Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 27


__ADS_3

Paris yang super cool mana mungkin mempan dengan godaan ibu dan Oma nya. Dia terus saja melenggang naik ke kamarnya.


Begitu sampai di kamar, Paris melempar tubuhnya ke kasur, menenggelamkan wajahnya di dasar bantal. Semua terbayang jelas dalam ingatannya. Sidney sudah menciumnya, apakah artinya gadis itu memaafkannya? Gadis itu mau kembali padanya?


Melamun, membayangkan wajah Sidney membuat jantungnya berdebar kencang, dan senyum terus saja membingkai wajahnya. Getaran ponsel membawanya ke alam sadar.


'Terima kasih untuk pembalutnya dan juga jaket ini. Nanti aku kembalikan setelah aku cuci.'


Paris kembali tersenyum. Penuh semangat dia membalas pesan Sidney. "Kapan kau kembali ke sini? Aku kangen."


Setelahnya tidak ada lagi balasan. Bolak balik Paris mengintip ponselnya tapi tetap tidak ada, hingga lelah dan jatuh tertidur.


"Ini udah jam tujuh, pada kemana semua member Diraja ini?" tanya Elrick yang sudah duduk di singgasananya berdua dengan Oma, sementara Raya masih membawa menu makan malam dari dapur bersama pelayan.


"Paris...." teriak Raya berharap anaknya mendengar, tapi setelah lima menit berlalu tetap tidak ada reaksi, akhirnya Elrick juga yang maju.


Tidak lama bapak dan anak itu turun. Tampak rambut Paris basah yang menandakan baru selesai mandi.


"Scot mana?" tanya Raya pada suaminya.


"Gak ada di kamarnya. Tau kemana itu anak."


Baru dibahas, Scot datang bersama Sidney, saling merangkul masuk dan menemui mereka.


"Sidney?" Pekik Raya mendekati gadis itu dan memeluknya. "Tante rindu. Kapan balik ke sini?"


"Aku kan ada di depan Tante. Kalau kangen tinggal ke sini doang." Sidney tersenyum hingga membuat Raya luluh.


"Tapi sesekali kamu nginap di sini ya? Apapun yang terjadi cerita sama Tante." Sidney mengangguk dan dibawa untuk duduk tepat di samping Raya dan... di depan Paris.


Makan malam berjalan kondusif, tampak di permukaan, tapi jangan tanya di bawah meja. Paris yang kesal karena pesannya tidak dibalas Sidney, menggoda gadis itu. Kakinya yang panjang, diulurkan hingga menyentuh kaki Sidney, lalu naik ke atas hingga memberikan rasa geli.


Saat awal mulai kaki Paris menyentuh kakinya, Sidney sempat menjatuhkan sendok, terkejut hingga menatap tajam ke arah pria itu yang bisa masih bersikap cool seperti bukan dia pelakunya.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Raya yang heran melihat Sidney berhenti makan dan menatap piring yang ada di depannya saja. "Kamu mau nambah sayur?"

__ADS_1


Sidney menggeleng lalu tersenyum pada Raya. Kembali makan tanpa memperdulikan Paris dengan ulah konyolnya. Dia membenarkan duduknya, tegak, hingga Paris kesusahan untuk menjangkaunya kembali.


***


Saat Sidney pulang, Paris mengajukan diri mengantarnya. "Dekat gitu ngapain diantar, sih?" Goda Elrick, yang buat Raya tersenyum, tapi Paris tidak peduli. Dia tetap mengantar Sidney.


"Kalau begini, nanti om sama Tante bisa curiga," ucap Sidney pelan. Jantungnya berdebar kencang setiap berada di dekat Paris. Dia gak suka karena buat dia gelisah. Tapi kalau jauh, dia juga ingin dekat dengan pria itu, rasa rindu menggerogoti jiwa, ingin melihat, menyentuhnya.


"Mereka udah pada tahu, kok."


"Hah? Serius? Jangan bercandaan," ucap Sidney menghentikan langkahnya tepat di depan pintu rumah Sidney.


"Serius. Papa, mama, Oma, dan sekarang Scot. Sayang, gak ada lagi yang perlu kau takutkan. Papa mama lah dukung kira pacaran."


