Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 35


__ADS_3

Dipa perlu menenangkan diri. Dia sudah lebih baik setelah melepas tangisnya. Dia ingin mandi, baru akan turun, jadi Raya pamit lebih dulu untuk ke bawah. Baru menutup pintu kamar Dipa, tangannya sudah ditarik menjauh dari depan kamar itu menuju sudut ruangan di lantai dua, tempat yang tidak dilalui manusia di rumah itu.


"Aaaau..." pekiknya kesakitan ketika Elrick melempar tubuhnya ke dinding. Lengannya terasa sakit dihempas begitu kuat. "Mas..."


"Tutup mulutmu! aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal. Sudah berapa lama kau berkeliaran di rumah ini, mendekati nenekku, dan bersikap gadis baik-baik. Kalau kau hanya ingin mengejar pria busuk itu, sebaiknya kalian pergi dari rumah ini. Di sini bukan tempat kalian bisa berbuat me*sum!" umpatnya dengan mempertahankan suara dingin dan bentakan yang sejak tadi ingin dia lampiaskan.


"Aku... aku gak paham maksudmu," balas Raya disela rintih kesakitan karena tangan Elrick mencengkeram erat kedua lengannya hingga memerah.


"Jangan berlagak bodoh. Intinya, segara kau tinggalkan rumah ini. Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini, mencoba menarik perhatian Oma, dan mengambil simpatinya agar kau diajak tinggal di sini. Kau sampah, wanita busuk yang menjijikkan. Aku tidak sudi melihatmu lagi! Menyingkir dari hadapanku!" Elrick sudah melempar tubuh Raya menjauh darinya.


Ketakutan Raya berlari menuruni tangga, tergesa-gesa hingga kaki terpeleset. Beruntung tangannya memegangi sisi pegangan tangga, kalau tidak dia pasti sudah meluncur ke bawah.


"Raya, kenapa kau menangis, Nak? ada apa?" tanya Nani terkejut.


"Maaf, Oma. Aku pamit dulu." Raya sudah berlari keluar, mengambil kunci motornya dari saku celana, lalu meleset pergi dari sana.


Nani tidak tinggal diam. Tadi Raya baik-baik saja, kenapa dia menangis ketakutan seperti itu? Hanya satu orang yang bisa menjelaskan semua ini. "Awas saja kalau kau sudah menyakiti Raya!" geramnya menaiki tangga.


Brak! pintu dari kayu mahoni itu di dorong paksa. Dipa yang baru saja menarik resleting celananya terkejut, lalu kembali tenang setelah melihat siapa yang datang. "Miss Universe, bisakah mengetuk pintu terlebih dulu?" godanya tersenyum. Rambut Dipa yang masih basah entah mengapa membuat Nani semakin marah. Pikirkan sudah bercabang kemana-mana.


"Tutup mulutmu! Kau apakan Raya? apa yang sudah kau perbuat hingga gadis itu menangis dan pergi dengan dengan ketakutan?" hardik Nani.


"Maksud Oma apa? Aku tidak berbuat apa-apa pada Raya. Kami hanya berbincang, dan tadi dia baik-baik saja keluar dari kamar ini."

__ADS_1


"Jangan bohong. Orang yang terakhir kali bersamanya adalah kau. Jadi, jika dia pulang dengan ketakutan maka orang yang patut dicurigai adalah kau!" hardik Oma penuh amarah. Dia bisa merasakan ketakutan yang tengah melanda gadis itu.


"Aku bersumpah Oma. Tadi kami hanya bicara. Aku mengenalkannya pada Papa dan Mama. Jangan berpikir aneh-aneh Oma. Ini hari kematian kedua orang tuaku!" Dipa mulai panas. Hari sakral baginya yang dia selalu kenang sekali setahun itu tidak mungkin dia rusak dengan melecehkan Raya seperti yang saat ini ada dalam pikiran Omanya.


"Lalu kalau bukan kau yang buat dia menangis, lantas siapa?"


Elrick lewat, dan itu menjadi satu clue bagi keduanya. Titik terang sudah mulai muncul. Oma dan Dipa saling pandang, lalu keduanya bergegas menyusul Elrick ke bawah.


