Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 15


__ADS_3

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Pepatah lama yang terbukti di dalam keluarga Diraja. Tidak ada yang ditakuti Paris, walaupun itu ayahnya sekalipun. Tapi dia sangat menghormati pria itu, dan menjadikan sosok Elrick sebagai panutan, karena melihat sendiri bagaimana pria itu menjaga keluarga dan begitu mencintai ibu mereka.


Hanya pria hebat yang bisa menjaga sekaligus mencintai istrinya dengan sepenuh hati, meletakkan kepentingan keluarga di atas semua urusan. Jadi, Paris bukannya takut dipanggil menghadap ayahnya, dia hanya tidak enak hati kalau membuat ayahnya merasa kecewa padanya karena hobinya yang suka baku hantam.


Tok... tok... Tok...


"Masuk...!"


Paris melangkah dengan gontai, menghampiri ayahnya, duduk di kursi yang ada di hadapan Elrick.


"Kau berantam lagi? setelah semua perjanjian kita?"


Benar tebakan Paris, ada gurat kekecewaan di wajah Elrick. Jujur dibanding Scot, Elrick sangat berharap banyak pada Paris, yang nantinya bisa menjaga keutuhan keluarga dan juga perusahaan keluarga. Bukannya Elrick tidak percaya kala Scot juga mampu, tapi anak keduanya itu tidak punya hati dalam mengeksekusi lawan, terlalu berhati lembut seperti Raya.


"Sorry, Pa. Terpaksa."


"Jelaskan pada papa, apa alasan kamu berkelahi kali ini?" Elrick menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.


Untuk sesaat Paris diam. Dia harus jawab apa? Hanya ada dua orang yang tidak pernah dan tidak akan dia bohongi, ibu dan ayahnya. Tapi untuk jujur saat ini, dia juga gak punya keberanian. Bagaimana kalau ayahnya nanti tahu kalau Paris berkelahi untuk membela Sidney? Ayahnya pasti akan menebak dirinya menyukai gadis itu.


"Jawab papa, Paris."


"Ada orang yang coba mengganggu Sidney, dan aku memukul orang itu..."


Elrick mengulum senyum, berusaha untuk tidak menunjukkan pada Paris. Dia tidak ingin Paris tahu kalau dia sudah tahu hubungan mereka berdua.


"Bagus kalau begitu. Kita sebagai lelaki harus menjaga kehormatan gadis yang kita sayangi."


"Hah? Maksud Papa?"


"Ya, Sidney kan sudah kita anggap keluarga, dan kita semua sayang padanya, jadi sudah sewajarnya kau melindungi dia. Sudahlah, kali ini papa maklumi, tapi lain kali papa gak ingin lagi dengar kau berkelahi lagi. Ingat, Ris. Kau sudah kelas tiga, sebentar lagi akan kuliah. Jangan lupa impian mu yang ingin kuliah di kampus favorit."


Paris hanya mengangguk, lalu pamit keluar.


"Gimana, Bang? Lo gak dimarahi papa, kan? Kunci motor lo gak diambil, kan?" Tanya Scot yang sudah menunggu di depan pintu ruang kerja ayahnya. Bagaimanapun dia merasa ini semua salahnya. Jika papanya memarahi atau menghukum abangnya, maka dia akan membela dengan mengatakan kalau dia juga ikut dalam perkelahian itu.


"Sekali lagi aja bacot lo gak difilter, gue hajar lo!"

__ADS_1


"Dih, bolehnya sewot. Betewe, kenapa Sidney pulang ke rumahnya?" Scot tanpa sadar ikut masuk ke dalam kamar Paris.


"Ma-na gue tahu." Paris berusaha menjawab tanpa gugup, tapi ternyata tidak berhasil.


"Aneh, kenapa tiba-tiba dia mau tidur di rumahnya ya, Bang?"


"Gue bilang gue gak tahu. Sekarang lo pergi dari kamar gue!"


Begitu pintu kamarnya ditutup oleh Scot, Paris segera menghubungi Sidney. Awalnya di telepon, tapi karena tidak ada jawaban, maka Paris mengirimkan pesan, tapi setelah menunggu 10 menit, tetap saja tidak ada tanggapan.


"Ini bocah kemana sih? Jangan bilang masih molor sementang ini hari libur," umpat Paris tidak sabar, mencoba menghubungi kembali nomor Sidney. Padahal dia kan ingin mengajak Sidney jalan untuk first date mereka.


