Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 47


__ADS_3

Hari-hari Sidney belakangan ini sangat sibuk. Setelah proposal pengajuan magang disetujui, Sidney masih bagus mengerjakan outline guna bisa ikut seminar nantinya.


"Jaga kesehatan, jangan sampai drop," ucap Ryu lewat telepon. Pria itu juga saat ini disibukkan pengembangan proyeknya yang ingin buka cabang.


Seminggu setelah kembali dari Jakarta, Ryu tidak pernah menanyakan perihal apapun padanya hingga malam ini saat pria itu mengantarnya pulang.


"Sid, sebenarnya kamu sayang gak sih sama aku?" Ryu tersenyum saat melempar pertanyaan itu. Dia tetap fokus melihat ke arah jalan, dengan tangan menggenggam setir.


"Kok Mas nanya begitu? Ya sayang lah."


"Apa salah satu dari anak keluarga Diraja pernah memiliki hubungan denganmu?" tanyanya masih dengan tenang.


Satu hal yang Sidney kagumi dari pria itu, dia tidak pernah menampakkan kepanikan, selalu tenang, meski ada yang mengganggu pikirannya.


"Kami sudah seperti saudara, Mas."


Mobil tiba di depan gang kosan Sidney. Dia harus turun di sini karena mobil tidak bisa lewat dari gang kecil menuju kos-kosannya.


"Maaf, Mas. Aku sudah berbohong. Aku pernah menjalin hubungan dengan Paris, anak tertua di keluarga itu." Sidney tertunduk, malu karena sempat berpikir untuk membohongi Ryu.


"Aku sudah tahu, karena aku mendapat ancaman darinya."


"Hah? Ancaman?"


"Lebih tepatnya peringatan. Setibanya kamu di sini, hari itu juga seseorang datang menemuiku di kantor. Aku langsung mengenalinya sebagai anggota keluarga Diraja, karena saat aku mengantarmu, dia ada di sana."


"Lantas?" Sidney tidak dapat diam lagi, menyembunyikan rasa penasarannya. Apa yang sebenarnya sudah dikatakan Paris padanya? Apa yang dipikirkan pria itu hingga memutuskan untuk mendatangi Ryu ke Bandung? Apa karena itu dia tidak tampak saat Sidney pamit?


Semua rangkaian pertanyaan itu datang silih berganti di kepalanya.


"Dia memintaku untuk menjagamu, memperlakukanmu dengan baik, dan selalu memberikan apa yang kamu minta. Dia juga mengancam akan menghajarku kalau aku sampai membuatmu menderita dan menangis."


Sidney diam. Hatinya menghangat hingga ke relung jiwanya. Berbunga di hatinya karena Paris begitu memikirkannya, masih menyayangi. "Dasar Paris bego! Kenapa justru menyerahkan ku pada Ryu!" batinnya.

__ADS_1


Ingin nangis, tapi dia sendiri bingung kenapa harus menangis, bukannya harusnya dia senang? Berarti Paris melepaskannya dan merestui hubungan Sidney dengan Ryu. Tapi ya kok terasa sesak?


"Hei, kok kamu jadi bengong? Ini berita baik atau gak , Paris merestui kita?" Tanya Ryu lembut. Kalau ada kuesioner pria yang paling baik di dunia, selain om Elrick dan om Dipanya, pasti Sidney akan memilih Ryu.


"Apa mas gak marah karena hal ini? Setelah seminggu kembali, mas kenapa baru tanya sekarang?"


"Sid, di Jepang, ada seorang pria yang mencintai seorang wanita sejak lama. Demi mendapatkan cinta wanita itu, si pria rela menjadi kekasih bayangan, menunggu hingga wanita itu menoleh. Suatu hari, akhirnya wanita itu mau menerima pria itu, mereka menikah. Itu adalah momen yang paling membahagiakan untuk pria tersebut, tapi yang tidak dia ketahui, wanita itu tidak pernah merasa bahagia dalam rumah tangganya, walaupun mereka telah memiliki anak. Dalam hatinya, si wanita masih menyimpan perasaan yang mendalam pada sang mantan."


Ryu terdiam sesaat, menarik napas dalam seolah kisah yang dia ceritakan ini begitu dekat dengan kehidupannya.


"Aku gak mau setelah kita menikah, kamu gak bahagia seperti ibuku. Aku gak mau kau menerimaku hanya karena kasihan atau tidak enak hati, atau bahkan hanya alat untuk melupakan dia yang sebenarnya ada dalam hatimu. Jangan seperti ibuku, yang takut menggapai mimpinya, menggapai cintanya."


