Terjerat Gairah Sang Pelakor

Terjerat Gairah Sang Pelakor
Season 2 Chapter 26


__ADS_3

Sidney berhasil keluar dari kamar mandi dengan aman. Beruntung ada jaket itu hingga bisa dia ikatkan di pinggangnya dan menutupi noda di permukaan roknya.


"Lo dari mana? Gue tungguin gak nongol juga lo," cercal Scot saat melihat kedatangan Sidney di depan pintu kelas.


"Dari toilet," jawabnya singkat. Perutnya sakit sekali, selalu begitu kalau haid di hati pertama.


Scot memperhatikan penampilan Sidney yang memakai jaket yang dia kenali milik Paris, sedikit sakit di hati lalu mengulum senyum, mungkin dengan merestui hubungan mereka, cara Scot menyayangi Sidney.


Bunyi musik Cannon D, adalah semangat baru di siang hari, karena pertanda kemerdekaan diraih. Mata pelajaran usai, dan kehebohan terjadi di kelas. Anak-anak penuh semangat memasukkan barangnya ke dalam tas dan bahkan sudah bersiap untuk lari, tinggal menunggu guru keluar saja.


"Yuk, pulang," ucap Sidney yang terlihat lemas.


"Lo naik ojek aja ya. Gue mau ngantar Gladys ke toko buku," ucap Scot terlihat santai memasukkan buku-bukunya.


"Oh, ya udah. Sampai ketemu di rumah." Ada nada sedih di hati Sidney, karena sahabatnya itu lebih mementingkan Gladys dari pada dirinya, tapi tidak bisa disalahkan, Gladys adalah pacar Scot, pasti punya tempat yang istimewa di hati pria itu.


Tanpa rasa bersalah, Scot melenggang menuju parkiran, melewati Sidney dengan menggandeng tangan Gladys. "Kami duluan ya, Sid," ucap Scot menepuk punggung Sidney. Gadis itu hanya bisa mengangguk dengan tersenyum kecut.


Dia sendiri lagi. Tidak punya siapa-siapa. Selama ini dia begitu dimanja, tidak pernah kekurangan kasih sayang di keluarga Diraja, sekarang setelah seperti ini, jangan kan kekasih, sahabat pun menjauh.


Sidney berjalan terus, ingin menangis tapi di tahan. "Lo harus kuat, Sid," cicitnya menyemangati dirinya.


Gladys menatap wajah Scot saat pria itu membukakan pintu baginya. "Kenapa sih kita gak ajak Sidney pulang bareng kita? Kasihan beb," ucap Gladys merasa bersalah pada Sidney.


"Biarin aja. Pangerannya udah nungguin di parkiran gedung B," sahut Scot mengulum senyum. Hampir saja sandiwara gagal di depan Sidney kala melihat wajah gadis itu yang hampir menangis. Ingin memeluk Sidney dan meminta maaf karena sudah mengerjainya.


Sebelum pulang Scot sudah mengirim pesan pada Paris. Mengatakan niatnya untuk memberikan kesempatan buat mereka bersama. "Bang, gue pulang duluan sama Gladys. Gue titip Sidney, jaga dia dan jangan pernah lo buat nangis. Kalau sampai dia bersedih karena lo di perjalanan hubungan kalian nanti, gue akan buat perhitungan sama lo!"

__ADS_1


Setelah mengirim itu, hati Scot terasa ringan sekali. Menyayangi Sidney, melindungi gadis itu bukan harus mengekang dan mematahkan perasaannya.


"Gue restui lo sama abang gue, Sid," gumam Scot sebelum meninggalkan parkiran sekolah.


***


Sekuat apapun Sidney menahan untuk tidak meneteskan air matanya, tetap kristal bening itu jatuh lagi. Berjalan menunduk hingga tanpa sadar langkahnya dihadang oleh seseorang.


Sidney mengangkat wajahnya. Paris berdiri di sana, di depannya, menatap wajahnya yang bersimbah air mata. "Dasar gadis bodoh, kenapa kau menangis?" ucap Paris lembut, menghapus air mata di pipi Sidney.


Harusnya dia malu ketahuan menangis seperti anak kecil, tapi entah mengapa hatinya justru mengatakan Paris tempat yang aman untuk menangis. Mata tajamnya justru terasa melindunginya hingga buat perasaan Sidney rapuh dan tangisnya pecah.


