Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 95


__ADS_3

Rasanya sudah lama Raya tidak merasakan tidur senyenyak ini. Hangat dan juga sangat nyaman. Aroma maskulin yang tercium olehnya membuatnya semakin terlena. Jarak dari aroma itu begitu dekat dengan hidung dan juga mulutnya. Rasa suka, hingga terpancing untuk menggesekkan hidungnya pada kulit itu.


Gerakan halus yang dia berikan nyatanya memberikan efek pada si pemilik kulit, hingga Elrick semakin mengeratkan pelukannya.


Raya terbuai, dan sangat ingin kembali tidur. Kalau bukan karena suara anak-anak yang bermain di halaman depan, Raya pasti mengira masih malam dan melanjutkan tidurnya dengan lelap. Bola matanya perlahan terbuka hingga sempurna. Menyadari sesuatu yang menahan perutnya. Ia mendongak untuk melihat seraut wajah tampan yang masih terpejam, memeluknya dengan sangat erat.


Ingatannya kembali dengan sempurna. Dia tidak akan berteriak saat menyadari kalau ada seseorang yang tidur di sampingnya seperti cerita sinetron. Raya menatap wajah suaminya dengan tatapan terpesona. Ingin sekali menyentuh hidung mancung milik Elrick, tapi dia gengsi.


Kembali terdengar teriakan heboh para bocah yang bermain dengan begitu gembira. Karena halaman depan rumahnya memang luas, anak-anak tetangga sangat suka bermain di sana.


Raya ingin bangkit, namun, sebuah beban menimpa perutnya hingga membuatnya susah untuk duduk. Perlahan dia menyingkirkan lengan berat itu, tapi seolah pria itu tidak rela, Elrick malah memperkuat pelukannya.


"Lepaskan, Mas. Aku mau bangun. Ini udah siang," ucapnya berusaha memindahkan kembali lengan suaminya tapi masih kalah kuat.


"Sebentar lagi, Ray. Aku masih ingin memelukmu," ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Gak. Lepaskan, Mas. Aku mau bantu masak," ucap Raya masih terus ngotot ingin beranjak.


"Ray, gimana ini, dia bangun," bisiknya menyapu telinga Raya dengan sensasi luar biasa. Raya kembali merasa bersalah, tapi dia belum siap, atau lebih tepatnya takut untuk mencoba.


"Lepas dong, Mas."


"Jadi ini gimana?"


"Gimana apanya?" tanya Raya menoleh hingga pandangan mereka bertemu. Raya tersipu. Sampai sekarang saja dia masih tidak bisa menahan perasaan malu-malu pada Elrick.


"Ini loh...," ucap Elrick menggesekkan ke paha mulus Raya.


"Ih, Mas Elrick mesum. Udah bangun, mandi, keliling kampung, nanti juga gak gitu lagi."


Raya sudah berhasil menyingkirkan tangan Elrick dan menapaki lantai. Raya mengulum senyum karena sudah berhasil lepas dari kungkungan pria itu. Dia menoleh sesaat lalu mendapati wajah murung Elrick. Ada kesedihan dan tampak terluka di sana karena penolakan Raya.


"Nanti malam," ucapnya pelan, tanpa menoleh lagi, Raya pergi dari kamar itu.


***


Elrick tidak pernah segembira ini, setiap kegiatan yang dia lakukan pasti tidak lupa melirik jam di pergelangan tangannya. Hatinya memuncah, gembira dan sangat menantikan sang matahari segera berlalu menghilang agar berganti malam.


Setiap pikiran kotornya berkembang, dia akan tersenyum. Tidak sabar ingin menyentuh kulit mulus Raya seperti yang selalu dia impikan. Dan yang paling penting, Raya sendiri yang menginginkan dirinya.

__ADS_1


"Orang akan mengatakan menantuku sudah menjadi gila, karena melihatmu senyum-senyum seperti ini," ujar Darma tanpa menoleh ke arah Elrick. Sejak tadi, dia melihat menantunya itu tersenyum tanpa alasan.


"Oh, maaf, Yah," sahutnya malu. Elrick seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta. Sejak mendengar janji Raya pagi tadi, di kepala Elrick hanya ada gadis itu.


Beruntung, sebagian keluarga Raya sudah pulang. Semua pamit ke rumah masing-masing, hingga buat Elrick merasa lebih tenang dalam berekspresi nantinya.


Makan malam tiba Raya menyiapkan makanan di meja makan. Sejak tiba di rumah, Raya sama sekali tidak mau melihat ke arahnya.


