Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 33


__ADS_3

"Jangan menangis lagi..." ucap Elrick selembut yang dia bisa lakukan. Gadis yang meringkuk di sampingnya ini, masih tidak berhenti menangis. Ada memar di pipi dan sudut bibir Raya, bekas tangan salah satu penjahat itu, balasan karena Raya sudah berani berteriak di lampu merah tadi.


Seandainya Raya tidak berteriak kencang, Elrick yang saat itu bersama Bagas di seberang jalan di lampu merah yang baru saja akan melintas karena sudah lampu hijau, melihat ke arah mobil itu. Walau ragu itu adalah Raya, dorongan hati Elrick untuk putar balik dan mengikuti mobil itu begitu besar.


"Kita mau kemana, Bos?" tanya Bagas yang memang saat itu diajak Elrick untuk singgah ke rumah Nani setelah pulang dari meeting. Dia heran kala Elrick memintanya memutar arah dan menunjuk mobil yang harus mereka ikuti.


"Lakukan saja. Ikuti mobil itu!" ucapnya tegas. Setelah itu, keduanya yang memang sudah tidak diragukan lagi ilmu bela dirinya melawan keempat kawanan penjahat itu.


"Ray, please... jangan nangis lagi. Semua udah berakhir. Lo sudah aman..." ulang Elrick perasaan campur aduk. Jujur dia tidak pernah mengasihi Wanita, justru sangat membenci kaum hawa. Baginya mereka hanya tempat bersenang-senang sekaligus melampiaskan amarahnya yang kadang kala muncul ketika mengingat wanita yang sudah meninggalkannya. Tapi pada Raya, entah malaikat dari mana datang padanya, air mata itu membuatnya merasa marah pada orang yang sudah menyakiti Raya dan betapa dia ingin melindungi gadis itu.


Bagas sudah diminta Elrick untuk naik ojek menuju laundry Raya, memeriksa keadaan Nana yang diikat.


Bingung harus bagaimana, tanpa sadar Elrick sudah membawa Raya ke apartemennya. Mobil berhenti di depan gedung megah nan mewah itu. "Kenapa ke sini?" tanya Raya was-was masih dengan isakan tangis bak anak kecilnya. Wajar jika dia merasa ketakutan, dia baru saja selamat dari misi pelenyapan nyawanya.


"Kita obati dulu luka lo. Lagi pula, lo mau pulang dengan keadaan seperti ini?"


Raya menimbang perkataan Elrick ada benar juga. Lagi pula, kalau dia pulang dengan keadaan wajah terluka begini, Nana akan semakin panik, bisa jadi akan meminta berhenti dari laundry.

__ADS_1


Cahaya terang menyinari apartemen yang tampak rapi dan didominasi warna hitam, putih dan abu-abu. Warna tidak jelas, seperti masa lalu Elrick.


"Duduk dulu. Gue mau ambil kotak P3K," ucap Elrick berlalu masuk ke kamar. Tidak sampai lima menit keluar kembali. "Tidak ketemu. Hanya ada sisa botol Betadine kosong," ucapnya sembari menunjukkan botol di tangannya. "Lo tunggu di sini, gue beli ke bawah dulu. Kalau haus, ambil aja di kulkas. Gue segera kembali."


Elrick sudah berlalu, meninggalkan Raya. Waktunya yang sendirian dimanfaatkan untuk meneliti setiap inci benda di ruangan itu. Dari pengamatannya, Elrick tipe pria rapi, dan terkesan tertutup, tidak ingin orang tahu apa isi hati dan pikirannya, terbukti dari pilihan warna yang menyelimuti seluruh ruangan apartemen itu.


Setengah jam berlalu, Elrick belum kembali juga. Kerongkongan Raya terasa kering. Mengingat yang punya rumah juga sudah mengizinkan untuk mengambil minuman sendiri, Raya pun bangkit, menuju kulkas.


Banyak jenis minuman, namun dia tidak mengenal satu minuman itu. Bingung dan takut salah ambil, Raya mengambil minuman yang mirip UC1000, jus jeruk dalam botol kaca. Dibuka, lalu dicicipi sedikit, ada rasa menyengat, namun manis. Dia coba lagi, hingga satu botol itu habis. Diletakkannya botol kosong di atas meja makan. Melangkah ke tempatnya semula. Menunggu lagi.


