Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 107


__ADS_3

Raya pikir karena Elrick mengusir semua anggota keluarga dari pihak Oma, wanita itu akan membencinya, nyatanya justru Nani meminta maaf padanya. "Oma malu sekali dengan kelakukan cucu-cucu Oma Tita," ucap Nani meminta maaf mewakili Oma Tita.


"Iya, Oma. Gak papa. Lupain aja semuanya," ucap Raya.


"Sebenarnya aku belum ikhlas, dan masih ingin memberi pelajaran pada mereka," timpal Elrick jujur.


"Oma pikir sudah cukup, El. Kau sudah menarik semua saham yang dulu kau tanam di perusahaan om mu, sebentar lagi pasti pailit. Untuk Rita kau bahkan memerintahkan orang untuk mengeluarkan dari kampus dan mencabut semua fasilitas yang selama ini kau tanggung. Dia tidak mungkin bisa kuliah lagi, kasihan anak yatim-piatu itu. Belum lagi Elma yang kau suruh menyiram tangannya sendiri dengan minyak panas. Jadi Oma rasa sudah cukup lah balasan untuk ketiganya."


Jangan salahkan Elrick yang tampak tidak punya hati. Dia tidak main-main kalau soal Raya. Siapapun tidak bisa hidup tenang kalau sudah menyakiti orang yang paling dia cintai itu. Bahkan pengacara dan keluarga Meyra pernah mendatanginya, memohon untuk mengeluarkan Meyra dari penjara, tapi mereka justru dimaki dan diusir oleh satpam kantor.


Raya baru akan membantah omongan Elrick, tapi sosok Dipa masuk, membawa satu kantongan makanan yang terbuat dari coklat. "Nih, udah kayak wanita ngidam aja, minta semua jenis coklat," ucap Dipa menyerahkan bungkusannya.


"Sayang, kau minta Dipa bawain coklat? Kenapa gak minta aku aja sih yang beliin?" sambar Elrick mengamati bungkusan itu.


"Ih, Please deh, yang gak perlu dipermasalahkan, jangan diperdebatkan," ujar Raya yang kesal pada Elrick yang mencoba merusak moodnya yang belakangan ini berubah-ubah. "Oma, mau?" tawar Raya, tapi karena Oma menggeleng Raya mengambil untuknya semua.


Nanti dia akan ke rumah Lia, membagi cookies coklat ini pada sahabatnya itu. Kemarin, Lia kembali masuk rumah sakit, tubuh gadis itu memang lemah, tapi semangat hidupnya itu yang buat Raya semakin kagum padanya.


***


"Ngapain aja sih di rumah tetangga depan? kok baliknya lama? Kalau aku di rumah, jangan tinggalin lama-lama, aku kan ingin selalu memelukku," ucap Elrick mencium puncak kepala Raya.


Keduanya kelelahan menjalankan misi penting dan saat ini tengah berpelukan di ranjang tanpa sehelai benangpun di tubuh mereka.


"Maaf, keasyikan ngobrol sama Lia," sahut Raya menengadah, menatap wajah Elrick. Mata elang pria itu selalu berhasil menghipnotisnya. Kadang Raya masih belum bisa percaya pria tampan didekatnya ini adalah suaminya. Jadi, kalau pun omongan Cindy dan kedua rekannya itu mengatakan dirinya tidak pantas mendapatkan Elrick, sedikit banyaknya sudah mempengaruhi pikirannya. Rasa percaya dirinya semakin berkurang, tapi kalau merasakan kelembutan dan juga ketulusan Elrick memperlakukannya, harusnya tidak ada alasan untuknya menilai rendah dirinya sendiri.


Elrick menyatukan ujung hidung mereka. Mengusap dengan memejamkan mata. Baginya tidak cukup setengah dari waktunya setiap hari untuk memeluk istri yang sangat dia cintai itu. Orang boleh membandingkannya dengan wanita lebih segalanya dari dia, tapi bagi Elrick, Raya sempurna, karena hatinya yang memilih Raya, tanpa tipu dan trik tapi tulus karena cinta.


"Aku mencintaimu," bisik Elrick yang terdengar berat.

__ADS_1


"Aku juga," sambar Raya yang terhipnotis oleh dalamnya cinta yang terlihat di mata pria itu.


Hanya mendengar suara serak Raya, tubuh Elrick kembali terbakar. Padahal baru saja mereka menyelesaikan satu ronde malam itu. Kadang Elrick yang memiliki hasrat besar, takut jika kebutuhannya membuat Raya lelah hingga benci padanya. Tapi nyatanya setelah dicumbu dan diserang titik berbahaya di tubuh Raya, maka gadis itu akan bisa mengimbangi permainannya.


Kecupan kecil kini berubah menjadi ciuman yang menuntut. Raya pasrah. Tubuhnya lelah tapi, entah mengapa Elrick terlalu pintar untuk merangsangnya. Dia terbakar.


Elrick sudah menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka. Menatap penuh damba tubuh polos Raya. Di beberapa tempat masih jelas bekas ciuman yang dia berikan tadi, dan hal itu justru menambah hasratnya.


Penuh kelembutan, Elrick menyerang bibir Raya, mencium dengan penuh godaan. lidahnya memaksa masuk, membelai langit-langit mulutnya hingga rin*tihan kecil keluar dari mulut Raya.


Elrick semakin buas, melepas ciuman dari bibirnya, turun menjelajah leher gadis itu, menjilati hingga terlihat berkilau oleh sisa salivanya.


