Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 73


__ADS_3

Raya masih berguling di tempat tidurnya entah itu untuk ke berapa kalinya. Dia tidak bisa tidur, bahkan untuk mencoba memejamkan mata saja dia tidak sanggup. Tentu saja dia tidak bisa terlelap, dan dipastikan itu akan berlangsung hingga pagi, karena dia baru saja dilamar!


"Menikahlah dengan ku, Ray..."


Hampir sepuluh menit Raya kehilangan kata-kata. Dia pikir itu pasti hanya cara Elrick menggodanya agar tidak canggung karena ciuman itu, tapi tatapan mata pria itu mengatakan kalau saat ini dia tidak sedang bercanda, ditambah lagi, Elrick menutup dengan mencium punggung tangannya.


"Mas Elrick... bercandaannya gak lucu."


"Aku serius. Menikahlah dengan ku," ulang Elrick meyakinkan Raya. Dia tidak ingin kehilangan gadis itu lagi, terlebih saat ini ada dua pria yang dia ketahui sedang mendekati Raya kembali, Dipa dan juga Dika.


"Tapi... bukannya mas Elrick kekasihnya mbak Meyra? aku gak mau dicap sebagai wanita perebut kekasih orang," ucap Raya menunduk. Sempat perasaannya melambung kala mendengar lamaran Elrick, dia tidak mau munafik, sejujurnya dia juga sudah menyukai Elrick. Entah mengapa saat bersama pria itu, Raya sekali merasa nyaman dan sangat tenang.


Kala beberapa hari mereka tidak bertemu, Raya akan sangat merindukan Elrick. Suatu hari Elrick pergi ke luar negeri, dan ketika pria itu menelpon Nani, Raya dengan jantung berdebar, mendengar suara Elrick, yang sedikit banyak sudah mengobati kerinduan hatinya.


Apa yang dirasakan pada Elrick saat ini, sangat berbeda saat bersama Dika. Ketika pertengkaran terjadi diantara Dipa dan Elrick, Raya justru sangat mengkhawatirkan Elrick.


"Aku tidak punya hubungan lagi dengan Meyra. Sebenarnya sejak awal kami memang tidak punya hubungan seperti yang ada dalam pikiran mu. Aku dan dia hanya terikat hubungan kontrak, yang saat aku butuh dirinya dia ada bersamaku, imbalannya dia mendapatkan apa pun yang dia inginkan termasuk nama belakang ku."


"Tapi..."


"Ray, aku tahu aku bukan pria yang baik, tapi setelah bertemu denganmu, aku ingin menjadi pria yang pantas untukmu. Menikahlah denganku."


"Dengar, Mas. Aku tidak ingin apa yang kau ucapkan malam ini padaku, akan kau sesali esok hari," sambar Raya membuka alam sadar Elrick. "Aku seorang janda, miskin dan hanya gadis desa, tidak pantas untuk mas nikahi."


Terlihat raut kecewa di wajah Elrick. Dia sudah menyiapkan mentalnya. Dia pikir Raya akan gembira mendengar lamarannya, nyatanya yang dia terima justru kebimbangan dari gadis itu.

__ADS_1


"Aku tidak memandang status atau masa lalu mu. Aku menginginkanmu karena apa adanya dalam dirimu, jadi aku mohon, jangan mengatakan hal itu. Kau sempurna dengan apa yang ada pada dirimu."


Elrick memberikan waktu pada Raya untuk berpikir. Dia tidak akan mendesak gadis itu untuk segera menerima lamarannya. Biarlah Raya mengambil waktu yang dia butuhkan, sebanyak apa pun itu, karena yang terpenting, kini Elrick yakin kalau Raya menyukainya.


***


Dua kali sering ponsel Raya bergema, gadis itu hanya melihat sekilas lalu membiarkannya begitu saja. Nomor yang tidak dikenal memang sangat sering iseng menghubunginya karena di nota laundry, tertera nomor pribadinya yang belum sempat dia ganti.


Raya melirik kembali layar ponselnya yang kini kembali berdering. Penuh kesal dia menggeser tombol merah, dan ingin segera memblokir nomor itu, tapi urung karena tidak tahu caranya.


