Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 91


__ADS_3

Tamparan Raya terasa panas di kulit Elrick, tapi dia tidak berani untuk mengelusnya. Dia tidak ingin Raya semakin melotot padanya. Bahkan kalau Raya ingin memukulnya lebih dari ini, dia akan terima asal gadis itu masih tetap mau bersamanya.


Pelototan mata Raya menandakan kalau dia sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan Elrick.


"Oh, iya. Aku mulai... Hari itu aku tiba di sini. Menghadiri peresmian rumah sakit yang ada di desa ini."


Raya sempat ikut berpikir, satu-satunya rumah sakit swasta di desa ini ternyata milik Elrick? Tapi itu tidak mengubah pendapat gadis itu terhadap pria itu. Dia tetap membenci pria itu. Saat ini.


"Malamnya..." Elrick memberi jeda pada kalimatnya. Ada ras malu dan sungkan untuk mengatakan hal itu pada Raya. Terlebih karena Raya adalah korbannya.


"Teruskan...." hardiknya dingin.


Glek...! Kerongkongannya begitu tercekat, harusnya sudah ada pedagang minuman di sini, untuk bisa dia beli.


"Malamnya, setelah menerima tawaran Betty, kau dibawa ke kamar itu. Dan kita..."


"Cukup sampai di situ!" Wajah Raya memerah. Dia membuang muka ke samping, tidak ingin Elrick melihat rona merah di pipinya.


Elrick merasa bagiannya sudah cukup, jadi dia segera menghubungi Betty. Dia ingin Raya mengetahui semua, agar tidak ada lagi yang mengganjal dan menjadi rahasia lagi.


"Siapa yang kau hubungi?"


"Segera kemari!" Perintah Elrick dan bergegas menutup teleponnya. "Betty."


"Untuk apa?"


"Biar dia yang menjelaskan sisanya. Sayang, aku mohon, maafkan aku. Coba kau pikirkan, selain karena aku tidak jujur padamu, bagian mana lagi yang menjadi kesalahanku?"


"Semua salahmu. Dasar kau... pria gatal!"


Elrick hanya diam. Lebih baik dia mengunci mulutnya, agar tidak memperkeruh suasana. Tidak lama Betty datang duduk di depan mereka. Raya tentu saja buang muka. Dia tahu Betty dan pekerjaan. Tapi hubungan Betty dengan masalahnya yang tidak dimengerti Raya.


"Ray..." Betty segera menarik tangan gadis itu, menciumnya berulang kali. Raya ingin menarik, tapi tenaga Betty lebih kuat. Kini pergelangan tangannya basah oleh air mata.

__ADS_1


"Ray, mas Elrick gak sepenuhnya salah. Yang salah itu aku, Rahayu dan juga Lani..."


Bola mata Raya terbuka penuh. Menatap tajam dan tidak percaya. Ada apa semua ini, mengapa Lani dan Rahayu ikut andil?


"Maksudnya?"


"Saat itu aku menawarkan gadis penghibur untuk menemani tuan Elrick, tapi beliau menginginkan yang masih gadis. Saat itulah, Rahayu menawarkan ide untuk menjebak mu saja dengan bantuan Lani."


Raya ingat malam itu dia dan Lani sedang asyik mengobrol di rumahnya, saat Lani mendapatkan telepon dari ibunya dan meminta mereka untuk datang. Rahayu memberikan uang untuk mereka makan dan minum di cafe, dan setelah beberapa lama, Raya hanya ingat setelah dia bangun, dia ada di kamar dengan tubuh hanya berbalut selimut.


Ya Allah, Lani tega benar kau..


Air mata Raya turun. Orang yang sudah dianggap keluarga justru mereka pula yang sudah menjebak dan menghancurkannya.


"Sayang, jangan menangis lagi. Lupakan lah semua masa lalu itu. Aku ada di sini, anggap saja aku datang untuk menebus kesalahanku yang dulu. Kau lihat, alam seolah ingin menghukum ku, kita dipertemukan setelah bertahun kejadian itu, dan aku sangat mencintaimu. Aku rasa kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama."


Elrick menangkup wajah gadis itu, menghapus jejak air mata yang mengucur deras. Lewat matanya, Elrick meminta agar Betty pergi meninggalkan mereka.


