebentar mengenai kamu dan juga dia marah karena aku menikah tidak bilang padanya." kata Bryan, ikut duduk di samping istrinya.


"Kenapa tidak bilang mas?"


"Dia cerewet, aku tidak suka di atur." jawab Bryan.


"Hahah!! Kalau dia suka sama aku, itu namanya tidak tahu diri. Aku menantunya, dulu. Kenapa dia suka sama aku? Apakah aku begitu mempesona?" ucapan Bryan membuat Kirana mencibir lalu tersenyum.


"Kamu tahu, memang kamu itu banyak menarik perhatian wanita mas. Sampai-sampai oma Missel sendiri menyukai kamu, aneh aja. Tapi memang kamu mempunyai daya pikat yang menarik mas. Tapi aku takutnya kamu malah terpancing dan tertarik juga sama mereka, aku cemburu mas." kata Kirana membuat Bryan kembali tertawa.


"Hahaha! Sayang, benarkah itu pujianmu?"


"Siapa yang memuji?" tanya Kirana ketus.


Bryan memajukan wajahnya lalu, menatap Kirana yang kesal padanya. Entah kenapa dia kesal pada suaminya itu.


"Kata-katamu itu mengandung pujian sayang, apa kamu juga mengagumiku, hem?" kata Bryan sudah mulai menggigit kecil bibirnya.


"Ya wajar saja, kan aku istrimu. Mengagumi suami sendiri, apa salah?" kata Kirana berusaha menghindar dari serangan suaminya.


"Ya, memang ngga salah, malah harus istriku ini mengagumi ketamapananku dan tubuh seksiku. Emmh aah."


Bryan mulai mengulum bibir serta kini tangannya mulai merambah ke bagian lainnya. Sedang asyik mulai mencumbu, teriak panjang dari anaknya membuat keduanya kaget.


"Papiii!!!"


Bryan menghentikan aktivitasnya, dia lalu duduk dengan kesal dan menatap Missel yang masuk kamarny dengan berlari.

__ADS_1


"Papi lagi apa sih? Kok mami baru bangun?" tanya Missel mulai naik ke atas ranjangnya.


"Mami tadi siang lelah, jadi mami tidur." kata Kirana.


Tak lama nyonya Ranti pun masuk dan melihat adegan mesra Bryan dan Kirana saling berpelukan sambil bicara padanya. Dia kesal dengan pemandangan itu, namun di tahannya karena Bryan ada di sana.


"Ini sudah malam, apa kalian tidak mau turun untuk makan malam?" tanya nyonya Ranti berdiri tepat di ujung ranjang menatap keduanya dengan datar.


"Sayang, apa kamu mau makan malam di sini atau di meja makan?" tanya Bryan pada istrinya.


"Di meja makan aja mas, nanti saya cuci muka dulu deh. Kamu duluan aja ke meja makan sama Missel, nanti aku menyusul." jawab Kirana.


"Oke sayang, cup." ucap Bryan mencium pipi Kirana.


Membuat nyonya Ranti merasa semakin kesal, dia membuang muka ke samping. Rasa cemburunya sangat besar, lalu di tariknya nafas pelan agar Bryan tidak mengetahui kalau dia sedang cemburu.


Bryan pun menggendong Missel dan segera pergi dari kamarnya, dia sengaja membuat mertuanya itu panasa karena mencium mesra Kirana. Sedangkan Kirana bersiap turun dari ranjangnya, namun nyonya Ranti mencibirnya.


"Cih! Sepertinya kamu besar kepala ya, bisa di sayang sama menantuku?" kata nyonya Ranti.


"Itu wajar oma, aku istrinya. Dan rasanya ya, apa tidak sopan oma masuk ke dalam kamar menantunya tanpa permisi dan langsung masuk?" tanya Kirana tersenyum sinis.


Benar-benar orang tua tidak tahu sopan santun, dan tidak tahu diri. Pikir Kirana.


"Dia menantuku, apa pun bisa aku lakukan dan bisa masuk kemana saja sesuka hatiku. Jangan kira kamu istrinya lalu bisa melarangku masuk ke dalam kamar ini?"


"Ya, terserah anda oma Ranti yang terhormat. Anda tahu tata krama seorang tamu tentunya, silakan anda berbuat semaunya. Tapi jangaj oma sangak saya akan tunduk dan patuh serta seenaknya saja oma tindas, jangan bermimpi saya istri seperti itu oma."


Setelah berkata seperti itu, Kirana pergi ke kamar mandi. Tadi niatnya mau cuci muka, namun sekarang tiba-tiba ingin mandi sepuasnya. Dan nyonya Ranti justru merasa kesal dengan ucapan Kirana yang sedang menantangnya.


"Awas kamu ya, akan aku buat kamu tidak betah di rumah ini."


Nyonya Ranti pun keluar dengan rasa kesal di hatinya. Ternyata istri Bryan itu tidak bisa di tindas begitu saja.


_



Mampir yuk kaka, ini juga ceritanya seru banget lho ya..😉😊😊


_


_


******************

__ADS_1


__ADS_2