
Raya baru saja membuka pintu laundry pagi itu, dan terkejut melihat Dika yang berdiri di sana. Sudah sekian lama berpisah, ini kali pertama Dika datang menjijikkan kaki di tempatnya.
"Mas Dika..."
"Ray, maaf kalau pagi-pagi begini aku sudah datang ke sini. Kau pasti terkejut ya?" ucap Dika yang melempar senyum terbaiknya.
Raya mengamati penampilan Dika. Wajah pun terlihat kusut dan tubuhnya semakin kurus. Dia ingin bertanya apa semua baik-baik saja dengan Lani, tapi rasanya tidak pantas karena itu bukan urusannya. Wajahnya tidak setampan yang dulu dia kenal. Kini Dika tampak tidak terurus.
"Mas Dika ngapain ke sini? Udah lama nungguin laundry dibuka?"
"Lumayanlah... Ray, boleh aku minta waktu mu. Aku butuh teman untuk bicara," ucapnya memelas.
Lagi-lagi Raya tidak bisa menolak. Wajah Dika begitu sedih, penuh dengan raut kekecewaan dan juga tampak tidak berdaya. "Masuk, Mas..."
Ranti membantu membawakan minuman untuk Dika, saat mengetahui ada tamu. "Makasih, Ran," ucap Raya tersenyum.
Dika hanya mengamati gelas kaca berisi minuman yang masih mengepul. Dia merasa malu harus bercerita pada Raya, tapi dia juga hampir gila karena memikirkan hal ini seorang diri.
"Mas, semua baik-baik saja, kan? Kenapa wajah Mas terlihat sedih, apa ada masalah serius?" Raya memulai pembicaraan, karena terasa aneh juga mereka saling berhadapan tapi masih saling diam.
"Ray, aku dan Lani sudah berpisah, kami bercerai." Nada suara yang terdengar di telinga Raya bukan kesedihan, tapi penyesalan dan juga rasa malu yang Dika tunjukkan pada Raya.
Sementara Raya menatap iba. Dia mungkin sudah menduga kalau cepat atau lambat dalam pernikahan mereka akan ada masalah, mengingat sikap dan juga perilaku Lani yang tidak ingin repot mengurus pekerjaan rumah tangga dan sangat keras kepala. Tapi Raya tidak menduga akan secepat ini juga.
"Apa tidak bisa diperbaiki, Mas? Kenapa harus bercerai? Bukankah bersama Lani juga adalah pilihan, Mas?"
Raya tahu mungkin dia terlalu lancang mengatakan hal itu, seolah dia ingin mengatakan kalau apa yang terjadi saat ini konsekuensi karena telah memilih Lani.
__ADS_1
"Iya, Mas tahu. Justru itu, penyesalan selalu datang terlambat. Aku sangat menyesal telah mengikuti bira*hiku hingga melepaskan bidadari surga seperti mu. Raya, tidak bisakah kita kembali bersama lagi? Aku hancur tanpamu." Dika serta-merta menggenggam tangan Raya yang ada di atas paha wanita itu.
Raya terkejut, buru-buru menarik tangannya kembali. Dia tidak ingin sikap sopan nya yang menerima kehadiran Dika saat ini, dianggap pria itu bentuk dirinya masih mempunyai rasa pada Dika. Tidak sama sekali.
"Mas, jangan begitu. Aku gak mau hubungan baik kita, menjadi memburuk kalau Mas masih punya pikiran seperti itu. Aku sudah memilih untuk bercerai, jadi kita tidak akan mungkin kembali bersama lagi. Mas hanya sedang frustrasi saat ini. Aku mohon, perbanyak zikir dan sholat, Mas," terang Raya dengan mimik wajah serius. Dia tidak ingin dianggap wanita tidak berprinsip, bercerai dan rujuk kembali. Raya jelas tidak mau.
"Hah... Mungkin kau benar, Ray. Maafkan, Mas, ya. Hanya kau yang aku punya saat ini. Satu-satunya orang yang aku percaya dan nyaman untuk aku ajak cerita."
Dika diam sesaat, berpikir sesuatu yang ingin dia katakan pada Raya. "Sebelum aku bercerai dengan Lani, ibu sudah kembali ke desa..."
"Bukankah ibu sedang dalam masa penyembuhan? Lagi menjalani pengobatan rutin kan, Mas? Kenapa ibu kembali ke kampung?"
Kepedulian Raya tentu saja dianggap berkah untuk Dika. Mungkin saat ini gadis itu tidak ingin menunjukkan perasaannya, karena mereka masih belum lama bercerai, tapi nanti setelah beberapa waktu berlalu, luka di hati Raya akan terobati dan di saat itu lah Dika akan coba masuk lagi.
