
Sidney menggigit bibir bawahnya. Jantungnya tidak berhenti berdetak dengan kencang. Setelah ini adalah gilirannya tampil. Dia sudah menguasai bahan dan juga sudah tiap hampir pada meja hijau hari ini, tapi kenapa setelah sudah mau tiba gilirannya, dia malah gugup.
Diambilnya kembali skripsinya, membaca lagi agar tidak ada yang terlupakan. Lima menit berlalu, temannya yang tadi di dalam, keluar dan tibalah gilirannya.
Setelah mengucap doa dalam hati, Sidney masuk. Ada tiga orang dosen penguji di tambah satu dosen pembimbingnya. Beruntung, Sidney mendapat dosen pembimbing yang sangat baik. Lagi pula seharusnya dia tidak perlu takut karena dia sendiri yang membuat tugas akhirnya ini jadi pasti bisa dia pertanggung jawabkan.
Sebelum memulai dia mengingat wajah ibunya, wajah Raya dan Elrick, lalu setelah merasa siap, dia memulai mengaktifkan proyektor.
Sidney mencoba menenangkan hatinya disaat dia menjelaskan bab empat dan lima. Diantara ketiga dosen penguji, ada satu dosen yang tidak menyukai Sidney karena pernah memergokinya hampir melakukan pelecehan seksual pada Renta.
Saat itu Sidney yang ada keperluan untuk menanyakan tugas akhirnya mendapati dosen itu meraba-raba temannya itu. Renta, gadis desa yang ketakutan, membuatnya tidak berani untuk membongkar aib sang dosen.
"Kamu yang buat semua ini?" tanya dosen itu dengan suara dingin. Sidney sudah menyiapkan diri kalau sampai hal itu terjadi hari ini.
"Benar, Pak."
"Coba jelaskan apa alasannya, mengapa kamu memilih judul penelitian ini!"
Penuh percaya diri Sidney menerangkan apa alasan dia mengangkat judul ini menjadi judul skripsinya. Memaparkan apa yang menjadi dasar dia mengukuhkan judul ini jadi skripsinya.
Semua dosen tersenyum bangga, tapi satu dosen yang juga menjabat sebagai pembantu Dekan satu itu masih tidak terima. Memberikan lagi pertanyaan pada Sidney.
"Jelaskan kerangka berpikir penelitian yang dilakukan!"
Sidney mulai keringat dingin. Bukan tidak bisa menjawab tapi tatapan membenci dari dosen itu membuatnya gugup.
"Sidney, terangkan diagram yang kamu buat," ujar dosen pembimbingnya yang mencoba membantu Sidney.
Gadis itu mengangguk. Lalu menarik napas panjang. Inilah untungnya mengapa dia membuat sendiri skripsinya bukan ditempa pada orang lain seperti kebanyakan mahasiswa zaman sekarang ini.
Dia menguasai alur berpikir dari munculnya fenomena hingga rumusan masalah. Ungkapkan juga teori-teori yang mendukung penelitian.
Sidney membuka catatannya, lalu bisa dengan gampang menjelaskan secara garis besar kerangka penelitian yang terdiri dari pendahuluan, tinjauan literasi, metodologi, temuan, barulah sampai pada kesimpulan.
__ADS_1
Merasa kalah, dosen itu pun akhirnya memilih diam. Giliran dosen lain yang bertanya yang sama sekali tidak ada penekanan terhadap Sidney.
Hampir satu jam di dalam sana, Sidney pun akhirnya berhasil menyelesaikan sidang skripsinya dan pastinya mendapat nilai bagus. "Ibu pastikan kamu dapat nilai A,"bisik bu Ratna berbisik di telinganya.
Penuh haru Sidney memeluk Bu Ratna, sembari berulang kali mengucap kata terima kasih.
Saat keluar dari ruangan itu, diantara teman-temannya yang datang memberi dukungan dan juga peserta lain yang akan tampil, ada seseorang yang menyambutnya dengan senyuman memikat.
Kedua tangannya penuh dengan buket bunga dan juga boneka panda yang lucu dengan bertuliskan Sidney putri Dinata, S.M.
Sidney meletakkan diktat dan juga skripsinya di atas meja lalu berlari menuju pria itu yang telah merentangkan tangan menyambutnya.
