Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 21


__ADS_3

"Hah? Kami... Gue.... Gue baru dari toilet. Ketemu sama Paris. Lo mau kemana?" Tanya Sidney gelagapan. Scot diam, memandang satu persatu orang yang tampak gugup di hadapannya ini.


"Nyariin lo, sini," ucapnya menarik tangan Sidney, berjalan masuk kembali ke ruang pesta. "Jujur sama gue, lo ada apa sama Paris?"


"Hah? Gue... Gue..."


Ayo bicara, Sid. Lo harus jujur. Ini saatnya!


"Sid! Lo dengar gak? Kenapa perasaan gue bilang kalian menyembunyikan sesuatu dari gue?!"


"Menyembunyikan apa? gak ada."


"Ingat, Sid. Persahabatan kita di atas segalanya. Jangan sampai karena orang itu, kebersamaan kita selama bertahun-tahun hancur!" Scot mengunci tatapan Sidney.


"Iya, gue tahu."


***


Dipa dan Tita bertolak ke Jepang, untuk bulan madu di sana. Dua hari setelah pesta pernikahan mereka, kesehatan Nani semakin drop, hingga Elrick memutuskan untuk membawa Nani ke Singapura. Raya bersikeras tetap ikut untuk menjaga dan merawat Nani selama pengobatan di sana.


"Kalian yang baik-baik ya di rumah. Abang, harus bisa jaga dan ngatur adik-adiknya," ucap Raya memberi wejangan sebelum berangkat ke Singapura.


"Sabtu nanti kita bisa jenguk Oma buyut kan, Ma?" Sidney mengangguk, sepermohonan dengan Scot.


"Iya, boleh. Sudah, ya."


"Oma, baik-baik ya, cepat sembuh." Sidney memeluk Oma sebelum naik ke mobil.


"Iya, Cantik. Doain Oma sehat, biar bisa lihat kamu sama Paris nanti nikah," bisik Nani. Bola mata Sidney membulat, wajahnya panik dan juga pucat. Ditatapnya Oma yang tampak lemah karena rasa sakit yang ada di tubuhnya. Mulut Sidney menganga, tidak menyangka Oma tahu hubungannya dengan Paris. Kalau Oma sudah tahu apa yang lain juga ada yang tahu?


Sidney melayangkan pandangan mencari Paris. Pria itu sedang berbicara dengan Elrick yang hanya mereka berdua bisa mendengar.


"Jangan karena cuma bertiga, tanpa pengawasan, kalian jadi bebas, sampai ke kebablasan. Ingat Sidney masih dibawah umur. Walau kamu udah 18 tahun, tapi masih panjang cita-cita yang harus kau gapai. Boleh colek-colek, tapi jangan dilanggar garisnya."


Paris hanya diam, menanggapi ucapan ayahnya dengan jengah. Dia tahu harus melakukan apa tidak perlu mengingatkan dirinya berulang-ulang.


"Hari ini pulang sekolah kita nonton, yuk," ajak Scot membereskan bukunya ke dalam tas.

__ADS_1


"Sorry, gue gak bisa hari ini. Maaf ya. Next time, Buddy." Sidney tampak buru-buru mengemas peralatan sekolah.


"Kita gak pulang bareng?"


"Hari ini gue duluan ya. Ada hal penting yang harus gue kerjakan."


"Lo mau kemana? gue antar."


"Gak usah, Mate. Gue... gue mau ke rumah Tante Lala, sepupu papa. Ingatkan? Yang dulu pernah gue kenalin? Kita janjian di salah satu cafe di Kemang. Udah ya, gue cabut."


Scot hanya bisa memandangi kepergian Sidney. Hatinya berkata ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu dari nya. Tapi jika dia mencurigai Sidney, artinya dia tidak percaya pada gadis itu dan sama saja sudah melanggar perjanjian persahabatan mereka.


Tidak semua hasil pemikiran Scot salah. Sidney memang bukan pergi dengan Tante Lala nya, melainkan dengan Paris yang sudah menunggunya di simpang sekolah yang jauh dari pengamatan anak-anak.


Begitu melihat Sidney mendatanginya dengan berlari, Paris hanya tersenyum. Memakaikan helm di kepala Sidney sekaligus mengunci di bawah dagu.


"Are you ready, Babe?"


"Ay yay Kapten....!" Seru Sidney setengah berteriak, yang tenggelam di antara deru suara mesin motor Paris.


Keduanya membelah jalanan, menuju pantai, menikmati udara sore dengan gembira dan penuh cinta.


"Sejak lo lahir."


