
"Dimana kau sembunyikan Tita?" Ucap Dipa menarik kerah baju Rodriguez penuh emosi. Dia bahkan sudah berniat mencekik pria bertubuh berisi itu.
Dia sudah mencari ke semua sudut ruangan di rumah itu, tapi tidak menemukan Tita. Bahkan dia sudah mengintrogasi para pelayan di rumah itu, tapi semua mengatakan tidak melihat Tita semenjak dibawanya keluar dari sana.
Elrick masih diam di tempatnya. Masih siaga, ingin melihat reaksi musuh atas tindakan Dipa. "Kau bunuh pun aku saat ini, aku tidak tahu dimana gadis itu berada!" Hardik Rodriguez. Kalau diawal dia tidak mengenali latar belakang Dipa, hingga tidak takut, maka saat melihat Elrick hadir saat itu, sedikit banyak membawa perubahan pada sikap Rodriguez.
Awalnya dia ingin menghabisi nyawa Dipa, tapi menunggu satu bulan setelah malam perseteruan itu, agar saat menghilangkan nyawa Dipa, Rodriguez tidak dicurigai. Tapi untung tidak jadi dia lakukan, dia tidak tahu apa balasan yang akan dia terima dari Elrick.
"Tuan Samertha, saya masih ingin meminta dengan segala kerendahan hati, agar melepaskan calon istri adik saya, kalau tidak maka akibatnya aku pastikan akan sangat merugikan anda. Saya tidak mau mengusik urusan anda, jadi tolong jangan mengganggu keluarga saya!"
"Anda mengancam saya?" Tantang Rodriguez.
"Terserah Anda bagaimana menanggapinya. Yang jelas, saya tidak akan tinggal diam jika anggota keluarga saya disentuh!"
"Wow, Anda mengancam saya tuan Diraja?"
"Terserah anda menganggapnya apa, yang jelas saya tidak akan tinggal diam. Oh, iya, masih ingat mengenai pembakaran perusahan pak Sudibyo, saya yakin Anda ingat. Atau pabrik ekstasi yang saat ini sedang menjadi penyelidikan pihak berwajib. Saya dan Anda tahu jelas dimana tempatnya, berkedok sebagai pabrik apa, dan siapa pemiliknya, kita sama-sama tahu," ucap Elrick memberi serangan mematikan. Dia tahu kali ini Rodriguez pasti tidak akan berkutik. Lagi pula, imigran seperti dia bisa terancam dideportasi jika dilaporkan walau hanya kejahatan kecil, apalagi kalau sampai dibuka semua tindak tanduknya di dunia hitam.
Wajah Rodriguez memucat. Kali ini dia tidak berkutik. Kalau bukan karena menikah dengan wanita Indonesia, dia sudah lama dideportasi, karena awalnya Visa nya sebagai pelancong, bukan izin tinggal yang lebih lama.
"Gadis itu tidak ada di sini. Aku berkata jujur, kalau boleh merubuhkan rumah ini, tetap tidak akan mendapatkan hasilnya. Dia benar-benar tidak ada di sini, dan aku juga tidak tahu dimana dia."
Kali ini Rodriguez berkata benar, Elrick bisa merasakan hal itu. Tapi Dipa yang tidak percaya langsung melayangkan satu pukulan ke wajah pria itu hingga roboh ke sofa.
__ADS_1
"Katakan dimana Tita atau aku habisi kau!"
"Dipa, tahan emosimu." Elrick sudah berdiri untuk menarik Dipa menjauh dari Rodriguez sebelum sepupunya itu menghabisi mafia itu.
"Katakan tuan Samertha, dimana putramu? Aku ingin bertemu dengannya. Aku dengar dia sangat meresahkan, bahkan pernah menikam seseorang dan menuduhkan kesalahannya pada anak buah Anda?"
Rodriguez menatap wajah Elrick, tampak pria itu bergidik ngeri. Dia tidak mengerti siapa Elrick yang sebenarnya hingga informasi begitu luas, semua tentang dirinya dengan gampangnya dilucuti satu persatu.
Selama ini yang dia tahu, Elrick Diraja adalah pengusaha sukses yang suka membeli perusahaan-perusahaan yang sudah pailit, dan mampu mengembangkannya menjadi perusahaan yang kembali sehat dan sukses.