"Selamat ya, Sayangku. Aku bangga sekali padamu," bisik Paris mencium kening dan puncak kepala Sidney.
Samar terdengar isak pelan dari gadis itu. Paris yang ingin melihat apakah Sidney menangis, segera melerai pelukan mereka, tapi Sidney tidak mau menunjukkan wajahnya, semakin menekan ke dalam dada pria itu.
Paris tahu kekasihnya merasa malu, jadi membiarkan gadis menyembunyikan wajahnya di dadanya. Sidney terharu, kini dia sudah menyelesaikan pendidikannya, seandainya ibunya masih hidup dan bisa mendampinginya. Ah..., dia juga rindu pada ayahnya.
"Mana nih yang udah jadi sarjana, mau juga dong dipeluk..."
"Ya Allah, begitu baiknya Engkau yang sudah menghadirkan mereka dalam hidupku," ucap Sidney memeluk Raya.
Pecah lagi tangis Sidney. Teman-temannya yang saat itu ada di depan ruang sidang, memperhatikan mereka dan satu dua orang ada yang ikut menangis juga.
Elrick membawa keluarganya untuk makan siang bersama, di restoran terkenal yang ada di Bandung. Setelahnya sesuai janji Sidney pada Raya beberapa hari sebelumnya, dia akan ikut pulang ke Jakarta.
Nanti saat tiba mau wisuda, mereka akan kembali ke sini lagi. Seminggu yang lalu Sidney di jemput Paris, kedua orang tuanya ingin bicara pada Sidney, mengenai rencana mereka untuk menikah.
Saat Paris menyampaikan hal itu, Raya sangat gembira. Menangis memeluk Sidney demi memastikan kalau itu bukan karangan Paris semata.
"Benar kalian mau nikah?"
"Iya, Tante," jawab Sidney tersenyum. Raya kehilangan kata-kata yang bisa dia lakukan hanya menangis sembari memeluk Sidney.
__ADS_1
"Kamu dengar kan Lia, impian kamu, impian kita untuk bisa besanan terwujud. Sidney akan jadi menantu ku," ucapnya lebih pada ke angin, biar angin yang menyampaikan pada Lia di surga sana.
***
Hari pertama dia sampai di Jakarta, Sidney ingin tidur di kamarnya, di rumah ibunya. Raya setuju, dia tahu Sidney ingin memiliki waktu sentimentil nya dengan kenangan bersama ibunya.
"Kamu kelihatan lelah banget. Capek ya? Aku pulang, ya," ucap Paris yang sejak tadi menikmati film bersama Sidney di ruang keluarga. Sandaran kepala Sidney di lengannya semakin berat, hingga membuatnya tersadar kalau gadisnya hampir tertidur.
Paris menggendong Sidney ke kamarnya, membaringkan di atas ranjang dan mengecup keningnya sebelum keluar dari sana.
"Bi, perhatikan ya, siapa tahu Sidney bangun dan butuh sesuatu."
Bi Inem menjawab dan kembali mengunci pintu setelah Paris pulang.
Paginya, agenda yang ingin dikerjakan oleh Sidney adalah mengunjungi Sandi. Bagaimana pun Sandi tetap ayahnya. Dia gak akan mungkin ada di dunia ini kalau bukan karena andil pria itu.
Lagi pula dia akan menikah. Dalam agamanya, dia harus dinikahkan oleh ayah kandungnya. Selama ayahnya masih hidup, masih haknya untuk menikahkan putrinya.
"Hari ini ada rencana mau ngapain?" satu pesan dari Paris dia terima saat Sidney sudah berada di taksi. Dia memang sengaja tidak memberitahukan kepergiannya menemui Sandi, takut kalau Paris cerita pada orang tuanya.
Elrick akan marah, kalau sampai tahu dia menemui Sandi, karena dulu sudah janji, saat Elrick memberikan alamat Sandi padanya, itu adalah pertemuan pertama dan terakhir mereka setelah pertengkaran itu.
"Aku ingin bertemu Agnes, Rina dan Mika," ucapnya berbohong untuk yang pertama kali pada Paris.
*
*
*
Siapin gaun ya, ntar lagi kita kondangan nih🤭🤭
btw, mampir lagi ya ke novel temanku☺️
__ADS_1