
"Aku mohon, kamu terima tawaran aku, kuliah di sini aja." Paris masih mendebat. Lima tahun di sini, tidak mungkin bisa dia lalui tanpa Sidney.
"Aku gak bisa janjikan. Aku akan coba bicara dulu sama papa, ya."
Paris mendekati Sidney, memeluk gadis itu dan mencium puncak kepalanya. "Aku gak terlalu lama jauh darimu. Dua tahun aku jauh darimu, rasanya menyiksa."
"Ris, kenapa kau begitu dekat dengan Hana?" Belaian tangan Paris di rambut gadis itu terhenti. Hening, hanya terdengar suara hembusan angin malam.
"Jangan bilang kau cemburu pada Hana? Dia hanya teman. Sama dengan yang lain," sahutnya malas membahas masalah Hana. Bangkit dari sisi Sidney, berjalan ke arah meja belajarnya dan mengambil sebatang rokok dari lacinya. Rokok yang sudah lama tidak dia sentuh. Paris hanya akan membakarnya kalau sedang banyak pikiran atau saat bertengkar dengan Sidney.
Sidney tertegun menatap lurus ke arah Paris. Kenapa tiba-tiba sikap Paris berubah, seolah menghindar.
"Kalau hanya teman, kenapa dia begitu bebas di apartemen ini? Kau bahkan keluar dari kamarmu dengan hanya memakai handuk. Kamu bisa kuliah di luar negri, tapi kita berasal dari negara yang punya adat!"
Entah mengapa Sidney menjadi lebih emosi. Dia tambah kesal karena sikap Paris yang bukan menenangkannya dengan memberi penjelasan malah memilih menjauhinya.
"Please, Sid. Aku gak mau kita ribut. Satu hal yang perlu kau tahu, aku hanya mencintai satu gadis saja, yaitu kau! Tidak ada wanita yang bisa membuatku berpaling darimu. Masihkah kau mencurigai aku?" suara Paris tidak kalah tinggi. Sidney bahkan sampe tersentak.
Paris tidak pernah semarah ini padanya setelah sekian lama. "Kalau dia hanya teman, sama seperti Elin dan yang lainnya, kenapa begitu bicara dengan ayahnya, kamu langsung pergi mengantarnya?"
"Aku hanya diminta menjaganya, Sid. Tidak ada hubungan apa-apa diantara kami. Aku tidak mungkin menyukainya."
"Aku gak tahu harus percaya pada siapa kalau udah begini."
"Terserah. Aku kecewa karena kau mencurigaiku!"
Paris ke luar dari kamarnya. Menyambar jaketnya dan pergi dari apartemen itu. Dia butuh ruang untuk menenangkan dirinya.
Dia sadar, dia pria brengsek, harusnya dia tidak berkata kasar pada Sidney. Terlebih gadis itu sudah jauh-jauh dari Indonesia mengunjunginya.
Dihabiskannya satu batang rokok yang sudah sempat dia bakar. Dia akui, saat ini dia lemah. Kartu As nya ada di tangan Hana. Kalau saja tidak memikirkan kuliahnya, atau pun nanti keamanan Sidney kuliah di sini, Paris pasti sudah menghajar Hana.
__ADS_1
Gadis itu manja, tapi licik. Sejujurnya sudah dua kali Paris menolaknya, tapi gadis tidak tahu malu itu tetap saja menempel padanya.
"Aku akan bilang papa, kalau kau bersikap kasar padaku. Ingat, Ris, kalau bukan karena papa yang nolongin kamu, sudah lama kamu dikeluarkan dari kampus kebanggaan papamu, tidak hanya itu kamu juga sudah dihabisi pemuda setempat."
Hana akan selalu menggunakan hal itu sebagai ancaman. Kalau bukan karena merasa khawatir ayahnya akan kecewa padanya kalau sampai keluar dari Oxford, Paris sudah lama cabut dari sini.
"Ayahmu hanya minta menjagamu. Bukan menjadi pacarmu. Aku sudah punya pacar, dan aku tidak tertarik padamu!"
"Memangnya aku peduli? Dia ada di Indonesia, sementara kita bersama di sini. Apapun bisa terjadi selama lima tahun ini, Ris. C'mon, Ris, pria kesepian paling gampang jatuh dalam pelukan wanita lain. Dan aku siap memelukmu."
Kalau sudah begitu, Paris akan mendiamkan saja, terserah Hana mau apa.
Paris merasa sudah lebih tenang. Jadi dia memutuskan untuk kembali ke kamar. Sidney tertidur di sofa, dengan posisi duduk. Gadis itu tampaknya menunggunya pulang. Paris juga bisa melihat jejak air mata di wajah kekasihnya itu.