Elrick melahap setiap hidangan sederhana di meja itu. Satu pun makanan itu tidak ada yang menjadi seleranya, tapi karena itu masakan Raya dan memang rasanya sangat nikmat, Elrick sampai tambah dua kali.


"Apa malam ini kau butuh tenaga lebih?" goda Darma karena napsu makan menantunya tidak seperti hari-hari sebelumnya.


Uhuk... uhuuuk... Raya tersedak mendengar ucapan ayahnya. Wajahnya memerah tidak berani mengangkat wajahnya. Elrick yang bingung hanya mengerutkan kening.


"Kau makan sangat banyak malam ini. Tidak seperti biasa, makanya aku bertanya apa kau punya rencana kegiatan malam ini?" satu ulas senyum terbit di bibir Darma.


"Oh, bukan seperti itu. Tidak ada, Yah. Masakan Raya sangat enak."


***


Sehabis makan malam, ketiganya duduk sembari mengobrol di ruang keluarga sembari menyaksikan berita yang viral saat ini. Setengah jam menemani, Raya pun pamit masuk ke kamar.


Setengah jam berlalu. Pukul sembilan malam, Darma bangkit masuk ke kamarnya. Elrick hampir saja berdiri dan melompat saking gembiranya, tapi pupus! Mertuanya keluar dengan sarung dan juga senter.


"Ayah mau kemana?"


"Bukan ayah, tapi kita. Malam ini giliran keluarga kita ronda. Kita mau ke poskamling. Ayo, ambil sarungmu."


Wajah Elrick pias. Hatinya mencelos. Lelucon apa pula yang dihadirkan Darma malam ini padanya. Apa pria tua itu tidak tahu dia justru menunggu saat ini.


"Tapi, Yah..." putrimu sedang menungguku di kamar...


"Apa kau keberatan?"


"Tidak, Yah..."


"Apa malam ini ada yang ingin kau lakukan?"


"Ada, aku dan putrimu ingin bercocok tanam, agar bisa menghasilkan cucu yang tampan dan cantik untukmu. Tapi kau sudah mengacaukannya dengan mengajakku ngeronda!"

__ADS_1


Tentu saja itu hanya diucapkannya dalam hatinya. Penuh kesengsaraan, Elrick hanya menggeleng lemah.


"Baiklah kalau begitu, ambil sarungmu, dan kita pergi."


Elrick menyeret kakinya ke dalam kamar. Wajahnya cemberut dan terlihat sangat kesal. Rencananya pupus sudah. "Nyari apa, Mas?" tanya Raya yang melihat Elrick membuka lemarinya. Dia pikir pria itu akan segera mendatanginya untuk menagih janji. Sejujurnya, Raya sudah berdoa, pelepasan untuk segala dendam, sakit hatinya dan memilih untuk memaafkan Elrick, melupakan masa lalunya.


"Cari sarung," sahutnya datar.


Raya masih tidak mengerti untuk apa suaminya mencari sarung, namun tetap saja membantu pria itu menemukan yang dia cari.


"Ini..."


Elrick menarik, lalu berdiam sesaat di hadapan Raya, mengelus pipi gadis itu dengan wajah nelangsanya. "Aku dan Ayah mau ke pos ronda. Malam ini giliran kita. Kau tidur lah," ucapnya mengelus pipi istrinya yang gagal dia ajak bajak sawah.


***


Pos ronda itu dihuni enam orang pria malam itu. Empat diantaranya anak muda dibawah umurnya, lalu sisanya ada sebaya Darma.


Beberapa orang mengajak Elrick mengobrol, dan pria itu hanya menjawab singkat dan pendek, tanda malas untuk berbaur dengan mereka. Pikirannya sudah disita oleh wanita cantik yang saat ini menunggunya.


Satu jam berlalu, tiga orang berkeliling desa memeriksa keadaan. Elrick yang ikut bersama mereka sudah empat kali menguap.


"Gila! Gimana kalau anak buah gue melihat gue ronda sambil bawa senter dan kentongan seperti ini," umpat Elrick dalam hati.


Lima belas menit, mereka kembali ke pos. Elrick duduk di sudut pos memeluk tiang dengan kepala disandarkan. Darma tersenyum, puas menggoda menantunya.


"Elrick," panggil Darma.


"Iya, Yah," sahutnya malas tapi berusaha tetap sopan.


"Pulang lah. Istirahat di rumah."


*


*


*


Ahaaay... berduaan nih di rumah...kok eike yang cenat-cenut, ya?🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2