Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 53


__ADS_3

Sudah lama Nani tidak merasa sebahagia ini. Sejak Raya berada ditengah mereka, kedua cucunya sering mengunjunginya bahkan tanpa diminta untuk datang.


"Oma, lihat apa yang aku bawa," suara Dipa yang datang dari ruang tamu membuat semua mata berpaling ke padanya. Elrick tahu masanya sudah habis, jadi memilih untuk menyingkir.


Nani yang mengetahui alasan itu membuatnya paham. Elrick masih berada di ruangan itu hanya saja sedikit menjauh dari sana.


"Apa itu?" tanya Oma antusias.


"Rhum," sahutnya mengerling. Dipa tahu neneknya itu suka minuman itu, untuk menghangatkan tubuh apa lagi saat cuaca dingin seperti ini.


Elrick selalu tidak setuju dengan cara Dipa menyenangkan Oma mereka. Umur Oma sudah tidak seharusnya meminum minuman seperti itu. "Ray, kau minum juga ya," ucap Dipa menuang dalam gelas kecil untuk gadis itu.


"Gak usah, Dip. Aku gak bisa minum," ucapnya menolak secara halus.


"Raya, kau selalu menolakku. Aku ajak kau minum, kau tidak mau, aku beri perhiasan mau menolak, aku aja menikah kau pun menolak," ucap Dipa yang juga didengar Elrick di sudut ruangan tempat dia berdiam diri.


"Dip... please, jangan dibahas. Aku kan sudah minta maaf, please..." ucap Raya.


Di tempatnya, Elrick mengulum senyum. Ada perasaan senang mendengar Raya menolak semua pemberian Dipa. "Good girl," tanpa sadar bibirnya mengucapkan hal itu.


Pukul sepuluh, Elrick meninggalkan mereka bertiga dan naik ke kamarnya. Namun, pukul 12 malam saat Elrick turun, dia hanya mendapati Dipa yang tertidur di sofa. Pria itu tampaknya sudah mabuk. Elrick menatap wajah sepupunya itu, lalu menggeleng.


Kain yang biasa dipakai Oma untuk menyelimuti kakinya saat menonton, dipakai Elrick untuk menyelimuti tubuh Dipa.


Mungkin dari luar, Elrick tampak dingin dan terkesan membenci Dipa, tapi jauh di lubuk hatinya, dia menyayangi pria itu yang sudah dianggap sebagai adiknya. Hanya saja cara seorang Elrick tidak sama dengan orang lain ketika ingin menunjukkan rasa sayangnya.

__ADS_1


Ingin kembali ke kamarnya, Elrick memutuskan mengambil air mineral dulu untuk dibawa ke kamar. Tepat saat masuk ke dapur, tubuhnya bertabrakan dengan Raya.


"Aduh," Rintihnya raya memegangi jidatnya yang terbentur dada Elrick.


"Makanya jalan pakai mata."


"Pakai kaki dong, Mas..." jawab Raya tersenyum. "Mas mau ngambil minum? mau kopi atau teh? biar aku buatkan."


"Kopi," sahutnya pendek. Selalu begitu, asal melihat Raya tersenyum, jantungnya berdebar dengan kencang. Dia tidak suka ini, Elrick takut kena serangan jantung.


Selagi membuat kopi, Elrick memperhatikan Raya dari belakang. Pikiran kotornya muncul. Dia jelas ingat bagaimana lekuk tubuh Raya di balik pakaian longgar yang saat ini dia pakai itu. Dia juga ingat desa*han Raya yang membuat tubuhnya menggelinjang dan bergetar hebat.


"Ini, Mas...."


Lamunan panjang Elrick buyar. Dia mantap wajah Raya. Penyesalan itu muncul kembali. Gadis itu duduk dihadapannya, tanpa sadar mengulurkan tangannya ke arah pipi Raya. Membelai dengan lembut dan juga penuh kasih.


Panggilan Raya membuat Elrick tersadar, gerakan tangannya berhenti di pipi Raya, lalu demi membunuh rasa canggungnya, dia mencubit pipi gadis itu sampai mengaduh.


"Au... sakit, Mas. Kok pipi aku dicubit sih?"


