
Semua pelanggan menoleh kearah Zivana begitupun Elish, Zaskia dan Edward. Saat Edward akan mendekat kearah Zivana tangannya dicekal oleh Zaskia. Zaskia menyuruhnya untuk tenang karena dia yakin Zivana bisa mengatasi semuanya. Akhirnya Edward diam saja dan melihat keadaan jika Zivana tidak bisa mengatasi baru dia akan membantunya
"Maaf bisa Anda melepas pelukan Anda Tuan?? Calon istri anda nanti marah dan saya tidak mau terkena masalah."kata Zivana
Zivana memberontak karena pelukannya tidak dilepas
"Maafin kakak Ziva. Tapi, tolong bantu kakak. Kakak dijodohkan dengan perempuan itu. Dan kakak gak mau. Jadi, please bantu kakak membatalkan perjodohan ini."bisik Bervan
"Maaf kak aku gak bisa bantu dan tolong lepaskan aku."kata Zivana
Dengan berat hati Bervan melepas pelukan Zivana. Setelah pelukan itu terlepas Merry langsung menampar wajah Zivana
Plaakkk
"Kurang ajar sekali kamu menggoda calon suamiku!!"bentak Merry
"Merry, apa yang kamu lakukan??"bentak Bervan
"Aku melakukan apa yang pantas dilakukan untuk perempuan penggoda seperti dia. Dan kamu malah memeluk perempuan lain didepan calon istri kamu sendiri.!!!"kata Merry emosi
"Maaf mbak saya ini adiknya kak Bervan jadi tidak mungkin saya menggoda kakak saya sendiri. Jadi, anda salah paham."kata Zivana menjelaskan
Perkataan Zivana membuat Merry dan Vanya kaget
"Nggak mungkin lo itu adiknya Kak Bervan. Adik kak Bervan hanya Belvana. Jadi, jangan mengaku ngaku lo.!!"kata Vanya
"Terserah anda mau percaya atau tidak. Kak, mama menjodohkanmu pasti itu yang terbaik untuk kakak. Jadi, terimalah perjodohan ini dan jangan membuat mama kecewa. Walaupun mama membenciku tapi aku tidak mau melihatnya bersedih."kata Zivana
"Tapi, aku mencintaimu Ziva."kata Bervan membuat orang yang disana shock termasuk Zivana sendiri
__ADS_1
"Kak, bagaimana bisa kakak mengatakan mencintaiku??"tanya Zivana tak percaya
"Aku mencintaimu sejak kecil Ziva saat Daddy membawaku bertemu denganmu pertama kali."jawab Bervan
"Kak Bervan tak perlu berbohong dengan mengatakan kalau kakak mencintaiku untuk membatalkan perjodohan kakak."kata Zivana
"Aku tidak berbohong Ziva aku benar benar mencintaimu."kata Bervan serius
"Kamu gila kak. Aku adikmu bagaimana bisa kamu mencintaiku??"tanya Zivana tak percaya
"Aku hanya kakak tirimu Ziva, jadi apa salahnya jika aku mencintaimu??"tanya Bervan
"Tentu itu salah kak. Karena walaupun kamu kakak tiriku, tapi aku sudah menganggapmu sebagai kakakku sendiri. Aku sangat menyayangi kakak tapi aku tak mengira kakak punya perasaan lebih terhadapku. Mulai sekarang jangan pernah temui aku lagi kak dan aku mohon jalani perjodohan yang sudah mama tetapkan jangan pernah membatalkannya. Kalau kakak tetap melakukannya aku akan semakin membenci kakak dan tak akan menganggap kak Bervan sebagai kakakku lagi."ancam Zivana lalu berjalan keluar Cafe
Dia perlu menenangkan pikirannya dengan pergi dari tempat itu. Dia benar benar tak menyangka Bervan yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri menyatakan cinta kepadanya. Dia terus berjalan menuju taman yang berada tak jauh dari Cafe. Dia duduk dikursi taman lalu menangis hingga ada seseorang yang ikut duduk disampingnya dan memeluknya. Zivana mendongak melihat siapa yang memeluknya kemudian dia membalas pelukan itu dan menangis tersedu sedu dan seseorang itu mengelus lembut penggung Zivana agar ia merasa tenang. Setelah merasa tenang Zivana melepas pelukannya
