Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 99


__ADS_3

Tubuh Raya terasa remuk semua, terpisah menjadi potongan-potongan terbungkus kulitnya.


Matahari menyambut bola matanya yang kini mengerjap, menerima cahaya yang masuk ke kamar itu. Diliriknya bayi Raksasanya yang masih tidur lelap. Satu senyum mengembang di bibirnya, seiring rona merah yang tercipta di pipinya.


Kegiatan mereka tadi malam hingga subuh tadi benar-benar pengalaman pertama bagi Raya. Sangat luar biasa dan membuatnya... ketagihan!


Kembali terbayang, bagaimana cara suaminya memuja memanjakan dirinya dengan cara yang sama sekali belum pernah dia dapat dari suaminya terdahulu. Raya bingung, tidak habis pikir, kenapa bersama Dika dia tidak mendapatkan perasaan seperti ini saat mereka bercinta? Yang paling buat Raya kehabisan kata, tenaga Elrick begitu powerfull, pria itu seolah tidak ada lelahnya, daya tahannya begitu lama. Bahkan dirinya sudah dua kali pelepasan baru pria itu mulai mencapai puncaknya, sangat berbeda dengan Dika yang baru masuk udah muncrat.


Memandang wajah Elrick saat tidur pulas begini sungguh menarik hatinya. Dia tidak perlu curi-curi pandang lagi hanya untuk melihat sang suami.


Saat itu lah Raya sadar, betapa beruntungnya dirinya mendapatkan pria seperti Elrick. Pria yang jarang tersenyum ini, bahkan sangat dingin dan arogan, justru memilihnya untuk mendampingi dari banyaknya gadis-gadis yang memujanya.


"Dicium dong, masak dipandangi aja," ucap Elrick tersenyum tanpa membuka mata. Aroma napas Raya bisa dia rasakan karena jarak mereka yang begitu dekat, menerpa wajahnya, jadi wajar tebakannya benar, kalau istrinya tengah mengamati dirinya.


"Iih... Mas Elrick." Raya yang malu, berguling ke sisi berlawanan untuk turun dari ranjang. Selimut yang dulu dipakai Elrick tidur di sofa sudah dililitkan di tubuhnya, dan berjalan menuju pintu. Dia ingin segera mandi, tubuhnya terasa lengket, sisa pertandingan mereka tadi malam.


Tapi niatnya pupus, Elrick menarik tangan gadis itu hingga jatuh menimpa tubuhnya. Mata keduanya saling beradu, yang berhasil membuat wajah Raya merona. Elrick menyelipkan rambut yang terurai menutup wajah Raya, ke telinganya.


Perlahan, Elrick mendekatkan wajahnya, dan mencium bibir Raya. "Morning kiss," ucapnya setelah mengurai ciuman panjang itu.


Tanpa menunggu reaksi Raya lebih lanjut, Elrick menggendong Raya ala bridal, keluar dari kamar dan menuju kamar mandi. Waktu untuk mandi yang hanya butuh 15 menit, jadi satu jam. Elrick menggoda lagi, hingga buat Raya kembali terbakar.


"Mas... masa aku harus rebahan di sini?" tanya Raya dengan napas tersengal-sengal, mencari napas setelah ciuman panjang dan lama yang diberikan suaminya.


"Polos banget sih istriku ini. Gak hanya rebahan bisa begitu mau begituan," bisiknya memegang tangan Raya, lalu naik ke punggung, mencium kembali bibir gadis itu yang sudah membengkak. Luma*tan itu membius Raya hingga terlena.

__ADS_1


Pusaka Elrick sudah sangat menantang, dia ingin menyentuh Raya, masuk dalam gadis itu seutuhnya. Dengan sekali angkat, Elrick sudah menggendong Raya. Gadis itu terkejut hingga memeluk leher Elrick sebagai pegangan. Elrick tidak melepaskan pagu*tannya dan entah bagaimana caranya, Elrick sudah menyatukan milik mereka berdua, sontak bola mata Raya membulat.


