Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 42


__ADS_3

3 Tahun berlalu dengan cepat...


Sidney berjalan gontai memasuki restoran tempatnya bekerja. Hari ini dia memang mengambil shift sore karena pagi tadi ada kuliah pagi hingga siang. Minggu-minggu ini terasa berat karena dia harus mengikuti ujian semester. Dan mulai semester depan dia sudah harus magang, baru nanti bisa mengajukan proposal untuk ikut seminar.


Tiga tahun yang tidak mudah, tapi bisa dijalankannya dengan baik. Menata hidupnya dengan hati yang luka, tanpa terus berada dalam keterpurukan.


"Udah datang lo, noh pacar lo nungguin dari tadi. Gelisah amat gak ketemu ayang Beb bareng sehari aja," ucap Jihan, rekan kerjanya di cafe itu.


Sidney beruntung bisa bekerja di cafe dengan pemilik yang sangat baik. Mau menerimanya bekerja sambil kuliah. Bahkan pemiliknya memintanya mengutamakan kuliahnya, baru setelahnya memikirkan tugasnya di cafe.


"Sesuaikan sama jadwal kuliahmu. Jihan kan gak kuliah, dia pasti mau berganti shift denganmu," ucap pak Bayu, pria bijaksana yang sudah menolongnya saat tiga tahun lalu hampir saja dirampok dan diperko*Sa di jalan.


Bandung, kota yang dia pilih untuk memulai hidup barunya. Entah mengapa dia memilih kota ini, tapi dia percaya, takdirnya lah yang membawanya ke tempat yang tepat dan juga bertemu dengan orang yang tepat pula.


Sidney melambai pada pria tampan dengan stelan jas lengkap duduk di sofa yang selalu menjadi tempatnya menunggu kedatangan Sidney.


"Udah lama, Mas?" Sapanya berdiri di depan meja tinggi yang ada diantara mereka berdua. Tangan Sidney dilipat dan diletakkan di atas meja.


"Selama apapun itu aku akan tetap menunggumu." Kembali Sidney tersenyum. Setahun sudah dia menjalin hubungan dengan pria itu, setelah dua tahun digantungnya.


Pria baik itu bernama Ryu Tanaka, pria keturunan, ayah Jepang dan ibu asli Jepara. Sidney mengenalnya kala pria itu datang nongkrong di cafe itu. Kata Ryu dia sudah jatuh cinta pada Sidney pada pandangan pertama.


Tapi penuh perjuangan bagi Ryu untuk mendapatkan Sidney. Satu tahun pertama, Sidney berulang kali menolak, tapi Ryu tetap mendekati Sidney, walau hanya predikat sebagai sahabat yang dia bisa berikan.


Baru tahun kedua, Sidney mau mencoba membuka hati.


"Pulang dulu sana, Aku kerja sampai jam sembilan malam. Nanti aja jemput," ucap Sidney kembali tersenyum.


Pria itu baru saja kembali dari Jepang, untuk urusan bisnis dan karena rasa rindunya, dia langsung menemui Sidney yang dia pikir masuk pagi.


"Aku tungguin aja, ya."


"Pulang aja dulu, mas istirahat aja. Baru juga sampai."


Ryu selalu jadi pria penurut. Apapun yang dikatakan Sidney selalu dia ikuti, tapi justru ini yang buat Sidney susah merasakan getaran cinta pada Ryu.


"Ini..." Pria itu menyerahkan sebuah kotak yang diikat pita merah.


"Apa ini?" Tanya Sidney akhirnya duduk di samping pria itu.


"Bukalah..."


Sidney membuka, dan kilau indah muncul dari dalam sana. Sebuah kalung berlian, dengan liontin matahari, salah satu dewa Jepang.


"Kau suka?"

__ADS_1


Sidney hanya mengangguk sembari tersenyum. Beberapa kali pria itu membelikan barang untuknya, tetapi selalu ditolaknya, dan kali ini dia sepertinya harus menolak kembali.


"Ini buatmu. Aku pesan khusus dari Jepang."


"Tapi... Aku minta maaf, aku gak bisa menerima ini," ucapnya halus.


"Please, kamu harus terima. Selama ini aku gak pernah meminta apapun darimu, sekali ini aku ingin kamu pakai kalung ini. Entah mengapa aku cemburu dengan kalung yang kamu kenakan itu. Seolah sangat berharga buatmu. Maukah kamu melepasnya dan memakai ini untukku?"


Sidney terdiam. Ini berat, dia tidak pernah menduga kalau Ryu memperhatikan kalung yang dia pakai itu. Dan kini dia meminta untuk melepaskannya?


"Tapi, Ryu..."


"Aku mohon, pakai, ya."


