
Sampai di kontrakan Zivana memarkirkan mogenya dan masuk kedalam. Setelah masuk ia segera membersihkan diri karena tubuhnya lengket. Setelah membersihkan diri ia memakai piyamanya. Kemudian ia merebahkan kepalanya diranjang kecil yang hanya muat ia saja. Ia memang sengaja memilih kontrakan yang kecil karena harganya yang terjangkau. Dia juga selalu menyisihkan uangnya dari kerja paruh waktunya. Ia harap saat lulus sekolah uang yang disisihkan nantinya bisa untuk pergi menyusul sang kakek
Zivana tidak bisa tidur sama sekali. Dia miring ke kanan miring ke kiri mencari posisi yang enak berharap dia bisa tidur. Tapi, matanya sama sekali tak mau terpejam
"Ini kenapa ya kok gue gak bisa tidur??"gumamnya pada diri sendiri sehingga dia kemudian duduk
"Ini pasti gara gara ketemu kak Bervan. Kenapa sih harus ketemu sama dia??"gumamnya sambil tiduran lagi dan menatap ke atas langit langit kamarnya mengingat saat pertama kali mama tiri dan kakak tirinya masuk ke dalam mansion nya
Flashback on
Saat itu Zivana baru berumur 6 tahun. Ayahnya Tuan Satria Anderson membawa seorang wanita paruh baya dan seorang anak laki laki berumur 10 tahun
"Ziva sayang, Daddy ingin memperkenalkan kamu sama mama Emma dan kak Bervan."kata Satria
Zivana kecil yang seorang pemalu terus bersembunyi dibelakang Ayahnya
"Ayo perkenalkan dirimu sayang."kata Satria seraya menarik pelan tangan Zivana
"Hai namaku Zivana Alana Anderson."kata Zivana membungkukkan badannya
"Hai Zivana aku Bervan."kata Bervan yang terus memandangi wajah Zivana yang sangat cantik
"Ayo ajak kak Bervan bermain di taman belakang!!"seru Satria
Zivana kecil menarik tangan Bervan dan berjalan menuju taman belakang
"Mereka langsung akrab ya mas."kata Emma
"Ya. Keinginan Zivana memiliki keluarga yang lengkap sudah terpenuhi. Semua berkat kamu. Terimakasih telah menerima pinanganku."kata Satria
"Keinginan putra putri kita sama mas ingin memiliki keluarga yang lengkap. Aku mencintaimu mas tentu saja aku akan menerima pinanganmu. Semoga kita menjadi keluarga yang bahagia selalu mas."kata Emma memegang erat tangan Satria
"Amiin."kata Satria merangkul pinggang Emma
Di taman belakang Zivana bermain bersama Bervan. Zivana sangat senang sekali karena sekarang dia memiliki teman di mansion ini. Biasanya ia selalu bermain sendiri karena ayahnya tak memperbolehkannya keluar mansion
__ADS_1
4 tahun kemudian
Saat Zivana bermain ditaman sekitar kompleks bersama Bervan, ia diganggu beberapa anak laki laki yang seumuran dengan Bervan. Zivana menangis karena mainannya diambil anak itu. Bervan dengan sigap merebut mainan Zivana dari anak laki laki itu
"Pinjam mainan saja tak boleh!! Dasar pelit dasar cengeng kamu!!"kata anak laki laki itu
"Jangan ganggu adikku!! Sana pergi.!"usir Bervan
Karena tak terima di usir beberapa anak laki laki itu langsung mengeroyok Bervan dan Zivana langsung memukul mereka semua, namun Bervan yang tak bisa beladiri langsung babak belur beruntung ada orang lewat dan melerai mereka. Zivana menangis melihat Bervan babak belur. Kemudian mereka pulang
Mama Emma sangat marah karena putranya babak belur lalu menatap Zivana dengan tajam. Lalu membawa Bervan ke kamar untuk diobati. Saat Zivana akan ikut masuk ke kamar dia diusir oleh Emma
Zivana hanya melihat dari kejauhan melihat Bervan. Saat Emma keluar kamar, baru Zivana masuk kedalam kamar Bervan