Tidak ada yang bisa menyangkal kalau pipi Sidney saat itu merah bak tomat. Betapa malunya dia karena semua keluarga Diraja sudah mengetahui hubungan mereka.


"Aku kan jadi malu," ucapnya menunduk.


Cup...


"Aku masih ingin bersamamu. Tapi udah malam. Kamu tidur ya. Mulai besok kita pergi ke sekolah bareng."


"Eh, gak bisa. Aku kan belum ngomong sama Scot," ucapnya panik. Tadi saja dia takut Scot akan marah saat Paris menawarkan untuk mengantarnya pulang.


"Sayang, jangan khawatir apapun lagi. Scot mungkin belum mengatakan apapun padamu, tapi dia sudah merestui hubungan kita."


"Tahu dari mana?" Sidney semakin penasaran. Dia belum percaya kalau Scot belum mengatakan secara langsung.


"Tadi dia sengaja ninggalin kamu di sekolah biar bisa pulang bareng aku. Dia kirim pesan padamu, memintaku menunggumu di parkiran."


Sidney tidak bisa menahan rasa harunya, hingga meneteskan air mata. Kenapa ini terasa sempurna? Semua keluarga Diraja tahu hubungan mereka, dan tidak satupun yang menentang. Scot juga diam-diam justru mengatur mereka untuk bisa jalan bersama.


"Kenapa akhir-akhir ini kamu jadi cengeng? Sini peluk dulu," ucap Paris menarik tangan Sidney dan memeluk gadis itu erat, sebelum malam memisahkan mereka untuk sementara.


***

__ADS_1


Sidney sudah memutuskan pagi ini tidak pergi ke sekolah dengan Paris, tapi tetap bersama Scot. Dia ingin bicara dan memastikan kalau apa dikatakan Paris tadi malam benar.


Paris tentu saja protes, tapi Sidney tetap bersikeras, dan berjanji kalau nanti benar Scot merestui hubungan mereka maka pulang sekolah Sidney akan pulang dengan Paris ditambah mentraktir pria itu makan bakso Arema Malang.


"Kita berangkat?" Tanya Sidney pada Scot, setelah tiba di teras rumah Diraja. Kedua Abang beradik itu saling menatap, lalu Paris buang muka, berjalan ke arah motornya.


Lima menit pria itu memanaskan mesin motor sekalian menggagas motornya berulang kali, menunjukkan rasa kesalnya pada kedua sahabat itu, lalu setelah keduanya melihat ke arahnya, Paris tancap gas berlalu.


"Yuk, kita berangkat," ujar Scot mengambil tas dan dua tempat bekal yang seperti biasa disiapkan Raya untuknya dan juga buat Sidney.


"Kenapa lo gak berangkat sama Paris?" Scot mulai membuka pembahasan. Dia tahu Sidney ingin sekali pergi sekolah dengan Paris, tapi karena menjaga perasaannya, gadis itu harus rela berangkat dengannya.


"Biasanya, gue berangkat bareng lo," sahut Sidney melihat ke arah luar dari jendela di sampingnya.


"Sid, Lo suka sama Abang gue?"


Tubuh Sidney menegang. Dia sudah diberitahu oleh Paris kalau Scot sudah merestui hubungan mereka, tapi mengapa hati Sidney masih tidak tenang, seolah merasa bersalah telah mengkhianati perjanjian persahabatan mereka.


"Kalau lo benar-benar punya perasaan sama Paris, Lo cinta sama dia, gue gak akan menghalanginya. Gue berharap, siapapun yang lo pilih untuk berada di sisi lo, adalah pria yang bisa menjaga, menyayangi lo seperti gue, bahkan kalau bisa harus lebih. Dan selama ini Paris memang sudah menunjukkan rasa sayang sama lo," terang Scot.


Sidney hanya bisa menunduk. Ingin menangis? pasti. Tapi dia coba bertahan.


"Lihat gue, Sid..."


Sidney mengikuti permintaan sahabatnya itu. Mendongak menatap wajah Scot.


"Jangan khawatir, selamanya lo akan menjadi satu-satunya sahabat terbaik gue, walau nanti, lo naik pangkat jadi kakak ipar gue," ucap Scot membelai puncak kepala Sidney.


*


*


*


Duh, lega deh. Makasih Scot..

__ADS_1


__ADS_2