Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Chapter 57


__ADS_3

Kata orang, jangan masuk ke dalam lingkaran yang bisa membuat hanyut. Tapi tampaknya Elrick sudah terlambat untuk menarik diri. Kini dia sudah terikat secara tidak langsung pada Raya.


Dua kali mengalami penculikan membuat Elrick terus dibayangi rasa gelisah akan keselamatan Raya, hingga memutuskan untuk menempatkan pengawal yang dari jauh memantau gadis.


Kalau biasanya jadwal Elrick ke rumah Nani dua kali seminggu, kini hampir setiap hari. "Oma senang kau sering kemari. Tapi yang Oma heran kan, mengapa setiap kau kemari, ketepatan saat Raya ada disini ya?"


Wajah Elrick memerah. Dia kesal pada Omanya belakangan ini yang selalu berhasil membuatnya malu, terlebih di depan Raya.


Begitupun dengan Raya, yang pada akhirnya menunduk malu. Saat melihat kedua anak Adam dan Hawa itu tersipu malu, Nani hanya bisa tertawa.


Kalau sudah begitu, Elrick hanya mendengus kesal. Dengan rajin datang saja Omanya sudah mengolok-olok dirinya, bagaimana kalau wanita itu sampai tahu kalau Elrick bisa datang tepat saat Raya juga ada di rumah ini karena laporan dari intel nya? bisa-bisa dia habis diledekin.


Asyik menggoda keduanya, candaan Oma terhenti kala Meyra tiba di rumah itu. Suasana yang sebelumnya sangat santai dan juga menyenangkan, tiba-tiba berubah kaku dan terasa sesak udaranya.


Hingga saat ini, Elrick memang tidak mengatakan apapun pada Meyra soal peristiwa penculikan Raya dua hari lalu, dia masih mendalami siapa yang menjadi pelakunya, walau tebakan Elrick, Meyra juga ikut terlibat.


"Selamat sore, Everybody... wah, lagi ngumpul ya, ini aku bawa makanan," ucapnya meletakkan satu bungkusan di atas meja. Tidak satupun yang menyahut. Kalau bukan karena Elrick, Nani pasti sudah sejak lama melarang Meyra masuk ke rumah itu.


"Beb, kamu kok gak bilang di sini. Week-end begini malah nongkrong di rumah Om. Kamu kok gak ngajak aku?" ucap Meyra duduk samping Elrick dan tanpa malu mengecup bibir Elrick sekilas, yang sempat dilirik Raya dan kembali menunduk.


"Bisakah kalian melakukan hal tidak patut itu jauh dari jangkauan mataku?" hardik Nani yang semakin kesal pada Meyra.


Oma tahu, selama wanita rubah itu ada disekitar Elrick, dia akan susah untuk mendekatkan cucu kesayangannya dengan Raya. Padahal saat menerima laporan dari anak buahnya saat Elrick dan Raya menonton di bioskop, Nani sudah optimis kalau sebentar lagi keduanya akan saling mengatakan perasaannya satu sama lain.

__ADS_1


"Oma, C'mon, please jangan norak deh. Ini udah zaman maju, yang kami lakukan masih hal biasa," jawab Meyra tersenyum. Melingkarkan tangannya di lengan Elrick. Dia sengaja melakukan hal itu, lebih genit dari biasanya di depan Raya.


Dia ingin Raya tahu, kalau Elrick miliknya dan tidak punya kesempatan bagi Raya yang dianggap wanita miskin dan kampungan itu untuk menggoda Elrick.


"Sudah lah, Oma lapar. Kita makan saja," ucap Nani berdiri. Raya sigap membantu memapah Nani, namun baru satu langkah, mereka berhenti. "Itu pasti, Dipa."


Wanita itu berbalik dan menyongsong kedatangan Dipa. Tebakannya benar, itu cucu keduanya yang berjalan dengan langkah panjang mendekati mereka, dan tanpa ba-bi-bu, langsung melayangkan satu pukulan ke wajah Elrick.


"Aaaackh... Dipa.. ada apa ini? mengapa kau pukul Elrick?" pekik Nani. Dia menatap tajam ke arah Dipa lalu beralih ke arah Elrick yang saat ini sudah berdiri menantang Dipa dengan memegangi sudut bibirnya yang terluka.


