
Kalau sudah memantapkan hati, fokus pada satu tujuan, Paris pasti bisa mencapainya. Dengan jalur undangan, Paris bahkan sudah dipinang oleh beberapa kampus negri yang terkenal sulit untuk menembusnya. Artinya, tanpa ikut ujian seleksi pun, Paris sudah bisa melenggang ke sana.
Tidak hanya dirinya yang meraih tujuannya, Sidney juga berhasil masuk 10 besar, berada di peringkat ke 4 dan naik kelas XI IPA 1.
Walau sudah dalam list aman, tapi Paris tidak ingin menerima jalur undangan itu, dia ingin membuktikan kalau melalui seleksi pun dia bisa masuk.
Terbukti, setelah hasil ujian nasional keluar dan sudah bisa dipastikan kalau dia memegang nilai tertinggi, Paris juga diterima di kampus yang dia incar. Saat ini dia berada dalam dilema harus mengikuti kata hatinya kuliah di Jakarta atau pilihan ayahnya di London. Walau sudah memutuskan untuk kuliah di Jakarta saja biar bisa dekat dengan Sidney, tapi sejujurnya, hati kecil Paris ingin kuliah di London, seperti yang sudah sejak dulu dia idamkan.Terlebih, ayahnya sangat ingin dia melanjutkan kuliah di sana.
Untuk bisa selalu dekat dengan Sidney, dia pasti memilih kuliah di Jakarta, tapi pembicaraan kecil antara kedua orang tuanya membuat Paris menjadi bimbang kembali.
"Aku memang sudah berjanji untuk menyetujui pilihannya, tapi impianku tidak kesampaian. Sayang, aku juga tahu kalau Paris ingin sekali kuliah di Oxford."
"Mau bagaimana lagi, Paris gak bisa jauh dari Sidney," sahut Raya.
"Sebagai pria, harusnya Paris punya prinsip dan juga rasa percaya penuh pada Sidney. Lagi pula ada kita di sini, yang akan jaga Sidney. Bila perlu, habis Sidney tamat sekolah, langsung kita lamar."
Ris, tanya hati lo, siapa yang paling penting dalam hidup Lo, maka itu perjuangkan...
Paris berperang dalam hatinya. Dia merelakan impiannya, memilih yang lebih penting dalam hidupnya yaitu Sidney.
"Sudah kamu putuskan mau kuliah dimana?" Tanya Elrick saat mereka berkumpul di ruang keluarga sehabis makan malam. Oma yang biasanya selalu di kamarnya kini ikut bersama mereka malam itu.
Paris mengangguk. "Aku kuliah di Jakarta aja, Pa."
"Sudah kau pikirkan matang-matang? Tidak akan ada lagi penyesalan? Pikirkan baik-baik. Masa muda tidak akan bisa terulang. Jika kau salah memilih pilihan di masa muda mu ini, maka akan sulit dan mendatangkan penyesalan di masa depan."
Paris diam, tidak membantah apa kata Ayahnya karena dalam hati, dia membenarkan apa yang diucapkan sang ayah.
"Biarlah, Pa. Aku yakin pilihan yang ada di depan ku saat ini sudah menjadi pilihan yang tepat."
Di balik dinding ruangan, yang menjadi pembatas antara ruang utama dan keluarga, Sidney diam mendengar semua pembicaraan mereka. Kesedihan yang meliputi hatinya membawanya keluar dari sana.
__ADS_1
Kedatangannya padahal ingin memenuhi permintaan Paris yang akan mengajaknya nonton sebagai ucapan selamat untuknya karena berhasil mendapatkan rangking.
***
Paris yang sejak tadi menghubungi Sidney tidak juga mendapat jawaban. Sekali lagi dihubungi, tetap saja gadis itu tidak mau mengangkat teleponnya.
"Kenapa lagi sih, Sid? Kayaknya kita lagi gak ada ribut deh beberapa hari belakangan ini, kenapa lo gak mau ngangkat telepon gue, sih?" gumamnya menatap layar ponselnya.
