
Daniel hendak berangkat kerja, dia sudah bersiap untuk berangkat. Tapi Kania masuk ke kamarnya dan menghampirinya. Daniel menatap putri kecilnya, dia heran dengannya yang terlihat cemberut.
"Kenapa putri papa yang cantik ini cemberut aja? Ada apa princesnya papa?" tanya Daniel mendekat dan berjongkok sejajar dengan Kania.
"Papa mau kerja ya?" tanya Kania.
"Iya sayang, kan biasanya papa kerja." kata Daniel.
"Pa, tante yang menolong Kania itu kemana ya?" tanya Kania.
"Eh, Kania mau apa cari tante yang menolong Kania?" tanya Daniel, mencoba ingin tahu.
"Ya kan, Kania ingin mengucapkan terima kasih pa. Kan waktu di antar pulang itu Kania langsung tidur di kamar, tidak bertemu dulu dengan tante itu. Kania juga pengen kenalan sama tantenya, kan Kania belum tahu namanya siapa." jawab Kania.
Daniel tersenyum, dia lalu mencium anaknya itu lalu menggandeng tangannya untuk keluar dari kamarnya. Dia mengajak Kania untuk sarapan, dia tahu Kania membutuhkan sosok ibu untuk menjaga dan menemaninya di rumah. Apakah Danisa bisa melakukan itu? Eh?
Kenapa Daniel berpikir Danisa bisa menjaga Kania?
"Duh, kenapa aku memikirkan dia sejauh itu?" gumam Daniel.
"Papa ngomong apa?" tanya Kania.
"Enggak sayang, papi mikirin pekerjaan. Oh ya, bagaimana kalau Kania papa pertemukan dengan tante yang telah menolong Kania? Kania ingin ketemu dengannya kan?" tanya Daniel.
"Benar pa? Mau banget, Kania pengen ucapin terima kasih. Lalu mau tanya namanya siapa, kan Kania ngga sempat tanya nama tante itu siapa." kata Kania dengan antusias.
Daniel tersenyum, dia lalu menyuapkan makanan ke dalam mukut Kania. Dia senang putrinya mau bertemu dengan Danisa, dan siang ini dia akan buat janji dengannya.
"Nanti papa akan ajak Kania makan siang bareng dengan tante yang menolong Kania, nanti Kania tanya sendiri ya siapa nama tantenya?" kata Daniel.
"Papa ngga tahu namanya siapa?" tanya Kania.
"Emm, papa tahu. Tapi papa lupa, heheh."
"Ish, papa. Kenapa lupa, kan tante itu yang telah menolong Kania. Papa ngga asyik nih." kata Kania dengan cemberut.
Daniel tersenyum saja dengan ekspresi Kania putri kesayangannya itu. Dia mengelus puncak kepala Kania dengan lembut dan penuh sayang. Lalu kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut Kania.
"Siang ini nanti papa cari dan ketemu di tempat restoran. Nanti papa ajak Kania juga makan siang di restoran, sekarang papa berangkat kerja dulu ya. Kania sama bi Opi sama bi Jum, kalau ada apa-apa Kania bisa telepon papa. Suruh bi Jum atau bi Opi menelepon papa." kata Daniel.
__ADS_1
"Iya pa."
"Ya sudah, papa berangkat dulu. Siang nanti kalau papa sudah ketemu dengan tante itu, papa jemput Kania."
"Oke pa."
Daniel mencium kedua pipi anaknya itu, lalu bergegas keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Karena sudah pukul tujuh lebih sepuluh menit, jadi Daniel segera berangkat ke kantornya.
_
Kini Danisa sudah berada di sebuah restoran yang di tunjuk Daniel. Tadi pagi sebelum berangkat ke kampus, dia di telepon oleh Daniel mengajaknya makan siang dengan putrinya. Putrinya Kania ingin bertemu dengannya dan mau mengucapkan terima kasih. Danisa hanya tersenyum saja, dia juga senang bisa bertemu lagi dengan Kania.
Lama Danisa menunggu Daniel, dia selalu memperhatikan pintu masuk reatoran. Dan tak lama, Daniel serta anaknya Kania masuk ke dalam reatoran. Danisa melambaikan tangannya ketika Daniel mencari meja yang ada Danisa. Dia pun tersenyum pada Danisa, lalu mengajak putrinya menuju ke meja di mana Danisa berada.
"Selamat siang anak cantik." sapa Danisa pada Kania.
"Siang tante, aku senang ketemu tante lagi." kata Kania dengan tawa riangnya.
