
"Kenapa kau melindunginya? kau suka padanya kan, El?" bentak Meyra dengan air mata tersedu-sedu.
Satu jam lalu Elrick tiba di apartemennya, dan saat melihat sosok pria itu, tentu saja dia sangat gembira. Dia pikir pria yang mendatanginya tanpa pemberitahuan sebelumnya, karena pria itu sangat merindukannya dan terlebih menyesal setelah pertengkaran mereka sebenarnya.
Tapi harapan Meyra harus digantung jauh di ufuk timur, karena Elrick datang menemuinya, untuk mengatakan hal yang paling dia takuti. Elrick memutuskan hubungan mereka. Rengekan Meyra tidak berhasil menggugah hati Elrick, pria itu tetap pada keputusannya.
"Ini adalah perbuatan jahat lo yang terakhir pada Raya! Kalau sampai gue tahu lo menyentuh dirinya sedikit saja, maka gue akan buat lo menyesal dilahirkan ke dunia ini! Ingat Mey, lo tahu betul bagaimana gue kalau udah gila!"
Wajah Meyra memucat. Dia tidak menyangka kalau Elrick akan mengancamnya hingga seperti itu, dan semua ini hanya karena seorang wanita dari kampung?!
"Apa kelebihan dia, El? apa kekuranganku hingga kau memilihnya? Apa yang tidak aku lakukan untuk mu? semua yang kau perintahkan selalu aku ikutkan. Kenapa kau tidak ingin bersamaku?" jeritnya histeris.
Elrick tidak menanggapi, hanya menatap jijik pada gadis itu, mengingat apa yang sudah dia perbuat terhadap Raya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia pergi, meninggalkan Meyra dengan sumpah serapahnya.
Kali ini Elrick tidak main-main. Keselamatan Raya lebih dari segalanya. Mungkin sedikit demi sedikit dia sadar kalau rasa bersalah hingga harus tanggungjawab karena sudah merusak Raya saat itu berubah menjadi rasa suka. Elrick menyadarinya kini.
***
Sudah satu jam Raya saling tukar pandang dengan Elrick, tanpa diketahui Oma yang juga saat ini duduk bersama mereka. Walau masih terkesan cuek, tapi Elrick selalu bicara lembut padanya.
"Dari pada kalian saling curi-curi pandang, lebih baik kalian pergi saja berkencan," ucap Oma pura-pura masih memperhatikan kain yang dia rajut.
Wajah Raya sukses bersemu merah. Oma selalu berhasil membuatnya malu setiap berdekatan dengan Elrick. Entah dari mana wanita itu tahu kalau diam-diam mereka saling curi pandang.
Elrick tidak bisa menahan rasa malunya, hingga bangkit meninggalkan keduanya. Memilih untuk menepi, dan terbuai dengan pikirannya. Dia menyukai Raya. Bahkan sangat. Dan dia sudah yakin untuk mengatakan pada Raya.
Rencananya, hari ini dia akan mengatakan pada Raya. Dia sudah menguatkan mental dan juga tekadnya.
__ADS_1
15 menit berlalu, Elrick yang tidak sabar menunggu pembicaraan antara Raya dan Oma nya selesai sehingga bisa menarik tangan gadis itu ke suatu tempat, hingga tidak ada yang bisa mengganggunya.
Untuk membuang waktu sepinya, Elrick kembali meninjau draft yang saat ini sedang mereka kerjakan.
Asyik berkutat dengan pekerjaannya, Elrick tidak mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Sosok tinggi tegap berdiri di depannya.
Elrick menengadah, menatap mulai dari ujung kaki hingga ke wajah pria itu. Untuk apa Dipa berdiri mematung di hadapannya? Mengajaknya berkelahi lagi? sungguh Elrick tidak tertarik.
Keduanya berlaga pandang, tanpa bicara. Tapi Elrick menilai, sorot mata itu tidak mencerminkan rasa dendam padanya, justru merasa prihatin. Ada apa ini? mengapa Dipa seolah merasa kasihan padanya?
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Dipa meletakkan secarik kertas di atas meja di hadapan Elrick. Penuh minat, Elrick menatap robekan kertas yang sudah mulai kusut bekas remasan tangan.
