Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 36


__ADS_3

Selama Sidney di London, Paris selalu memanjakannya. Membawa jalan-jalan, makan malam romantis di restoran mewah, menonton bioskop dan tentu saja pasti bergelut di ranjang.


Sidney akan kesepian hanya saat Paris kuliah. Kalau sudah seperti itu, dia pasti akan tidur atau menonton Net*flix hingga Paris pulang.


Hari ketiga di sana, Paris sudah membawa Sidney ke kampusnya. Berkeliling dan memperkenalkan gadis itu pada Sidney.


Banyak juga teman-teman kuliah Paris yang berasal dari Indonesia, hingga acara nongkrong saat itu nyambung dan membuat Sidney seperti berada di Indonesia. Teman-temannya juga baik, ramah dan sopan padanya.


"Pantesan Paris tidak mau diajak kemana-mana, party di rumah teman juga sampai perang saraf baru dia mau ikut. Ternyata dia punya pacar secantik kamu," ucap Ben memujinya.


***


Dalam circle mereka ada lima pria dan dua wanita. Elin dan juga Hana. Elin merupakan pacar Ben, dan mereka juga sudah tinggal bersama.


"Kamu harus kuliah di sini, Sid. Tinggal berdua dengan pacar itu rasanya gak bisa dilukiskan," bisik Elin sedikit malu.


Elin memang selalu mengajak Sidney bicara beda cerita dengan Hana, yang justru menempel di samping Paris. Tapi Sidney menepis segala pikiran buruk tentang mereka. Dia percaya pada Paris.


"Ris, papa mau bicara," ucap Hana menyodorkan ponselnya ke hadapan Paris yang saat itu sedang berbincang dengan Tom.


Sidney tadi duduk di sebelah Paris, tapi karena Elin mengajak ke dapur mereka, untuk menyiapkan cemilan, Hana mengambil tempatnya.


Paris yang tampak memutar bola matanya menerima ponsel itu. Dari jauh Sidney yang mengamati wajah dan gerak bibir Paris untuk membaca apa yang saat ini sedang mereka bahas.


Tidak lama, Paris menutup panggilan itu. "Tom, lo bisa ngantar Hana pulang? Bokap nya minta dia diantar sekarang."


"Aku gak mau sama Tom. Aku mau sama kamu. Lagi pula papa minta kamu yang antar aku pulang. Kamu lupa janji kamu sama papa?" rengek Hana manja.


Sidney dan Elin keluar dari dapur dengan membawa nampan dan juga makanan kecil. "Ada apa?" tanya Sidney menatap Paris yang berdiri, mengambil mantelnya.


"Kamu tunggu di sini dulu ya, Sayang. Aku antar dia pulang. Sebentar aja kok. Kamu ngobrol sama Elin aja dulu. Lin, gue titip Sidney, ya..."


Elin hanya mengangguk. Sidney? Dia hanya diam memandangi kepergian kedua orang itu. Di sudut hatinya terluka, tapi coba dia tepis, tidak mau memikirkan hal itu lagi.

__ADS_1


"Sini, kita duduk di sini aja." Elin mengajak Sidney duduk sedikit menjauh dari para pria yang asik ngobrol. "Udah, gak usah dipikirin. Paris segera pulang."


"Lin, aku bisa tanya sesuatu? Mmm, Hana memang dekat banget sama Paris, ya?"


Elin diam. Sidney bisa lihat kesusahan sekaligus keengganannya untuk menjawab pertanyaannya. Tapi dia butuh penjelasan, bukan, dia butuh informasi dari orang di luar dirinya dan Paris.


"Lin, kita sama-sama wanita. Kamu pasti paham yang aku rasakan saat ini, kan?"


"Aku gak tahu, Sid. Aku takut salah ngomong. Tapi aku paham yang kami rasakan saat ini. Tidak mudah menjalin hubungan jarak jauh seperti ini." Elin diam sesaat, menimbang apa dia punya kapasitas untuk bicara, dan apa nanti masalahnya tidak jadi runyam?


Siapa yang berani menghadapi Paris? Bahkan jika Ben dan semua teman di komunitas mereka maju, Paris juga bukan tandingan.


"Lin, aku mohon. Aku janji, gak akan bawa namamu dalam masalah ini. Aku juga tidak akan marah-marah pada Paris. Jika memang ada wanita lain yang dia suka, aku akan mundur dengan teratur, tanpa ada pertikaian."


"Bukan, sejauh yang aku lihat, Paris tidak ada rasa pada Hana, tapi sebaliknya."


