Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 1


__ADS_3

15 tahun kemudian....


Kebahagiaan Raya semakin sempurna dengan kehadiran putra keduanya yang diberi nama Scotland. Entah apa motivasi Elrick, memberi nama pada kedua putranya sesuai nama negara yang ada di dunia ini. Raya sebagai istri yang baik dan penurut hanya bisa menurut, lagi pula nama kedua putranya itu terdengar merdu di telinganya.


Kini kesibukan Raya semakin banyak, mengurus keperluan suami dan kedua putranya sehari-hari dan menjalankan cafe yang dibuka Elrick untuknya demi mengisi kebosanan Raya.


Bertambah usia, Elrick tidak berubah, tetap saja overprotektif padanya, namun tetap memanjakan istrinya. Kedua anaknya kini sudah menginjak usia dewasa. Paris sudah duduk di kelas tiga SMA dan Scotland akan masuk kelas satu SMA semester ini.


Kedua putranya memiliki sifat yang sangat berbeda. Paris dengan sikap arogan, cuek dan tempramen, suka menyelesaikan masalah dengan adu otot, berbeda dengan Scotland lebih kalem, riang dan juga memiliki perasaan yang peka. Tapi keduanya saling menyayangi, walau tidak pernah mengatakan atau menunjukkan secara langsung, seolah keduanya punya caranya sendiri untuk mengekspresikan rasa sayang satu sama lain.


Walau tidak punya anak perempuan, seperti yang selalu dia harapkan, tapi sekarang, tepatnya sejak empat tahun lalu, Raya memiliki putri, seenggaknya itu yang dia tanamkan dalam dirinya. Meskipun bukan lahir dari rahimnya, tapi Sidney sudah dia anggap seperti putri kandungnya.


Sidney adalah putri semata wayangnya Lia, sahabatnya yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri.


Di setiap bahagia pasti terselip duka. Lia sudah pergi menghadap sang penciptanya, dan itu pukulan besar bagi Sandi dan Sidney yang saat itu duduk di kelas enam sekolah dasar.


Tidak hanya keluarga itu yang terpukul akan kejadian itu, Raya juga merasakan kehilangan. Banyak momen berharga yang Raya dan Lia lalui berdua selama ini, terlebih kedekatan mereka lebih lagi saat mengandung bersama. Bahkan keduanya melahirkan di hari yang sama, jam yang sama dan rumah sakit yang sama.


Hal itu itulah yang membuat Sidney dan Scotland berteman begitu akrab, melebih saudara kandung. Dimana ada Scot pasti ada Sidney, dan begitupun sebaliknya. Bahkan saat Lia masih ada pun, sejak umur empat tahun, Sidney sudah sering menginap di kamar Scot, begitupun sebaliknya. Bersama tumbuh membuat keduanya begitu dekat hingga jika dijauhkan salah satu dari mereka akan sakit.


Pernah suatu waktu Sidney dibawa ke rumah neneknya di Jogja, Scot demam selama tiga hari. Begitu Sidney kembali, seperti ajaib, anak itu sembuh.


Kepergian Lia membuat Sidney menjadi sangat dekat dengan Raya, menganggap wanita itu adalah ibunya sendiri. Raya juga sudah berjanji, saat detik-detik kepergian Lia, akan menjaga Sidney seperti menjaga dan merawat putri kandungnya sendiri, tidak akan membedakan Sidney dengan kedua putranya.


Baik Paris ataupun Scot, sangat peduli pada Sidney. Terlebih Paris yang juga memiliki kedekatan dengan Lia sejak kecil merasa bertanggungjawab atas Sidney di luar rumah selayaknya seorang abang. Saat itu juga Lia meminta langsung pada Paris untuk menjaga Sidney setelah dia pergi.

__ADS_1


Kesedihan harus berakhir. Tidak mungkin selamanya mereka berduka akan kepergian Lia. Biarlah kenangan wanita itu abadi bersama mereka.


***


"Sudah siap. Ini jangan lupa dimakan. Satu untuk mu, dan ini bekal Sidney," ucap Raya meletakkan bekal makan siang Scotland dan Sidney. "Nah, yang ini untuk bang Paris," Lanjutnya setibanya dari dapur, menenteng bekal makan berwarna biru.


"Mama apaan sih? Aku udah besar, gak mau ah, bawa bekal makanan," protes Paris, berdiri setelah selesai mengikat tali sepatunya.


Hari ini remaja tanggung itu resmi duduk di kelas tiga. Berotak encer tapi biang masalah. Dimana ada masalah disitu ada Paris disitu ada masalah. Berulang kali Raya atau Elrick harus menghadap kepala sekolah karena kelakuan Paris.


