
"Sid, ada yang nyariin, lo tuh," ucap Rina yang baru masuk ke dalam kelas. Sejak pagi memang tidak ada kegiatan belajar-mengajar karena semua siswa yang menjadi panitia dan guru sibuk mengurus keperluan acara untuk ulang tahun sekolah ke 35 tahun.
"Siapa Rin?"
"Para senior kayaknya."
"Kak Cici?" tebak Sidney.
"Bukan, ini malah lawan kak Cici, yang pegang OSIS."
Sidney segera keluar demi menjawab rasa penasarannya. Dia tidak tahu kalau dia begitu terkenal sampai para seniornya mendatanginya.
"Kakak cari aku?"
"Lo Sidney, kan?"
Gadis itu mengangguk. Mengamati empat orang gadis berpenampilan mencolok untuk ukuran anak SMA.
"Lo mau gak kita daftar jadi anggota OSIS?"
"Boleh, Kak," sambar suara pria dari arah belakang mereka. Scot yang baru dari kantin melihat sahabatnya dikerubungi, segera mendekat, takut keempatnya menyakiti Sidney.
"Lo...." Suara Dita mengambang di udara.
"Gue Scotland Diraja," sahut Scot mengulurkan tangan.
"Lo adiknya Paris, kan?"
Scot mengangguk seraya tersenyum. Kembali nama abangnya disandingkan dengannya. Mau kesal, tapi ya sudahlah. Toh, setidaknya bisa menolongnya untuk masuk ke lingkaran OSIS seperti yang selama ini Scot dambakan sejak SMP, jika masuk SMA nanti ingin menjadi pengurus OSIS agar banyak cewek-cewek di sekolah yang suka padanya.
"Lo mau gabung juga? boleh dong. Ya udah, besok kita rapat, seleksi anggota OSIS yang baru sekalian memilih pengurus baru. Lo berdua datang ya?" ucap Dita semringah.
"Serius, Kak?" Scot masih belum percaya, semudah itu jadi anggota OSIS? untuk apa dia melobi pengurus OSIS saat makan siang di kantin, kalau pada akhirnya mereka justru datang menawarkan pada mereka.
"Eits, tidak semudah itu. Kalian harus bisa bawa Paris ke acara pesta ulang tahun sekolah kita besok malam," potong Susi menghentikan kegembiraan Scot.
Semua orang tahu, Paris tidak akan pernah mau datang ke acara itu, setiap tahun sejak dia masuk ke sekolah ini.
"Bukannya semua murid wajib datang kak ke acara ultah ini?" tanya Sidney tidak mengerti mengapa mereka ditugaskan membawa Paris ke acara yang diselenggarakan sekolah.
"Kalian gak kenal Paris? Mana ada sih yang bisa maksa dia untuk datang. Setiap tahun juga dia gak pernah datang. Nah, ini jadi tugas kalian!"
__ADS_1
"Kalau tiap tahunnya dia gak mau datang, kami juga gak akan berhasil ngajak dia untuk datang, Kak," ucap Sidney merasa ini misi yang tidak mungkin. Apalagi dirinya saat ini sedang jaga jarak dengan Paris sejak pernyataan pria itu yang mengatakan suka padanya. Mengingat hal itu wajah Sidney memerah.
"Hei, malah bengong."
"Hah? Kenapa?" tanya Sidney gelagapan.
"Kalau kalian merasa gak mampu, sorry, pintu OSIS tertutup buat kalian!" Ancam Dita.
"Eits, siapa bilang kita gak mampu. Kita pasti berhasil bawa Paris ke sini besok malam."
***
"Lo gila, ya? Siapa yang bisa bujuk Abang lo ikut ke pesta itu?" umpat Sidney masuk ke dalam kamar Scot yang lagi sibuk mendesain di laptopnya.
"Lo."
"Maksud, Lo? Jangan harap gue mau ditumbalkan!"
"Ayo lah, Sid. Rencana ini pasti berhasil. Lo ingat Steve? saat dulu cowok itu ngedeketin lo, Paris kan marah terus peringatkan Steve untuk menjauhi lo. Nah itu akan kita buat jadi pancingan buat dia keluar dari guanya."
"Gue gak paham, ya Nyet. Perasaan gue kok gak enak, ya?"
Scot mulai menjalankan rencananya. Malamnya dia masuk ke kamar Paris, menemui Abang. "Bisa gak, lo ketok pintu dulu sebelum masuk?" Hardik Paris tanpa mengalihkan fokusnya dari layar laptopnya.
"Woi...!" Paris akhirnya tidak tahan dan memutar kursinya untuk melihat ke arah Scot.