Dia mengutuk wanita jadi-jadian itu karena membuka cerita itu lagi. Harusnya sudah cukup sampai mengakui para tersangka.


"20 juta?" Pekiknya menatap keduanya bergantian. Harga keperawanan 20 juta dan dia tidak mendapatkan sepeserpun, padahal dia yang digarap Elrick. Tapi mengingat alasan Betty, hati Raya melembut. Setidaknya tubuhnya berguna bagi orang lain.


"Iya, Ray. Tapi aku janji akan mengembalikan uang itu padamu, walau mungkin perlu waktu lama." Ucapan Betty terlihat tulus. Perbuatannya salah, dan merugikan Raya, benar. Tapi dia juga melakukan itu demi nyawa adiknya.


"Gak usah, Kak. Aku juga gak butuh uang itu. Sudahlah. Semua toh sudah terjadi. Setidaknya tubuhku berguna buat pengobatan adikmu," ucap Raya dan seketika tangis Betty berhenti. Kebaikan hati Raya membuatnya tersadar, kalau dia harus kembali ke jalan yang benar, menjadi Berton kembali.


"Terima kasih banyak, Raya. Hatimu memang selembut salju. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kebahagiaan untukmu," ucap Betty, alis Berton menyatukan telapak tangannya di dada menundukkan kepala mengucapkan banyak terima kasih pada Raya. Lalu dia pamit meninggalkan keduanya orang yang masih terbelenggu suasana memanas itu dengan kelengahan hati yang tidak terperi.


Kalau nasib Betty sudah aman, tidak dengan Elrick. Dia juga sebenarnya tidak bersalah dalam hal membawa Raya ke pelukannya.


"Sayang...."


"Gak usah pakai kata sayang!" Hardiknya menatap Elrick tajam. Nyali pria itu menciut.

__ADS_1


"Be-besok kita jadi nikah, kan?"


***


Raya menatap pantulan wajahnya di cermin. Cantik dan siapa siapa pasti setuju sangat mempesona. Tidak kalah dengan artis yang sering wara-wiri di televisi.


Make up artis yang dibawa oleh Nani dari kota sudah merampungkan tugasnya dan kini Raya siap dibawa duduk di samping Elrick.


Dari tempatnya, gadis itu bisa mendengar suara riuh di depan, yang pastinya dari tamu undangan.


"Kau sempurna. Aku jadi menyesal tidak jadi menikahimu waktu itu," ucap Dipa yang sudah berdiri di sampingnya yang entah sejak kapan.


Raya hanya tersenyum pada kaca, yang pastinya bisa dilihat pria itu, sebagai balasan dari ucapan pria itu.


"Jadi kau sekarang menyesal?" ucap Raya tanpa menoleh. Keduanya berbicara hanya melalui cermin yang ada di depan Raya.


"Benar. Seharusnya aku tidak memperdulikan rengekan mu yang memohon untuk menghentikan acara ijab qobul itu."


Raya tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Dipa memang membuatnya nyaman, tapi entah mengapa dia tidak bisa mencintai pria itu. Ah, benar kata pujangga, manusia tidak bisa memilih pada siapa dia harus berlabuh, hanya hati yang jadi penentunya.


"Apa sebaiknya kita kawin lari saja?"


"Dipa, hentikan," balas Raya di tengah gelak tawanya. Sudut matanya bahkan sudah menghasilkan air mata.


"Kau tahu, kalian memang sudah ditakdirkan. Bisa saja saat itu aku menikahimu, tapi kau memilih untuk tetap percaya padanya. Dengar Ray, saat ini kau akan menikah dengannya. Ingatlah, pria itu adalah pilihan hatimu. Banyak perjuangan yang kalian lalui, untuk bisa bersama sampai tahap ini. Jika ada masa lalu yang menyebabkan sakit di hati, menimbulkan kecewa, dan amarah, ingatlah ada cinta dalam hati kalian masing-masing yang menyatukan kalian berdua..."


*


*


*


Duh Mas Dipa, bijaksana banget, jadi pengen kasih jodoh sama mas Dipa juga deh🤭

__ADS_1


__ADS_2