
Paris menoleh ke samping, melihat Sidney yang sudah yg terlelap. Napasnya terdengar teratur, yang artinya sudah tidur nyenyak. Bagian dadanya tampak menyembul karena dua kancing yang sempat gadis itu Bika tadi.
"Dasar gadis bodoh, kau selalu tahu bagaimana cara membuatku marah. Kalau saja kau masih sadar saat ini, aku mungkin akan men"cekik lehermu!" Umpatnya dengan nada kesal.
Dia juga akan meminta pertanggungjawaban Scot. Bukankah dia harusnya menjaga Sidney, ini malah pergi meninggalkan gadis itu di sarang penyamun. Lagi pula kedua orang itu bukannya sudah diperingatkan untuk tida datang ke pesta malam ini? Paris tahu betul bagaimana bentuk pesta yang sering diadakan Cici.
Dia bisa lama dengan gadis itu, karena dia tahu bagaimana menyenangkan Paris. Tidak banyak permintaan, tidak banyak bacot, seolah dengan tatapan Paris, Cici tahu harus apa dan tidak melakukan apapun.
"Eeeh... Nggg..." celoteh Sidney sambil mengibaskan tangannya ke udara. Entah apa yang saat ini datang ke mimpi gadis itu, tapi Paris masih betah menikmati wajahnya di dalam mobil, diantara rinai hujan yang dia yakini sebentar lagi akan semakin deras.
Tidak ingin berpikiran macam-macam, Paris segera meninggalkan rumah Cici tanpa menunggu Scot yang masih di rumah itu.
Sudah pukul 12 malam saat mereka tiba di rumah. Bi Ratih yang membukakan pintu bagi mereka karena Juminten juga ikut ke Jogja bersama Nani dan suami istri Diraja.
Untuk membawa Sidney ke atas, Paris harus menggendong gadis itu lagi. Sidney yang masih dalam keadaan tidak sadar, dibopong ke kamarnya yang memang sudah disediakan di rumah itu sejak dia kecil.
"Non Sidney kenapa, Den?"
"Ketiduran. Jangan cerita sama siapapun terlebih pada Oma kalau Sidney kayak gini," perintah Paris tegas.
"Kayak gini gimana maksudnya, Den? Bibi gak ngerti."
__ADS_1
"Duh, Bi Ratih. Pokoknya tentang malam ini, apa yang bibi lihat gak usah cerita. Titik."
Paris sudah tidak tahan berdebat sambil menggendong tubuh Sidney yang sintal. "Gadis ini apa gak bisa diet, berat amat," cicitnya menaiki anak tangga.
Paris sudah menyelimuti Sidney setelah mengancing pakaiannya agar matanya tidak terus mengajak untuk menoleh ke benda kenyal Sidney yang dia juga baru tahu kalau gadis itu memiliki sebesar itu.
Tapi saat baru akan mundur, Sidney justru bangun dan memuntahkan seluruh isi perutnya, dan naasnya mengenai pakaian Paris.
"Sidney!" Geramnya mengepal tinju. "Lo coba aja ulangi minum lagi, gue... gue akan.... Ah, sudahlah. Memangnya gue bisa marah sama, Lo!"
Paris beranjak. Dia mengamati muntahan Sidney di lantai. Dia ingin memanggil BI Ratih, tapi dia takut kalau wanita paruh baya itu akan kembali heboh dan mempertanyakan keadaan Sidney yang pastinya akan semakin panjang. Jadi, Paris memutuskan untuk membersihkan sendiri.
Mulailah dia membersihkan muntahan itu, di pel hingga bersih. Lalu saat ingin pergi, dia tidak tega melihat Sidney tidur dengan baju basah bekas muntahan yang bau.
Paris mencari pakaian tidur di lemari kaca yang berbaris hingga lima pintu. Tidak mau ribet, Paris membuka setiap pintu dan menemukan kaos oblong putih panjang. Dia pernah lihat Sidney memakai ini, dan dia sangat suka melihatnya. Imut dan cantik.
Lalu tanpa sadar, matanya melihat ke pintu lemari yang ada disebelah. Tumpukan Br*, Paris menelan salivanya, dia pernah mencicipi milik Cici dan juga beberapa mantannya sebelum Cici, rasanya tidak ada yang model seperti itu, dan juga sebesar ini.
