Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 110


__ADS_3

Raya masih betah menatap putranya yang tengah terlelap sehabis menyusu. Hujan diluar sana yang turun sejak sore tadi, membuat tidur Paris Diraja semakin pulas. Bayi satu tahun itu masih saja suka tidur dengan memilin ujung selimut lembutnya. Selimut yang dihadiahkan Darma saat anak itu baru lahir.


Melihat cucunya, saat itu Darma tidak kuasa menahan air mata harunya. "Kau sudah menjadi ibu sekarang, ibumu di surga sana pasti sangat bangga padamu, Nak," ucapnya memeluk Raya yang juga ikut larut dalam rasa haru.


Waktu berlalu begitu cepat. Satu tahun yang luar biasa menjadi seorang ibu. Raya sendiri yang merawat dan menyiapkan semua yang dibutuhkan Paris.


Kadang Elrick bahkan suka merajuk, karena waktu Raya banyak tersita untuk Paris, hingga dia merasa terlupakan.


Tahu sedang dilihatin, Paris bergerak, kembali meringkuk dibawah selimut hangatnya. Kalau sudah melihat hal seperti itu, hati Raya begitu damai. Kebaikan apa yang sudah dia lakukan selama hidupnya hingga Allah begitu bermurah hati memberikan kebahagiaan seperti ini.


"Sayang, ayo makan. Aku sudah buatkan nasi goreng yang kau suka." Suara Elrick menggema di ruangan itu. Segera mata Raya mencari si pemilik suara dan mendapati pria itu berdiri diambang pintu, tersenyum dengan gaya malasnya, bersandar di kusen pintu dengan tangan dilipat di dada.


"Kenapa kau begitu mempesona?" ucapnya berdiri dan melangkah menuju suaminya.


"Agar kau tidak berpaling dariku," sahut Elrick mema*gut bibir merah muda itu. "Rasamu selalu memabukkan. Aku menunggu janjimu nanti."


Raya memutar bola matanya, senyumnya tidak bisa dia sembunyikan lagi. Elrick tidak pernah berubah. Dia selalu jadi pria buas di ranjang, yang membuat Raya terengah-engah saat berada di bawah tubuhnya.


Sejak Paris hadir di tengah-tengah mereka, Raya sadar kurang memperhatikan suaminya di ranjang. Bahkan mereka kembali berhubungan setelah Paris menginjak usia lima bulan. Alasan Elrick cuma satu, tidak ingin membuat Raya hamil lagi, padahal istrinya sudah menawarkan untuk minum pil KB, tapi Elrick menolak, takut tubuh Raya tidak cocok dengan metode KB seperti itu.


"Aku ingat, tapi kalau nasi gorengnya gak enak, malam ini puasa lagi," sahut Raya tertawa.

__ADS_1


Kebahagiaan sederhana yang mereka rasakan begitu berarti. Dari Raya, Elrick banyak belajar menjadi pribadi yang lebih sederhana, mencoba lebih peka terhadap sekitar, dan tidak suka bicara dengan mengedepankan emosi. Raya berperan menjadi pengontrol amarah Elrick.


Raya juga mengakui banyak perubahan positif dari Elrick setelah menjadi bapak. Dia lebih sabar dan mau mendengarkan pendapat orang lain, walaupun sesekali, tapi setidaknya singa garangnya kini lebih bijaksana.


"Gimana nasi goreng buatanku? enak kan?" tanya Elrick yang membuatkan nasi goreng untuk kedua kalinya. Yang pertama saat iseng-iseng membuat untuknya, Raya bilang enak dan menyukai buatannya. Jadi dengan jumawa, Elrick menawarkan diri untuk membuat kembali.


"Top. Suami aku memang the best," sahut Raya menyuap lebih banyak lagi ke mulutnya. Suasana di rumah itu sudah sepi, penghuninya sudah meringkuk di bawah selimut. Ini sudah pukul 11 malam, keduanya sudah sempat naik ranjang dan mencoba tidur, tapi karena Paris bangun, merengek ingin menyusu, terpaksa Raya bangun. Elrick tidak ingin istrinya begadang sendiri, jadi menemani Raya mengasihi Paris.


