Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 58


__ADS_3

Suasana malam itu terasa mencekam. Dipa yang belum tenang, menghempaskan diri di sofa tepat di hadapan Oma yang masih mengatur laju nafasnya.


"Kau sebenarnya kenapa? apa yang membuatmu tiba-tiba menggila? Tahukah kau ucapanmu sudah sangat menyakiti hati Elrick?" tanya Oma setelah berhasil menguasai diri. Jantungnya sudah mulai berdetak dengan stabil, hanya tinggal deru napasnya saja yang terdengar masih tersengal-sengal sesekali.


"Oma masih membelanya? Anak pembunuh itu tidak pantas untuk Oma bela! Oma, sekalipun ayahnya adalah anak kesayangan Oma, tapi ibuku juga putri Oma, yang Oma lahirkan!"


"Oma tidak pernah membeda-bedakan anak-anak Oma, begitupun kalian berdua. Bagi Oma, kalian berdua sama di hati Oma! Katakan pada Oma, dari mana kau punya pikiran jahat seperti itu? Kau tahu betul kalau Elrick sangat terluka setiap diungkit masalah orang tuanya, terlebih ibunya!" ujar Oma geram. Dipa sudah keterlaluan kali ini.


Entah dari manapun dia mendapat pikiran semacam itu, tapi tidak beretika dia membahas di depan banyak orang. Oma bisa melihat tadi, wajah malu bercampur amarah dari Elrick, kala Raya yang terkejut mendengar ucapan Dipa mengangkat wajah menatapnya dan itu buat Elrick semakin marah.


"Selama ini aku menyuruh detektif untuk menyelidiki kecelakaan yang terjadi pada orang tuaku," ucapnya datar. Menerawang jauh, pada kenangan indah orang tuanya.


Sehari sebelum terjadi kecelakaan itu, orang tuanya masih menghubunginya, melakukan panggilan video call padanya malam itu. Memamerkan kemesraan kedua orang tuanya seperti layaknya pasangan yang sedang berbulan madu.


"Kau mau mama bawakan apa dari Prancis?" tanya Intan sesaat sebelum memutus panggilan video itu.


"Aku tidak ingin apa pun, asal mama dan Papa cepat pulang, itu sudah cukup bagiku," sahut Dipa muda saat itu. Keluarga mereka sangat bahagia, dan karena keinginan Nani jugalah, meminta anak-anaknya tinggal di rumah itu juga walau sudah berumah tangga.


"Baiklah, anak baik. Mama dan papa akan segera pulang, setelah urusan kerja papa selesai di sini. Jangan nakal, dan nurut pada Oma, Om dan Tante mu. Juga... ingat Dipa... jangan bertengkar dengan Elrick..." ucap Intan tersenyum.


"Mama itu mamaku atau bukan sih? kayaknya mama lebih sayang sama dia dari pada aku!" rungut Dipa merujuk Elrick yang memang sangat dekat pada Intan.


Kadang Dipa begitu cemburu karena merasa ibunya lebih menyayangi Elrick. Berawal dari situ membuat keduanya tidak akur.

__ADS_1


Lalu berita itu datang. Dipa bahkan dua kali pingsan setelah mengetahuinya. Kecelakaan fatal telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Saat itu Dipa duduk di bangku kelas tiga SMP. Terpukul dan juga merasa dunianya berubah gelap. Hanya ada Oma yang menyayanginya, memperhatikannya, karena orang tua Elrick sama sekali tidak peduli padanya.


Sejak itu, Dipa jadi anak murung. Menghabiskan waktu dengan kesendirian dan juga kepedihan. Kenangan kedua orang tuanya tidak bisa lepas dari pelupuk matanya.


Silvira- ibu Elrick, selalu menganggapnya sebagai benalu. Sekalipun tidak pernah menyukai keberadaan dirinya di rumah itu, hingga Dipa memutuskan untuk pindah ke apartemen saja.


Walau berat, Nani akhirnya mengerti dan mengizinkan Dipa pindah ke apartemen milik orang tuanya.


Bertahan dengan memendam rasa sedih dan juga ketidak-ikhlasan atas kepergian orang tuanya, maka Dipa diam-diam meminta Intel untuk menyelidikinya kecelakaan itu.