Paris ketua Genk di sekolahnya. Sering tawuran, cabut pelajaran bahkan merokok dan minum, tapi entah mengapa saat ujian dia selalu berada di posisi teratas.


Pada perlombaan olimpiade matematika dan sains provinsi pun, dia menduduki nilai tertinggi, jadi untuk mengeluarkannya dari sekolah sangat tidak mungkin, selain karena dia anak orang kaya, juga karena aset sekolah yang membawa harum nama sekolah.


"Ris, bawa bekalmu!" Suara bariton Elrick menggema di ruang makan, kala melihat raut wajah Raya yang cemberut disebabkan anaknya yang tidak mau membawa bekal yang sudah disiapkan Raya dengan segenap hati. Mana boleh ada yang membuat istrinya sedih, sekalipun itu anaknya sendiri, pria bucin akut yang sudah tidak tertolong.


"Papa bilang bawa. Kamu gak kasihan sama mama?" Elrick melirik Raya, yang sedang menunduk menatap bekal makan itu, lalu menoleh pada Paris. "Papa mohon." Tentu saja itu dia ucapkan melalui gerak bibir saja agar tidak terdengar Raya.


Paris tidak berdaya mengambil bekal makannya, lalu mendekati Raya, mengecup pipi wanita itu hingga kembali ceria. "Berangkat dulu, Ma. Makasih buat bekalnya."


Scot yang sejak tadi hanya jadi pengamat sambil menahan tawa, segera ikut berdiri, mengejar Abang. Dia sangat mencintai seluruh anggota keluarganya. Dan drama seperti ini, menjadi hal yang menyenangkan baginya. Itu juga yang dikatakan Sidney. Dia suka berada di tengah keluarga Diraja, dari pada harus menghabiskan waktunya dengan mbok Nah di rumahnya yang sepi.


Sandi selalu sibuk dengan bisnisnya, dan hampir melupakan keberadaan Sidney. Beruntung gadis itu memiliki kelurga Diraja yang tinggal di depan rumahnya.


"Sekali-kali boleh ya gue pinjam motor lo," ucap Scot yang memperhatikan Paris menggeber motornya. Nama besar Paris di sekolah Bhinneka memberikan sedikit kontribusi positif bagi Scot. Dia lebih dihargai dan juga para senior tidak ada yang berani mengganggunya.

__ADS_1


Hanya saja Scot kadang sedikit kesal karena para siswa di sekolah sering membandingkannya dengan Paris, yang mengatakan kalau Paris lebih segalanya dari Scot yang memiliki wajah baby face, tidak macho seperti Paris.


Tapi apapun itu, Paris sudah membuatnya bangga bersekolah di sana. Paris sudah berangkat, kala tepukan keras mendarat mulus di punggungnya. "Au... Lo itu cewek ya, bang*sat. Sakit tau...!" ucap Scot yang benar-benar merasakan panas karena tepukan Sidney. Kalau sudah begini dia baru menyesal karena sudah memperkenalkan Sidney dengan boxing dan Muang Thai.


"Lagian, lo gue tungguin jemput, gak nongol-nongol. Kita terlambat pe'a!"


"Santai, ini udah hari keempat, MOS udah berakhir. Lagi pula, siapa yang berani marah sama kita?"


"Dih, ogeb nih bocah. Emang lo anak pak Jokowi? kagak, kan? yaudah, gak usah belagu. Buruan berangkat," ucap Sidney menarik tangan Scot dan masuk ke dalam mobil yang sudah disahkan menjadi milik mereka untuk antar jemput sekolah.


*


*


*


Hai, selamat malam... ehem.. jadi gini...😁😁🤭


Pertama, ini bukan prank. Serius rencananya mau tamatin novel ini, dan buat sekuelnya di judul yang berbeda, tapi... tapi... karena banyak yang minta segera dibuat, jadi aku memutuskan untuk buat di sini aja. Kenapa? karena kalau nanti dibuat di novel baru dengan judul Cinta Phytagoras, nanti bakal lama rilis, karena aku juga lagi buat novel baru yang ini



Jadi, aku jamin jadi gak jadi nanti sekuel TGSP. Kalian nanti pada menagih sama aku. Jadi gak papa ya, lanjut di sini aja. Sekuel kedua ini cuma sebulan ini aja.


Apalagi ya pengumumannya, oh iya, jadi yang bilang, nanti gak cocok lagi sama judulnya Thor, iya emang, aku juga tahu, tapi dari pada batal buat season 2, pilih mana? udah lah ya kakak2 semua, kita sama-sama lagi ya sebulan ini, makasih.

__ADS_1


Oh, iya maaf banyak maunya🙏🤭🤭 jangan lupa baca juga novel baruku, like komen dan kasih hadiah ya, Kak, makasih...🙏🙏🤭😘😘


__ADS_2