Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 36


__ADS_3

Sebelum sampai di rumah, Raya sudah menyiapkan penjelasan untuk ayahnya karena bagaimanapun, Raya sangat yakin ayahnya pasti bertanya mengenai rumah tangganya.


Penjelasan yang Raya yakin akan membawa tidak hanya kesedihan bahkan kekecewaan besar. "Ray... ayah ini ngomong, kamu ya kok diam, Ndok?"


"Iya, Yah. Aku dengar." Raya memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat wajah khawatir yang ada di depannya. Walau ayahnya selalu bersikap tegas, tapi dia tahu, pria itu sangat mencintai dirinya, dengan cara yang berbeda.


"Ayah..., maafkan aku. Mungkin ayah akan membenciku," ucap Raya menarik napas. Memilah kalimat yang tepat guna menyampaikan ucapannya.


"Ada apa? jangan sembunyikan apapun dari ayah." Darma menatap tajam wajah sendu Raya. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada putrinya yang berhubungan dengan suaminya, kalau tidak mana mungkin Raya pulang hanya sendiri.


"Ayah..." Raya bangkit, bersimpuh di kaki Darma memeluk kaki itu, dan menciumi dengan air mata. "Ayah, aku dan mas Dika... kami... kami sudah berpisah. Kami sudah bercerai, Ayah..." isaknya memeluk erat kaki Darma membenamkan wajahnya di kaki sanga ayah, berjaga-jaga kalau sampai ada ayahnya menyingkirkannya karena amarah.


Namun, Darma tidak bereaksi. Dia hanya diam. Kalut, marah, kecewa dan sedih bercampur jadi satu. "Kenapa harus berpisah? apa tidak bisa dibicarakan lagi?" suara pria itu jelas menunjukkan kesedihan dan kekecewaan yang besar.


Raya hanya menggeleng, masih memeluk kaki Darma. Rasa bersalahnya membuat Raya ingin memeluk kaki ayahnya, tempat yang pantas untuk meminta pengampunan.


"Dika menceraikanmu? apa alasannya? apa kau tidak menjadi istri yang baik?"


"Aku yang minta cerai, Ayah." Ada segudang pertanyaan muncul dalam benak Darma. Dipegangnya kedua pundak Raya, meminta gadis itu untuk bangkit, duduk di sampingnya.


"Katakan apa alasanmu. Bercerai itu adalah hal yang paling dibenci Allah. Kalian bukan dijodohkan, kalian menikah atas keinginan sendiri, lantas kenapa kalian memilih jalan ini? setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Tidak bisakah kalian bicarakan dulu?"


"Maaf, Ayah. Aku gak mau dipoligami." kembali tangis Raya menggema di ruangan itu. Pundaknya bergetar karena tangisnya yang begitu kencang.

__ADS_1


Darma terhenyak. Tidak menyangka sepelik ini masalah yang terjadi pada rumah tangga anaknya. Saat itu juga amarahnya meledak pada mantan mantunya. Sejak awal dia tidak menyetujui pernikahan mereka, karena sikap Titin yang memandang sebelah mata pada putrinya. Tapi kala itu Dika datang menghadap, meyakinkan dirinya untuk menerima lamarannya pada Raya.


Melihat Raya pun mulai luluh pada pinangan Dika, Darma pun menyetujuinya. Hal ini semata-mata demi memikirkan kebahagiaan putrinya. Tapi setelah dua tahun pernikahan, mereka memilih bercerai. Dan paling membuat Darma berang, Dika ingin menikah lagi! Mana janji dan sumpahnya yang selalu setia dan membahagiakan Raya?!


"Kenapa dia memilih menikah lagi? apa kau melakukan kesalahan, Ndok?" Kali ini suara Darma melembut. Dia tidak lagi menyalahkan putrinya, justru kini dia sudah berencana menemui Dika, memberi pelajaran pada anak itu, karena sudah menyia-nyiakan putrinya.


"Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi dia selingkuh, parahnya dia memilih sahabatku sendiri, ayah. Dia berzinah dengan Lani," ucapnya meremas baju di bagian dadanya yang terasa nyeri. Mengingat perselingkuhan itu selalu berhasil membuat dada Raya terasa sesak.


"Lani? putrinya Rahayu?" Raya mengangguk cepat. Mungkin sampai kapan pun dia tidak akan memaafkan kedua orang itu.