"Cih! Ada apa denganmu, apa lo udah gila?" umpat Elrick sesaat setelah meludah di lantai, membuang air liurnya yang sudah tercampur dengan tetesan darah segar.


"Diam, lo bang*sat!. Dasar anak pembunuh! Bilang sama gue, dimana wanita itu. Dimana lo sembunyikan nyokap lo yang seorang pembunuh itu!" Umpat Dipa dengan amarah yang tersulut. Dia lelah, pulang dari Perancis dengan tubuh yang masih lelah, langsung menuju rumah Oma sesaat setelah dia kembali dari apartemen Elrick, mendapati pria itu tidak ada di sana, lalu menebak kalau dia ada di rumah neneknya.


"Maksud lo apa?" Kilat merah muncul di mata Elrick. Dia marah, tersinggung dan juga benci karena Dipa sudah mengungkit soal wanita yang sudah melahirkannya.


"Maksud gue? Bukannya sudah jelas. Gue tanya, dimana nyokap lo? Gue mau minta pertanggungjawaban nya karena udah bunuh orang tua gue!"


"Bang*sat!" umpat Elrick melepas satu pukulan keras ke rahang Dipa hingga wajahnya terlempar ke samping. Setelah itu dapat dipastikan keduanya saling adu pukul hingga berharap salah satu diantara mereka ada yang mati lebih dulu.


Nani roboh ke kursi. Memegangi dadanya yang nyeri. Raya yang juga tidak kalah terkejut dengan tuduhan Dika hanya bisa membantu menenangkan Nani. "Oma, tenang ya Om. Aku mohon Oma kuat, ya," ucap Raya sangat panik.


"Raya... lerai mereka...."

__ADS_1


Bukan tidak mau mengikuti perkataan Oma, tapi Raya sendiri bingung harus menarik yang mana. Jujur, dia sebagai orang luar yang tidak tahu apa-apa mengenai masalah keluarga Diraja, takut memperburuk keadaan diantara kedua pria yang saat ini dibalut amarah.


"Elrick... stop it, Babe, hentikan sayang. Nanti wajah tampan kamu bisa luka. Aku mohon, demi cintamu padaku, Babe, hentikan..." Meyra yang tidak henti-hentinya memanggil nama Elrick meminta pria itu berhenti, dan menyudahi aksi saling pukul.


Raya melihat wajah Oma yang semakin pucat mengamati baku hantam antar keduanya, memberanikan diri untuk maju dan masuk ke dalam lingkaran api yang saat ini menyala diantara kedua pria tampan itu. Kini dirinya berdiri tepat diantara kedua pria itu. "Aku mohon kalian hentikan...," ucap Raya sembari terisak. Dia ketakutan, tidak pernah melihat perkelahian yang sedahsyat ini, guci dan meja serta kursi hancur semua dipakai menghantam lawan.


"Awas, Ray. Biar aku habisi anak pembunuh ini!" umpat Dipa yang kini sedang menatap wajah Raya, sementara Elrick berada dibelakangnya.


"Dipa, aku mohon, hentikan. Aku ketakutan, Oma juga sudah jatuh lemas melihat kalian berkelahi," ucapnya memohon pada Dipa. Lalu berbalik ke arah Elrick. "Aku mohon, jangan bertengkar, please...." ucap Raya lebih pada bisikan sebenarnya. Kini matanya saling adu tatap dengan Elrick.


Asli. Bara yang tadi ada di mata pria itu, dengan melihat air mata Raya, perlahan mulai padam. Dia juga bingung, mengapa ucapan gadis itu bisa mengomandoi dirinya untuk menahan emosinya. Seolah perkataan Raya menjadi rem untuk mengontrol emosinya.


Elrick tidak mengatakan apa pun lagi. Benda yang terakhir yang dia lihat sebelumnya keluar dari rumah itu, adalah ketakutan dan juga permohonan di mata Raya. Dia mundur, bukan karena kalah atau takut dengan Dipa, tapi demi gadis itu.


Elrick menyambar jaket kulitnya, lalu pergi dari sana diikuti oleh langkah Meyra.


*


*


*


Hai... aku datang lagi setelah liburan sehari. Maaf kemarin gak up, me time dulu ya😁

__ADS_1


Chapter ini, satu plot twist kebuka lagi... hayo ada apa lagi...oh, iya, jangan lupa kasih aku hadiah, biar semangat buat crazy up.. Makasih 🙏😘😘


__ADS_2