Ternyata instingnya benar. Beberapa bukti yang sudah dikumpulkan oleh orang suruhannya.


"Bagiamana kau bisa yakin kalau penyelidikan mereka benar? Dipa, Oma tahu kesedihanmu kehilangan kedua orang tuanya, tapi Oma mohon jangan sampai ketidak-ikhlasan yang kau rasakan hingga saat ini membuatmu mencari orang yang kau buat jadi tempat pemuas amarahmu." Nani menatap cucunya dalam. Memahami kesedihan Dipa, tapi juga dia harus bersikap adil pada Elrick.


"Tapi apa alasan mereka mencelakai Intan dan Rama? apa untungnya bagi mereka?" Oma mengangkat wajahnya, menatap lekat pada Dipa. Dia juga ingin tahu apa hasil penyelidikan cucunya itu.


"Oma ingat masalah Mega proyek dengan perusahaan di Lyon, Prancis? yang harusnya Om Tomo kasih pada Gali?"


Oma segera mengangguk. Walau umurnya sudah tua, tapi ingatannya masih kuat, terlebih mengenai petaka yang terjadi pada keluarganya. Kejadian itu membuat keluarganya hancur. Dia tidak hanya kehilangan putri dan mantunya, juga anak kesayangannya.


"Dia cemburu karena Om Tomo menyerahkan proyek itu pada papa, bukan pada Gali. Pria itu tersinggung, hingga berencana menyingkirkan papa dan juga mama. Agar merekalah yang bisa menguasai perusahaan dan juga harta Diraja!"


Oma menutup mulutnya. Tercengang, mendengar penuturan Dipa yang masuk akal. Tergesa-gesa Dipa berlari ke luar, mengambil sesuatu di mobilnya lalu menyerahkan pada Nani untuk dia lihat. Semua berkas dan juga keterangan mengenai jejak kedua manusia yang telah berhasil menghancurkan keluarganya. Mulai kembali menangis lagi, memanggil nama putrinya sayup-sayup terdengar lirih.

__ADS_1


Satu persatu berkas itu dia perhatikan. Raya tidak enak hati, namun juga tidak bisa mengalihkan pandangannya, jadi ikut mencuri lihat. "Oma, apa aku lebih baik pergi ke dapur, Oma, agar kalian bisa leluasa berbicara," ucap Raya yang merasa semakin tidak enak hati.


"Tidak mengapa, kau di sini aja. Oma sangat membutuhkan mu saat ini."


Raya menurut. Menemani wanita itu melihat semua berkas yang pada sebagian sudah mulai lusuh.


Oma meletakkan berkas itu ke atas meja, menutup wajahnya yang sudah mulai terisak. Raya hanya bisa memeluk pundaknya untuk menenangkan hati Oma.


Semua tampak pelik bagi Raya. Dia kasihan pada Dipa, tapi dia juga tidak bisa menutup hati untuk tidak memikirkan Elrick saat ini yang juga pasti terluka.


Sedikit banyak benang merah sudah bisa dia gulung. Dia paham akan konflik internal yang terjadi. Ini lah alasan Elrick dan Dipa saling membenci. Rasa benci di hati Dipa bertumbuh dari rasa curiganya pada ibu Elrick.


Seandainya bisa menjangkau, Raya ingin sekali mendatangi Elrick saat ini. Melihat keadaan pria itu. Tapi kemudian dia menghela napas panjang, mengingat Meyra ada di sisi Elrick, setidaknya bisa menghibur pria itu.


"Lantas apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Nani setelah bisa menguasai diri.


"Aku akan mencari mereka sampai ketemu, dan akan membuat perhitungan hingga kedua manusia lak*nat itu menyesal sudah pernah hadir di dunia ini!"


"Oma, aku ke dapur sebentar. Mengambil minum untuk Oma dan Dipa," ucap Raya beranjak.


"Ray..." Dipa menghentikan langkah Raya. Memegang tangan gadis itu erat. "Maafkan aku, karena sudah membuatmu takut. Aku seharusnya bisa menahan diri."


Raya hanya membalas dengan senyuman. "Aku paham, akan situasinya, Dip. Aku turut bersedih atas apa yang terjadi."

__ADS_1


__ADS_2