Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
89. Jadilah Mamanya Kania


__ADS_3

"Papa sedang apa di sini?" tanya Kania bangun dari tidurnya dan turun ke bawah.


"Lho, kok Kania bangun? Kenapa sayang?" tanya Daniel menghampiri anaknya.


"Kania pengen pipis pa." jawab Kania.


"Ooh, ya udah ayo ke kamar mandi aja. Papa antar." kata Daniel mengajak Kania ke kamar mandi.


Tak lama Danisa pun ke meja makan membawa hasil masakannya dan juga ada kerupuk dia goreng tadi. Lalu kembali lagi mengambil nasi serta dua piring untuknya dan Daniel, karena tadi Daniel bilang ingin mencicipi masakannya.


Daniel kembali lagi ke meja makan dan melihat sudah ada makanan di meja makan. Harum baunya, Kania heran kenapa ada makanan di meja.


"Siapa pa malam-malam masak di dapur?" tanya Kania.


"Halo Kania?" sapa Danisa membawa piring dan nasi dengan senyumannya.


"Eh, tante Danisa?!" teriak Kania.


Dia menghampiri Danisa yang meletakkan piring juga nasi di meja. Kania memeluk Danisa dengan senang.


"Waah, ada tante Danisa. Aku senang tante ada di sini." kata Kania dengan senyum cerianya.


"Oh ya? Terus apakah tante harus tinggal di sini?" tanya Danisa.


"Boleh tante, tante tinggal di sini aja sama Kania dan papa." kata Kania lagi dengan semangat.


Daniel memperhatikan keduanya bercakap-cakap sangat menyenangkan, dia pun ikut tersenyum. Danisa duduk dan mengambil nasinya dan meletakkannya di depan Daniel.


"Kania mau makan juga?" tanya Danisa.


"Emm, ngga pedas kan tante cuminya?" tanya Kania ragu.


"Sedikit pedas sih, tapi lebih asam dan manis aja." jawab Danisa.


"Boleh deh tante, kalau pedas nanti Kania berhenti makan." jawab Kania.


"Hahah, ya boleh begitu. Kalau pedas tinggal berhenti makan." kata Danisa.


Dia bangkit lagi dari duduknya dan mengambil satu piring lagi. Seolah dia hafal betul daerah dapur, dan sejak tadi Daniel memperhatikan apa yang di lakukan oleh Danisa itu sangat menarik.


Akhirnya mereka makan bertiga di malam hari pukul sepuluh lewat dua puluh menit. Sangat malam sekali untuk ukuran makan malam, tapi Danisa tidak peduli. Dia makan malam dengan menu berat sekalipun tidak mempengaruhi berat badannya.


_


Pagi hari Danisa bersiap untuk pulang ke kontrakannya, dia merasa cukup hanya tadi malam dia menginap dan sekarang waktunya pulang ke kontrakannya.


"Tuan Daniel, saya mau pulang." kata Danisa.


"Kenapa buru-buru?" tanya Daniel.


"Saya sudah cukup sampai pagi ini. Di kontrakan saya punya pekerjaan." jawab Danisa beralasan.


"Apa pekerjaanmu?"

__ADS_1


"Ada saja."


"Tante jangan dulu pulang." Kania meminta.


"Maaf Kania, tapi tante juga harus kuliah." jawab Danisa.


"Baiklah, aku antar kamu pulang ke kontrakan."


"Tidak usah tuan, saya bisa naik taksi."


"Danisa, kenapa kamu seperti ini? Menolak bantuanku hanya mengantarkan sampai rumah saja, bukankah tadi malam aku menyelamatkanmu?" tanya Daniel yang kesal kenapa Danisa berubah seperti itu.


"Maafkan saya tuan, saya hanya tidak mau merepotkan anda. Dan terima kasih anda menolongku dari Bruno." kata Danisa menunduk.


"Iya, aku terima. Sekarang bersiaplah, aku antar kamu pulang." kata Daniel.


Dia tidak mengerti dengan Danisa, semalam begitu manis di depan Kania. Sekarang dia begitu dingin, apa dia mempunyai kepribadian ganda? Pikir Daniel.


Setelah dia mengambil tasnya, dia memberi pengertian pada Kania kalau Danisa harus berangkat kuliah. Dan Kania pun mengerti, anak berusia tiga tahun itu pun akhirnya mengerti setelah di beritahu Daniel. Sebenarnya Danisa kasihan, tapi dia harus pulang, bisa-bisa ibu yang punya kontrakan itu akan bertanya macam-macam padanya.


Di dalam mobil, keduanya masih saling diam. Daniel sesekali melirik Danisa yang menatap lurus ke depan entah apa yang di pikirkan. Dia menghela nafas panjang, apakah dia akan meminta Danisa saat ini juga?


"Danisa, berapa tahun lagi kamu selesai kuliah?" tanya Daniel membuka pembicaraan.


"Satu semester lagi tuan, sekarang saya sedang mengajukan proposal skripsi." jawab Danisa.


"Begitu ya. Kenapa kamu tidak menyelesaikan kuliahmu tepat waktu? Seperti istrinya Bryan, sahabatmu?" tanya Daniel lagi.


