
Paris sudah berupaya menghubungi Sidney, tapi tidak bisa. Dia menyesal karena tidak melihat panggilan di ponselnya. Saat itu dia bersama dosennya sedang mengerjakan satu projects.
"Angkat dong, Sayang!" serunya di dalam kamarnya. Menjambak rambut belakangnya, setengah jam mencoba menghubungi tapi tetap juga tidak ada hasilnya.
Paris mencoba menghubungi Scot, tapi pria itu juga tidak mengangkat teleponnya, yang menambah rasa khawatirnya. Dia tidak ingin terjadi hal buruk pada Sidney.
Barulah setelah satu jam berlalu, ponsel Sidney aktif. Penuh sabar Paris menghubunginya hingga gadis itu mau mengangkat.
"Halo," suara itu pelan tapi seolah mencoba tetap tegar.
"Sayang, kau baik-baik saja? Kenapa ponselmu baru aktif sekarang? Apa semua baik-baik saja?"
"Aku baik. Tapi ponselku lowbat. Ada apa? Kamu baik-baik saja?"
"Baik. Aku tadi bekerja sama dengan dosen mengerjakan satu projects, dan kamu tahu aku banyak dapat uang. Itu bisa buat menambah biaya kuliah mu di sini," ucap Paris dengan penuh semangat. Dia yakin, Sidney akan senang sekaligus terbaru mendengar semua ini.
"Ris, aku gak bisa kuliah di sana. Aku kuliah di sini aja, ya?"
Hening sesaat, hanya terdengar suara hembusan napas dari seberang.
"Bukankah kita sudah bicarakan hal ini? Kenapa sih kamu susah banget ngertiin aku? Apa susahnya sih nurut? Ini juga semua demi masa depanmu, masa depan kita."
Paris yang egois, menganggap semua yang dia rencanakan, adalah yang terbaik untuk Sidney. Tahukah dia saat ini apa yang kekasihnya itu butuhkan?
Saat ini Sidney tidak butuh pendidikan sekelas Oxford, dia butuh didengarkan. Dia punya perasaan, punya hati yang ingin juga ditanyakan apa yang dia inginkan.
"Maaf." Hanya itu yang bisa gadis itu katakan. Dia tidak ingin mendebat. Dia jelas tidak akan menang. Mungkin inilah saatnya dia mundur. Dia cukup tahu diri, keadaannya yang sekarang tidak menjanjikan apa-apa untuk kelak menjadi pendamping Paris Diraja. Tidak ada yang bisa dibanggakan darinya.
"Aku gak mau tahu, kau harus kuliah di sini. Aku akan telepon papa, biar semua keperluan kita diurus."
"Paris, dengarkan aku. Tidak semua yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan. Aku gak akan kuliah di sana. Aku mohon kamu bisa mengerti."
__ADS_1
"Gak. Aku gak mau mengerti!"
"Jadi, mau mu apa?" Tantang Sidney. Dia juga sudah punya cukup banyak masalah, jadi tidak cukup lagi kapasitas otaknya untuk memikirkan hal ini lagi. Dia pasrah, apa yang terjadi, ya terjadi lah.
"Aku mau kamu ikut apa kataku. Kamu kuliah di sini bersamaku."
"Aku gak bisa, dan sebaiknya kita putus saja!"
Diam, senyap, bahkan sudah tidak terdengar suara ******* napas. Mungkin di sana Paris juga sedang menahan napas atas apa yang baru dia dengar.
Tidak ada hujan, petir atau fenomena alam lainnya, tapi dia jelas nyata mendengar ucapan Sidney.
"Apa yang kau katakan?"
"Sebaiknya kita putus. Aku lelah, Ris!"
"Sebaiknya? Menurutku ini tidak baik! Apa yang kau pikirkan? Apa kau gila?"
"Iya, aku gila. Harusnya aku memang tidak menjalin hubungan seperti ini denganmu. Aku ingin kita sudahi saja hubungan ini."
Jangankan untuk kuliah di London, kuliah di sini saja dia belum tentu bisa.
"Aku gak suka lelucon mu. Jangan pikir karena aku sangat mencintaimu, kau membuatku seolah tidak punya harga diri. Apa kau ingin aku mengemis cinta padamu?" tanya Paris tajam. Kesabaran diuji, dan sudah ada diambang batas.