"Ha-habis pipi lo bulat kayak bakpao. Dasar tukang makan. Habis berapa tadi sushi nya lo makan?"


"Mmm.. sedikit kok. Paling sepuluh," sahutnya mengelus pipinya yang masih terasa sakit bekas cubitan Elrick.


Elrick masih gugup, apalagi karena Raya masih menatapnya. "Ray, kalau gue boleh tahu, kenapa lo tolak lamaran Dipa? dia pria yang baik, yang pasti bisa menjaga lo dan memberikan kebahagiaan buat lo," ucap Elrick tulus. Dia merasa kasihan pada Raya yang selama ini sungguh menderita. Kalau memang Dipa tulus mau menikahinya dengan segara kekurangannya, maka itu akan lebih baik untuknya.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa Elrick percayai untuk kebahagiaan Raya selain Dipa. Dia kenal sepupunya itu, pria yang memiliki kebaikan dan kelembutan hati. Sangat berbeda dengan dirinya.


"Mas dengar, ya. Gak ada alasan yang gimana sih Mas. Aku cuma sadar kalau aku gak pantas untuknya. Aku ini janda, gadis desa miskin yang tidak cantik, tidak modis dan tidak punya keahlian apa-apa yang bisa dibanggakan."


Elrick kesal setiap Raya merasa tidak percaya diri begini. Dia benci karena gadis itu tidak menyadari banyak kelebihan yang dia punya yang bisa buat orang tertarik bahkan jatuh cinta padanya.


"Lo punya segalanya yang dibutuhkan seorang pria baik-baik, Ray. Lo bahkan punya tubuh yang buat suami lo nanti begitu ketagihan," ucap Elrick yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hatinya.


"Kalau Dipa meminangmu, artinya dia melihat banyak kelebihan dalam dirimu."


"Tapi untuk menikah tidak hanya mengenal dan menilai seseorang itu baik. Bagiku, setelah mengalami kegagalan berumah tangga, aku ingin kelak kalau masih diberi jodoh pada Allah, ingin menikah dengan pria yang aku cintai," ujar Raya tersenyum manis pada Elrick yang kembali memicu degub jantung pria itu berdebar kencang.


"Dulu, saat menikah dengan mantan suamimu, apa kau tidak mencintainya?"


Raya menggeleng. Sampai aku bercerai dengan Mas Dika, aku juga tidak merasakan cinta itu. Aku memang tidak tahu, bagaimana rasanya jatuh cinta, tapi yang aku baca, cerita di novel online, jatuh cinta itu katanya jantung akan berdegup kencang, napas tercekat setiap melihat orang yang kita cintai. Ingin selalu bertemu, dan setelah bertemu, jadi gugup dan salah tingkah," terang Raya dengan keyakinan penuh. "Dan pada Dipa, aku gak merasakan hal itu."


"Lantas mengapa Lo menikah dengannya?"


Raya diam sejenak. Hal itu sudah pernah dijelaskan ayahnya dihadapan Oma dan Dipa. Tapi untuk menjelaskan sendiri, rasanya lidah Raya keluh. Hal yang ingin dia kubur, dia lupakan. Tapi semakin lama takut akan masalah itu, semakin membuat Raya merasa terpuruk.


Itu bukan salahnya. Dia bukan jual diri. Dia hanya jadi korban, jadi bukan aib yang harus membebani hingga buatnya down.


"Dulu aku pernah diperkosa oleh seseorang." Raya diam. Menunduk, memandangi motif meja makan, seolah di sana rekaman kejadian itu bisa dia lihat.


"Diperkosa? kenapa kau yakin kalau kau diperkosa?" susul Elrick yang merasa tidak terima. Pasalnya dia tidak merasa memperkosa Raya. Dia sudah membayar mahal untuk tubuh Raya malam itu. 20 juta!

__ADS_1


"Aku terbangun di kamar hotel, dengan kepala pusing dan begitu berat. Dan ada rasa sakit di bagian... milikku, lantas kalau bukan diperkosa harus ku sebut apa?" tanya Raya dengan lantang. Dia benci pada Elrick, yang seolah beranggapan dirinya berbohong. Sama seperti warga desa yang tidak percaya saat dia mengatakan kalau dia diperko*sa, bukan jual diri seperti tuduhan mereka.


__ADS_2