
Darah panas dan emosi yang meledak membuat keduanya sudah bersiap melepaskan tinjunya, beruntung Sidney segera berteriak pada mereka. "Ris, kamu itu abangnya, harusnya lebih bisa bersikap bijak!"
"Kamu kok belain dia Sid?!"
"Bukan begitu. Aku mohon, kalian berdua adalah dua orang yang sangat aku sayangi. Please jangan bertengkar. Kalian mau besok Tante Raya bangun dan melihat di wajah kalian sudah ada bekas memar?"
Paris diam, memandang kesal pada kedua sahabat itu, tapi juga membenarkan ucapan Sidney. Paris memutuskan untuk pergi meninggalkan kedua orang itu, naik ke kamarnya.
"Scot, lo juga istirahat, ya. Tenangkan diri lo. Aku yakin pasti ada jalan keluar untuk semua masalahmu ini."
"Gimana kalau orang tua Gladys memisahkan kami, Sid? Aku gak mau pisah sama Gladys, terlebih setelah apa yang sudah kami jalani."
Sidney paham maksud Scot. Dia ingin bertanggung jawab pada Gladys, sebagai bentuk cinta dan juga sikapnya yang tidak mau lari dari tanggung jawab.
"Percayalah pasti ada jalan keluarnya. Besok gue akan menemani lo ke rumah sakit. sekarang, sebaiknya lo istirahat dulu, tapi sebelumya, lo coba minta petunjuk sama Allah, Lo sholat ya."
Scot mengangguk, "Makasih, ya Sid."
***
Sidney sudah membersihkan dirinya, karena masalah ini dia harus mandi malam-malam begini, tapi karena cuaca memang gerah, jadi sama sekali tidak merasa dingin.
Saat memoles wajahnya dengan serum lalu krim malam, dia terpikir untuk bicara dengan Paris. Dengan langkah pelan, mengendap seperti maling yang takut kepergok oleh Raya dan Elrick, Sidney menuju kamar Paris.
Ckrek...
Pintunya belum dikunci yang artinya pria itu belum tidur. Kepala Sidney muncul dan tepat pria itu juga baru selesai mandi.
Mungkin rapat dadakan keluarga tadi dilakukan sejak petang, karena memang Paris masih memakai kemeja yang ditebaknya baru pulang dari kantor.
"Hai, boleh masuk?"
Paris melirik sekilas padanya, lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Menuju lemarinya untuk mengambil pakaiannya. Sidney yang merasa dicuekin menebalkan muka, masuk ke dalam. Dia harus membuang muka kala melihat pria itu tanpa beban membuka handuknya dan memakai pakaiannya.
__ADS_1
Masih merasa kesal pada Sidney, Paris melemparkan handuknya dan tepat mengenai kepala Sidney. Gadis itu hanya tersenyum, itu tandanya Paris gak marah lagi padanya.
Sidney menggantung handuk itu di jemuran kamar mandi, lalu kembali mendekati Paris. Pria itu duduk di meja belajarnya yang kini sudah diubah jadi meja kerja.
"Maaf..." ucapnya memeluk leher Paris dari belakang. Paris yang tidak bisa marah pada gadis itu, memutar tangan Sidney hingga gadis itu berdiri di depannya, menariknya mendekat hingga duduk di pangkuan Paris.
"Apa aku ada diurutan nomor dua setelah Scot?" Pertanyaan yang seharusnya hanya anak kecil yang melontarkannya, tapi Sidney paham, Paris memang selalu dominan, dia tidak terima kalau miliknya harus dibagi dengan orang lain, sekalipun itu saudaranya. Tapi hal itu hanya jika berkaitan dengan Sidney.
"Kamu dan Scot, kalian berdua punya tempat masing-masing di hatiku. Punya takaran yang berbeda di hati dan juga hidupku. Aku menyayangi Scot selayaknya saudara yang aku tahu kau juga menyayanginya walau enggan untuk menunjukkannya." Sidney membelai wajah pria itu, lalu mengecup bibirnya lembut.
"Sementara kamu, kamu adalah hidupku, napasku. Seseorang yang ingin aku habiskan sisa hidupku hanya denganmu."
Paris tersenyum. Itu cukup memuaskan hatinya. Mengenai masalah Scot, dia bukan tidak peduli, tapi karena dia membenci kebodohan adiknya yang tidak peka terhadap pasangannya sendiri.