"Sudah, kau jangan menangis lagi. Kau tidak pantas menangisi pria busuk seperti itu. Saat dulu kau menyetujui lamarannya, ayah sudah mengikuti kemauanmu, kali ini ayah ingin kau mengikuti kemauan ayah. Kau tidak akan kembali ke kota lagi. Tinggallah bersama ayah, tidak akan ayah biarkan ada orang yang menyakitimu lagi!"


***


"Bagaimana?" tanya Lani yang baru saja duduk di bangku cafe, tepat di hadapan dua orang pria. Penuh gaya, wanita itu melepas kaca mata hitamnya, dan melipat tangan di dada. Dia sudah tidak sabar menunggu laporan dari orang-orang sewaannya itu.


"Laporan dulu!" bentak Lani. Namun, kedua pria itu menantang balik. Tidak buka mulut, justru membuka jaket kulit berwarna hitam, hingga menunjukkan pistol yang terselip di pinggangnya.


Dengan geraman amarah, Lani membuka tas tangannya, mengeluarkan amplop berwarna coklat, tampak tebal dan bisa ditebak berisi uang yang banyak. "Nih," ucapnya melempar gepokan uang itu ke tas meja, yang dengan sigap diambil kawanan penjahat itu.


"Sorry, kami tidak berhasil membunuhnya. Kami sudah membawanya keluar dari rumahnya menuju tempat eksekusi, tapi di tengah jalan kami dia dicegat oleh dua orang pria yang menyelematkan wanita itu!"


"Apa? dasar tidak berguna! kalian berempat dan bisa dikalahkan dua orang?" pekik Raya tidak percaya. Dia merasa tertipu karena sudah menyewa jasa orang-orang yang tidak berguna itu.

__ADS_1


"Mereka memang dua orang, tapi ilmu bela diri salah satu dari mereka sangat tinggi. Kami saja habis dihajar oleh mereka hingga babak-belur."


Lani mendengus kesal. Tidak percaya atas apa yang dia dengarkan. Mengapa Raya selalu saja mendapatkan nasib baik.


Untuk buat kau mati saja begitu susah ya, lihat saja, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan terus mencoba menghabisimu!


"Kalau begitu gitu, kembalikan uangku!"


"Oh, tidak bisa. Sesuai perjanjian, kami melakukan perintah Anda. Tidak ada dalam perjanjian target harus mati, kalau tidak uang boleh kembali." Pria berjambang itu tersenyum mengejek. Tanpa berkata apapun lagi, bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Lani dengan kemarahannya.


Semua sia-sia. Lani pantas kesal dan marah. Padahal untuk mengumpulkan uang 50 juta itu dia harus menipu suaminya, mentransfer diam-diam melalui aplikasi mobil-banking di ponsel Dika, saat pria itu sudah terlelap kecapean setelah digempur habis oleh goyangan Lani.


Kini hasil keringat dan goyangannya, terbuang percuma. Raya tidak mati sesuai keinginannya, uangnya pun kini raib diambil preman.


***


Seminggu berlalu, Raya benar-benar ditahan oleh Darma. Dia sudah menghubungi Nana, dan mengatakan keadaannya, jadi memohon untuk bersabar.


Selama di desa, berulang kami Nani menghubunginya, namun selalu tidak diangkat, begitu pun pesan yang juga diabaikan Raya. Hanya satu pesan dari 30 pesan Nani yang dia balas agar wanita itu tidak terlalu khawatir padanya.


'Maaf, Oma. Saat ini aku di kampung. Ayah masih ingin aku di sini, dan tidak mengizinkan ku kembali ke kota untuk saat ini. Oma jangan khawatir, aku baik-baik saja. Oma juga jaga kesehatan, dan jangan lupa makan.'


Tentu saja Oma tidak tinggal diam. Kamis sore saat giliran Elrick mengunjunginya, Nani meminta membawa Nana ke rumahnya. Dia yakin Nana mengetahui semuanya yang tidak disampaikan Raya padanya.

__ADS_1


"Hai, Oma...," sapa Nana saat tiba di rumah itu. Dia sebenarnya ogah untuk naik ke mobil polar bear, tapi karena tidak mau mengecewakan Oma, dia pun datang.


"Aku ingin kau jujur, mengapa Raya pulang, dan di mana alamatnya? Aku akan menjemputnya pulang!"


__ADS_2