Daniel memperhatikan interaksi Danisa dan Kania begitu senang, Danisa ternyata terlihat biasa berinteraksi dengan anak kecil. Dan kelihatannya sayang sama anak kecil. Daniel tidak tahu kalau Danisa punya keponakan dati anaknya Morgan yang selalu dia asuh jika sedang berkunjung ke rumah kakaknya itu.
Sekarang saja kakaknya jauh di Batam, jadi dia tidak bisa bertemu dengan keponakannya yang lucu itu. Biasanya juga kadang Danisa membawanya pergi jalan-jalan hanya berdua dengan anak Morgan itu, tapi sekarang sudah tidak lagi.
Danisa menatap Daniel, dia melihat Daniel juga menatap ke arahnya. Lama mereka bertatapan, lalu Danisa membuang muka ke samping. Malu di tatap oleh Daniel.
"Tante kok diam aja sih?" tanya Kania lagi.
"Danisa, itu nama tante." jawab Danisa tersenyum.
"Waah, bagus ya namanya pa tante Danisa." kata Kania meminta pendapat papanya.
"Iya sayang, sesuai orangnya juga cantik kan?" kata Daniel.
"Iya pa, tante Danisa cantik. Heheh ...." ucap Kania tertawa lucu, membuat Danisa juga gemas dengan tawanya itu.
"Kania juga cantik." kata Danisa.
Mereka lalu mengobrol santai, Danisa dan Kania saling menanggapi apa yang di bicarakan. Sedangkan Daniel memperhatikan keduanya dengan senang hati. Pelayan datang untuk menanyakan pesanan apa yang mereka inginkan.
Danisa memilih terserah apa yang di pesan Daniel, karena dia memakan apa saja yang ada di restoran itu. Dia juga pernah datang ke restoran itu dengan Kirana, yang kacau makannya gara-gara Kirana cemburu melihat Bryan jalan dengan Laudya.
__ADS_1
"Kamu suka makan apq saja?" tanya Daniel pada Danisa.
"Ya tuan, dan jangan kaget kalau makanku banyak dan seringnya habis lho." jawab Danisa tersenyum.
"Oh ya? Tapi aku tidak yakin kamu makan banyak, soalnya tubuhmu kecil dan tidak terlihat seperti orang doyan makan." kata Daniel menilai tubuh Danisa yang ramping dan ideal bagi seorang gadis seusianya.
"Ya, lihat saja nanti. Dan maaf kalau nanti cara makanku cepat dan makan banyak juga."
"Tidak masalah, tapi apakah kamu tidak takut gemuk kalau makan banyak? Maaf, kalau aku menilai tubuhmu."
"Tidak, sahabatku bahkan tahu kalau aku makan banyak dan berat badanku tidak pernah naik lebih cepat kalau makan banyak."
"Kebanyakan para gadis selalu menjaga makannya agar terlihat langsing terus."
"Ya, memang seperti itu. Tapi untungnya aku di anugrahi tubuh yang selalu ramping jika makan banyak. Justru kalau aku tidak makan banyak, malah tambah turun berat badanku. Jadi lebih baik aku makan banyak dan makan yang enak-enak tanpa takut berat badanku bertambah." kata Danisa lagi.
"Menyenangkan sekali, punya tubuh seperti itu. Makan selalu banyak tapi timbangan tidak berat juga ya." ucap Daniel.
Dan makanan pun datang, pelayan itu meletakkan semua makanan yang di pesan. Daniel memperhatikan Danisa yang begitu bersemangat dengan makanan yang dia pesan sudah datang. Kania juga merasa senang bisa makan siang dengan Danisa juga papanya.
"Kania suka makan dengan tante Danisa?" tanya Danisa.
"Iya tante, lain kali boleh ya aku makan sama tante Danisa lagi?" tanya Kania.
"Tentu boleh. Kapan saja Kania bisa undang tante makan, tante pasti datang." kata Danisa.
"Oke tante, nanti papa yang bikin janji ya. Ya kan pa?" tanya Kania pada Daniel.
"Iya sayang, nanti papa akan undang lagi tante Danisa makan di rumah kita." kata Daniel.
Mereka pun makan siang dengan lahap. Sesekali Danisa menawarkan untuk menyuapi Kania, dan Kania pun dengan senang hati dia mau di suapi oleh Danisa. Dan sekali lagi, Daniel memperhatika itu sangat menyenangkan. Dia juga sepertinya sedang berpikir untuk segera mencari pendamping baru agar Kania bisa terurus nantinya, tanpa harus khawatir lagi.
Sejak peristiwa penculikan Kania oleh pengasuh barunya, Daniel tidak lagi menyewa pengasuh meski dia mengambil dari yayasan resmi. Secepatnya dia akan mecari pendamping baru, atau bisa jadi pertimbangan Daniel pada Danisa?
_
_
_
__ADS_1
****************