"Makan yang banyak sayang, kau tampak semakin kurus. Kadang saat aku memelukmu, aku takut bisa meremukkan tulang-tulang mu," ucap Elrick membuka mulutnya saat disuapi Raya.


Perhatian dan cinta kasih Elrick padanya membuat Raya merasa menjadi wanita yang paling beruntung. Malah melihat dirinya saat ini, Raya kadang merasa berkecil hati, merasa tidak percaya diri akan keberadaan dirinya.


Disaat Elrick terlihat semakin mempesona, matang dan sangat berkharisma, Raya justru terlihat kusam dan semakin mendalami karakternya sebagai ibu. Memakai daster di setiap kesehariannya. Walau berulang kali Elrick mengatakan dia justru menyukai Raya yang berdaster, tetap saja Raya tidak percaya diri.


Dialihkan pandangannya pada wajah Raya, tatapan keduanya saling bertemu, dan Elrick yang masih terbuai dari sisa kepuasan yang diberikan Raya menarik wanita itu ke pelukannya. Raya merebahkan kepalanya di dada Elrick. Membelai kulit liat pria itu dengan jemari tangannya.


"Sayang, lusa kita diundang, menghadiri pesta pernikahan kolegaku. Kau mau kan menemaniku?" ucap Elrick penuh harap. Selama ini sudah tiga kali undangan yang datang pada mereka ditolak gadis itu, dan terpaksa Elrick harus pergi sendiri. Dibelainya puncak kepala Raya, lalu diciumnya penuh kasih.


"Kalau aku tidak ikut, apa kau akan marah?" Sejujurnya, Raya benar-benar tidak siap diperkenalkan sebagai istri Elrick. Menurutnya, mereka berdua bagai langit dan bumi. Elrick pasti akan malu jika menggandeng dirinya.


"Aku gak akan marah. Mana mungkin aku marah padamu. Kau adalah ratu di hatiku. Tapi aku akan lebih gembira jika bisa pergi bersama mu."

__ADS_1


Raya ingin menjawab, tapi lagi-lagi Paris terbangun. Dengan sigap, Elrick bangkit menuju box bayi, tidak peduli dengan tubuhnya yang saat itu tidak mengenakan apapun.


Raya tersenyum, menatap malu bokong penuh milik suaminya. Dengan cekatan Elrick menggendong Paris dan menyerahkan ke pangkuan Raya.


Bibir mungil itu mencari-cari di tengah tangis rewelnya. Begitu sumber kehidupan dimasukkan ke dalam mulutnya, Paris langsung diam, menghi*sap penuh semangat.


Saat menyusu, Paris akan menyedot kuat-kuat, hingga kadang merasa kesakitan. Awalnya, pu*ting Raya perih tak terkira, luka dan bahkan hampir putus, tapi seperti kata Oma, justru air liur Paris yang menjadi obatnya.


"Nyedotnya jangan banyak-banyak dong, sisain buat papa," ucapnya mengelus pipi gembul Paris yang cuek, asyik menikmati sumber kehidupannya.


"Dih, papa mesum," ucap Raya yang disambut tawa oleh keduanya. Apalagi yang kurang, semua tampak begitu sempurna saat ini. Namun, akankah semua itu akan abadi?


Setelah setengah jam menyusu, Paris kembali tidur. Raya ingin meletakkan kembali putranya di box bayi, tapi mengingat dirinya yang juga belum berpakaian, membuatnya mengurungkan niatnya.


"Kenapa? masih malu?" Elrick mengerti isi pikiran istrinya. Mereka sudah menikah hampir dua tahun, sudah menghasilkan Paris dan juga sering mandi bersama, tapi tetap saja Raya masih malu untuk menunjukkan tubuhnya, berdiri di depan suaminya.


"Bukan begitu...."


"Lalu?"


Tidak ingin digoda lebih lama oleh Elrick, Raya menyibak selimutnya, menapaki lantai dan turun dari ranjang. Dengan penuh percaya diri, berjalan melenggok bak model menuju box Paris. Elrick hanya tersenyum, penuh rasa kagum pada Raya. Tubuh gadis itu sudah menjadi candu baginya.

__ADS_1


"Jangan salahkan aku kalau menerkam mu lagi."


__ADS_2