
Kedua pria suruhan Meyra memulangkan Raya kembali. Tapi mereka tidak sebaik itu mengantar sampai ke rumahnya, tapi menurunkannya di tengah jalan.
Hujan yang semula hanya rintik kini berubah menjadi hujan deras. Raya berjalan dengan memeluk tubuhnya. Dia berteduh disebuah halte, berharap ada taksi yang lewat yang mau mengantarnya dan akan dibayar setelah sampai di rumah.
Kenapa nasibnya begitu sial. Dua kali diculik tanpa tahu apa kesalahannya. Kali ini mereka mengatakan kalau ini hukuman karena sudah mendekati Elrick. "Aku kan gak mendekati Mas Elrick," cicitnya sembari menangis.
Satu jam menunggu, tidak ada juga taksi yang lewat. Beberapa mobil sempat berhenti didepannya, lalu membuka kaca mobil, karena Raya buang muka, mereka membatalkan niatnya untuk menggoda, menyadari kalau Raya bukan sedang menunggu pelanggan.
Dengan air mata yang terus meleleh, Raya berdoa dalam hati, semoga ada seseorang yang mau menolongnya. Wajahnya menunduk, gaun putih yang dia pakai basah hingga membayang pada lekuk tubuhnya.
"Sedang apa kau di sini?!" hardik Elrick hingga membuat Raya terkejut, mendongak menatap pemilik suara itu dan menghambur ke dalam pelukannya. Dia tidak peduli janjinya pada wanita yang sudah menculiknya tadi untuk menjauhi Elrick. Raya memeluk pria itu, karena merasa bersyukur bisa bertemu dengan Elrick saat ini.
Ketakutan yang sejak tadi dia rasakan seketika sirna. Dia kini merasa aman karena dia tahu Elrick akan membawanya pulang.
"Jawab, ngapain kau di sini?" Kali ini Elrick tidak pakai lo gue lagi seperti biasa. Pria itu mengurai pelukan Raya agar bisa mendengarkan penjelasan gadis itu.
Seperti sudah diatur alam, Elrick yang pulang dari rumah Oma hanya untuk menegur wanita itu kembali pulang ke rumahnya. Saat melewati jalan itu, samar dia mengenali gaun yang dikenakan Raya, hingga memutar untuk mastikan kalau itu memang benar Raya.
"Tadi ada orang yang culik aku lagi." Kembali tangis Raya terdengar diselingi rinai hujan.
"Apa?"
"Iya, aku diculik untuk kedua kalinya. Kayak nya ini fans mas Elrick yang culik, karena minta aku untuk menjauhi mas Elrick. Mereka mengancam kalau aku gak mau mengikuti kemauan mereka, maka mereka akan buat perhitungan dengan ku," terangnya menghapus jejak air matanya diantara air hujan yang membasahi pipinya.
"Meyra?"
"Bukan. Mbak Meyra kan aku kenal. Dia gak ada diantara ketiga wanita itu."
"Nanti kita bahas. Sekarang lo gue antar pulang," ucapnya. Nah, kan balik lagi pake lo gue, sesuai ciri khas Elrick.
Di dalam mobil, Elrick mengintrogasi Raya. Menayangkan ciri-ciri ketiga wanita yang dia sebutkan tadi. Menurut penjelas Raya, dia sudah bisa menebak kalau itu memang teman-teman Meyra. Tindakan ini sudah tergolong tindakan kriminal, dia akan membalaskan perbuatan yang mereka lakukan. Selama dia hidup, tidak ada yang bisa menyakiti Raya!
Sesampainya di depan laundry, Elrick tidak langsung pergi, tapi menunggu hingga Raya masuk ke dalam rumah. Dia ingin memastikan kalau Raya sudah aman, baru dia bergegas pergi dari sana.
Dia sudah bisa menebak dari awal, ini pasti ada hubungannya dengan Meyra. Gadis bodoh mana yang hanya karen ngefans sama dirinya hingga melakukan penculikan.
Elrick memukul setir mobil, geram atas perbuatan Meyra yang bisa membahayakan Raya. Bagiamana tadi kalau sampai Raya diganggu oleh pria hidung belang?
Besok dia akan meminta Meyra menjelaskan padanya. Jangan harap wanita itu selamat kalau sampai berbohong.
***
Di sudut kota di salah satu negara maju, Dipa duduk menatap ke arah jendela, menikmati udara dingin yang membelai wajahnya. Ditangannya terselip kertas yang baru saja dia terima dan saat ini sedang mengamati laporan yang dibuat detektif yang dia sewa.
