Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 29


__ADS_3

"Kau sudah datang? kenapa lama sekali?" Nani segera menghempaskan selimutnya ke samping, dan turun dari ranjang.


"Harusnya aku tidak terperangkap oleh tipu muslihat mu, Miss universe! Aku tahu kau pura-pura mengatakan sakit. Mengapa begitu, Cantik? Harusnya Oma tinggal mengatakan saja ingin bertemu denganku," ucap Dipa merentangkan tangannya agar wanita itu masuk dalam pelukannya.


"Kemana saja kau, mengapa lama tidak tampak?"


"Aku banyak kerjaan," sahut Dipa merangkul Nani. Keduanya bersama-sama menuruni tangga menuju ruang santai.


"Jangan bohong. Oma tahu alasanmu menghilang. Sini, ada yang ingin Oma ceritakan padamu."


"Kalau mengenai si Polar bear itu, makasih, tapi aku gak berminat, Oma."


"Hargai El, dia itu abangmu," ucap Nani menjewer pelan telinga Dipa.


"Sepupu..."


"Tetap saja kalian keluarga!"


"Terpaksa!"


"Bisakah kau mengalah? tutup mulutmu. Kau sama saja dengannya. Tidak ada yang bisa menyejukkan hati." Nani melipat tangan di dada, membelakangi Dipa. Pria itu tersenyum, kelemahan kedua cucu tengilnya adalah air mata dan ngambek berkepanjangan dari Nani.


"Baiklah, katakan. Ada apa?"


"Ini soal Raya." Nani diam sesaat, menatap wajah Dipa, ingin mencari tahu apa ada reaksinya. Tidak ada. Artinya Dipa sudah membuang simpatinya pada Raya. Nani menghela napas, walau tidak akan ada gunanya, dia ingin tetap menceritakan kebenarannya pada Dipa.


"Saat ini Raya tidak sedang hamil, seperti kata El."


Mimik wajah Dipa berubah. Dia mulai menunjukkan ketertarikannya pada pembahasan kali ini.


"Jadi, Polar itu berbohong? dasar pria busuk, begitu tega memfitnah Raya. Lihat saja nanti kalau kami ketemu!"


Pletak! Nani menjitak kepala Dipa.


"Dengar dulu. El tidak berbohong, mungkin dia juga tidak tahu. Status Raya seorang janda, dan dia keguguran tiga bulan lalu, dan setelah itu Raya meminta cerai."


"Jadi dia janda kembang?"

__ADS_1


Pletak! Kali ini kening Dipa yang jadi sasaran.


"Hormati dia! Oma begitu sedih atas nasib Raya. Gadis itu masih 20 tahun, namun sudah mengalami banyak penderitaan."


"Ya, aku juga prihatin." Pikiran Dipa melayang. Dia setuju dengan Nani. Sejak pertama bertemu, muncul perasaan lain di hatinya. Tatapan mata Raya begitu teduh, namun tersirat kesedihan yang dalam, hingga membuatnya merasa ingin selalu melindungi gadis itu.


"Suaminya yang tidak tahu diri itu, menikah lagi dengan sahabatnya. Bayangkan betapa hancurnya hati Raya. Oma heran kenapa kisah seperti ini bisa dialami Raya, Oma pikir hanya ada dalam sinetron atau dalam novel saja."


Mendengar hal itu membuat Dipa geram. Pria bodoh yang sudah menyia-nyiakan Raya, gadis cantik yang hatinya bersih. Tanpa sadar Dipa mengepal tinjunya, ingin sekali memberi pelajaran pada mantan suami Raya.


***


Di sudut kota, di apartemen mewahnya, Elrick tidak bisa tidur, walau sudah mencoba berapa kali. Sesuatu mengganggu pikirannya. Kejadian yang menimpa Raya tadi siang mengganggu. Dia masih ingat jelas bagaimana gadis itu ketakutan setengah mati, saat dia mencoba menyentuh ujung pundaknya. Tapi Elrick menganggap mungkin karena baru saja mendapat serangan dari pak RT hingga buatnya shock.


"Kejadian apa yang sudah menimpamu, hingga kau mengalami trauma seberat itu?" tanya Elrick sore itu.


"Hah? Tidak... tidak ada apa-apa," jawab Raya pelan. Wajahnya menunduk, saat mengetahui Elrick tengah menatapnya.


"Apa mungkin gadis itu mengalami kekerasan dalam rumah tangganya. Lantas dimana suami wanita itu?" cicitnya sembari menghisap rokok yang dijepit disela jarinya.


Angin malam begitu sejuk membelai kulitnya. Pikirannya terus tertuju pada Raya. "Sial! Kenapa gue jadi merasa peduli sama gadis itu!" umpatnya mundur ke belakang, mengambil gelas Vodka nya dan membawa ke pembatas balkon, melihat keramaian di bawah sana. Jakarta memang kota yang tidak pernah tidur. Masih saja ramai walau saat ini sudah jam dua pagi.