Sidney tidak bisa menolak lagi. Disentuhnya liontin berbentuk kunci itu. Setiap menyentuhnya, memorinya akan membawanya kembali pada pemiliknya.


'Hanya kunci ini yang bisa membuka gembok hatiku, tidak akan ada wanita lain yang bisa masuk, selama kunci ini kamu pegang.'


Tiga tahun berlalu, kenapa dia harus menyimpan ini lagi. Mungkin ini sudah saatnya dia melepaskannya.


Ryu begitu gembira kala kalung pemberiannya sudah bertengger di leher Sidney. Dengan hati-hati, Sidney memasukkan kalung lamanya ke dalam saku jeansnya.


***


Tapi karena bosan, dia pun pergi ke cafe, untuk membantu Jihan di sana. "Lo kan libur, kenapa kemari?"


"Gak papa gue bantuin aja. Gue bosan di kosan."


Tepat saat berbincang, dua orang masuk dan mengambil bangku di tengah. Si pria mengangkat tangan memanggil pelayan, dan Sidney meminta untuk maju melayani mereka.


"Maaf, mau pesan apa?" Tanya Sidney. Gadis yang bersama pria itu melihat ke arahnya dengan pandangan heran, tapi seolah ingin meyakinkan kalau yang ada di hadapannya ini adalah orang yang dia kenal.


"Lo Sidney, kan?" Pekik gadis itu semringah.


Sidney diam, suaranya tampak familiar, tapi wajahnya dia lupa. Dia terus mengamati sembari menggali ingatannya.


"Gila lo ya, gak ingat gue?! Gue Agnes!"


Sidney yang mengingat gadis itu pun tertawa sembari menerima pelukan Agnes. "Gila, lo banyak berubah makanya gue gak kenali."


"Kenapa? makin jelek, ya?" tanyanya cemberut.


"Makin cantik, kok. Wah, udah mau punya baby, selamat ya sayang," ucap Sidney kembali memeluk Agnes dan membelai perut buncitnya.


"Makasih. Ini calon anak pertama kita. Kenalkan, ini suami gue."

__ADS_1


Sidney pun menerima uluran tangan suami Agnes yang tampak lebih matang dari usia Agnes.


"Lo kenapa gak bisa dihubungi lagi, sih? Tahun lalu kita ngadain reunian loh," terangnya antusias bercerita.


Sidney hanya menjawab seadanya. Apa yang bisa dia hindari maka tidak akan dia jawab.


"Lo udah putus ya sama Paris? Banyak yang cerita," ujar Agnes lagi. Sidney pun hanya tersenyum seraya mengangguk.


"Gue dengar dia sekarang dekat sama model, entah udah tunangan atau gak, gue juga kurang tahu."


Hati Sidney terasa diremas, harusnya kan dia tidak perlu merasakan sakit lagi, toh sudah bertahun. Lagi pula hidup mereka sekarang sudah masing-masing.


"Tapi lo tahu gak, kalau Oma mereka sakit keras? Ada di grup what's up satu angkatan kita, semua pada menyampaikan turut berduka. Scot sempat posting status wa nya, tentang keadaan Omanya yang saat ini lagi sekarat," lanjut Agnes.


"Oma Nani? Sakit keras?"


"Iya, nih... masih gue simpan foto yang di posting Scot kemarin." Agnes menunjukkan foto Oma yang berbaring lemah dengan infus segala selang di tubuhnya.


Tanpa sadar, air mata Sidney menetes yang buru-buru dihapusnya.


***


"Biar aku antar. Jakarta itu jauh," ucap Ryu memaksa Sidney, gadis itu awalnya ingin naik kereta api atau bus saja, tapi karena Ryu terus memaksa dengan alasan keselamatan, Sidney akhirnya mengalah.


Subuh mereka berangkat hingga saat pagi menyapa mereka sudah tiba. Dia ingat rumah sakit yang disebutkan Agnes kemarin.


Dengan debar jantung yang tidak bisa dia kuasai, Sidney melangkah masuk ke ruangan Oma setelah menanyakan pada informasi di lantai satu.


Dari kejauhan terlihat kamar itu penuh. Sidney mengenali siapa saja orang yang berada di dalam ruangan itu.


Langkahnya terhenti, dia menarik diri. Mereka semua adalah keluarga Diraja, apa haknya untuk masuk ke dalam sana?


"Apa sebaiknya aku pulang? Tapi aku ingin melihat Oma," batinnya.


Selangkah demi selangkah dia maju, hingga diambang pintu ruang VIP itu langkahnya terhenti.


"Sidney...." Pekik Raya yang membuat semua orang yang berada di dalam sana melihat ke arahnya.


*


*


*


Gimana gais? Jantung aman?☺️☺️🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2