"Halo..." Terdengar suara lembut yang selalu buat Paris berdebar setiap mendengar suara gadis itu, sejak dulu, bahkan saat buat keributan di balkon kamar mereka.


"Dari mana saja sih? Kok lama benar ngangkat teleponnya? Kalau tadi lo gak ngangkat juga, gue nyebrang nyamperin lo."


"Sorry, tadi lagi cerita sama papa. Tadi malam papa pulang, dan kita makan siang bareng terus keasyikan ngobrol."


"Gue cemburu, nih. Gitu papa lo datang, gue malah dilupakan."


"Dih, apaan, sih! Gak jelas, ah."


Senyap. Tidak lagi terdengar suara dari seberang. Paris pikir malah sudah putus kontak. Ditatapnya layar ponselnya memastikan kalau panggilan masih belum terputus.


"Halo? Sid? Halooooo....!"


"Iya, aku dengar."


"Astagaaa, terus kenapa diam gue ngajak ngomong?"


Kembali tidak ada jawaban dari sana. Gimana gak diam, Sidney benar-benar gak tahu harus jawab apa. Dia bingung. Saking gembiranya diajak jalan, Sidney kehilangan kata-kata bahkan ingin sekali melompat gembira, tapi wajah Scot muncul dan rasa takut sekaligus khawatir menghampirinya.


"Gimana? Kita jalan, yuk? Gue kangen pengen ketemu sama lo."


Semu merah muncul di pipi Sidney, untung saja tidak bisa dilihat oleh Paris, kalau gak dia pasti sangat malu.


"Ya udah, kita ketemuan dimana?

__ADS_1


"Ketemuan dimana? Gue jemput sekarang ke rumah lo."


"Eh, jangan. Nanti kalau Scot lihat gimana? Kita ketemuan di simpang aja. Di Indo*maret samping gapura."


"Kenapa harus backstreet sih?"


"Please ngertiin dong. Aku kan udah bilang, kasih waktu sampai aku bisa ngomong sama Scot."


Paris merasa terluka, harga dirinya yang terluka karena Sidney lebih memilih menjaga perasaan Scot dari pada dirinya, yang kini sudah jadi pacarnya.


"Please..." Kembali Sidney membujuk Paris.


"Buruan, gue gerak sekarang!"


Paris sudah memutus hubungan telepon dengan sepihak. Menarik jaket jeans belelnya dan bergegas turun.


"Bang, lo mau kemana? Kita sama Om Dipa mau main basket, lo ikut ya?"


"Gak."


"Lo mau pergi? kemana?"


"Bukan urusan lo. Big bro, gue cabut dulu," ucapnya mengangkat tangan ke udara, tanda pamit pada Dipa yang duduk santai bermain ponsel.


"Ingat pake sarung, Ris. Banyak pilihan rasa di apotek," sahut Dipa mengedipkan mata, membuat Paris memasang wajah geli. Kedua orang itu memang satu kesatuan dalam berpikir.


"Om, kalau gitu aku panggil Sidney sekarang ya. Kita bertiga aja."


"Ngapain lo ngajak Sidney?" Spontan Paris menghentikan langkahnya.


"Lah, emang kenapa? suka-suka orang dong. Gue mau ngajak dia main basket bareng kita," sahutnya ingin melangkah.


Paris diam sesaat, berpikir keras lalu buru-buru menahan tubuh Scot. "Lo jangan ganggu dia, om Sandi lagi gak mau diganggu family time bareng Sidney."


Scot akhirnya mengurungkan niatnya. Merasa ucapan Paris ada benarnya. Lagi pula setelah beberapa hari Sandi baru punya waktu dengan Sidney. Dia tahu sahabatnya itu sangat merindukan kehadiran ayahnya walau tidak mengatakan secara langsung.


Merasa menang, Paris segera pergi, melesat dengan cepat. Dipa yang kini mengerti hanya bisa tersenyum. "Pantas saja sang Romeo sering senyum-senyum gak jelas, rupanya Julietnya udah ketemu, malah jaraknya cuma lima langkah."

__ADS_1


"Maksudnya apa Om?" Tanya Scot yang tidak mengerti.


"Anak kecil gak boleh tahu urusan orang dewasa," ucap Dipa tergelak geli melihat wajah Scot yang tidak terima dianggap anak kecil.


__ADS_2