"Justru itu penyesalanku sebagai anak. Ibu meminta aku bercerai dengan Lani, karena saat itu aku belum berpisah dengan Lani, ibu memilih pulang ke desa. Tapi selama di desa, penyakit ibu semakin parah, dan dia harus segera dioperasi, Ray. Ada bongkahan di kepalanya, yang disebut dokter sebagai tumor."
Pijar bola mata Dika berkilau, Raya bisa melihat jelas kesedihan di wajah pria itu. Raya sendiri tidak menyangka keadaan mantan mertuanya akan separah itu.
"Karena itu lah, Ray. Aku butuh banget uang. Sudah tiga hari ini aku hubungi para langgananku, tapi tidak ada yang saat ini butuh jasaku. Aku bingung Ray, harus apa. Padahal, ibu sudah datang dan tinggal kembali di sini, bersamaku."
Raya ikut sedih. Dia tidak bisa menutup hatinya. Tidak bisa membohongi diri, walau Dika sudah menghancurkan rumah tangga mereka, tapi dia bukan pria yang jahat pada Raya. Terlepas atas perselingkuhan itu. Dika adalah orang yang berjasa, menyelamatkan hingga tidak menjadi gila.
Disaat orang-orang kampung meminta ayahnya untuk membawanya ke rumah sakit jiwa, justru Dika yang mendekat dan memberi perhatian padanya, mengingatkan kalau dia masih punya kesempatan untuk menata hidupnya.
Jadi, bagaimana mungkin dia bisa menutup mata atas masalah yang dihadapi Dika?
"Aku masih punya tabungan, Mas. Pakai saja dulu. Nanti aku akan coba tanya beberapa pelangganku, barangkali ada yang butuh pemasangan kitchen set atau pun memerlukan furniture," ucap Raya bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Iya makasih, Ray. Simpan saja uangmu. Tapi kalau untuk menanyakan pelangganmu, aku terima. Siapa tahu kau memang membawa rezeki untukku," jawab Dika menghapus sudut matanya yang menetes buliran bening.
***
"Siapa katamu?" tanya Elrick melalui sambungan telepon.
"Seorang pria bos. Mereka keluar dari dalam rumah, dan Mbak Raya mengantar hingga ke mobil pria itu," terang Dono yang ditugaskan mengamati siapa saja orang yang mencurigakan berada di dekat Raya.
Sejak terjadi penculik kedua kalinya itu, Elrick tidak mau kecolongan lagi. Keselamatan Raya di atas segalanya, hingga menempatkan Dono di depan laundry Raya.
Elrick dengan ragu, mengirimkan foto seorang pria yang mungkin bisa dengan leluasa berbicara pada Raya. Tidak mungkin Dipa karena Dono mengenal Dipa.
"Iya, benar bos. Ini orangnya," ucap Dono setelah melihat gambar yang dikirim bosnya.
Penuh kesal, Elrick memutus panggilan dan melempar dengan kasar ponselnya ke atas meja. "Dasar gadis bodoh, untuk apa lagi dia berhubungan dengan mantan suaminya itu. Apa tidak cukup dia diselingkuhi?!" umpatnya kesal. Moodnya jadi hilang. Dia ingin sekali mendatangi Raya, dan mengguncangkan tubuh gadis itu agar dia sadar kalau sudah melakukan hal salah.
Pukul empat sore, Elrick sudah datang ke laundry, dengan membawa bedcover yang dia bawa dari apartemen.
"Mas Elrick... ngapain ke sini? Kain Oma gak ada, udah diantar kemarin," sambut Raya semringah.
"Siapa yang mau ngambil kain Oma. Nih, cuci yang bersih," ucapnya menyerahkan bedcover hitamnya pada Raya dengan kasar, bentuk kekesalannya pada gadis itu karena sudah berhubungan lagi dengan Dika.
Raya mencium bedcover itu, wangi, bahkan sangat wangi dan dia mengenali itu parfum laundry. Bahkan kalau diperhatikan, bedcover itu masih terlipat, Raya tahu itu belum dipakai sama sekali.
"Bukannya ini masih bersih? Mana wangi lagi."
"Udah kotor. Gue pake semalam buat menyelimuti anak kucing!"
__ADS_1
"Memangnya mas Elrick punya kucing? bukannya alergi sama bulu kucing?" tanya Raya yang ingat suatu hari, Elrick teriak-teriak marah bercampur jijik saat Dipa membawa kucing anggora nya ke rumah Oma.
"Bisa gak, Lo gak usah banyak tanya?! Buruan, Oma manggil lo, minta lo ke rumah. Dan jangan banyak tanya!" lanjutnya saat melihat Raya akan buka mulut lagi.