Kenyataan yang tidak dia sangka-sangka menghantamnya. Kalau dia membuka hal ini, banyak yang akan dipertaruhkan. Nama baik dan juga semua yang saat ini dia miliki.
__ADS_1
Selama ini diam-diam dia bergerak, kata hatinya tidak salah. Kini telah teki telah terungkap, dan dia tidak akan tinggal diam.
"Bang*sat! Aku akan membunuhmu!" umpatnya penuh dendam.
*
*
*
Hai, aku mau promo novel yang lain, mampir juga ya
Blurb
*Sold
"Papa ada yang harus aku bicarakan dengan mu" ucap Bee tanpa mengetuk pintu, masuk ke ruangan dengan cahaya temaram itu. Beruntung karena tante Di ada di sana, berdiri tak jauh dari tempat duduk papanya. Adik mama nya itu pasti akan mendukung rencana nya asal dirinya bahagia.
"Dari mana saja kamu? kelayapan tanpa pamit pada siapa pun!" salak papa masih terkejut dengan kehadiran putri nya di ruangan itu.
"Maaf papa, tapi aku harus bicara pada papa. Besok, keluarga Elang akan datang untuk melamar ku, kami akan menikah papa" ucap nya dengan suara gemetar.
"Bee.." pekik tante Di mendengar kabar yang di sampaikan keponakan tersayang nya.
"Aku ga mau, aku hanya cinta sama Elang. Lebih baik aku mati dari pada menikah dengan pria gila yang mau menikahi ku tanpa bertemu dengan ku lebih dulu" suara Bee tak kalah tinggi. Dia sudah pasrah. Terserah dianggap durhaka. Dia tak perduli. Dia hanya ingin mempertahankan cintanya, kebahagiaan nya.
"Jangan melampaui batas mu Bee" bentak papa lagi.
"Aku ga mau pa, aku akan kawin lari dengan Elang, kalau papa ga merestui hub.."
Plaaak!
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Bee. Sejak lahir dia selalu di sayang, ini kali pertama tangan papanya memberi tanda di tubuhnya. Tanpa suara, air mata itu terus mengalir.
Tante Di menahan pekikan dengan menutup mulutnya yang menganga, terkejut akan tindakan papa.
"Kau sudah gila Hutomo, apa yang sudah kau lakukan?" hardik seseorang penuh amarah yang sedari tadi hanya jadi penonton dari pertikaian ayah dan anak itu.
Seketika itu lah Bee menoleh ke arah suara itu. Suasana ruangan yang temaram, membuatnya tak memperhatikan ada orang lain yang duduk di sofa di sudut dinding, tak jauh dari meja kerja papanya. Tertutup oleh lembar gorden jendela.
"Kau? sedang apa kau disini?" pertanyaan Bee hanya menggantung di udara. Tak ada yang menjawab. Semua diam. Menunduk. Hanya pria itu yang berani menatap wajah nya yang terus menangis.
"Bee.." ucap pria itu mengulurkan tangan ke arah Bee. Khawatir melihat tubuh Bee yang terguncang karena Isak tangisnya.
Paham lah dia kini. Pria ini lah yang sudah melamar nya. Memorinya merekam ucapan papa nya dengan tante Di nya kemarin, saat mereka secara tertutup dengan suara pelan membahas masalah utang piutang papanya, hingga papanya harus menjual lahan mereka hampir semuanya. Lalu kalau keuangan papa sedang sulit, lantas uang yang begitu banyak dia kirimi untuk membeli pakaian, tas, sepatu ber merk dan segala perhiasan mahal itu duit dari mana?
__ADS_1
Semua dia sambungkan satu persatu, lalu mulai lah dia mendapat titik temu. Sedetik itu dia menutup mulutnya, mata nya membulat menatap pria itu lalu beralih ke papanya.
"Papa..kau menjual ku pada pria ini?" ucap nya nyaris berupa bisikan.
"Bee.."kembali Bintang mengulurkan tangannya. Dia bisa melihat gadis itu sangat terpukul. Menderita.
"Kau menjijikkan, aku membencimu!" datar, tanpa emosi yang tergambar di wajah. Hanya ada luka. Luka dalam diam, adalah yang paling berbahaya karena bisa membakar jiwa seseorang. Mungkin dirinya bernafas, namun jiwanya mati. Bak mayat hidup!
Selangkah demi selangkah Bee mundur. Kini tatapannya tak lepas dari mata papanya. Hingga tubuhnya tiba di ambang pintu. Perlahan dia menyentuh daun pintu, menghapus air matanya. Tak ingin memberi kepuasan pada pria itu, atau pun pada papanya akan kekalahan dirinya malam ini.