Menunggu ucapan Dipa tidak kunjung datang, Elrick mengambil kertas itu. Membaca tulisan yang ada di sana, yang berhasil membuat keningnya berkerut.
Sebuah alamat yang jauh dari kota ini, tapi dia tahu benar letaknya. "Sebaiknya lo ke sana!"
Hanya itu yang Dipa katakan, sebelum pria tampan itu berlalu pergi. Elrick ingin bertanya mengapa dia harus pergi ke sana, tapi belum sempat membuka mulut, Dipa sudah berlalu.
***
"Sedang apa kau di sini?" tanya Elrick yang bertemu tidak sengaja di perempatan jalan, dekat halte sedang berdiri menunggu angkutan.
"Mas Elrick... aku baru dari Tikkit, ngantar paket ke kampung, buat ayah. Mas Elrick ngapain di sini?"
Elrick bingung harus jawab apa. Dia lewat dengan tujuan mencari alamat yang Dipa berikan dan melihat Raya ada di sana lalu berhenti.
Dia sendiri kurang yakin awalnya. Bahkan tidak berniat pergi ke sana, namun dua hari pikirannya terus tersita ke sana, seolah ingin mencari tahu ada apa di sana.
__ADS_1
Setelah memikirkan lebih jauh, Elrick pun memutuskan untuk pergi. "Lo... Kau mau ikut denganku?" tanyanya ragu. Dia sebenarnya bingung, mengapa justru mengajak Raya, tapi setidaknya berdua membuatnya punya kekuatan, paling tidak berani untuk menerima maksud dari teka-teki Dipa.
"Oh, mas Elrick minta aku temani? kemana? boleh, tapi jangan lama ya. Aku harus ngantar kain Bu Jeje sama pak Roy," ucapnya membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
***
Beberapa jam berikutnya, mereka tiba di parkiran rumah sakit yang sesuai dengan alamat yang diberikan Dipa.
Segudang tanda tanya kembali berkelebat dalam pikirannya. Apa tujuan Dipa. Tidak mendapat jawaban, Elrick berniat untuk pulang, tapi belum kembali masuk ke dalam mobil, pesan masuk dari Dipa.
Rasa penasaran semakin memuncah di dada Elrick, dia bergegas menuju ruangan dan kamar yang disebutkan Dipa dalam pesannya.
Setelah berbicara dengan dokter yang bertanggungjawab, atas pasien dalam ruangan itu, seluruh tubuh Elrick lemas.
Dia tidak mempercayai apa yang dia dengar. Seolah terhipnotis, Elrick mengikuti langkah sang dokter. Raya dengan setia mengikuti langkah Elrick berjalan di koridor ruangan itu.
Pintu terbuka. Dalam ruangan itu duduk seorang wanita menghadap ke jendela. Tubuh Elrick bergetar hebat. Ini tidak mungkin, semua yang dia lihat mustahil.
Sekelebat bayangan masa lalu muncul di ingatannya. Sakit dan perih. Dia tidak pernah berharap hari ini akan datang. Jantung pria itu berdebar begitu kencang, kakinya tidak mampu untuk berdiri, dan hampir saja jatuh ke lantai. Beruntung tangan Raya segera memegang tangan Elrick. Menopang pria itu. Dia tahu apa yang sedang terjadi kini, walau belum yakin. Wajah pucat Elrick cukup menjelaskan semua yang ingin dia ketahui.
Raya ingin memberikan kekuatan pada Elrick, menautkan jemarinya pada jemari pria itu. Terbukti, Elrick menggenggam kuat tangan Raya. Dia butuh Raya, sangat. Takdir memang menuntunnya untuk bertemu gadis itu hari ini agar bisa menemaninya ke sini, berhadapan dengan wanita yang ingin dia lupakan, yang dia benci yang sudah berhasil membuatnya menjadi pria dingin yang punya kebencian pada wanita, yang tidak percaya akan adanya rasa cinta kasih dan kesetiaan.
"Bapak Elrick, silakan bicara pada ibu Silvira."
*
*
__ADS_1
*
Nah, wanita yang sudah menorehkan luka di hati Elrick muncul juga...