"Karena saya saat itu tidak berpikir logis, masih memikirkan kesenangan saja. Sekarang saya mau menyelesaikannya dan ingin segera bekerja." jawab Danisa lagi datar.


"Tuan, bukan kesini kalau ke kontrakanku jalannya." kata Danisa yang menyadari arah jalanannya salah.


"Oh, benarkah? Lalu kemana?"


"Belok kiri, jangan lurus."


"Oke, kita tunggu lampu hijau menyala."


"Seharusnya tadi persimpangan jalan itu kita belok, biar bisa lebih cepat sampai." kata Danisa.


Daniel tersenyum, dia melamun tadi. Atau karena obrolannya dengan Danisa membuatnya lupa jalan. Tadi dia di kasih tahu naman jalan dan daerahnya, tapi malah kelewatan.


"Kamu mau bekerja di mana?"


"Saya tidak tahu, menunggu proposal skripsiku di terima dulu. Baru nanti aku kejar sampai lulus, baru aku pikirkan nantinya." jawab Danisa.


Mobil terus berjalan, dan kini sampai juga di daerah kontrakan Danisa. Dia meminta Daniel menghentikan mobilnya agak jauh dari depan rumah kontrakannya.


"Kenapa berhenti jauh sekali?" tanya Daniel heran.


"Pemilik kontrakannya sangat bawel, aku tidak mau ribet menjelaskan apapun. Pulang pagi ini saja dan bukan baju semalam kadang ibu pemilik kontrakan suka bertanya macam-macam. Aku malas menjawab yang tidak penting tuan." kata Danisa lagi.


"Pindah kontrakan saja, kenapa harus bertahan di kontrakan itu?"

__ADS_1


"Ngga apa-apa, saya tadinya hanya menghindar dari Bruno saja. Sayang kalau harus pindah, saya sudah membayar untuk tiga bulan ke depan. Heheh."


"Ooh, hahah."


"Terima kasih tuan Daniel mengantar saya pulang, kalau begitu saya turun dulu." kata Danisa segera turun.


Namun tangan Danisa di tarik Daniel, dia pun menoleh dan melihat tangannya di pegang Daniel. Menatapnya heran, ada apa?


"Ada apa tuan Daniel?" tanya Danisa.


"Emm, Danisa?" diam sejenak, membuat Danisa semakin heran.


"Kenapa tuan Daniel?"


"Jadilah mamanya Kania?" ucap Daniel menatap Danisa.


"Tuan Daniel, apa yang anda katakan?"


"Jadilah mamanya Kania, dia berharap kamu jadi mamanya. Ya, Kania membutuhkanmu Danisa." kata Daniel membuat Danisa semakin heran dan diam berpikir.


"Apa, hanya itu saja?" tanya Danisa ragu.


"Ya, itu saja."


"Oh, hanya itu saja. Hanya Kania saja ya yang butuh saya, tuan." ucap Danisa lirih, dia nampak kecewa dengan ucapan Daniel itu.


"Bagaimana Danisa?"


"Setelah menjadi mama Kania, apa yang harus aku lakukan? Mengasuhnya?"


"Ya, mengasuhnya dan kita bisa emm menikah. Mengasuh bersama." kata Daniel, ragu.


"Lalu?"


"Lalu? Ya kita menikah dan mengasuh Kania, dia pasti bahagia kamu menjadi mamanya, hahah." ucap Daniel memecah kecanggungan itu.


Danisa tersenyum getir, dia menatap Daniel. Memastikan kalau dia menyukai Daniel, tapi bukan ucapan itu yang di harapkan Danisa.


"Tuan Daniel, jika ingin mengasuh Kania. Anda bisa mencari pengasuh saja, saya masih sibuk kuliah dan banyak yang harus saya kerjakan setelah kuliah selesai." kata Danisa.


Daniel terdiam, dia menatap Danisa yang bicara dengan nada datar saja. Apakah Danisa tidak mau menerima tawarannya? Dia mengajak Danisa menikah, lalu kenap Danisa menolaknya?


"Danisa, bukankah kamu juga ingin menikah? Lalu, kenapa kamu ..."


"Maaf tuan, saya keluar dulu. Jam delapan saya harus ke kampus menyerahkan proposal skripsi. Terima kasih banyak atas tumpangannya dan tawarannya tadi, maaf kalau saya tidak bisa memenuhi keinginan anda itu."


Setelah mengatakan seperti itu, Danisa menunduk tanda hormat pada Daniel. Lalu dia membuka pintu mobilnya dan keluar dengan rasa hati kecewa. Ada harapan di hatinya kalau Daniel mengharapkannya juga, bukan hanya Kania.


Tapi Daniel tidak mengatakan itu, apa lagi menyatakan cinta. Dia siapa yang di cintai Daniel yang tampan, mapan dan juga papa hot, ups. Pikiran Danisa membuyar memikirkan itu sepanjang jalan menuju rumah kontrakannya. Sementara Daniel tampak bingung dan terpaku,dia di tolak Danisa? Apa dia salag ucap?


_


_

__ADS_1


_


*******************


__ADS_2