Bola mata Sidney membulat, mulutnya yang tadi sempat ingin terbuka kembali terkatup. Dia sudah feeling akan hal itu. Siapapun bisa melihat hal itu, jadi tidak mungkin Paris tidak mengetahuinya. Lalu pria itu masih saja memberikan tempat dan kesempatan untuk Hana dekat dengan. Apa sebenernya maksud pria itu?


"Kenapa Paris begitu penurut hanya karena diminta mengantar Hana oleh ayahnya langsung diantar. Paris yang aku kenal tidak seperti itu. Tidak ada yang bisa menyuruhnya," batin Sidney semakin dilema.


"Itu dia yang jadi persoalan. Papanya Hana bekerja di Kedubes. Saat itu kami semua ada sedikit permasalahan untuk menetap di sini, karena Paris dan yang lain sempat ribut sama anak-anak yang punya nama di kota ini. Papa Hana menjamin Paris, dan mengatakan tidak akan menyebabkan masalah lagi, dan memohon agar jangan dikeluarkan dari kampus. Waktu itu yang dia pikirkan hanya tidak ingin mengecewakan orang tuanya dan juga kamu, Sid."


"Jadi, ini semua hanya karena hutang budi?"


"Bisa dibilang begitu. Malam itu Paris menemui ayahnya Hana, bertanya apa yang bisa dia lakukan untuk membalas kebaikan tuan David. Pria itu hanya meminta untuk bersikap baik dan menjaga Hana yang kebetulan adalah teman satu kampus kami."


Sidney kini paham posisi Paris. Dia menyesal karena sempat menyimpan ragu untuk pria itu. Tapi semua ini tidak dibenarkan. Walau sudah membantu, tidak serta-merta Hana boleh bertindak sesuka hatinya di dalam kehidupan Paris.


Satu jam berlalu, Paris datang. Wajahnya terlihat tidak bersahabat, dan begitu dingin. "Sid, kita pulang."


Hanya itu yang diucapkan pria itu begitu membuka pintu dan masuk beberapa langkah. Sidney dan Elin saling berpandangan, lalu saat Elin mengangguk Sidney pun bangkit dan pulang bersama Paris.


Tidak ada yang bukan suara selama dalam perjalanan yang hanya memakan waktu setengah jam itu. Begitu sampai di apartemen, Sidney mengganti bajunya dengan pakaian tidur serta membersihkan wajah dan giginya.

__ADS_1


Dia sudah menunggu di atas ranjang. Tinggal dua hari lagi dia berada di sana. Kalau tidak segera dibahas, dia akan pulang sembari membawa sesak di dada dan seribu pertanyaan.


"Tidurlah duluan, Sayang. Ada sedikit yang ingin aku kerjakan."


"Apa sangat penting? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Paris memutar tubuhnya menghadap Sidney, tidak jadi duduk di kursi belajar yang sudah dia tarik tadi. "Ada apa?" menjatuhkan tubuhnya di samping Sidney.


"Aku mau kita bicara banyak hal."


"Katakan..."


"Pertama, masalah kuliah di sini, kenapa kamu bilang aku akan kuliah di sini sama teman-teman mu?"


"Memangnya kenapa? Kamu toh juga akan kuliah di sini, kan?"


Sidney diam sejenak. Bagaimana dia menjelaskan pada pria itu, banyak hal yang harus dia pertimbangan dalam hidupnya, bukan semua Paris yang menentukan.


Well, dia memang ingin sekali kuliah di sini bersama Paris, sangat ingin malah. Tapi tidak bisa semudah itu.


Pertama, dia harus bahas dengan ayahnya dulu. Belum lagi, masalah kemampuan, dia belum tentu diterima di kampus mana pun di kota ini. Dia tahu lah kemampuannya. Ketiga, belum tentu juga papanya punya uang banyak untuk membiayai dirinya kuliah di luar negeri.


"Paris, Ada hal yang butuh didiskusikan. Aku belum bicara dengan papa. Lagi pula kau juga gak yakin keterima di sini."


"Jadi kamu gak mau kuliah di sini? Kalau masalah biaya, biar aku yang biayai pakai beasiswa yang ku dapat. Aku juga dapat duit dari mengerjakan proyek yang dipercayakan padaku. Kalau belum cukup, aku bisa ngomong ke papa, dia pasti mau bantu."


"Bukan itu masalahnya, dengan berbuat begitu kamu sama saja buat gak ada harga diriku, dan melukai harga diri papa juga."


*


*


*

__ADS_1


Lanjut gak nih? Sawer dong๐Ÿ™๐Ÿ˜๐Ÿคญ


__ADS_2