Elrick belum juga kembali, dan Raya sudah merasa ketakutan. Rasa manis dari minuman itu masih tersisa di bibirnya, dijilati dan kepikiran ingin minum lagi, tapi dia tahu diri, untuk tidak mengambil lagi.


Satu botol itu pun seketika habis, senyumnya terbit. Dia menyukai minuman itu. Membuat pikirannya tenang. "Besok aku beli lah, enak banget ini," cicitnya menatap botol kosong itu penuh damba. Raya mendekatkan botolnya, membaca merk minuman itu, tapi karena ditulis pakai bahasa Inggris, Raya hanya mendengus karena tidak mengerti.


Berjalan kembali ke sofa, duduk, lalu rasa ngantuk menyapanya. Perih di sudut bibirnya tidak lagi dia rasakan.


"Sorry lama. Apotek yang terdekat dari sini sudah tutup, gue harus mencari ke tempat lain," ucap Elrick masuk dan mendapati Raya sudah tertidur di sofa.

__ADS_1


"Raya... hei..." ucap Elrick mengamati gadis itu. Namun, karena tidak ada reaksi, Elrick menarik tangan Raya agar duduk kembali, tapi penuh kesal karena tidurnya terganggu, Raya menjauhkan tangan Elrick. "Jangan ganggu, aku mau tidur. Sana Nana..."


Cara bicara Raya yang sedikit berbeda membuat Elrick membulatkan mata. Gadis itu seperti wanita bodoh yang mabuk. Sekuat tenaga, Elrick membangunkan Raya, menopang agar bisa duduk dengan tegak. Menepuk-nepuk lagi pipinya. Elrick sudah bisa mencium bau radler beer.


"Lo kenapa? Lo salah minum ya?" tanya Elrick. Salah sendiri bertanya pada orang mabuk, tentu saja dia tidak mendapat jawaban. Elrick bangkit dan menuju kulkas. Belum sampai membuka kulkas, Elrick sudah melihat dua botol kosong radler beer di atas meja. Dia hanya bisa geleng-geleng dan mendengus kasar.


"Dasar udik! membedakan mana minuman keras aja gak tahu," umpatnya sembari menarik meja sofa ke hadapan Raya lalu duduk di sana, berhadapan dengan Raya. "Ini harus cepat diselesaikan, biar gue antar aja nih orang pulang. Nyusahin banget, sih!" cicitnya membuka kotak obat, mulai mengolesi sudut bibir Raya dengan obat yang diberikan apoteker tadi, sesuai petunjuknya.


Tiba-tiba mata Raya terbuka, menatap Elrick yang ada dihadapannya, lalu dengan pandangan berkunang-kunang, Raya menjulurkan tangannya ke pipi Elrick. Pria itu tentu saja terkejut, menarik tubuhnya ke belakang, agar tidak terjangkau Raya, namun Raya maju dan tangannya nemplok di pipi pria maskulin itu. "Nana, kamu kurusan? kenapa pipimu jadi tirus begini?" celotehnya menguyel-uyel pipi Elrick. Pria itu bisa apa? saat ini dia tengah sibuk meredakan debar jantungnya. Berdetak empat kali lebih kencang hanya karena menerima sentuhan wanita itu di pipinya. Sebegitu lemahkah dia terhadap sentuhan Raya?


"Nana, kamu baik-baik saja?" lanjut Raya masih mengelus pipi Elrick. Pria itu setengah mati berkonsentrasi tetap mengolesi krim pada pipi Raya yang memar. Tiba-tiba Raya menangkup kedua pipi Elrick dengan kedua tangannya, mendekatkan wajahnya, lalu cup..


Satu ciuman mendarat di pipi pria arogan itu, tanpa bisa dia hindari. Matilah sudah. Debar jantungnya semakin kencang, Elrick akan meledak!


*


*

__ADS_1


*


Lanjut gak nih? komen yang banyak dan jangan lupa hadiah😁


__ADS_2