***


Tangis raya pecah hingga malam. Dia tidak menyangka Elrick akan mengatainya begitu kejam. Memandang rendah dirinya sebagai wanita. Dia memang janda, tapi dia tahu batasan dirinya.


Rayuan Nana untuk mengajaknya makan, tidak juga dia indahkan. Saat ini menangis lebih dia butuhkan agar sesak di dadanya bisa hilang.


"Na, besok aku mau pulang ke kampung dulu. Mau jenguk ayahku. Kau bisa menjaga laundry ini?" tanya Raya yang saat ini duduk berdampingan dengan Nana. Karyawannya itu memaksa Raya untuk meminum teh manis hangat kalau dia tidak selera makan.


"Tapi gimana kalau pas aku pergi, banyak kain masuk? kita berdua aja kelimpungan," ucap Raya merasa tidak tega juga meninggalkan Nana sendiri.


"Gak usah khawatir, Bu. Asisten rumah tangga Bu Jeje itu bisa kok dimintai tolong. Kemarin dia ke sini, nanya apa bisa part time, buat nambah-nambah uang jajan buat beli lipstik dan bedak punya Prilly Latuconsina itu loh, Mbak."


"Tapi apa gak marah Bu Jeje?" tanya Raya memastikan. Dia tidak ingin terjadi masalah lain lagi. Kadang Raya berpikir, kenapa hidupnya penuh dengan cobaan. Dia sering kali bernasib sial.


"Gak lah, Bu. Kebetulan Bu Jeje sama Pak Roy sedang liburan ke Hawai. Jadi Tiwi memang senggang, hanya menunggui rumah."

__ADS_1


Raya kini bisa tenang. Dia akan pulang besok ke kampung halamannya setelah lebih dua tahun tidak pulang. Dia butuh waktu dan ruang untuk bisa berpikir, menenangkan hati dan pikirannya, selain ingin bertemu ayahnya tentu saja.


Di kota ini sumpek. Hanya ada sakit hati, kesedihan dan juga air mata. Ya, besok dia akan memberanikan diri untuk menginjak tanah kelahirannya lagi.


***


"Assalamualaikum, Ayah..." sapa Raya berdiri di depan pagar bambu depan rumahnya. Tukang ojek pangkalan yang mengantarnya tadi sudah pergi.


Mungkin selama dua tahun ini banyak perubahan yang terjadi pada fisik Raya. Tubuhnya semakin berisi, dan juga lebih cantik dari dulu, sehingga warga desa yang dia jumpai tidak mengenalnya lagi. Bahkan tukang ojek pengkolan yang mengantarnya tadi tidak mengenalnya lagi, padahal mereka teman satu sekolah.


Desanya pun kini tampak banyak berubah. Lebih maju dan banyak juga muncul orang-orang baru yang tidak dia kenal di dekat rumahnya. Dari tempatnya, Raya mengamati ayunan tempat dia sejak remaja suka menghabiskan waktu di sana. Ah... dulu kehidupannya sangat bahagia, sampai hari naas itu datang, merenggut tawa dan keceriaannya. Mengubahnya menjadi sosok penakut dan cengeng, tidak percaya diri dan lebih tertutup.


"Wa'alaikumsalam," terdengar jawaban dari dalam, disusul muncul sosok pria tua tapi masih tampak gagah dari dalam rumah.


Dengan tangan bergetar, Raya membuka pengait gerbang, membuka pintunya lalu berlari ke arah pria itu, tanpa kata menghambur ke dalam pelukannya Pak Darma.


"Ayah..."


"Raya... putriku..."


Momen haru yang terjadi di depan pintu masuk, membuat beberapa tetangga yang rumahnya memang berdekatan sekali dengan rumah Raya, melihat kejadian itu. Bagi yang mengenal Raya, mulai muncul bisikan dan mendekat ke arah pagar rumah. Ingin mengetahui apa yang terjadi.


Sudah kodratnya, para tetangga selalu ingin tahu sekali apapun tentang tetangganya. Seolah masalah yang tengah dialami tetangga adalah hal ternikmat untuk digosipi. Karena pada dasarnya, gibah itu lebih nikmat dari pada bayar cicilan.

__ADS_1


Darma melihat beberapa orang tetangga yang sudah berdiri, mengamati mereka. "Ayo, masuk."


"Loh, Kau datang sendiri? mana suamimu?"


__ADS_2