Dia bisa membayangkan bagaimana kalutnya Gladys saat mengetahui kalau dia sedang hamil. Takut kalau Scot memutuskannya seperti yang tadi Scot sampaikan kalau dia tidak ingin Gladys hamil diluar nikah, yang pasti akan membuat Raya sedih. Bodohnya kalau dia tidak ingin ibunya sedih, saat melakukan perbuatan itu dia bisa mengontrol dirinya, paling tidak kalau sudah tidak bisa menahan diri, sebaiknya pakai pengaman.
"Aku tahu kamu sayang sama Scot. Besok cobalah bicara padanya."
Paris hanya mengangguk, lalu merebahkan kepalanya di dada Sidney. "Untung kita belum jadi buat, ya Sid. Tapi aku kesal padanya, karena dia pernikahan kita ditunda kayaknya."
"Mama tadi bilang, sebaiknya besok keluarga kita membicarakan masalah pernikahan Scot dan Gladys, dan kita harus ngalah."
Wajah Sidney murung. Padahal dia sudah mengatakan pada ayahnya akan menikah bulan depan.
"Jadi, kita batal nikah?"
"Bukan batal nikah, Sayang. Mana mungkin aku terima kita gak jadi nikah. Itu masih pertimbangan mama aja."
Sidney kembali dari kamarnya dengan lesu dan tidak bersemangat. Tapi memikirkan keadaannya, situasi Gladys saat ini lebih memprihatinkan. Dia harus legowo, lagi pula bukan batal hanya ditunda.
***
Ruang rawat Gladys dijaga oleh dua bodyguard yang berdiri di pintu masuk. Seperti yang sudah mereka duga, mereka tidak diizinkan masuk ke dalam melihat keadaan Gladys yang katanya belum sadarkan diri.
__ADS_1
Akhirnya Elrick menemui Switno, Ayahnya Gladys. Tidak ingin ketinggalan, mereka semua ikut masuk ke dalam ruangan yang dipinjam Elrick dari pihak rumah sakit.
"Saya gak setuju. Jangan pikir karena kalian itu keluarga berada bisa membeli harga diri kami. Anda lihat kan, bagaimana keadaan putri saya? Dia koma, masih belum sadar. Saya yakin putra anda yang meminta anak saya untuk menggugurkan kandungannya."
"Anda sabar dulu, saya tahu anak saya salah, tapi saya tidak bisa terima kalau anak saya di fitnah!"
Nyali Switno menciut. Dadanya naik turun karena emosi yang sempat memuncak kini jadi redup kembali. Elrick bukan pria sembarangan, kini dia mengakuinya.
"Coba bayangkan kalau Anda diposisi saya. Nasib putri anda seperti Gladys." Kembali Switno mencoba banding untuk pembenaran.
"Scot, kemari kau!"
Scot maju dan duduk di hadapan Switno. "Jelaskan pada ayah Gladys, keadaan yang sebenarnya, dan apa solusi yang kau pikirkan untuk masalah kalian ini!"
Scot yang merasa gugup sempat melihat ke arah ibunya dan juga Sidney. Kedua wanita yang punya tempat di hatinya itu mengangguk bersamaan, memberikan dukungan pada Scot.
"Sebelumnya saya mohon maaf karena sudah melakukan tindakan yang salah dengan Gladys. Tapi saya bersumpah, saya tidak tahu kalau Gladys lagi hamil. Tapi apapun pembenaran yang saya kemukakan, tidak membuat serta-merta saya seolah tidak berdosa, saya akui saya salah."
Scot diam sejenak, menyelidiki raut wajah Switno. "Tapi saya ingin bertanggung jawab, Om. Setelah Gladys siuman dan sehat kembali, saya ingin melamarnya Om, Tante."
"Hanya karena kau sudah merusak putriku makanya kau ingin menikahinya?" ucap Switno menohok relung hati Scot.
"Sama sekali bukan karena itu, walau tidak bisa dipungkiri itu salah salah satu faktornya. Tapi di atas segalanya, Saya ingin menikahi Gladys karena saya memang benar-benar mencintainya, Om."
*
*
*
Paris yang pengen makan buah terlarang, malah gak jadi, kesalib sama Scot yang udah buat tekdung anak gadis orang yaðŸ¤
Oh iya, ini ada novel keren lainnya, mampir dong ya
__ADS_1