"Huaaaaa.... huaaaaa... hiks..."


Paris menarik tangan gadis itu menuju parkiran yang mulai tampak sepi. Tepat di samping motornya, Paris mengangkat tubuh Sidney dan mendudukkan di jok motornya.


Sidney tersengal, menahan tangisnya. Ditariknya ujung kemeja Paris, digenggam sekuat mungkin. Dulu saat ibunya meninggal, Sidney juga melakukan hal yang sama. Paris di sisinya menemani saat dia meraung-raung tida terima atas kepergian ibunya.


"Mama, kembali Ma, siapa lagi nanti yang akan menemaniku?" teriaknya kala itu. Paris yang tidak tahu harus berkata apa, hanya diam di samping Sidney. "Aku akan selalu ada menemanimu," ucap Paris kala itu.


Sidney melirik, lalu mengambil ujung kaosnya dan memegang erat. Sidney akan melakukan hal itu saat dirinya benar-benar merasa ditinggalkan.


Sidney masih terus menangis, walau tidak sekencang tadi. Paris mengikis jarak mereka, dan menarik leher Sidney agar gadis itu bisa merebahkan diri di pundaknya.


Beberapa siswa lewat dan melihat ke arah mereka. "Apa? Pergi sana!"


Kelima siswa itu segera pergi, berlari kecil agar tidak mendapat amukan dari Paris.

__ADS_1


Sidney sudah tenang. Simpul baju Paris juga sudah dia lepaskan. "Kita pulang, ya?"


Sidney hanya mengangguk. Ya, dia butuh istirahat. Kepalanya sangat sakit.


Sigap, Paris memasangkan helm untuk Sidney dan mulai menyalakan motornya. Paris merasakan kecanggungan di antara mereka, tapi dia tidak mau membiarkan lebih larut masalah mereka.


Perlahan tapi pasti pria itu menarik tangan Sidney agar melingkar di pinggangnya. "Aku akan selalu ada untukmu. Aku paham, Scot sangat penting bagimu, tapi seiring waktu, ada yang namanya pilihan hati. Kita gak bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta. Aku mencintaimu, begitupun kau."


Paris diam sesaat. Dia merasakan pegangan tangan Sidney mengencang. Antara ragu ingin memeluknya.


"Perlahan, aku yakin Scot bisa menerima hubungan kita. Aku harap, kau dan aku punya keberanian untuk memperjuangkan perasaan kita masing-masing. Tapi kalau kau memang ragu akan perasaanmu padaku, aku akan coba memahaminya dan menerima, walau ikhlas akan sangat sulit."


Bersama hembusan angin sore itu, Sidney menyerap semua ucapan Paris. Dia sangat mencintai Paris, tapi dia juga tidak ingin melukai perasaan Scot.


Tapi tentang memperjuangkan perasaan, dan berani mengakui perasaan itu, Sidney seolah mendapat keberanian baru. Ia mencondongkan tubuhnya hingga lebih dekat dan bisa memeluk Paris.


"Bawa aku kemana saja kau pergi, Cinta. Jangan tinggalkan aku, yang lemah tak berdaya. Kuatlah demi cinta yang ku rasa," batinnya lebih pada dirinya sendiri.


Sidney turun lebih dulu, membuka helm dan menyerahkan pada Paris. Dia tidak langsung berbalik, mencoba menata hati sebelum mengatakan isi hatinya.


"Cintamu membuatku kuat. Tanganmu membuat aku merasa berarti. Terima kasih." Cup... Sidney mengecup pipi pria itu lalu buru-buru masuk ke dalam rumahnya.


Dari balik tirai rumahnya Oma dan Raya kompak mengintip. Ketika mendengar suara motor Paris, keduanya tengah asyik berbicara sembari menikmati udara sore di halaman depan. Buru-buru Oma mengajak Raya masuk dan bersembunyi di gorden panjang yang ada di jendela dalam rumah.


Paris masih bengong, menatap ke arah punggung Sidney yang menjauh. Begitu sudah masuk ke dalam rumah Paris baru pulang ke rumahnya.


"Jatuh cinta... berjuta rasanya..." Spontan Nani dan Raya bernyanyi menggoda Paris tepat pria itu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2