"Kenapa gak diangkat, Mbak? dari tadi hape mbak bunyi terus," ucap Nana yang sedang memasukkan bedcover pada packing.


"Malas. Tadi pagi udah tiga nomor ngerjain. Aku pikir mau minta jemput kain, ternyata malah minta kenalan. Ini juga pasti sama nih, mau ngerjain aja," jawab Raya menunjuk layar ponselnya dengan ujung hidungnya. "Sudah selesai, tinggal diantar."


"Tentu aja boleh dong, Na. Aku malah senang kalau kalian bisa bersenang-senang, bergembira," ucap Raya tersenyum.


"Mbak, mau ke rumah Oma malam ini?"


Raya menggeleng lemah. Nani sedang berada di Surabaya, menghadiri acara nikahan anak sepupu Nani bersama Dipa dan juga Elrick. Oma sebenarnya mengajaknya, tapi dengan lembut ditolak Raya. Bukan tidak ingin ikut, atau tidak ingin menghargai Oma, tapi jantungnya belum siap untuk bertemu dengan Elrick.


Sudah beberapa hari berlalu sejak lamaran dadakan yang dilakukan Elrick, dan hingga saat ini mereka belum bertemu, karena menurut kabar dari Oma, saat ini Elrick sedang disibukkan dengan proyek besar, jadi jarang ke rumah Oma, alhasil mereka jarang bertemu. Tapi ada baiknya bagi Raya, dia masih bisa bernapas lega untuk beberapa saat. Tapi kini dia menyesali karena menolak ajakan Nani, alasannya cuma satu, dia rindu pada Elrick.


"Oma lagi di luar kota. Kalian pergi saja. Aku di rumah aja nonton film atau drama Korea selepas menutup laundry."


"Ini malam Minggu, Mbak. Mungkin kami agak lama, boleh gak Mbak? kalau Mbak gak ngizinin, kita juga gak papa kalau gak pergi. Bisa bertiga nonton drakor sama-sama."

__ADS_1


Tentu saja Raya menolak gagasan Nana. Memaksa kedua gadis itu pergi menikmati waktu mereka. Tepat saat itu kembali ponselnya berdering. "Udah, Mbak. Kalau ganggu, blokir aja," saran Nana.


"Caranya blokirnya?" Raya memang tidak tahu hal sekecil itu, karena memang tidak pernah mengutak-atik ponselnya. Dengan senang hati Nana memblokir nomor itu.


***


Raya menikmati waktunya. Sudah satu jam lebih berlalu, sejak Nana dan Ranti pergi. Saat berangkat, langit masih cerah tapi kini di luar sana hujan turun dengan derasnya.


"Aku mohon ya Allah, listriknya jangan padam," ucapnya khawatir listrik akan segera padam karena hujan yang sangat deras. Hal seperti itu sudah dipastikan sellau terjadi di komplek mereka jika hujan turun dengan derasnya.


Lamunan Raya tersentak karena bunyi sekaligus getaran dari ponselnya yang dia letakkan di atas meja. Raya yang sudah meringkuk di sofa, dengan malas menurunkan kakinya untuk bisa mengambil ponsel di atas meja.


Masih sama, nomor baru yang menghubungi nya. Dia mendengus kesal, lalu menolak panggilan itu. Tepat setelahnya, harapan yang sudah dia mohon justru kebalikannya yang terjadi, listrik padam.


Jantungnya seakan berhenti berdetak. Tubuhnya gemetar. Dia benci mati lampu, dia benci kegelapan, karena membawa traumanya kembali. Malam itu dia hanya ingat, ruang kamar yang gelap dan seorang pria yang sudah merenggut kehormatannya. Saat bangun di kamar hotel saat itu pun, suasana kamar masih sangat gelap. Dia menangis dengan jeritan yang menyayat hati.


"Kenapa lampunya padam? Bagaimana ini?" desisnya panik. Tepat setelah itu di pintu depan terdengar beberapa kali dentuman keras yang dia tebak dipukul oleh tangan yang kekar. Tapi siapa hujan lebat begini datang ke laundry? Tidak mungkin customer yang mau mengambil kainnya, kan?


*


*


*


Lanjut yuk...

__ADS_1


__ADS_2