Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 22


__ADS_3

"Kenapa hidup gue sial banget sih, selalu ketemu sama lo?" ucap Elrick mendengus kasar.


"Heh, pria sombong. Enak aja bilang aku bawa sial." Cicitnya yang masih bisa terdengar oleh Elrick. Pria tampan nan sombong itu tidak menduga kalau tempatnya mengantarkan laundry atas petunjuk Omanya adalah tempat laundry milik Raya.


"Mana nota gue? ingat, cuci dengan bersih, jangan sampai rusak, itu pakaian mahal!" Suaranya dingin dan tentu saja tidak bersahabat.


"Iya tau. Bawel!"


"Lo bilang apa?"


"Gak ada, Mas. Cuma baca mantra!"


Elrick mendelik tajam. Sejak pertemuan pertama kala menolongnya, Elrick sudah merasa ada yang aneh dengan gadis itu.


"Ingat ya, harus bersih. Gue gak mau alasan lo lagi hamil, jadi buat pakaian gue gak bersih dan rapi," omelnya lagi.


"Baik, Mas." Raya memaksakan bibirnya untuk tersenyum, walau dalam hati sudah jengah, berharap pria ini segera pergi dari sini.


***


"Mbak, siapa sih pria menyebalkan itu? mood aku jadi jelek karena lihat sikap sombongnya." Nana duduk di samping Raya, memperhatikan wanita itu menginput data atas nama El di laptop sesuai nama yang dituliskan pria itu pada buku pelanggan.


"Gak tahu juga. Cuma pernah beberapa kali ketemu. Emang sombong, tapi ya mau gimana lagi, dia pelanggan. Pakaian bu Nani udah siap? biar nanti sore aku antar," ucap Raya menyelesaikan data pelanggan yang masuk hari ini.


"Udah, Mbak. Udah saya packing, tinggal bawa aja."


***


Raya berhenti di depan gerbang rumah mewah. Rumah paling besar karena berada di sudut dengan luas tanah luar biasa luas. Mungkin kalau dirinya masuk ke dalam, akan tersesat saking luasnya.


Dua kali menekan bel di gerbang tinggi itu, barulah satpam di rumah itu membuka pintu gerbang untuknya. "Selamat sore Pak Kosim, saya mau ngantar laundry," ucap Raya ramah. Satu bulan membuka laundry, sudah dua kali keluarga bu Nani mengantarkan kain mereka pada Raya.


"Silakan masuk, Mbak. Langsung aja," ucap Kosim mengangkut sebagian kain berupa bedcover, sementara Raya membawa satu kantung plastik.

__ADS_1


Dari pakaian yang diantar padanya, Raya tebak kalau hanya Bu Nani yang tinggal di rumah ini, karena tidak ada satu pun pakaian pria atau anak kecil, atau wanita muda di dalam kain laundryan mereka. Hanya berupa daster, baju kaftan, jilbab jenis yang suka digunakan orang tua.


"Sore, Bu... mau ngantar laundry," ucap Raya yang kini sudah masuk halaman depan. Seorang wanita berusia awal 60 an duduk dengan santai mengamati seorang wanita muda yang tengah membenarkan letak pot bunga mawarnya.


"Sore... oh, iya, letakkan saja di depan pintu," sahut wanita itu. "Minten, jangan di sana diletakkan, agak ke kiri sedikit," ucapnya dengan mendumel.


"Biar saja bantu." Raya sudah melangkah mendekati gadis muda yang tampak kesulitan mengangkat pot besar itu. "Makasih, Mbak," ucap wanita bernama Juminten.


"Kayaknya bagus di sini deh, Oma," ucap Raya menggeser ke sebelah kanan, seorang diri. Sedikit berpikir, mengamati lalu wanita itu tersenyum.


"Benar, jadi lebih terang, ya. Kamu panggil apa tadi? Oma? bagus. Karena aku memang senang dipanggil Oma, bukan seperti cucu-cucu tengil ku yang suka memanggilku Miss universe!" ucapnya menarik sudut bibirnya.


"Baiklah, mulai sekarang, aku panggil Oma," ucap Raya tersenyum tulus. Entah mengapa, Nani mengamati wajah dan senyum tulus Raya membuat hatinya tenang dan damai. Ada perasaan yang berbeda, seolah jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Sini, duduk di sini..." ucap Nani menunjuk kursi di sampingnya. "Temani aku menikmati secangkir teh sore ini. Minten, buatkan teh untuk... "


"Raya Oma. Namaku Raya..."


