
Ting Tong
Suara bel apartemen membuat Sandra tersenyum, perempuan itu langsung saja beranjak dari tempat duduknya kemudian membuka pintu apartemen.
Sandra yakin jika yang berada di depan adalah Kaindra seperti yang sudah ia harapkan.
Sandra juga sudah menyusun rencana dan menyiapkan segala sesuatunya untuk menunjang keberhasilan dirinya siang ini dan tentu saja semuanya sudah tertata rapi dan sudah Sandra persiapkan.
Ceklek.
Sandra membuka pintu apartemen dengan sangat pelan tentunya dengan ekspresi wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin supaya aktingnya terlihat natural dan Kaindra percaya jika dirinya benar-benar sedang sakit dan menderita.
"Untung saja kamu datang terima kasih."
Sandra berpura-pura saja cuek setelah ia membukakan pintu apartemen dan mempersilahkan Kaindra masuk, dan perempuan itu langsung saja duduk di sofa. Ia juga tidak menunjukkan gelagat yang aneh bahkan tidak seperti beberapa minggu yang lalu yang berusaha mendekati Kaindra dan bergelanjut manja dilengan Kaindra.
Sandra lebih memilih bersikap cuek, ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak menunjukkan aksinya di depan Kaindra dan memilih untuk berpura-pura lemah saja supaya Kaindra merasakan kalau Sandra benar benar sedang sakit dan pastinya Kaindra akan memperhatikannya.
"Duduk Ndra, maaf ya jika kamu ingin minum ambil saja, aku tidak kuat untuk mengambilkan kamu minum."
"Tidak masalah San, kamu belum minum obat kan? biar aku ambilkan air putih dulu supaya kamu cepat minum obat."
Sandra mengangguk, ia menyetujui apa yang diucapkan oleh Kaindra, lagi pula tidak masalah jika ia meminum obat, untuk obat itu obat yang biasanya ia konsumsi kalau perutnya sakit dan Sandra yakin jika Kaindra masih mengingatnya dan membawakan obat yang selama ini ia minum.
Tidak lama Kaindra yang sudah mengambil satu gelas air putih langsung saja duduk di samping Sandra ia kemudian membuka bungkus obat lalu menyerahkan obat itu kepada Sandra.
"Minum obatnya, setelah itu kamu istirahat karena aku tidak bisa lama-lama berada di sini."
Sialan!! pasti karena perempuan itu hingga membuat kamu tidak bisa berlama-lama denganku kamu tidak ingat dulunya kamu paling suka jika berada di dekatku.
__ADS_1
Di dalam hati Sandra mengumpat kesal tetapi ia pura-pura saja untuk tetap tersenyum dan menganggukkan kepalanya seperti tidak terjadi apa-apa di dalam hati dan pikirannya.
Sandra meminum obat yang sudah diberikan oleh Kaindra dan ia menaruh gelas itu di atas meja kemudian melihat ke arah Kaindra yang sepertinya ingin buru-buru pergi dari apartemennya.
"Pasti gara-gara Ayka, maaf jika aku merepotkanmu.. kamu tahu sendiri kan, aku di Jakarta tidak punya siapa-siapa dan tidak ada yang aku minta tolong lagi kecuali kamu.. jika nanti istrimu marah telepon saja aku dan katakan jika aku yang meminta dan selebihnya kita tidak berbuat macam-macam di sini"
"Salah satunya itu tetapi aku memang banyak pekerjaan di kantor jadi maaf aku tidak bisa menemani kamu hanya bisa membawakan kamu obat semoga kamu cepat sembuh."
Sandra tidak akan membiarkan Kaindra pergi dari apartemennya, tentu saja rencananya tidak akan berhasil jadi ia harus pura-pura-pura untuk lemas dan berpura-pura untuk jatuh pingsan saja supaya Kaindra tidak jadi pulang dari apartemen dan menemani di sini.
"Aduh kepalaku pusing sekali."
Sandra yang tadinya mengantarkan Kaindra sampai di depan pintu tentu saja langsung berpura-pura memegang kepalanya dan oleng hingga kejadian itu terlihat oleh Kaindra dan dengan cepat Kaindra menarik tubuh Sandra, supaya tidak terjatuh.