"Dih, aku serius," ucap Sidney merenggut. Sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Iya, saat Lo dan Scot lahir, Gue justru berada di sisimu, melihatmu. Gue ingat kok. Saat itu gue udah suka sama gadis cantik mungil itu. Tapi sejak lo masuk SMA dan ada cowok yang gangguin lo, gue gak suka, hati gue panas dan saat itu lah gue sadar kalau gue sayang, cinta sama lo."


Sidney diam, tersipu malu. Apa yang dikatakan Paris lebih dari cukup untuk mempercayakan hatinya untuk Paris.


"Ini...." Paris menunjukkan kalung indah terbuat dari mas putih. Liontinnya berbentuk kunci. "Suka?"


"Suka...." Mata Sidney berkaca-kaca menahan haru. Dia tidak menyangka kalau pria cuek dan terkenal dingin itu begitu perhatian padanya.


Paris memutar tubuh Sidney, hingga membelakangi pria itu, memudahkannya memasangkan di leher Sidney.


"Kenapa liontinnya berbentuk kunci? gemboknya mana?"

__ADS_1


Kalung sudah dipasang, dan terlihat indah di lehernya. "Cantik, tapi lebih cantik lo. Ini..." Paris mengangkat tangannya memamerkan pergelangan tangannya. Ada gelang berwarna hitam dari rajutan dan mempunyai mainan gembok yang kecil.


"Ingat selalu, kunci hatiku hanya lo yang pegang. Gak akan bisa masuk siapapun ke dalamnya."


Bisa dibayangkan kan, betapa melelehnya Sidney mendengar ucapan Paris yang begitu tulus dari dalam hatinya. Paris menarik tubuh Sidney, memeluk dan mengecup sekilas bibir gadis itu. "I love you."


"Love you too." Kembali mereka berpelukan. Hembusan angin pantai membuat perasaan bahagia itu semakin terasa lebih dalam lagi.


"Makasih. Boleh minta satu hal lagi, gak?" ucapnya tersenyum. Paris mengurai pelukan mereka, menatap wajah Sidney sambil memicingkan sebelah mata, seolah ingin mengatakan 'Dikasih hati minta jantung ya, kamu.'


"Apa?" Akhirnya Paris bertanya dengan suara lembut. Rasa cintanya yang begitu besar pada Sidney membuatnya mampu mengusahakan dan memberikan apapun yang gadis itu inginkan. Bagi Paris, kegembiraan dan kebahagiaan gadis itu adalah yang utama.


"Jangan panggil lo gue lagi. Panggil aku dan kamu."


Paris tersenyum. Hanya gadis itu yang bisa meminta hal yang diluar tebakan Paris. Hal sederhana seperti itu pun harus dia minta. "Kalau panggil sayang, boleh gak?" bisiknya yang berhasil membuat bulu kuduk Sidney meremang.


"Boleh, kalau kita lagi berdua," sahut Sidney tersenyum. Menangkup wajah Paris dengan kedua tangannya.


"Makasih udah sayang dan cinta sama ku."


"Makasih juga udah lahir di dunia ini, dan bukan jadi adikku. Bisa-bisa aku jadi incest nanti."


Kedua anak Adam dan Hawa itu tertawa lepas. Tidak ada beban.


***


Selama Elrick dan Raya tidak berada di rumah, Paris selalu berhasil mencumbu Sidney dengan leluasa. Diam-diam menarik Sidney ke kamarnya, tanpa diketahui Scot. Tapi walau bebas melakukan apapun yang mereka suka, Paris adalah pria sejati, yang tahu batasan. Dia selalu bisa mengendalikan diri untuk tidak meminta milik Sidney yang paling berharga.


Sementara Sidney yang baru pertama kali pacaran, benar-benar dimabuk asmara. Selalu menanti Paris mencumbu, mencium dirinya. Tidak ada lagi yang mereka tidak lakukan selain yang satu itu.


"Kenapa kita tidak melakukannya aja? Temanku, Agnes cerita sama Mika, kalau dia sudah begituan dengan ketua OSIS," ucap Sidney yang berbaring di pelukan Paris.


"Kau begitu berarti. Aku menghormatimu, karena itu aku menjagamu. Bukan hal gampang berada di dekatmu, menyentuh bagian tubuhmu tanpa menjurus menginginkan hal itu, tapi aku akan berusaha menahan diri, agar kita melakukannya nanti setelah kau sah menjadi istriku."


*


*

__ADS_1


*


Sidney keenakan nih dicium, jadi geser dikit otaknya...🤭🤭


__ADS_2