
Hati Darma sudah membatu. Dia tidak ingin mendengar apa pun penjelasan Elrick. Cukup kepercayaannya pada pria itu diinjak-injak bak kotoran.
Dalam kamarnya, Raya sudah menangis tersedu-sedu, karena harus menyaksikan perkelahian antara dua orang pria yang sangat dia sayangi.
Elrick bersikeras untuk tidak mau pergi, sementara kesabaran Darma sudah habis dan terpaksa melayangkan tinjunya pada Elrick.
Pria itu tetap bertahan, berdiri tegak tanpa mundur selangkah pun. Darma semakin kesal, sikap Elrick dianggap sebagai sikap menantang hingga kembali Darma memberikan satu pukulan lagi di pelipis pria itu.
"Sudah, Ayah. Jangan pukul lagi, kasihan mas Elrick," ucap Raya berlari menghalangi ayahnya. Berdiri diantar kedua pria itu.
Cuih....!
Darma meludah, menatap benci dan jijik. Menarik Raya masuk dengan paksa. Elrick tidak bisa berbuat apa-apa. Dia akan terima pukulan Darma sebagai ungkapan amarah pria itu padanya. Elrick anggap ini balasan untuk perbuatannya yang tidak terpuji kemarin.
"Ayah, lepaskan aku. Biarkan aku mengobati luka mas Elrick, yah," ucap Raya meronta-ronta, tapi Darma dengan sekuat tenaga memegangi Raya dan menarik ke dalam rumah.
"Mas Elrick...."
"Masuk lah, Ray. Aku gak papa. Besok, lusa, dan setiap hari aku akan datang, Om. Aku titipkan Raya pada Om, sampai om merasa aku pantas untuk nya," ucap Elrick setengah berteriak karena pintu rumah sudah ditutup.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Pak Kades dan beberapa warga yang sejak tadi menonton atraksi baku hantam itu mulai mendekati Elrick. Kegaduhan karena pekikan Darma buat beberapa orang keluar dari dalam rumah, dan yang kebetulan lewat di depan rumah itu, berhenti menyaksikan pemukulan itu.
"Saya baik-baik saja, Pak," sahut Pak Kades yang mengenali siapa Elrick. Pria tua itu sudah beberapa kali bertemu dengan Elrick, mulai saat pembelian rumah pak Sutioso serta saat pengurusan pembangunan hotel dan tempat wisata di desa itu.
"Dia memang gila itu Mas. Kenapa gak dilawan saja tadi?" ucap Markonah sok kompak. Dari cicitan orang-orang yang berkerumun tadi, dia mendapat info kalau orang yang selama ini menjadi perbincangan di desa, tentang kedatangan seorang pria kaya raya yang mau membangun desa ternyata adalah orang yang saat ini dihajar oleh Darma. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat perhatian dari Elrick.
"Siapa yang gila? Anda hati-hati kalau bicara. Dia calon mertua saya," ucapnya tegas.
"Mmm... maaf, tuan Diraja, sebaiknya saya antar pulang. Kita bicarakan di rumah tuan saja," kata pak Kades yang mencoba mengambil hati Elrick.
__ADS_1
Semua orang yang berdiri di depan rumah Darma bubar. Pria itu duduk di ruang tamu, sembari memanjangkan telinganya menyimak pembicaraan orang-orang di luar sana.
"Pokoknya, ayah gak setuju kau berhubungan lagi dengan pria itu!" Tegas Darma sebelum masuk ke kamarnya.
***
Paginya Darma yang biasanya sudah bersiap untuk pergi ke sawah, justru santai duduk di depan televisi, menikmati kopi dan juga menonton berita.
"Ayah gak ke sawah?"
"Gak. Ayah mau di rumah saja hari ini. Mulai besok, kau ikut ayah ke kebun. Pulang dan pergi bersama ayah!"
Raya tidak menjawab. Dia jelas tahu apa tujuan ayahnya. Ia kembali masuk ke dalam kamar, memikirkan keadaan Elrick yang kemarin malam dipukul ayahnya. Dia hanya bisa berdoa semoga Elrick baik-baik saja.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Darma sudah pulang dari pasar saat Raya baru selesai mandi. "Ayah belanja?"
"Iya. Mulai sekarang, ayah yang akan pergi ke pasar, jadi kau tidak perlu ke luar rumah. Sekarang kita ke sawah," ucap Darma menyerahkan kantong plastik berisi sayur, ikan dan segala bumbu dapur.