"Cukup, Mas. Kamu udah terlalu banyak ngomong!" seru Sidney memeluk Ryu. Pria baik yang selalu ada di setiap kesedihannya.


"Jangan menangis lagi. Aku akan memberimu waktu untuk memantapkan hatimu. Jika memang kamu masih mencintai Paris, maka beranilah, Sid. Perjuangkan cintamu. Aku akan selalu mendukungmu."


Sidney tidak menjawab, dia hanya terus menangis hingga lelah. Pendingin di dalam mobil itu tidak juga mampu mendinginkan perasaannya. Ada rasa bersalah pada Ryu, tapi sejujurnya ada kelegaan di hatinya.


Hujan mengguyur kota Bandung malam ini, menyirami hati yang selama ini kering karena kesedihan yang juga perasaan sakit.


Selama ini dia tidak pernah membuka jati dirinya pada siapa pun yang dia kenal di kota Bandung, terlebih pada Ryu. Awalnya dia ingin hidup menjadi Sidney yang baru, yang tidak punya siapa-siapa.


"Lalu bagaimana dengan perasaanmu?"


"Tidak penting. Pria setampan aku pasti banyak yang mau. Atau aku akan menunggu jandamu," goda Ryu yang membuat Sidney tertawa sembari mengatakan 'amit-amit'. Keduanya tertawa lepas, walau mungkin arti tawa mereka berbeda.


Sidney tertawa karena begitu bahagia, dia menjadi berani karena Ryu, dia menjadi punya keyakinan akan perasaannya mau dibawa kemana karena Ryu. Sebaliknya Ryu tertawa karena sudah berhasil menyelamatkan seorang gadis yang hampir saja memiliki nasib seperti ibunya. Sedih? Jelas. Ryu tulus menyayangi Sidney, bahkan sangat mencintai wanita itu. Tapi cintanya justru menginginkan kebahagiaan pada Sidney, walau bukan dirinya yang bisa memberikan hal itu.


"Masuklah. Sudah malam. Istirahat yang cukup. Ingat, aku memberimu waktu, sebanyak yang kau butuhkan, jadi hilangkan rasa bersalahmu padaku."


"Iya, aku mengerti. Terima kasih, Mas. Selama kau belum menemukan gadis yang tepat, aku siap menjadi sahabat, sekaligus menjadi tim pencari calon kekasihmu."


Kembali keduanya tertawa. Ryu menarik Sidney, memeluk gadis itu untuk terakhir kalinya. Karena walau dia memberi Sidney waktu seperti yang dia katakan, Ryu sudah tahu jawabannya. Jadi, biarlah pelukan ini menjadi pelukan terakhir mereka sebagai kekasih, setelah pintu dibuka dan Sidney keluar dari mobil, maka diantara mereka hanya ada persahabatan.

__ADS_1


"Tidur yang nyenyak. Kalau ada apa-apa kabari aku. Dan masalah magang itu, aku sudah minta pada bagian personalia, untuk menempatkan mu di divisi yang nyaman. Dia akan memback-up mu di sana."


"Makasih banyak, ya Mas. Mas juga pulang, istirahat. Sampai ketemu besok."


Ryu mengangguk, dan Sidney turun dari mobil. Berjalan dikegelapan malam menuju kosannya di ujung jalan. Perasaannya kini tenang, tidak lagi merasa jahat karena sudah membohongi Ryu tentang perasaannya.


Kosannya yang ada di lantai dua, mengharuskannya melewati beberapa kamar lebih dulu hingga sampai di tangga samping. Ketika akan naik, Sidney kaget setengah mati karena di hadang oleh pria dengan pakaian serba hitam. Bahkan Sidney mundur hingga dua langkah saking terkejutnya.


"Kamu?"


"Dari mana aja? Kenapa baru pulang jam segini?"


Pria itu terlihat lelah, pucat dan marah. Tapi untuk apa dia ada di sini? dan sejak kapan?


"Kamu disini? Ngapain?"


"Bisa gak interogasinya di dalam? Kepalaku sakit dan bajuku basah!"


Sidney yang juga merasa khawatir langsung berjalan di depan menuju kamarnya, yang diikuti pria yang sejak tadi jadi topik pembahasannya dengan Ryu.


*


*


*


Au... pangeran berkuda putih datang...😍😍


saweeeeeeer 😅😅


Gais, mampir lagi ke novel temanku, nunggu aku up yeey..


__ADS_1


__ADS_2