Wajah Sidney memenuhi layar ponselnya. Kalau seorang pria menyimpan dan menjadikan wallpaper ponselnya dengan foto kekasihnya yang cantik jelita, beda dengan Paris, dia justru memajang foto Sidney yang tertidur sambil membuka mulut menganga. Foto yang diambil saat gadis itu ketiduran kala belajar bersama Paris.
"Kalau gak karena cinta aja, udah gue jitak kepala lo, Sid," dumelnya meraih jaketnya dan segera turun.
Sudah dianggap seperti rumahnya, Paris masuk saja ke dalam rumah kekasihnya itu. Sidney duduk di sofa ruang nonton. Satu tangan memegangi repot televisi sembari memencet, memilih siaran yang menarik, tapi tidak satupun yang nyangkut di hatinya. Satu tangan yang lain menopang dagunya, malas dan juga kesal terlihat dari wajahnya.
"Kali ini aku salah apa lagi? Kenapa ngambek lagi tuan putri kita ini?"
Sidney yang merasa disindir tidak ambil pusing. Dia tetap fokus ke layar kaca walau sama sekali tidak bisa fokus.
Paris mendekatkan duduknya hingga mepet di samping Sidney. Masih tidak mendapat tanggapan dari si pemilik hatinya, Paris mengambil remote dan sempat diprotes Sidney walau pada akhirnya membiarkan Paris melakukan apa yang dia sukai.
Wangi sampo yang menyeruak memenuhi indra penciumannya menandakan gadis itu baru saja keramas.
Penuh sabar, Paris menarik dagu Sidney, hingga gadis itu akhirnya melihat ke arahnya. "Ada apa, Sayang?"
"Apa kamu suka kuliah di sini?"
"Tentu saja. Kenapa ditanya lagi? Itu impianku."
"Apa aku berarti untuk mu?"
"Sangat. Melebihi apapun. Ini kamu kenapa, sih? kok ngomong gini? Ada apa?" Paris semakin bingung melihat pujaan hatinya yang menanyakan hal remeh temeh, yang dia sendiri sudah tahu jawabannya.
__ADS_1
"Kalau aku memang sangat berarti bagimu, kenapa tega bohongi aku?"
"Bohong apa? Aku gak bohong."
"Itu kamu baru bohong. Aku tahu hatimu lebih menginginkan melanjutkan kuliah di London. Please jangan di potong...," ucap Sidney saat melihat Paris ingin bicara.
"Kalau kamu sayang aku, kamu harus sayang juga pada dirimu sendiri. Aku bukan nya jadi tambah cinta sama kamu kalau demi berada di sisiku, kamu mengorbankan mimpimu, cita-citamu."
"Apa sih yang kau bicarakan? Aku benar-benar ingin ku lihat di sini."
"Kenapa masih saja bohong padamu, walau sudah aku minta jangan bohong padaku. Aku tahu kau ingin ke London. Pergilah, Ris. Sebegitu lemahnya cintamu padaku, hingga kamu pikir saat kita jauh, aku akan menjauh darimu? Melupakanmu? Aku gak seburuk itu, Ris," ucap Sidney berurai air mata.
"Sid, jangan nangis. Aku mohon...."
"Makanya, kamu juga jangan buat aku sedih. Kita masih bisa pacaran LDR an. Aku sanggup, kok. Aku juga akan tabung uang jajanku untuk bisa beli tiket ke sana. Aku akan mengunjungimu..."
Paris tidak tahan mendengar perkataan Sidney, hingga memutuskan untuk memeluk gadis itu erat. Merasakan debar di dadanya. "Ingat debar ini, Sid. Ini hanya untukmu. Sampai aku mati," bisiknya dengan mata berkaca-kaca, beruntung mereka saling berpelukan hingga Sidney tidak perlu melihat air mata itu.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu. Bagaimana aku bisa hidup jauh darimu? Sejak kamu lahir, aku sudah di dekatmu."
"Ingat kunci gembok hatimu? Aku yang pegang, kan? Jadi, tidak akan ada yang bisa masuk ke dalam, mencuri hatimu dariku."
*
*
*
Aku wewek ðŸ˜ðŸ˜
Mampir nih yang buat lebih mewek, karya keren sahabat, Mak terbaik yang aku kenal...
__ADS_1