"Kau nikmat,"bisiknya dengan mata berkilat penuh na*fsu. Tempat yang ingin ditujunya saat ini adalah dada sekal gadis itu. Menantang Elrick untuk mengulum dan memberikan pijatan lewat lidah dalam mulutnya.


Bergantian, puncak kemerahan itu menjadi santapan Elrick. Dijilat, dibelai dan tentu saja dihisapnya yang membuat Raya membelai kasar rambut Elrick. Tubuh Raya sudah panas, tidak tahan oleh kecupan dan ******* yang membuat bulu kuduknya meremang.


Bermain dengan tubuh Raya adalah imun bagi tubuhnya. Merambat ke perut datar Raya. Mengecup dan berhenti sesaat di sana. Mengucapkan doa dalam hatinya agar rahim istrinya segera terisi oleh buah cinta kasih mereka.


Elrick membuka paha gadis itu. Duduk diantara kedua pahanya. Tersenyum puas menatap Raya dari tempatnya. Penuh kelembutan, bibirnya menyentuh Raya di bawah sana, menciumi permukaan hingga nalurinya membawa pria itu untuk bermain dengan benda kecil yang kini terlihat memerah. Sapuan lidahnya membuat Raya menjerit tertahan. Dia hancur, lebur bersama bukti gai*rahnya yang akan keluar.


Saat Elrick benar-benar memejamkan wajahnya di sana, Raya justru merasakan nikmat yang luar biasa hingga tangannya tanpa sadar menekan kepala Elrick untuk terus berada di sana.


Kli*toris Raya membengkak, dan getaran pada tubuhnya dan lengkingan hebat menandakan kalau dia telah sampai di puncaknya. Tubuhnya lemas dan terasa melayang, ringan dan begitu gembira. Elrick tersenyum puas melihat wanitanya terkulai dengan garis wajah menunjukkan kepuasan.


Elrick bangkit, mencium paha gadis itu, sebelum memasukkan miliknya membelah tubuh Raya. Masih tetap terasa sempit, hingga harus pelan untuk mencoba masuk.


Perjuangan Elrick berhasil, miliknya sudah masuk seutuhnya. Pria itu mulai bergerak maju mundur dengan tangan membelai dan mere*mas payu*dara Raya yang menantang.


Daya tahan Elrick tidak usah diragukan lagi. Sudah 10 menit berlalu, masih belum ada tanda kalau lavanya akan menyembur rahim Raya.

__ADS_1


"Mas... aku mau di atas," ucap Raya yang sadar dia tidak bisa hanya menjadi pelaksana pasif. Dia sudah dibuat melayang oleh suaminya, kini gilirannya memberikan servis untuk suaminya.


Elrick tersenyum gembira. "That's my girl," ucapnya mencabut miliknya yang mengacung tegak.


Raya bangkit, dan mulai menaiki tubuh suaminya. Tapi dia tidak langsung menyatukan milik mereka. Ini pengalaman pertama bagi Raya, tapi kata Lia, tidak mengapa, karena itu adalah milik suami, dan membuat suami puas adalah pahala bagi istri.


Jadi, tanpa pikir panjang, Raya menunduk dan mulai memasukkan ujung senjata Elrick ke mulutnya. Elrick yang kaget sontak melengkungkan tubuhnya, menatap istrinya di bawah sana, menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah. Elrick tidak punya waktu lagi untuk menyampaikan ekspresi kagetnya, karena gelombang kenikmatan kini menyerangnya.


Bahkan mata pria itu sampai tertutup dengan sentakan napas yang tertahan, kala Raya memasukkan salah satu bola kecil yang menggantung di sana. Elrick tidak bisa berkata-kata apa-apa, dia melayang setinggi langit ke tujuh. Dorongan untuk memuntahkan lavanya kini semakin tidak terbendung. "Sayang, aku sudah tidak tahan," bisiknya parau.


Elrick langsung membalik tubuh Raya hingga kembali telentang. Masih dengan kelembutan tertahan, Elrick memasuki Raya, memompa tubuh istrinya hingga menit ke 10, Elrick dan Raya sama-sama berhasil menuju kli*maks.


Tubuhnya keduanya lemas, terengah-engah. Berbaring berdampingan dengan napas yang masih tersengal, dada naik turun.


"Kau luar biasa sayang..." ucapnya.


Raya hanya tersenyum, lalu ingat sesuatu, buru-buru menaikkan kakinya ke atas tiang ranjang. Elrick hanya tersenyum melihat istrinya dengan metode yang dia yakini agar cepat hamil.


"Kau pasti akan segera hamil,"ucapnya mengecup kening Raya.


*


*


*


Done ya, yang minta bab main kuda-kudaan mereka. Eike yang lemas🤭🤭 sekarang bagi imbalan dong, kasih gift 🙏🤭


Oh, iya, Fyi, TGSP akan tamat akhir bulan ini, i know, masih gantung, jodoh Dipa juga belum ditemukan🤣🤣 tapi kalau dipanjangkan lagi, nanti kalian bosan, jadi maaf sekali kisah Raya dan Elrick sampai akhir bulan ini aja ya...

__ADS_1


Eits, tapi masih dipertimbangkan buat kisah Dipa sekalian anak-anaknya Elrick dan Raya. Setuju gak dibuat season 2? Jawab di kolom komen ya kakak2 semua...🙏😘😘


__ADS_2