Yes rencanaku berhasil.
Sandra berpura-pura memejamkan matanya ia juga melemaskan tubuhnya supaya rencananya akan semakin berhasil, tentu saja melihat kondisi Sandra yang seperti itu Kaindra jadi tidak tega untuk meninggalkan Sandra sendiri di apartemen ini.
Tidak perlu bertanya di mana Sandra tidur tiap malamnya karena Kaindra masih hafal letak kamar utama yang dijadikan Sandra sebagai tempat melepas lelahnya.
Sandra lagi lagi tersenyum, satu langkah sudah ia lalui dan berjalan dengan mulus tinggal menjalankan langkah berikutnya saja tetapi ia tidak ingin buru-buru membuka matanya ia ingin melihat bagaimana reaksi Kaindra ketika dirinya sedang tidak berdaya saat ini apakah Kaindra akan meninggalkannya atau akan menemaninya.
Dengan pelan Kaindra meletakkan tubuh Sandra ke atas ranjang tentu saja laki-laki itu khawatir bagaimana dengan kondisi Sandra saat ini.
Kaindra mengambil kotak obat tentu saja ia ingin mengambil minyak angin yang akan dioleskan ke hidung supaya Sandra nanti cepat sadar.
"San bangun San, atau kita ke rumah sakit saja,.aku tidak tega melihat kondisi kamu seperti ini lebih baik kamu mendapatkan pertolongan di rumah sakit daripada kamu di sini, tidak ada siapapun yang akan merawat kamu."
Kaindra masih saja berusaha untuk membangunkan Sandra dari pingsannya laki-laki itu juga tidak tahu bagaimana nanti jika ia tinggal ke kantor sementara kondisi santri masih seperti ini.
__ADS_1
Perlahan-lahan Sandea membuka matanya , ia kemudian pura-pura bertanya apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
"Apa yang terjadi dengan aku, Ndra? bukan kah kamu tadi sudah aku antarkan pulang tetapi kenapa masih ada di sini? lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu di kantor."
Sandra berucap dengan nada yang pelan, ia berusaha untuk memelankan suaranya dan dibuat seperti sakit beneran.
"Aku tidak jadi pergi ke kantor karena kamu tadi pingsan dan tidak tega untuk membiarkan kamu sendiri di sini."
Benar apa yang dipikirkan oleh Sandra jika Kaindra memang tidak tega membiarkan dirinya sendiri berada di apartemen ini dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Yes perlahan-lahan rencanaku pasti akan berhasil tentu saja aku akan mendapatkan Kaindra setelah ini...
"Pergi saja Ndra, aku tidak apa-apa.. aku sudah baikan dan pastinya kamu meninggalkan pekerjaan kamu yang sangat banyak di kantor."
"Nanti saja setelah Sandi atau asisten rumah tangga kamu bisa dihubungi nanti aku akan pergi ke kantor, sekarang kamu istirahatlah. Atau kau mau makan sesuatu atau minum?"
Sandra mengangguk, tepat sekali apa yang ia pikirkan dan ia akan membuat rencana itu seperti nyata dengan waktu yang sesingkat ini.
"Bisa buatkan aku teh hangat, mulutku rasanya pahit sekali. Dan maaf sekalian kamu buat kopi ya."
"Oke tidak masalah aku tinggal dulu."
Kaindra meninggalkan Sandra yang masih terbaring lemas di kamarnya kemudian laki-laki itu langsung menuju ke dapur membuat teh manis hangat dan juga kopi untuk dirinya.
Tidak lama semuanya sudah tersedia dan Kaindra kembali ke kamar Sandra untuk menyerahkan teh manis yang diminta oleh Sandra.
"Terima kasih Ndra, aku minum dulu."
Tidak ada tanggapan dari Kaindra laki-laki itu hanya tersenyum kemudian meletakkan kembali gelas yang sudah kosong karena isinya sudah diminum habis oleh Sandra.
__ADS_1
"Maaf Ndra, bisa kamu ambilkan ponselku yang ada di luar, aku ingin menghubungi temanku dan biarkan dia yang menemaniku di sini nanti kalau dia sudah datang kamu boleh pergi ke kantor."
"Baiklah akan aku ambilkan."