"Aku tidak sedang bercanda denganmu. Aku memang ingin mengakhiri hubungan ini. Selamat tinggal Paris. Lupakan aku."
Sidney dengan air matanya meremas ponselnya, bahkan menonaktifkan, karena dia tahu Paris tidak akan puas dengan keputusannya ini.
***
Besoknya Paris berangkat ke Indonesia setelah sekian kali menghubungi Sidney tapi tidak bisa juga. Dia juga sudah menghubungi Scot, memintanya untuk memberikan ponselnya pada gadis itu, karena dia ingin bicara, tapi dia malah terkejut mendengar penjelasan Scot.
__ADS_1
"Sidney tidak ada. Gue udah tanya bi Inem, tapi dia gak tahu kemana perginya. Gue juga udah cari kemana-mana, tapi gak nemu."
"Lo gak tanya sama nyokap? Biasanya dia pasti cerita, dia pamit kemana?"
"Udah, kata mama dia cuma bilang ke rumah neneknya, paling lusa pulang. Kalian ada apa sih? Jangan gara-gara lo sahabat gue jadi sedih, ya!"
Paris tidak menjawab pertanyaan Scot, malah menutup sambungan itu dan segera bergegas menyambar jaketnya. Hari itu juga dia kembali ke Indonesia.
Seminggu di sana, Paris tidak mendapat hasil. Sudah mencari gadis itu, bahkan ke tempat neneknya di Jogja, tapi tidak menemukan Sidney.
Bahkan tidak peduli akan sopan santun, Paris menggeledah isi rumah neneknya, tetap tidak menemukan jejak Sidney, baik pakaiannya atau apapun yang menandakan gadis itu ada di sana.
Tiga hari memantau rumah neneknya, siapa tahu suatu hari Sidney datang, tapi hingga hari terakhir, dia tidak melihat gadis itu.
Dia juga sudah menghubungi Sandi, menanyakan keberadaan Sidney, tapi pria yang tidak punya tanggung jawab itu saja tidak tahu kalau Sidney sudah pergi dari rumah.
Rasa sakit Paris membuatnya berbalik membenci Sidney. Dia membulatkan tekadnya untuk melupakan gadis itu, karena sudah tidak menghargai cinta mereka.
Paris yang tidak tahu beban hati Sidney, membenci gadis itu sesukanya. Menganggap prinsipnya lebih kuat dari apapun. "Baiklah, Sidney, jika memang kau ingin berpisah, maka aku pun akan membuang semua tentangmu," ucapnya memandang gelang ditangannya yang memiliki mainan gembok lucu yang dulu diibaratkan mereka menjadi gembok hatinya, dan pada Sidney tersimpan kunci yang hanya bisa membukanya.
Paris menyimpan semua kenangan bersama gelang itu ke dalam laci kamarnya yang paling bawah. Menatap laci itu, menimbang apa sebaiknya dia pakai lagi, tapi hatinya sudah membatu. Buru-buru dia keluar dari kamarnya.
"Kamu sudah mau berangkat?" Tanya Raya memeluk putranya. Dia tahu kesedihan dalam hati pria itu. Dia juga tidak ingin menjadi pengkhianat putranya, tapi dia juga sama seperti Paris, tidak tahu kemana gadis itu pergi.
Tidak hanya Paris, semua keluarga Diraja tidak mengetahui kepergian Sidney kemana. Bahkan Scot sampai memukul Paris saat pria itu baru tiba Seminggu lalu. "Lo yang udah buat sahabat gue pergi. T*i, emang lo! Harusnya dari awal gue gak ngizinin lo pacaran sama dia! Kalau sampai dia kenapa-napa, sampai mati pun gue gak mau nganggap lo saudara gue lagi!"
*
*
*
__ADS_1
Duh, tisu mana, ya?🤧🤧 Ada yang tahu kemana Sidney pergi?
Plis jangan hate comments ya, ikutin aja alurnya. Hanya tinggal beberapa episode lagi, ini benar-benar end. Yuk, kasih semangat buat author yang nulis dua bab terakhir nangis kederðŸ˜