"Lo sendiri ngapain malam malam disini?? Apa lo gak takut sendirian disini??"tanya Ivanders balik
"Iiih Om kebiasaan deh kalau orang tanya itu jawab bukannya balik tanya. Dan siapa bilang gue sendiri?? Ini ada Om disampingku."kata Zivana
"Lap itu ingusmu.!!"kata Ivanders memberikannya sapu tangannya pada Zivana dan dia menerimanya
Sreeettttthh
Zivana mengeluarkan semua ingusnya dan membersihkannya dengan sapu tangan yang diberikan Ivanders
"Iih jorok banget sih lo."kata Ivanders jijik dan menjauhkan tubuhnya dari Zivana
"Nanti gue cuci Om dan akan mengembalikannya jika sudah bersih dan wangi."kata Zivana cengengesan
__ADS_1
"Gak usah lo kembalikan. Buat lo aja."kata Ivanders
"Gak Om. Ini kan milik Om jadi nanti akan gue kembalikan. Ini itu udah jaman modern Om masih aja suka pakai sapu tangan. Sekarang itu pakai tisu sekali pakai terus buang jadi praktis."kata Zivana
"Eh jangan salah menggunakan sapu tangan selain hemat dan juga bisa digunakan berkali kali, menggunakan sapu tangan itu bisa mengurangi sampah. Lo tahu sendiri kan sampah di Jakarta itu sudah banyak sekali. Jika kita sebagai warga tidak mengurangi sampah bisa bisa Jakarta jadi lautan sampah."kata Ivanders
"Bisa aja Om ngelesnya. Tapi bener sih sampah di Jakarta sudah menumpuk. Eh ini kok ngomongin tentang sampah sih Om. Ngomong-ngomong Om ngapain ada disini??"tanya Zivana
"Gue tadi dari mansion mau kerumah sakit, tapi gue belum makan malam akhirnya gue ke Cafe RedStar gak tau nya ada drama disana."kata Ivanders
Zivana menghela nafas panjang mengingat kejadian di Cafe beberapa saat yang lalu
"Kenapa?? Masih ingat yang tadi??"tanya Ivanders
"Bukan itu yang lagi gue pikirkan Om. Gue emang shock tadi dengan pengakuan kakak tiriku, tapi yang lebih gue pikirkan sekarang adalah dampaknya. Gue hanya takut jika perjodohan itu batal dan penyebabnya adalah gue. Pasti mama akan membuat masalah untukku. Sebisa gue selalu menghindari masalah dengan mama tiriku."kata Zivana
"Kenapa?? Apa lo takut jika mama tiri lo membuat masalah dengan lo??"tanya Ivanders
"Ini bukan masalahnya takut Om. Tapi, ada waktunya nanti gue akan menemui mereka dan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Jika mama tiriku membuat masalah denganku otomatis gue akan melawannya dan gue takut tidak bisa menahan emosi gue. Pengacara sudah berpesan padaku jangan sampai gue punya masalah dengan mama tiriku sampai saat itu tiba."kata Zivana
"Eh kok gue malah cerita masalah ini ke Om sih."kata Zivana yang baru sadar jika dia keceplosan berbicara
"Gak papa. Gue juga gak akan cerita ke siapapun soal omongan lo tadi. Gak penting juga buat gue."kata Ivanders
"Syukurlah kalau begitu jadi tenang gue."kata Zivana merasa lega
"Emangnya lo gak dikasih harta sedikitpun?? Sehingga lo harus capek capek kerja di bengkel dan Cafe."kata Ivanders
"Gue diusir dari mansion gak bawa apa apa Om. Moge itu bokap beli atas nama gue, jadi mereka tak bisa mengambilnya. Walaupun gue harus capek kerja tapi gue seneng Om bisa menghasilkan uang dari keringat gue sendiri tanpa harus mengemis pada mereka yang sudah mengambil hak milik gue. Karena dulu gue pernah sebelum bekerja datang untuk meminta uang untuk biaya sekolah, tapi mama memberi uang dengan melempar uang itu diwajah gue Om. Jika gue mengingatnya sakit hati gue. Setelah itu gue tak pernah meminta lagi pada mereka."kata Zivana berkaca kaca
__ADS_1