"Maafkan aku kak Bervan, gara gara aku kakak jadi babak belur kayak gini."kata Zivana menundukkan kepalanya sambil menangis
"Kak Bervan gak papa. Jadi Ziva jangan sedih."kata Bervan menarik tangan Zivana dan memeluknya
"Kak Bervan akan selalu melindungimu walaupun aku harus terluka. Aku tidak ingin melihatmu menangis. Kau sudah besar tidak boleh cengeng dan jadi anak yang kuat."kata Bervan lembut dengan mengusap rambut panjang Zivana
"Udahan nangisnya kak Bervan gak papa. Senyum dong adek cantiknya kakak."kata Bervan membuatnya tersenyum
Tragedi kecelakaan Tuan Anderson membuat semua keluarga bersedih. Zivana selalu mengurung dirinya dikamar. Pagi ini Bervan mengetuk pintu kamar Zivana
tok tok tok
"Dek, sarapan dulu yuk."teriak Bervan
Zivana membuka pintu kamarnya dan Bervan masuk ke dalam kamar
"Aku tidak lapar kak."kata Zivana lesu
"Kau tidak boleh sakit Ziva, Daddy pasti sedih jika melihatmu terus mengurung diri dikamar Ziva. Ayo cepat kita sarapan!!!"kata Bervan
"Tapi kak,,,,"belum selesai Zivana berbicara Bervan sudah menarik tangannya keluar kamar menuju ruang makan
__ADS_1
Baru sampai diruang makan Emma sudah melihat Zivana dengan tatapan tajam
"Untuk apa kau membawa anak sial itu kemari Bervan??"tanya Emma
"Untuk sarapan bersama kita mama."jawab Bervan
"Ayo duduk kita sarapan bersama!!"seru Bervan menarik kursi untuk Zivana
Zivana duduk dan segera makan sarapannya. Setelah selesai dia berdiri dari duduknya. Saat dia akan berjalan kembali ke kamar Emma menghentikannya
"Enak sekali kau habis makan terus langsung pergi. Cuci piring dulu!! Jangan harap sekarang kau jadi Tuan Putri lagi sekarang."kata Emma
"Ma.."
"Diam Bervan!! Masuk kamarmu sekarang juga!!"bentak Emma
Bervan mau tak mau masuk kedalam kamarnya dengan melirik kearah Zivana
"Kau pembawa sial dalam keluarga ini. Jika saja kau tak merengek pada Daddy mu untuk dibelikan boneka pasti suamiku masih hidup sampai sekarang dan tidak mengalami kecelakaan naas itu. Semua ini gara gara kau anak sial!!"kata Emma marah dan menangis. Dia sangat kehilangan suaminya
"Maafkan aku ma."kata Zivana berjalan mendekat ke arah Emma dan memegang tangannya namun dihempaskan hingga Zivana jatuh dan dahinya terluka terkena sudut meja makan
"Aku tak mau disentuh oleh anak pembawa sial sepertimu."teriak Emma membuat Bervan yang berada didalam kamar kemudian kembali keluar. Bervan terkejut melihat dahi Zivana terluka. Ia ingin membantunya namun takut karena melihat mamanya sedang marah. Dan dia juga tak ingin ikut dimarahi jika membantu Zivana
"Pergi kau dari sini.!! Aku tak ingin melihat wajahmu lagi anak pembawa sial.!!"usir Emma
Zivana melihat Emma hatinya sangat sedih. Ia juga kehilangan ayahnya. Ia begitu terpukul setelah kematian sang ayah ditambah mama tirinya yang selalu menyalahkannya karena kematian ayahnya. Juga selalu disebut sebagai anak pembawa sial oh sungguh hatinya sungguh sangat sakit sekali. Padahal saat ini yang ia butuhkan adalah dukungan dari keterpurukannya. Zivana melihat kearah Bervan berharap laki laki yang sudah dianggap kakak itu mau membelanya agar sang mama tak mengusirnya. Namun, Bervan hanya diam saja tak mau menoleh ke arahnya
"Pergi sekarang juga!!"usir Emma menyeret tangan Zivana keluar mansion
Para penjaga dan pelayan merasa iba melihat anak majikannya diusir oleh mama tirinya. Tapi, mereka tak bisa berbuat apa apa
...*%****...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
__ADS_1
Like, Vote dan Komentar
Love you All