Tiba-tiba saja tubuhnya menghangat, rahangnya ikut mengeras. Buru-buru dia menghilangkan pikiran itu. Karena setiap mengingat malam itu, dia menjadi pria bengis yang penuh kebencian pada wanita yang sudah menghancurkan hidupnya. Dia benci!


***


"Maaf ya, Oma. Aku lama mengantar selimut Oma." Siang itu Raya datang ke rumah Nani, mendapati wanita itu sedang mengolah adonan kue.


"Tidak mengapa. Tapi kau harus dihukum, bantu Oma buat kue seperti ini," ucap Nani sembari menyodorkan tablet bermerk apel yang digigit.


"Siapa yang ulang tahun, Oma?" tanya Raya antusias.


"Elrick, malam ini Oma mau buat kejutan kecil untuknya. Dia sangat membenci perayaan, tapi memangnya Oma peduli? Malam ini kau tidur di sini, ajak juga Nana," ujar Nani antusias.


Raya tersenyum. Mungkin ini jalannya untuk mengucapkan terima kasih pada Elrick karena sudah menyelamatkannya tempo hari.


Dari Bu sari, berkat laporan dari Elrick jugalah Pak RT cabul itu diganti, bahkan diusir dari perumahan ini. "Tahu mengenai masalah Pak RT?" tanya Bu Sari yang datang ke laundry nya untuk mengambil kainnya.

__ADS_1


Dada Raya tiba-tiba sesak. Dia ketakutan. Apa mungkin semua warga sudah tahu mengenai kejadian buruk yang sudah menimpa dirinya?


"Ma- masalah apa, Bu?"


"Gak tahu jelas. Cuma kata pak RW, ada laporan dari keluarga Diraja, dari tuan Elrick. Katanya, salah satu anggota keluarga mereka mendapat perlakuan buruk dari pak RT, dan minta diganti. Bahkan pak RT diminta memilih, mau keluar dari perumahan ini dan jangan menampakkan diri lagi, atau dijebloskan ke penjara. Saya teh, jadi penasaran, apa yang kesalahan yang sudah pak RT lakukan?"


"Sa- saya juga gak tahu, Bu." Raya menghela napas lega.


Jadi, wajar kalau Raya ingin sekali membalas kebaikan Elrick. Jadi, berjam-jam lamanya, Raya membuat kue yang enak untuk Elrick.


"Wah, kau sudah cantik, pintar masak pula. Ini enak," ucap Oma mencoba sisa kue yang tadi dipotong Raya saat menghias cake itu. Raya hanya bisa tersipu malu mendengarnya.


Pukul enam sore, Raya pulang, izin untuk mengganti baju, lalu berjanji akan datang lagi bersama Nana. "Gak usah, nanti biar Dipa yang menjemputmu," ucapnya membelai wajah lembut Raya.


***


"Maaf sudah merepotkanmu," ucap Raya membuka pintu mobil saat Dipa datang menjemputnya. Padahal pria itu baru saja akan keluar membukakan pintu untuk Raya.


"Please, Raya. Jangan setiap detik berterima kasih," ucap Dipa tersenyum.


"Sudah lama kau tidak nampak. Aku pikir, udah gak mau berteman dengan aku lagi."


"Bodoh!" balasnya mencubit pipi Raya lembut.


***


Acara itu hanya dihadiri oleh pengisi rumah itu. Orang luar hanya Raya, Nana dan juga Meyra jika dia disebut orang luar. Namun, gayanya memerintah para pelayan seolah dialah nyonya rumah.


Makan malam masih sedang dipersiapkan oleh koki yang menunjukkan keahliannya di taman belakang rumah. Acara itu memang dibuat di sana. Garden party istilah Oma.


Jadi, list acaranya, sebelum menikmati makan malam yang pastinya sangat enak, Oma ingin membawa Elrick dan semua orang ke halaman belakang, untuk acara tiup lilin dan potong kue.


"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Oma memeluk Elrick. Walau tidak suka dengan acara seperti itu, Elrick tetap menghargai dengan mengusap punggung Oma dan mengucapkan terima kasih.


"Ayo, tiup lilinnya, El," ucap Oma sangat antusias. Dia yakin malam ini akan menjadi malam meriah.


Tidak ingin mengecewakan Omanya, Elrick menunduk untuk meniup lilin. Gema tepukan terdengar setelah pria itu memadamkan lilin di atas kue besar itu.

__ADS_1


"Selamat ya, Beb...," ucap Meyra yang malam itu tampil sangat cantik dan seksi mengalungkan satu tangan di leher Elrick, dan tiba-tiba tanpa malu mencium bibir Elrick dalam dan lama. Tepat saat itu berlangsung, mata Elrick saling tatap dengan mata indah namun kecewa milik Raya.


__ADS_2