
"Hai, Oma... Oma mencariku?" tanya Raya duduk di lantai, di depan Oma yang sedang memangkas daun bunga yang sudah layu.
"Hai, Sayang. Oma tidak mencarimu. Tapi baguslah kalau kau sudah di sini," ucap Oma tersenyum melihat Raya lalu kembali memusatkan perhatiannya pada bunga.
Kening Raya berkerut. Dia tidak mungkin salah dengarkan, kalau tadi Elrick bilang dia sedang dicari oleh Oma?
"Tadi bukannya Oma titip pesan untuk..."
"Miss universe, udah dong main bunganya. Cucunya datang malah sibuk dengan bunga," ucap Elrick memotong pembicaraan Oma dengan Raya.
"Tumben, pagi ini kau manja pada Oma. Kau mau apa?" Nani sudah meletakkan gunting tamannya.
"Kepala sakit Oma, ingin dipijit seperti biasa," ucap Elrick melirik sekilas ke arah Raya yang terus melihatnya dengan tatapan minta penjelasan, namun polar bear tampaknya tidak ingin mengatakan apapun. Raya hanya bisa merengut kesal, dan hal itu membuat Elrick tersenyum.
"Dasar bodoh! Ini gue yang bego apa dia ya. Kenapa gue pengen banget dia selalu ada di dekat gue. Kalau gue tahu dia aman, hati gue baru tenang," batinnya sembari masuk ke rumah.
Elrick duduk di lantai dengan punggung bersandar ke sofa dan Oma duduk di belakang Elrick memijit kepala pria itu. Matanya mungkin terpejam, tapi bibirnya tidak henti tersenyum. Dia merasa geli melihat wajah Raya yang saat itu melotot kesal padanya. Walau tidak melihat ke arah wajah Raya, tapi Elrick tahu dan dia sangat menikmati saat-saat seperti itu.
Kalau polar bear tersenyum penuh kemenangan, Raya justru sangat kesal. Dia merasa dipermainkan pria itu, mengerjainya hingga waktunya terbuang sia-sia.
"Oma, aku pamit dulu, ya," ucap Raya yang merasa tidak berguna di sana.
Elrick menegakkan kepalanya, menatap serius ke arah Raya. Kesenangannya terhenti dengan niat gadis itu untuk pulang. Padahal Raya masih ingin menemui pak Roy dan juga pak Bonge, siapa tahu memerlukan jasa pemasangan furniture di kantornya. Kini waktunya terbuang sia-sia dengan berdiam diri di sana.
"Gak sopan banget sih Lo, orang lagi serius memijit. Ntar dulu, kenapa sih?" hardik Elrick menegakkan tubuhnya. "Nanti, Oma punya tugas buat mu."
Nani yang tidak mengerti menatap Elrick sekilas, melalui sandi 'morse' meminta penjelasan pada Elrick, tapi pria itu hanya membelai pergelangan kaki Nani secara tersembunyi, lalu menarik satu bulu di kaki wanita itu, hingga terpekik kaget. "Benar, nanti Oma ada perlu denganmu."
Lalu keduanya kembali asyiknya dengan kegiatan sebelumnya. Demi membunuh rasa jenuhnya, dia memikirkan harus kemana dulu mencari customer untuk Dika. Satu persatu nama pelanggan yang dia ketahui memiliki perusahaan atau punya jabatan di perusahaan dia targetkan untuk didekati.
__ADS_1
"Miss Universe...." Suara Dipa dari luar ruangan menggema, dan lebih nyaring saat memasuki ruangan.
"Aku hanya punya dua cucu laki-laki tapi tidak satupun punya akhlak yang benar. Kau ingin membunuh ku, ya? Suaramu buatku hampir saja pingsan.
"Sorry Oma." Dipa mencium pipi wanita itu, meski di sana ada Elrick. Dipa sudah tidak sedendam itu pada Elrick. Ucapan Raya sudah ditelaahnya, dan masuk akal.
Saat itu, ibu Elrick lebih dulu pergi meninggalkan pria itu, lalu setelah beberapa tahun, barulah kedua orang tuanya meninggal dunia karena kecelakaan.
Walau tidak menyimpan dendam lagi, tapi Dipa juga masih tetap tidak mau berkomunikasi dengan Elrick.