Paris menghalau pikiran joroknya, lalu menoleh pada rak bawah, dan menemukan cela*na da*lam yang motifnya tokoh kartun dengan warna cerah dan model lucu.
"Dasar bocah. Gak ada seksi-seksi nya pilihan Lo." Paris segera menutup lemari dan mendekati Sidney.
__ADS_1
Mendudukkan gadis itu dalam keadaan tidak sadar, dan menarik gaunnya yang bau muntah itu melewati kepala. Paris menatap dinding yang ada di belakang Sidney agar tidak melihat secara jelas tubuh gadis itu. Dengan cepat memakaikan baju tidur itu dan menyelimutinya.
"Makin lama gue di sini, makin susah napas," batinnya mematikan lampu kamar dan hendak menutup pintu. Tapi tidak jadi, dia baru ingat kalau Sidney takut kegelapan jadi Paris kembali menghidupkan lampu kamar gadis itu. Dia tidak ingin kalau Sidney terbangun nanti, dia melihat sekitarnya gelap dan menangis karenanya.
Dia siap menghajar siapa saja yang membuat Sidney menangis. Bahkan Paris sangat membenci Sandi yang sering membuat gadis itu menangis karena tidak lagi memperhatikannya. Bahkan pria itu terang-terangan mengatakan kalau putrinya pembawa sial karena sudah membuat ibunya meninggal.
Saat itu Sidney menaiki rumah pohon miliknya dan Scot, menangis di sana, tidak mau turun. Paris ingat, kala itu gadis itu duduk di kelar VIII.
Bergantian Raya, Nani dan Scot datang membujuk, tapi Sidney tidak mau turun. Barulah saat Paris yang datang, gadis itu memeluk Paris erat, menangis sejadinya dan setelah merasa plong, dia mau di gendong Paris untuk turun.
Sejak saat itu, Paris tidak pernah lagi ramah pada Sandi. Walau pria itu sudah minta maaf pada keluarganya karena sudah merepotkan mengurus Sidney, tetap saja Paris ingin sekali memukul Sandi saat itu.
Secara naluriah, Paris menyayangi Sidney. Sejak gadis itu lahir, Lia pernah mengatakan padanya, kalah suatu hari Sidney akan menikah dengan Paris. Bahwa Paris adalah seorang pangeran yang diciptakan Tuhan untuk Sidney, dan Sidney akan menunggu pangerannya untuk datang melamar.
Itu adalah rahasia kecil antara Paris dan Lia. Sejak kelahiran Scot dan Sidney, Paris lebih memilih untuk main ke rumah Lia. Menjaga dan bermain dengan Sidney, ketimbang dengan adiknya, Scot.
Jadi, beralasan kalau perasaan itu mulai timbul sejak dulu. Tapi Paris sadar, mereka tidak mungkin memiliki hubungan lebih dari seorang kakak dan adik, apalagi Raya sudah menganggap Sidney sebagai putrinya seperti janjinya di depan Lia sesaat wanita itu akan mengembuskan napas terakhirnya.
Paris perlu menenangkan pikirannya. Gejolaknya pada Sidney mulai muncul lagi setelah dia redam sekian lama. Bayangan kalau suatu hari nanti gadis itu akan didekati pria, membuat darahnya mendidih. Tapi mereka bisa apa?
Demi menenangkan pikirannya, Paris berencana mengambil air hangat ke dapur. Tepat Scot memasuki ruang keluarga. Mereka berpapasan dan Paris akhirnya punya tempat untuk melampiaskan sedikit amarahnya malam ini, lagi pula adiknya itu juga bersalah.
__ADS_1
"Paris, dimana Sidney?" tanya Scot yang mulai khawatir. Bagaimanapun kalau sampai Sidney kenapa-kenapa, dia akan disidang keluarga Diraja, bisa jadi dihapus dari kartu keluarga.
Pertanyaan Scot, dijawab Paris dengan satu pukulan di wajah Scot. "Kalau lo gak bisa jaga dia, setidaknya jangan bawa dia ke tepi jurang!"