Dengan harga diri tercabik, dan suara bergetar Bee hendak berlalu dengan kalimat yang menyakitkan dan di sesali papanya seumur hidupnya.
"Pastikan papa mendapatkan harga yang pantas untuk diriku, Jangan sampai papa rugi telah menjual ku!"
Blam!!
Pintu dari kayu mahoni itu tertutup rapat. Pelan. Bee berjalan ke kamarnya dengan tenang. Tidak berlari, tak ingin membuat mereka tahu betapa hancur nya dirinya saat ini.
"Ini kali pertama dan terakhir kau menyentuh Bellaetrix. Kau menjijikkan Hutomo. Bagaimana bisa kau menamparnya?jangan pernah berpikir untuk menyentuh seujung rambutnya pun. Bahkan jika dia memintamu untuk pergi ke neraka, maka kau akan melakukan nya!" salak Bintang kesal, benci pada sosok ayah yang telah tega menampar putrinya. Dan dia juga benci pada dirinya sendiri, karena tak sempat menghentikan tangan Hutomo yang menyentuh pipi Bee.
Gadis itu pasti hancur saat ini. "Tante Di, tolong lihat Bee untuk ku. Pastikan dia baik-baik saja" ucap Bintang setengah memaksa hingga Diana memilih untuk keluar dari ruangan terkutuk itu.
Sejam lalu, dia diminta untuk datang kesana, yang telah di hadiri oleh Bintang. Dia kenal pria itu. Bintang Danendra, pria paling bercahaya di ibu kota saat ini, sebagai pengusaha sukses dan kaya raya.
Yang tidak tante Di sangka adalah, orang yang sudah 'melamar' Bee adalah diri Bintang. Sejak kapan Bintang mengenal Bee yang hanya anak bawang di dunia modeling?
Saat menapaki langkahnya, tante Di terus berfikir. Di satu sisi, Bintang lah yang telah menyelamatkan Hutomo dari penjara, karena sudah di laporkan sebagai penipu, meminjam sejumlah uang yang habis di meja judi. Uang yang di pinjam itu lama kelamaan membukit beserta bunganya. Surat tanah nya akhirnya di gadaikan ke Bank, dan sisa pinjaman itu kembali di judikannya. Bahkan, dia meminjam uang dari pinjaman online, hingga melilit lehernya. Ancaman dari debt collector mencarinya terus. Hingga datang lah seseorang, suruhan Bintang, untuk membebaskannya dari utang piutangnya. Sekaligus membeli hampir seluruh lahan sawit milik nya.
Salah nya dimana? salah nya, pertolongan dari Bintang itu tidak gratis. Dia mau membantu Hutomo dengan catatan pria itu menerima lamarannya untuk menikahi putri semata wayangnya.
Tentu saja tanpa pikir dua kali Hutomo menyanggupi. Bahkan menurutnya ini jalan keluar yang sangat baik. Dia bisa bebas dari jeratan hutang milyaran rupiah, dan putri kesayangan bisa mendapatkan suami yang kaya raya.
Saat Bintang meminta Riko mencari tahu tentang kehidupan dan semua yang berhubungan dengan Bee, Riko mendapati laporan bahwa ayah nya Bee sedang terlilit hutang, bahkan lahan sawit sebagai sumber keuangan nya juga sudah dia gadai ke bank. Pinjaman itu untuk berjudi dan minum alkohol.
Saat itu lah Bintang merasa punya cara untuk mengikat Bee. Dia tak ingin kehilangan gadis itu. Terlebih saat dirinya tahu, ada pria yang mendekati dan menyukai Bee, yaitu Kia.
Awalnya dia ingin mendekati Bee sebagai tetangga baru, perlahan merebut hati gadis itu yang sudah tertawan pada Elang, cinta monyet gadis itu. Tapi saat seluruh lingkungan itu membicarakan keserasian Bee dan Elang sebagai pasangan, Bintang cemburu, hingga akalnya terbendung oleh amarah, menemui Hutomo, dan meminta agar hubungannya dengan Bee segera di beritahukan pada putrinya itu.
"Bee..kamu sudah tidur sayang?" ketuk Diana sebelum membuka pintu.
Gadis itu berbaring di tempat tidur, dengan sisa air mata masih tergenang di pipi.
"Semoga kebahagian sejati mengikuti mu, nak" bisik nya mencium kening gadis itu sebelum keluar dari kamar itu.
__ADS_1