"Raya... nama yang bagus. Indonesia Raya... artinya besar. Semoga kelak kamu menjadi orang besar..."


Nani terbahak mendengar gurauan Raya. Ah, sudah lama tidak tertawa seriang ini. Biasanya dia hanya diam, mengamati orang-orang yang lewat dari depan rumahnya.


Kini dia bertemu Raya. Nani menilai, gadis itu memiliki hati yang tulus dan juga baik. Nani putuskan mulai hari ini, dia akan mengundang Raya, berhubungan dengan Raya akan membuat hidupnya berwarna. Dia tidak akan kesepian lagi.


"Kamu tinggal di laundry?"


"Iya, Oma. Sama satu karyawanku."


"Oh..." tampak wajahnya terlihat muram.


"Kenapa Oma?" tanya Raya khawatir kalau ucapannya sudah menyakiti hati wanita itu.


"Aku pikir kamu karyawan laundry itu, bukan pemiliknya, aku ingin kamu tinggal di sini," sahutnya menatap Raya.

__ADS_1


"Hah? Maaf Oma, tapi..."


"Aku tinggal di rumah ini sendiri. Sebenarnya tidak sendirian secara harafiah, ada banyak pelayan, tukang kebun, satpam dan sopir, tapi aku merasa kesepian, sendirian di sini. Padahal aku punya cucu, tapi tidak pernah mempedulikanku." Ada kabut air mata terlihat di sana. Raya bisa merasakan kesedihan yang coba disembunyikan wanita tua itu.


"Jangan sedih, Oma. Laundryku, kan dekat. Nanti aku akan sering main ke sini. Temani Oma," ucap Raya memberanikan diri, mendekati wanita itu, berlutut di depannya untuk menggenggam tangan Nani, mencoba menguatkan hati Nani.


"Janji?"


"Iya, Oma. Aku janji."


"Sesekali nginap juga di sini, ya?"


"Hah? Nginap? tapi..." Raya tidak jadi meneruskan ucapannya, Nani kembali menunduk. "Iya, aku janji akan nginap di sini, tapi kalau aku sudah dapat satu karyawan lagi, biar ada teman Nani," ucap Raya tersenyum. Dia merasa terharu, Nani begitu mengharapkan keberadaannya. Seolah dia mendapatkan kasih sayang seorang ibu, atau lebih tepatnya kasih sayang seorang nenek yang tidak pernah dia rasakan selama ini.


"Baik, Oma akan pegang janjimu." Nani sudah kembali ceria. Hal sepele saja sudah bisa membuatnya gembira. Begitu kadang hidup, di sisi lain, orang akan berjuang, dari subuh hingga matahari tertawan malam mencari uang demi mengisi perut, namun, di sisi lain, orang-orang berduit seperti Nani, justru merasa kosong, hampa dan kesepian ditinggal keluarga. Hidup memang butuh uang, namun uang juga tidak bisa membeli kebahagiaan sejati.


Juminten datang membawa minuman dan juga cemilan. Keduanya bercerita disela tawa riang. Tidak terasa dua jam berlalu, Raya pun mohon undur diri.


"Tapi kamu janji ya, akan berkunjung lagi?" tanya Oma khawatir.


"Iya, Janji Oma."


"Eh, ada tamu?" suara pria yang baru sampai di rumah mewah itu mengalihkan perhatian mereka. Kedua wanita itu kaget akan kedatangan pria yang sama tidak diduga berada di sini hari ini.


"Dipa..."


"Dipa..."


Keduanya serentak menyebut nama pria tampan yang hanya tersenyum melihat wajah kaget pada mereka. "Kompak kalian, ya. Sebegitu semangatnya melihat kedatanganku, hingga menyebutkan namaku bisa kompak begitu," ucapnya tersenyum, memamerkan barusan gigi putihnya.


"Kamu mengenal bocah tengil itu?" tanya Nani menatap curiga pada Raya. Tatapan yang seolah ingin mengatakan, 'Jangan berhubungan dengan iblis ini!'


***

__ADS_1


Hai, maaf hari ini satu bab aja ya, banyak kerjaan 🙏☺️, mana nih, kasih hadiah dong biar aku crazy up lagi. Makasih


__ADS_2