"Kau duduk saja di sini, biar ayah yang turun ke kebun," ucap Darma setelah mereka tiba di kebun sawit miliknya. Raya diminta duduk manis di rumah kecil yang biasa dipakai Darma untuk beristirahat ataupun berteduh di kala hujan turun.
"Aku bisa bantu ayah mengambil biji sawit yang jatuh di sekitar pohonnya itu," ucap Raya menunjuk ke arah perkebunan sawit mereka.
"Gak usah, biar ayah saja. Kalau nanti kau ketemu celeng, bagaimana? udah, ayah minta kau di sini saja. Buatkan kopi untuk ayah," ucap Darma berlaku pergizi membawa keranjang yang punya tali di kedua sisi seperti tas hingga bisa digendongnya.
Asyik dengan lamunannya, Raya baru tersentak kaget kala seseorang mencium puncak kepalanya.
"Aaaach...." pekiknya menoleh ke belakang. "Mas Elrick?" Matanya berbinar, begitu gembira. Dia pikir setelah perkelahian semalaman, Elrick tidak akan muncul lagi dalam waktu dekat ini.
"Kaget, ya?"
__ADS_1
"Mas kok bisa di sini? Kok tahu kami lagi ada di kebun?" Awalnya Raya bertanya penuh semangat, tapi kemudian, berubah biasa. Untuk apa dia tanya hal itu, tentu saja pria itu tahu semuanya. Apa yang pria itu tidak tahu? Anak buahnya pasti sudah ada di tempatkan di beberapa sisi.
"Kok jadi gak semangat?"
"Gak jadi nanya. Mas pasti udah tahu semua tentang keluargaku."
Elrick menjatuhkan dirinya di samping Raya. Mengendus wangi vanila dari tubuh gadis itu. "Aku kangen banget sama mu, Ray," bisiknya dengan mata berkilat.
"Mas mau cium? awas loh ada ayah. Nanti mas dipukul lagi. Masih sakit?" Raya mengelus pelipis Elrick yang masih merah dan tampak memar.
"Gak sakit. Pukulan ayahmu gak seberapa," godanya tersenyum simpul.
"Ck... Nga bosan-bosannya ngejek ayahku. Katanya mau serius sama anaknya, masa calon mertua dikatai?"
"Siapa yang ngatain. Aku hormat kok. Kalau gak, udah lama anak gadisnya ini aku bawa lagi. Ray... " Elrick menghadap ke depan Raya. Membelai wajah cantik gadis itu, lalu mengecup pipinya. "Aku sudah tidak sabar lagi ingin mempersunting mu."
Raya tertunduk malu. Jantungnya kembali kumat, berdetak lebih cepat. "Oma ingin bertemu dengan mu sebelum mereka kembali ke Jakarta," ucap Elrick meremas tangan Raya lalu mencium punggung tangan gadis itu.
"Oma? di sini?" Elrick mengangguk.
"Mereka? sama siapa?"
"Siapa lagi, pria yang ingin menggantikan posisiku di pelaminan. Untung saja kalian tidak jadi menikah, kalau sampai terjadi, aku akan bakal kalian berdua. Ray, aku serius, aku belum pernah mencintai seseorang sebesar ini. Aku tidak pernah takut apapun di dunia ini, sampai aku bertemu dengan. Aku takut tidak bisa melihat mu lagi, aku takut kau akan menangis karena ku, aku takut ada orang yang menjahatimu. Aku takut kehilanganmu, Ray." Sorot mata Elrick begitu tajam, mengunci pandangan Raya. Dan bisa dia lihat ketulusan dari ucapannya.
"Terima kasih karena sudah mencintaiku. Terima kasih karena sudah begitu besar menyayangiku," ucapnya berurai air mata.
"Dasar bodoh, kenapa kau menangis?" Elrick menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya. Begitu tenang. Dia tidak takut jika nanti Darma tiba-tiba muncul.
"Mas Elrick, kenapa bisa suka sama ku? sejak kapan mulai menyukai? Mas benar-benar suka, kan? bukan karena merasa kasihan sama ku?" ucap Raya memainkan telunjuknya di dada pria itu. Menggambar bentuk hati di sana. Elrick harus bersusah payah berkonsentrasi antara menjawab pertanyaan Raya dengan menidurkan kembali miliknya yang sudah mulai terusik oleh sentuhan Raya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, karena itu dirimu. Jadi jangan pernah ragukan cintaku."