"Saya mohon, jangan lakukan hal buruk pada anak saya. Kalau memang dia yang membawa gadis itu, maka saya akan minta dia mengantarkannya kembali pada Anda," ucapnya menurunkan egonya.
Sejujurnya Rodriguez tidak tahu menahu lagi soal Tita. Lagi pula, untuk apa mempermasalahkan gadis itu lagi, dia juga tidak sudi jika Regal mendapatkan keturunan dari wanita yang sudah membuatnya dalam masalah. Dia hanya akan buat perhitungan pada Dipa, hanya itu. Tapi melihat siapa yang ada di belakang Dipa, Rodriguez tidak mungkin bodoh jika tetap ingin menyentuh pria itu.
Dia ingat Raya, saat ini istrinya itu pasti sangat mengkhawatirkannya. Dia ingin memeluk, mencium bahkan ingin bercin*ta dengan wanita yang sudah memberikannya dua putra yang sangat tampan itu.
Dipa sendiri sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orang yang sudah menculik Tita, kalau benar dia dibawa anak Rodriguez, pasti dari ponselnya bisa mendeteksi keberadaan anaknya.
Dipa merebut paksa, lalu mencari titik keberadaan Regal. "Kalau sampai kau memberitahunya untuk pergi dari sana, maka habislah kau!"
Tidak ada bantahan. Rodriguez hanya bisa melihat punggung kedua pria itu menjauh, keluar dari rumahnya bersama anak buah mereka.
***
__ADS_1
Tidak susah untuk menemukan tempat persembunyian Regal. Sebuah rumah berlantai dua, langsung disergap Dipa dan Elrick.
Beberapa penjaga di depan kini sudah tersungkur di tanah oleh tindakan Elrick. "Aku tidak tahu, mengapa berkelahi seperti ini rasanya sangat asyik," ucap Elrick lebih ke dirinya sendiri.
Dipa hanya memutar bole matanya kala mendengar ucapan Elrick, lalu bergegas masuk. Tidak melakukan perhitungan, membuat Dipa harus tersungkur di lantai bersimbah darah.
Satu peluru sudah menembus perutnya. Elrick yang mendengar tembakan segera menerjang masuk dengan melemparkan batu ke arah pistol Regal yang hendak menembak Dipa dari jarak dekat. Setelah pistol terlepas dari tangan pria tinggi bertato itu, Elrick menendang, menjauhkan pistol itu dan mulai menghajar Regal sekuat tenaga.
Wajah pria itu sudah tidak berbentuk, habis oleh pukulan Elrick dan juga hantaman oleh lutut Elrick.
Dipa terengah-engah, menahan laju darah dengan menekan bekas lukanya, mencoba duduk dan bersandar di dinding, menyaksikan bagaimana sepupunya menghabisi Regal.
"El, gue mau mati ini. Kenapa fokus ke dia. Lagi pula dia udah pingsan," ucap Dipa menahan rasa sakit.
"Sorry, gue emosi karena dia nembak lo."
Anak buah mereka tiba, segera menggeledah semua ruangan di rumah itu. Elrick memapah Dipa yang bersikeras mencari Tiga dan akhirat menemukan gadis itu yang terikat rantai dan wajahnya banyak lebam biru bekas dipukul dan ditampar.
Melihat itu, emosi Dipa kembali tersulut. Anak buah Elrick sudah membuka rantai yang membelenggu Tita, dan tampaknya gadis itu juga hampir tidak sadarkan diri.
"Lepaskan aku, Dipa... tolong aku..." hentaknya pada tangan anak buah Dipa yang membuka kan rantai dari tubuhnya.
Dipa menguatkan diri, berdiri tegak dan masih mencoba memapah Tita. Lalu tepat saat di depan Regal yang sudah tidak jelas wujud wajahnya karena pukulan dari Elrick tadi, memberikan Tita pada Elrick, lalu menghajar wajah Regal, menendang alat vi*tal nya hingga amarahnya berkurang.
__ADS_1
"Kau berani memukulnya? Lihat wajahnya breng*sek!" umpatnya masih tetap memukul dan menendang. Elrick yang melihat hal itu, hanya mengulum senyum sambil geleng-geleng kepala.