Dia tidak mengerti bagaimana cara kerjanya, milik Elrick yang mengacung sudah menerobos masuk. Raya terengah-engah, dia sesak dan penuh. "Mas...,"


"Iya, Sayang...," balas Elrick dengan suara serak. Dia sendiri harus berjuang keras memasuki Raya karena milik gadis itu yang masih rapat. Terlebih saat main kemarin malam untuk pertama kalinya, Elrick harus terus mengulang untuk bisa masuk. Dia tidak mengerti, apa milik dia ada sebesar jempolnya, hingga milik Raya begitu rapat dan mencengkeram kuat miliknya.


Elrick terus bergerak liar, tenaga Raya terkuras lagi. Dia tidak tahu kalau untuk bercinta bisa dengan gaya berdiri seperti ini.


Elrick terus menarik turunkan Raya, hingga gadis itu mengeratkan pelukannya. Ditatapnya wajah Raya yang begitu hanyut pada hasratnya, memberikan satu kepuasan tersendiri bagi Elrick.


Dia ingin melihat Raya lebih puas. Membuat gadis itu mengakui ga*irahnya sendiri. Elrick sudah duduk di atas closed yang ditutupnya. Menghentikan sesaat gerakan mereka namun masih tetap menyatu.


Dada Raya naik turun. Pengalaman baru lagi untuknya. Dia tahu permainan itu belum selesai karena belum merasakan semburan panas dari Elrick di rahimnya. Perlahan, dan malu-malu Raya mendongak menatap Elrick yang ternyata juga sedang melihatnya.


"Tapi aku gak tahu," sahutnya jujur. Bagaimana dia bisa tahu cara bermain selain telentang, selama ini hanya itu yang diajarkan Dika padanya. Elrick tersenyum, mengecup bibir mungil itu.


"Bergeraklah, angkat ini, lalu turunkan, naik turun sesuai irama yang kau inginkan," sahut Elrick mencengkeram bo*kong Raya. Awalnya dia pikir Elrick bercanda, tapi riak wajah pria itu yang masih tersiksa menahan semburannya, membuat Raya menyadari kalau Elrick serius terhadap perkataannya.


Malu-malu Raya mengikuti instruksi Elrick. Pria itu ikut berperan serta, menciumi batang leher Raya, hingga kembali mengeluarkan de*sahan panjang.


Permainan itu semakin panas, dan laju Raya semakin kencang, sesuai nalurinya. Elrick tidak tinggal diam, meraup rakus puncak payu*daranya bergantian.


Lenguhan Raya semakin membuat Elrick terpacu, terbakar dan akan meledak...


"Mas... aku mau..."

__ADS_1


"Iya, Sayang... kita sama-sama ya,"


Lolongan panjang dari keduanya serta hujaman dalam dari Elrick menjadi penanda akhir permainan syahdu itu.


***


Raya segera memasak menu sarapan yang bisa segera disantap anggota keluarga. Ayahnya harusnya sudah pulang jam segini dari pos ronda. Ini bahkan bukan waktunya sarapan pagi lagi. Kalau bukan karena Elrick meminta jatah lagi di kamar mandi, mereka pasti sudah selesai sarapan sejak tadi.


Anehnya, tubuh Elrick semakin bugar. Wajahnya cemerlang dengan senyum ceria. Sudah lama si Boy tidak dibelai, kini dalam sehari sudah lima kali dimanjakan milik Raya.


Selagi Raya memasak, Elrick membuka pintu depan, ingin menghirup udara pagi yang segar. Terlebih setelah hujan deras tadi malam, biasanya udara akan semakin segar.


"Om... eh, Ayah..." ucapnya terkejut kala mendapati mertuanya tengah duduk di kursi teras rumah, masih lengkap dengan sarung dan juga senter yang diletakkan di atas meja.


"Kalian sudah bangun?" sahut Darma dengan suara datar. Elrick masih belum bisa menebak apakah pria itu marah atau tidak. Lagi pula, kenapa dia tidak masuk ke dalam rumah.


"Ayah kenapa duduk di sini? gak masuk?"


"Kuncikan ada samamu."


Elrick ingat, begitu Elrick diberi izin pulang ke rumah dan dilempar kunci oleh Darma, pria itu berlari tanpa mengatakan apapun lagi saking semangatnya. Harusnya kan dia tidak perlu membawa kunci itu, tinggal memanggil Raya saja.


"Ayah udah lama di luar?"


"Lumayan, empat jam!"

__ADS_1


__ADS_2