"Dih, jadi Abang kaku banget sih, Lo. Ingat Ris, lo gak akan bisa jadi Abang di rumah ini, kalau gue gak lahir. Harusnya lo say thanks sama gue."
"Keluar Lo!"
"Dih, galak amat kayak cewek lagi pms. Gue cuma mau minta tolong, lo peringatkan Sidney, dia tetap mau terima ajakan Steve yang ngajak ketemuan di pesta ulang tahun sekolah besok malam."
Paris diam. Wajahnya begitu datar. Scot tidak berhasil menilai apa umpannya termakan atau tidak. Tapi hati kecilnya berkata, rencananya akan berhasil, jadi memutuskan untuk segera keluar dari sana.
Sidney melempar ponselnya ke nakas setelah membaca pesan dari Scot yang mengatakan dirinya sebaiknya bersiap-siap, kemungkinan Paris akan datang menemuinya.
Kini jantung Sidney berdebar dengan kencang. Gugup dan keringat sudah mulai bercucuran di wajahnya. Sidney masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya dan menenangkan hatinya.
Diciumnya ketiaknya memastikan apakah badannya bau, dan tersenyum kala mendapati tubuhnya wangi.
Ketikan di pintu membuatnya buru-buru ke luar. Jantungnya semakin berdegup kencang. Mengambil waktu jeda untuk dirinya bisa tenang dulu baru membuka pintu. Dia yakin itu adalah Paris.
__ADS_1
"Gue cuma mau bilang, besok lo gak usah datang ke sekolah untuk acara itu," ucapnya dingin sesaat setelah daun pintu dibuka oleh Sidney.
"Kenapa? Siapa lo ngatur gue gak boleh pergi?" sahut Sidney memberanikan diri menatap wajah Paris.
"Gue bilang jangan pergi, ya jangan pergi! Lo bisa gak sih gak usah ngerepotin?"
"Ngerepotin? Kapan gue ngerepotin?"
"Intinya, lo gak usah pergi!"
Paris sudah pergi, dengan wajah marah. "Dasar Paris bego,Dia bisa minta baik-baik, kan?" umpatnya sangat kesal membanting pintu.
***
Acara malam itu begitu meriah. Ini bukan hanya momen merayakan ulang tahun sekolah, tapi juga waktu untuk mencari gebetan baru.
"Senyum dong, lo. Udah cantik, anggun wajah kayak jeruk purut," ucap Scot menyikut Sidney yang terlihat cantik dengan gaun dan polesan lembut yang semuanya hasil maha karya Raya.
Kalau soal merias Sidney, Raya akan dengan senang hati mengerjakannya. Malah tanpa diminta, terkadang saat mau pergi sekolah, Raya akan mengikat rambut Sidney, kadang dikepang dua, atau di kuncir kuda.
"Gue gak mood. Kalau Steve beneran dekati gue, gimana?"
"Ya udah terima aja. Lumayan biar lo punya list, pacar selama SMA. Btw, gue lagi pedekate sama Gladys. Ntar gue kenalin sama lo, sebagai sahabat, gue mau lo nilai, dia cocok gak sama gue."
Sidney hanya diam. Sesekali mengangguk atas ucapan Scot. "Itu Rina, gue ke sana dulu, ya?"
"Oke, tapi jangan lupakan misi kita. Kalau lo udah ketemu Paris, kabari Quartet girl!" Lagi-lagi Sidney hanya mengangguk.
"Lama banget sih lo datang. Gue tungguin dari tadi. Mana twins lo?" tanya Rina merujuk Scot.
"Lagi pedekate sama gebetan barunya, Gladys namanya."
"Hai, Sid. Lo udah sampai? Gue cariin dari tadi," ucap Steve yang sudah berdiri di belakangnya.
"Hai, Kak," Sapa nya singkat.
"Kita jalan yuk. Di sana banyak jajanan. Kita kelilingi, yuk," tawarnya, menunjuk bazar makanan yang mengelilingi lapangan tempat acara.
"Pergi lah Sid, kak Steve udah nyariin lo dari tadi," ucap Rina mendukung Steve dengan sahabatnya.
Jajanan pertama yang dibeli Steve adalah sate Madura. Hanya dua tusuk sempat Sidney makan, tak sengaja menggigil cabe rawit, hingga kepedesan dan matanya mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Bentar, gue ambil minum ya." Steve sudah berlalu dan saat itu sosok tinggi tegap muncul dihadapan Sidney, penuh amarah menarik tangan gadis itu tanpa sempat mendengar protesnya.