"Hai, Cantik. Kok bengong? kusut amat wajahnya. Ada apa?" tanya Dipa yang duduk di samping Raya. Gadis itu hanya mendengus berat. Pikirkan bercabang. Saat ini pikirannya tersita mengingat penderitaan Bu Titin yang memerlukan pengobatan. Bagaimana pun wanita itu pernah menjadi ibu mertuanya.
"Hei, malah bengong," ujar Dipa menyita Raya dari lamunannya.
Tatapan Raya mengarah pada Dipa, sesuatu tiba-tiba terbersit dalam pikirannya. "Dip, kamu kan punya perusahaan. Butuh pembaharuan furniture kantor, gak? Mmm... ganti sofa, meja, lemari atau pemasangan kitchen set, mungkin?"
Dipa menatap heran. Raya tampak begitu bersemangat menanyakan hal itu padanya. Diam-diam dari tempatnya pun, Elrick menyimak pembahasan kedua orang itu, ikut bertanya-tanya mengapa Raya begitu bersemangat menunggu jawaban Dipa.
"Sebenarnya aku tidak tahu, tapi nanti aku tanyakan," ucapnya menyenangkan hati Raya.
"Serius? benar, ya?" ucap Raya antusias. Senyumnya yang ceria menambah kecantikan yang terpancar di wajahnya.
Elrick menegakkan tubuhnya, memandang curiga ke arah Raya. Mengapa hal itu begitu penting baginya.
"Memangnya siapa yang bisa mengerjakannya?" susul Dipa.
"Aku punya teman. Dia bisa mengerjakannya berbagai jenis model kitchen set dan furniture," terangnya penuh semangat.
***
__ADS_1
Dugaan Elrick benar, semua yang dilakukan Raya itu untuk Dika. Setelah melakukan penyelidikan, Elrick mendapat laporan kalau Dika saat ini sangat butuh uang untuk mengobati ibunya.
Elrick baru saja berniat ingin menggagalkan usaha Raya yang mencari pelanggan untuk Dika, namun anak buahnya memberi kabar, kalau Raya mengunjungi beberapa rumah untuk menanyakan apakah membutuhkan pemasangan furniture.
"Dasar gadis bodoh! Demi pria brengsek itu lo rela capek dan juga menjatuhkan harga diri lo ngemis sama orang!" umpatnya melihat beberapa foto yang dikirim Dono.
Elrick berpikir sejenak. Ingin sekali mendatangi gadis itu dan mencekik lehernya, tapi melihat wajah kelelahannya, hati Elrick mengiba. Penuh kesal dia menghubungi Bagas.
"Ya, Bos..."
"Kemari!"
Hanya butuh lima menit, Bagas sudah tiba di hadapan Elrick. Dia tahu, bos nya sangat tidak suka menunggu. "Ada apa Bos? Apa ada meeting dadakan?"
"Berapa cabang perusahaan kita?"
Walau sedikit bingung, Bagas tidak berani bertanya. "175 cabang, Bos."
"Di Jakarta?"
"Ada 10, Bos."
"Segera minta mereka mengganti Kitchen set atau furniture kantor."
"Hah? Tapi bos, belum ada laporan kalau anak perusahan kita membutuhkan perbaikan furniture," ujar Bagas semakin bingung. Apa yang terjadi pada bosnya hingga hal remeh seperti ini harus diurusnya sendiri.
"Sudah kerjakan saja. Kalau tidak bisa semua, paling tidak lima atau tiga saja!" Raut wajah Elrick jelas tidak terbantahkan. Dia akan melakukan apa pun untuk membantu gadis bodoh-nya.
Tidak ada yang bisa menghalau perasaan sayang jika memang sudah melekat dalam hati. Elrick jelas sudah merasakan hal itu, tapi selalu ditepis dan tidak diinginkan. Semua yang dia lakukan, dan disadarinya terlalu berlebihan, dia akan mengatakan hal itu semua karena rasa bersalah telah merenggut kehormatannya.
__ADS_1
Tapi benarkan hanya sesimpel itu?
"Hubungi perusahaan ini, Suruh anggota mu bicara pada pemiliknya, untuk mengerjakannya!" Seru Elrick melempar kartu nama Dika.