"Pasti kau tadi menangis ketakutan saat aku pergi ke luar untuk menenangkan diri. Maafkan aku ya sayang," cicitnya menggendong Sidney. Dia akan minta maaf besok pagi pada Sidney.
Saat meletakkan Sidney di ranjang dengan perlahan, tapi nyatanya dia terbangun. "Kau sudah pulang?" ucapnya lembut bahkan berupa bisikan. Matanya kembali berkaca-kaca. Paris tidak tahan, semakin merasa bersalah karena sudah membuat gadis itu sedih. Paris ikut berbaring, menarik tubuh Sidney menempel ke tubuhnya.
"I love you, jangan pernah ragukan cintaku, Sidney." Paris mencium puncak kepala Sidney, lalu ikut terpejam.
Sidney bangun lebih dulu. Paris akan berangkat pukul delapan pagi ke kampus. Hanya omlet yang bisa dia siapkan untuk sarapan mereka.
Semua sudah selesai, Sidney masuk ke kamar guna menyiapkan pakaian Paris yang saat itu sedang mandi.
Ponsel pria itu berdering, dan Sidney yang dekat dengan nakas melihat satu panggilan masuk. Nama Hana tertera sebagai penelepon. Dia tidak ingin mengangkat, karena itu adalah privasi Paris. Tapi saat pesan beruntun masuk dan masih Hanna si pengirimnya, rasa penasaran Sidney tidak terbendung.
Dia tahu password membuka layar ponsel Paris yang dibuatnya sesuai tanggal mereka jadian.
Dengan tangan gemetar bak takut ketahuan mencuri, Sidney menekan nama Hana pada list pesan masuk.
'Kamu udah cerita tentang kita sama, Sidney?'
__ADS_1
'Ris, segera suruh pulang Sidney, kalau gak, aku bakal kasih tunjuk foto ini.'
Dan saat itulah hati Sidney diremas kala melihat foto Paris yang duduk di teras rumah, dipeluk Hana dari belakang.
Hancur-sehancurnya hati Sidney. Air matanya menetes. Memang dalam foto itu tidak ada kemesraan, seolah ada seseorang yang tiba-tiba mengambil foto mereka, karena wajah Paris terlihat terkejut.
"Sayang, bajuku mana?" Tanya Paris keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk di kecil.
"Apa ini semua? Kenapa Hana mengancam menceritakan mengenai kalian? Pengkhianatan apa yang sudah kau lakukan wahai, Paris Diraja?!"
Sidney meletakkan ponsel itu begitu saja di tempatnya semula. Paris yang panik mengambil ponsel itu lalu melihat pesan masuk dari Hana, dan mengeram keras. Dia sengaja mengirim pesan itu agar dibaca oleh Sidney, dan membuat mereka bertengkar, itu lah yang dia inginkan, dan Sidney termakan jebakannya.
"Sayang, dengarkan aku. Apa yang kau lakukan?" ujar Paris kalap melihat Sidney yang mengumpul pakaiannya, memasukan semua barangnya ke dalam koper dan mulai menyeretnya ke luar.
"Sayang, dengarkan aku. Aku mohon jangan begitu." Paris menarik kembali koper itu dari tangan Sidney, tapi gadis itu tidak terima, segera mengambil kembali. "Lepaskan, aku mau pulang!"
"Pulang kemana? Bukanya papa beli tiket untuk lusa? Sidney, aku mohon jangan begini, kita omongkan sama-sama ya, Sayang." Tanpa sadar Paris mengejar Sidney dengan hanya handuk yang melilit di pinggangnya, tapi Paris tidak peduli, di harus menghalangi Sidney pergi, setidaknya jangan dalam keadaan marah.
"Sayang, aku mohon, kita bicara dulu," ucapnya menahan kepergian Sidney tapi gadis itu sudah berada di luar Apartemen. Beberapa penghuni apartemen yang melihatnya hanya memakai handuk, melempar senyum genit padanya.
"Sidney..."
"Sayang..." Gadis itu tetap tidak mengindahkan permohonan Paris. Pria itu kalut, dalam pikirannya bagaimana caranya agar bisa menahan kepergian Sidney.
"Sayang..." cobanya sekali lagi, tapi tidak berhasil.
"Aku bilang berhenti di sana, Sidney!" Bentaknya sembari menendang pintu Apartemen. Mau tidak mau Sidney berhenti dari pada kekasih gilanya membuat masalah yang pasti akan merugikannya nanti.
*
*
__ADS_1
*
Paris ngamuk, seram... ngumpet ah...🤧🤧